Al-Baqarah ayat 27

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
December 24, 2010
0 Comments
1046 Views

SURAT AL-BAQARAH  Ayat 27

 

الَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِن بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الأَرْضِ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

[(Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah berikrar (untuk melaksanakan perjanjian itu), dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk dihubungkan (yaitu tali silaturrahim) dan membuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang merugi.]

[Who break the covenant of Allah after its confirmation and cut asunder what Allah has ordered to be joined, and make mischief in the land; these it is that are the losers.]

 

1). Penggunaan kata الَّذِينَ (alladziyna, orang-orang yang) di awal ayat ini menunjukkan bahwa ayat ini merupakan penjelasan dari ayat sebelumnya, yaitu orang fasik—orang yang tidak bisa melihat kebenaran dari fenomena-fenomena yang ada di sekitarnya. Kandungan ayat ini memperlihatkan bahwa perumpamaan nyamuk di ayat sebelumnya hanyalah caranya Allah mengesankan bahwa diantara tanda orang beriman ialah mampu menemukan kebenaran pada hal-hal ‘kecil’ seperti nyamuk, apalagi pada hal-hal besar yang terjadi di sepanjang sejarah seperti pengusiran dan pembunuhan para nabi, orang-orang saleh, dan orang-orang tidak berdosa. Sehingga, dengan begitu, bagi orang beriman, al-Qur’an benar-benar menjadi ‘kacamata’ furqān (pembeda) dalam melihat realitas-realitas (sosiologis, politis, dan historis). “Sungguh, Al Qur’an itu benar-benar firman yang memisahkan (antara kebenaran dan kebatilan). Dan benar-benar dia (al-Qur’an) itu bukanlah senda gurau. (Tetapi) sungguh orang kafir itu merencanakan tipu daya yang sejahat-jahatnya (dengan menyumbat fungsi al-Quran sebagai furqān).” (86:13-15)

 

2). Ada 3 (tiga) tanda orang fasik yang disebutkan di ayat ini. Pertama, melanggar perjanjiannya dengan Allah, setelah mempersaksikan (syahadah) dan meneguhkan hati (miytsāk) untuk melaksanakan perjanjian tersebut. Yang menarik, kata “perjanjian” di ayat ini—dalam bahasa aslinya—menggunakan kata عَهْد (‘ahd), yang kalau kita telusuri penggunaannya dalam al-Qur’an pada umumnya terkait dengan tugas ketuhanan (amanah), kenabian (nubuwah) dan kepemimpinan (imamah). Tugas ketuhanan (amanah): “Dan orang-orang yang memelihara amanah dan عَهْد (‘ahd, janji)—yang diembannya.” (23:8 dan 70:32). Kenabian (nubuwah): “Bagaimana bisa ada عَهْد (‘ahd, perjanjian) di sisi Allah dan di sisi Rasul-Nya dengan orang-orang musyrik, kecuali dengan orang-orang yang kalian telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidilharam? Maka selama mereka berlaku jujur terhadapmu, hendaklah kamu berlaku jujur (pula) terhadapnya. Sungguh Allah mencintai orang yang bertakwa.” (9:7) Kepepmipinan (imamah): “Dan (ingatlah), tatkala Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. (Kemudian) Allah berfirman: ‘Sungguh Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia’. Ibrahim berkata: ‘(Dan saya mohon juga agar para imam setelahku adalah) dari keturunanku’. Allah berfirman: (Permohonanmu Kupenuhi, tapi) عَهْدِي (‘ahdiy, janji-Ku ini) tidak berlaku kepada (keturunanmu) yang zalim”.” (2:124).

 

3). Kedua, memutus apa-apa yang Allah perintahkan untuk disambungkan, yaitu tali silaturrahim atau hubungan persaudaraan antara sesama. Karena memutus hubungan dengan sesama pada dasarnya melanggar ketetapan-Nya berkenaan dengan tujuan penciptaan dan pengutusan Nabi dan Rasul. Tentang persaudaraan diantara umat manusia: “Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan; dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab Suci yang berisi kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan…” (2:213) Tentang persaudaraan diantara sesama orang beriman: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian mendapat rahmat.” (49:10). Begitu pentingnya persatuan dan persaudaraan ini sehingga setiap perbuatan, sekecil apapun, yang bisa merusak hati dan pikiran, Allah melarangnya. “Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kalian mencela dirimu sendiri dan jangan (pula) kalian panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kalian menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah meninggal? Maka tentulah kalian merasa jijik (melakukan itu) kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (49:11-12)

 

4). Ketiga, melakukan kerusakan di bumi. Seorang yang beriman tidak mungkin bersua dalam amal salehnya dengan perbuatan merusak. Karena perbuatan merusak adalah perbuatan orang kafir dan munafiq (lihat kembali pembahasan ayat 11 dan 12). Baginya, nyamuk bukanlah obyek kemarahan, tapi mitra mencari kebenaran. Seperti Nabi Sulaiman dengan semut. Bagi kebanyakan orang, semut adalah ancaman dan gangguan, tapi bagi anak Nabi Daud ini, semut adalah gapura (madkhal) untuk menyampaikan pernyataan syukur yang luar biasa kepada Rab-nya. “Maka dia (Nabi Sulaiman) tersenyum dan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Kemudian dia berdoa: ‘Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada ibu dan ayahku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridlai; serta masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh’.” (27:19) Kalau semut dan nyamuk saja mereka perlakukan secara elegan, maka bagaimana mungkin seseorang disebut beriman apabila mengusir dan membunuh orang-orang saleh dan orang-orang tidak berdosa?

 

5). Ayat ini berakhir dengan penggalan: أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (uwlāika humul khāsiruwn, Mereka itulah orang-orang yang merugi). Bagi kita, kata “merugi” sepertinya tidak terlalu besar tendangannya. Mungkin karena seringnya kita mengalami kejadian itu dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, di sisi Allah “merugi” adalah perkara yang sangat serius. Bandingkanlah ayat 27 ini dengan ayat berikut ini: “(Adapun) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah berikrar (untuk melaksanakan perjanjian itu), dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk dihubungkan (yaitu tali silaturrahim) dan membuat kerusakan di bumi, (maka) orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahanam).” (13:25) Kalimat “orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahanam)” di 13:25 tersebut setara dengan kalimat “Mereka itulah orang-orang yang merugi” di Surat al-Baqarah ayat 27 ini. Artinya, di sisi Allah, “merugi” sama dengan “kutukan dan tempat kediaman yang buruk (Neraka Nahanam)”. Na’udzu billah min dzālik!!!

 

AMALAN PRAKTIS

Manusia mana yang mau merugi dalam hidupnya? Tentu tidak ada. Menurut al-Qur’an, merugi adalah tanda kefasikan. Dan kefasikan mengantarkan pelakunya ke dalam kesesatan dan kekufuran. Di akhirat mereka diancam dengan “kutukan dan tempat kediaman yang buruk (Neraka Nahanam)”. Maka agar Anda tidak masuk di dalamnya, pelihara tiga hal ini baik-baik: Hubungan Allah, hubungan dengan sesama, dan hubungan dengan alam.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

2 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

Leave a Reply