Al-Baqarah ayat 26

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
December 24, 2010
0 Comments
1076 Views

SURAT AL-BAQARAH  Ayat 26

 

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَحْيِي أَن يَضْرِبَ مَثَلاً مَّا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُواْ فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُواْ فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلاً يُضِلُّ بِهِ كَثِيراً وَيَهْدِي بِهِ كَثِيراً وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلاَّ الْفَاسِقِينَ

[Sungguh Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih dari itu. Maka adapun orang beriman, mereka yakin bahwa (perumpamaan) itu (adalah) kebenaran (yang berasal) dari Tuhan mereka, tetapi orang kafir mengatakan: “Apa yang Allah kehendaki dengan perumpamaan ini?” Dia (Allah) menyesatkan dengan (perumpamaan) itu (kepada) banyak orang, dan (juga) memberi petunjuk dengan (perumpamaan) itu (kepada) banyak orang. Dan tiadalah yang disesatkan Allah kecuali orang yang fasik.]

[Surely Allah is not ashamed to set forth any parable–(that of) a gnat or any thing above that; then as for those who believe, they know that it is the truth from their Lord, and as for those who disbelieve, they say: What is it that Allah means by this parable: He causes many to err by it and many He leads aright by it! but He does not cause to err by it (any) except the transgressors].

 

1). Karena al-Qur’an sangat banyak berbicara tentang hal-hal ghaib—bahkan bisa dikatakan sebagai inti prmbahasannya, sehingga di 2:3 tentang taqwa, yang pertama disyaratkan adalah beriman kepada yang ghaib—yang tak mungkin dijangkau oleh pancaindra, maka untuk menjelaskannya, Kitab Suci pamungkas ini sangat sering membuat perumpamaan. “Dan benar-benar Kami menguraikan kepada manusia dalam Al Qur’an ini tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia enggan (menerima), bahkan mengingkari (nya).” (17:89 dan 18:54, 30:58, 39:27). Perumpamaan kali ini adalah nyamuk, hewan kecil yang dengan mudah ditemui di berbagai tempat di bumi ini. Walaupun kebanyakan orang menganggapnya sebagai hewan pengganggu dan menjengkelkan, namun ternyata bisa menjadi pembeda antara keberimanan dan kekufuran seseorang. Dia (Allah) menyesatkan dengan (perumpamaan) itu (kepada) banyak orang, dan (juga) memberi petunjuk dengan (perumpamaan) itu (kepada) banyak orang.

 

2). Penutup ayat yang mengatakan: Dan tiadalah yang disesatkan Allah kecuali orang yang fasik; menunjukkan bahwa kesesatan dan kekufuran itu didahului oleh kefasikan. Yaitu bersikap acuh terhadap seluruh hal beserta kejadian-kejadian yang menyertainya. Padahal semua hal beserta kejadian-kejadian yang menyertainya minimal menjadi petunjuk atas keber-ADA-an dirinya, yang sekaligus menjadi JEJAK bagi YANG meng-ADA-kannya. Makanya sebelum kata بَعُوضَة (ba’uwdhah, nyamuk) ada kata مَا (mā) yang mengindikasikan bahwa yang harus diperhatikan dari nyamuk tersebut bukan saja keberadaannya yang utuh, tetapi apa saja yang ada padanya, termasuk kejadian-kejadian yang terjadi padanya seperti terbang, dan sebagainya. Itu yang pertama; yang kedua: bukankah semua hal beserta kejadian-kejadian yang menyertainya itulah yang menjadi sumber pengetahuan empirik manusia? Sehingga bersikap acuh terhadapnya, tidak saja mengantarkan yang bersangkutan kepada kesesatan dan kekufuran tapi sekaligus bertentangan dengan semangat kemajuan ilmu pengetahuan.

 

3). Terkait dengan poin 2, Allah menegaskan: Maka adapun orang beriman, mereka yakin bahwa (perumpamaan) itu (adalah) kebenaran (yang berasal) dari Tuhan mereka. Penggunaan kata الْحَقُّ (al-haqq, kebenaran) menunjukkan dengan sangat jelas bahwa adalah suatu kefasikan manakala pengetahuan empirik manusia—yang lebih popular dengan sebutan sains—berhenti hanya pada sesuatu-nya tok saja: pengetahuan tentang nyamuk berhenti pada nyamuk an sich. Semua hal beserta kejadian-kejadian yang menyertainya, sekecil apapun ia, selayaknya menjadi entry point (pintu masuk) untuk menemukan YANG meng-ADA-kannya. Karena selama kita tidak menemukan-Nya, berarti kita masih berada dalam kegelapan (ingat kembali perumpamaan orang kafir dan munafiq di ayat 17-20). Camkan pernyataan ini bail-baik: Maka itulah Allah, Tuhan kalian (yaitu) الْحَقّ(al-haqq, Sang Kebenaran); maka tiada (lagi) sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan…(10:32). Simpulnya, pengetuahan empirik seyogyanya mengantarkan manusia untuk mengimani-Nya. Kalau tidak, maka sia-sialah ilmunya; tiada yang mereka dapatkan kecuali popularitas semu dan kenikmatan duniawi yang sifatnya sesaat.

 

4). Perumpamaan ini juga menjelaskan fungsi utama dari al-Qr’an; yaitu menunjukkan titik-titik kelemahan manusia dan rasionalitas kekuasaan Allah sehingga menusia tersadarkan betapa tidak berdayanya mereka dan mutlaknya menggantungkan diri kepada-Nya, terutama dalam hal ketidakmampuannya memberi PETUNJUK kepada diri mereka semdiri. “Hai manusia, telah dibuat perumpamaan (untuk kalian), maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kalian seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah sekutu) yang disembah.” (22:73) Bandingkan dengan ayat ini: “Katakanlah: ‘Seandainya manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain’.” (17:88)

 

AMALAN PRAKTIS

Mata adalah asset manusia yang paling berharga. Tapi tahukah Anda apa fungsi utama yang Allah simpan pada mata itu? Agar dengan mata itu Anda ‘melihat’ DIRI-Nya yang hadir di mana-mana dan pada apa saja, termasuk pada seekor nyamuk. Maka sebelum Anda menampar nyamuk yang tak berdaya itu, coba sisakan waktu beberapa detik untuk memperhatikannya. Lalu tanya diri sendiri: Mampukah saya menciptakan makhluq hidup seperti nyamuk yang seluruh kehidupan dan kebutuhannya mereka urus sendiri?

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply