Al-Baqarah ayat 3

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
December 12, 2010
0 Comments
1794 Views

SURAT AL-BAQARAH Ayat 3

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

[(Orang bertaqwa ialah) orang-orang yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan dari sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepadanya, mereka infaqkan.]

1). Penggunaan kata الَّذِينَ (alladzyna)—isim maushuwl (kata benda penyambung)—di awal ayat, menunjukkan bahwa ayat ini merupakan deskripsi terhadap kata benda yang ada di akhir ayat sebelumnya (yaitu orang bertaqwa). Maka, menurut ayat ini, diantara kualitas orang bertaqwa ialah: Pertama, mengimani adanya alam ghaib. (Dengan catatan, dunia ghaib di sini bukan dalam persepsi budaya masyarakat). “Iman” satu asal kata dengan “aman”. Sehingga orang yang mengimani sesuatu adalah orang yang pada dasarnya telah merasa aman (dengan qalbunya) terhadap sesuatu tersebut. Dengan qalbu, karena beriman tidak cukup dengan lisan. “Orang Arab (Badui) berkata: ‘Kami telah beriman’. Katakanlah: ‘Kalian belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah menyerah’, (karena) iman itu belum masuk ke dalam qalbu


mu’.” (49:14) Dengan demikian, iman bisa dikatakan sebagai “the submission of thoughts and feelings to the object of belief” (ketundukan pikiran dan perasaan terhadap obyek yang diimani). Karena bertempat di qalbu, maka iman memiliki tenaga pendorong untuk bertindak. Sehingga pengakuan iman menjadi tak bermakna apabila pemilik pengakuan itu tidak terdorong melakukan apa yang diimaninya.

2). Di Surat al-Fatihah ayat 2, telah dibahas bahwa alam itu bertingkat-tingkat, dan tingkatan paling bawah adalah alam material, alam indra. Alam di atasnya semua bersifat ghaib karena tidak bisa lagi dijangkau oleh panca indra. Itu sebabnya al-Qur’an cuma membagi realitas menjadi dua bagian: alam ghaib dan alam syhadah (6:73, 13:9, 23:92, 32:6, 39:46, 59:22, 64:18). Tetapi pembagian ini tidak dikotomis dan diskontinyu. Karena apa yang disebut alam syahadah (alam nyata) hanyalah bentuk ‘penampakan’ dari alam ghaib. Semua yang tercerap oleh indra di alam syahadah tiada lain dari ‘isyarat’ (ayat) adanya aktivitas di alam ghaib. Jadi alam ghaib dulu baru ada alam syahadah—cermati sejumlah ayat yang disebut barusan, kata syahadah tidak pernah mendahului kata ghaib. “Dan milik Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situ (adalah) wajah Allah…” (2:115).Hal-hal ghaib yang sering disebut-sebut dalam al-Qur’an: Allah, arasy, amr, qodla, qodar, ruh, malikat, jin, Kitab Suci, para rasul, barzah, hari akhirat, sorga-neraka, dsb. Masing-masing dari mereka memiliki rahasianya, yang tak bisa diungkap kecuali dengan sulthan atau ilmu (55:33).

3). Kedua, kualitas taqwa berikutnya ialah menegakkan salat. Kata “menegakkan” harus digaris bawahi sebab penekanan ayat ini kelihatannya ada di situ. Allah tidak langsung menggunakan kata “shalluw!” (salatlah), seperti pada kata “iqra’!” (bacalah). Tentang pelakunya, al-Qur’an juga mengunakan dua bentuk: الْمُصَلِّينَ [al-mushallyn, orang yang salat (70:22, 74:43, dan 107:4)] dan الْمُقِيمِينَ [al-muqymyn, orang yang menegakkan salat (4:162 dan 22:35)]. Yang terakhir ini lebih tinggi kualitasnya daripada yang pertama. Al-mushallyn adalah mereka yang melaksanakan salat sekedar sebagai kewajiban agama, dan karenanya juga sekedar membebaskan pelakunya dari azab neraka (74:43). Kendati demikian, mereka masih riskan dari tergelincir ke dalam neraka (107:4). Sebaliknya, bagi al-muqymyn, salatnya tidak lagi sekedar ritual, tapi telah melahirkan ‘kedalaman’ (depth) dalam hal penghayatan akan seluruh realitas yang disebut الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ (ar-rasikhuwna fil ‘ilmi, mendalam ilmunya, hingga melampaui alam syahadah). Golongan inilah yang nampaknya dimaksud S. al-Baqarah (2) ayat 3 ini. “Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mu’min, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al-Qur’an), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar.” (4:162)

4). Ketiga, kualitas taqwa selanjutnya: وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (wa mim-mārazaqnāhum yunfiquwn: dan dari sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepadanya, mereka infaqkan). Pertanyaannya: kenapa manusia diperintahkan untuk berinfaq; bukankah harta yang mereka peroleh adalah hasil jerih payah  mereka sendiri? Ada benarnya. Karena manusia pada ghalibnya hanyalah bekerja untuk mengambil dan melestarikan apa yang sudah ada. Nelayan, tinggal pergi memancing, bukan mereka yang menebar benih dan memeliharanya. Oil Company, tinggal pergi mengebor minyak dan gas, bukan mereka yang memendamnya di perut bumi selama jutaan tahun. Peternak, mereka tinggal melestarikan hewan piaraannya, bukan mereka yang menciptakannya dari awal. Artinya, pada sebagian pendapatan kita ada yang ternyata bukan hasil jerih payah kita, tapi semata dari Allah. Maka, dengan begitu, Allah punya hak pada setiap jenis pendapatan kita. Berapa jumlahnya? Karena ini infaq (bukan zakat), maka tergantung pada “kedalaman” (depth) penghayatan kita terhadap seluruh realitas.

AMALAN PRAKTISKalau Anda benar-benar ada keinginan untuk menjadi manusia taqwa, maka mulailah mengamalkan ayat ini sekarang juga: dirikanlah shalat dengan tepat waktu, dan biasakanlah berinfaq setiap saat di tempat yang benar dan pada orang yang tepat. Setelah istiqamah melaksanakannya, Insya Allah, Anda akan merasakan adanya tangan-tangan ghaib menggerayangi lipatan-lipatan qalbu Anda.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply