Al-Baqarah ayat 29

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
December 24, 2010
0 Comments
2537 Views

SURAT AL-BAQARAH  Ayat 29

 

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاء فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

[Dia-lah Allah yang menciptakan untuk kalian segala yang ada di bumi, kemudian beranjak ke langit, maka Dia menyempurnakannya (menjadi) tujuh (lapis) langit. Dan Dia, terhadap segala sesuatu, Maha Mengetahui.]

[He it is Who created for you all that is in the earth, and He directed Himself to the heaven, so He made them complete seven heavens, and He knows all things.]

 

1). Yang menarik, setelah Allah mengingatkan asal-usul kejadian manusia yang berasal dari ketiadaan dan kematian, yang berasal dari tanah, tumbuhan, dan hewan, tiba-tiba menyebutkan bahwa semua yang ada di bumi ini (termasuk tanah, tumbuhan, dan hewan), Dia ciptakan untuk manusia. Pesan yang bisa kita tangkap dari peringatan ini ialah bahwa tubuh biologis manusia (yang merupakan bagian tak terpisahkan dari bumi) diciptakan untuk berbakti kepada tubuh ruhaniahnya. Jadi ada sesuatu yang luar biasa pada diri manusia yang justru bukan berasal dari bumi; tetapi untuknyalah bumi dciptakan. Artinya, kalau bukan demi manusia ruhaniah itu, Allah tidak menciptakan bumi ini. Melalui peringatan ini, Allah hendak mengesankan manusia bahwa diri ruhaniahnya itu adalah makhluk yang sangat mulia, yang sedemikian mulianya sehingga nilai kemuliannya melampaui seluruh nilai alam semesta yang material ini. Pantas kalau Nabi mengatakan: “Salat (sunat rawatib) dua rakaat sebelum subuh lebih baik daripada dunia beserta isinya.” (al-Hadits)

 

2). Pantas juga kalau ketika Allah menawarkan amanah (agama, tugas ilahiah) kepada langit, bumi, dan gunung, semua menolak untuk menerimanya. Karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk itu. Manusialah yang menerimanya karena hanya manusia sajalah yang memiliki kesanggupan untuk itu. “Sungguh Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan mengemban amanat itu karena khawatir akan mengkhianatinya, sehingga amanat itu (pun) diemban oleh manusia. (Maka) sungguh manusia itu amat zalim dan amat bodoh (jika tidak melaksanakan amanah tersebut).” (33:72) Kendati akan ditunaikan di dunia yang bersifat material, tetapi substansi amanah ini murni bersifat ruhaniah, sehingga hanya makhluk yang memiliki tubuh material dan tubuh ruhaniahlah yang layak mengembannya. Dan itulah manusia. Dan sekaligus penentu mulia tidaknya dia adalah diemban tidaknya amanah ini. Karena apabila dia tidak mengembannya, maka sia-sialah tubuh ruhaniahnya, sehingga diapun masuk kategori menzalimi dan membodohi dirinya sendiri. Sebab tugas yang Allah letakkan padanya ialah agar dapat mengemban amanah tersebut.

 

3). Setelah Allah menyebut peruntukan penciptaan segala yang ada di bumi, Dia kemudian menggunakan kata sambung ثُمَّ (tsumma, kemudian), yang menunjukkan adanya pengurutan (tartĭb), yaitu—yang oleh ahli bahasa disebut—tartĭb infishāl (pengurutan terpisah); artinya, kejadian berikutnya tidak terjadi dengan serta-merta. Di belakang kata sambung ثُمَّ (tsumma, kemudian) ini ialah kalimat اسْتَوَى إِلَى السَّمَاء (istawā ilas-samāi, beranjak ke langit). Maksudnya, pelaksanaan amanah tadi sekaligus menjadi tangga-tangga ruhaniah yang starting point (titik anjak)-nya bermula dari bumi, dari dunia material, dari tubuh biologis, untuk selanjutnya menuju ke ‘langit’. Hanya individu-individu yang bisa melepaskan diri dari jeratan bumi, dunia material, tubuh biologisnyalah yang bisa melanjutkan perjalanannya menuju ke ‘langit’. Itu sebabnya kata sambungnya menggunakan ثُمَّ (tsumma, kemudian)—tartĭb infishāl (pengurutan terpisah)—dan bukan فَ (fa’, lantas)—tartĭb ittishāl (pengurutan bersambung). Jadi yang Allah sampaikan di ayat ini bukanlah proses penciptaan, melainkan rangkaian perjalanan spiritual (mi’raj ruhani) yang sejatinya ditempuh oleh manusia.

 

4). Dan ternyata ‘langit’ itu ada tujuh lapis. Allah mengisyaratkan, perjalanan ruhani itu akan sempurna bilamana telah melewati tujuh lapis langit: maka Dia menyempurnakannya (menjadi) tujuh (lapis) langit. Ini mirip dengan kandungan S.23:17; “Dan sungguh Kami telah menciptakan di atas kalian tujuh jalan (tujuh lapis ‘langit’). Dan Kami tidak (pernah) lengah terhadap ciptaan (Kami).” Ada apa dan bagaimana pada masing-masing lapis ‘langit’ tersebut, kita bisa mengetahuinya secara lengkap dengan merujuk ke riwayat-riwayat yang shahih di seputar perjalanan mi’raj Nabi hingga ke Sidratul Muntaha.

 

5). Penggunaan kata عَلِيمٌ (‘alĭm, Maha Mengetahui) di akhir ayat ini mengisyaratkan bahwa perjalanan ruhani pada hakikatnya adalah sebuah napak tilas menelusuri ilmu Allah. Yang artinya, progresifitas perjalanan itu berbanding lurus dengan makin bertambahnya ilmu seseorang. Kian bertambah ilmu sesorang tentang Allah (seharusnya) kian bertambah pula kapasitasnya dalam memikul amanah yang diembannya, dan kian bertambah tinggi pula martabat ‘langit’ yang dicapainya, sehingga (pada akhirnya) kian dekat yang bersangkutan kepada ‘arasy Rab-nya. Kalau tidak, (maka) sungguh manusia itu amat zalim dan amat bodoh (33:72).

 

AMALAN PRAKTIS

Seseorang akan bertindak mulia apabila dia menyadari kemuliaan dirinya. Allah, melalui ayat ini, meyakinkan kita bahwa manusia adalah makhluk-Nya yang paling mulia, yang untuknyalah Dia menciptakan segalanya. Maka kalau Anda hendak melakoni atau mengatakan sesuatu, camkanlah, Anda itu adalah ningrat-nya Allah swt, yang tidak pantas melakoni atau mengatakan sesuatu yang dapat merendahkan martabat keningratan Anda.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply