Al-Baqarah ayat 209

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
August 20, 2013
0 Comments
2832 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 209

فَإِن زَلَلْتُمْ مِّن بَعْدِ مَا جَاءتْكُمُ الْبَيِّنَاتُ فَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

[Tetapi jika kalian menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.][If ye backslide after the clear (Signs) have come to you, then know that Allah is Exalted in Power, Wise.]

1). Ayat ini bernada ancaman, dengan menggunakan cara bertutur “jika…maka”. Kata “jika” menunjukkan syarat, kata “maka” mengacu kepada jawaban atas syarat. “Jika” syarat terpenuhi, “maka” jawaban atas syarat secara otomatis akan datang. “Jika kalian menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dari sini kita melihat bahwa “akibat” tidak datang begitu saja, melainkan konsekuensi logis dari “sebab” yang manusia sendiri pilih secara sadar. Tuhan tidak semena-mena. Tuhan tidak memperlaukan hamba-Nya semau-mau-Nya. Hukuman yang diterima manusia adalah “akibat” belaka dari pilihannya sendiri. Sehingga hukuman tersebut hakikatnya bukan dari Allah tapi dari diri manusia itu sendiri. Manusialah yang menghukum dirinya sendiri. Bahkan pada saat akan memilih itu pun, manusia terlebih dahulu diberikan argumen-argumen atau bukti-bukti nyata atas pilihan yang seharusnya manusia pilih. Pertama-tama Allah memaparkan jenis-jenis manusia berdasarkan orientasi hidupnya. Dia menunjukkan jenis mana yang terbaik di sisi-Nya untuk dipilih. Kemudian Dia memerintahkan orang-orang yang mengimani-Nya untuk memilih jenis manusia terbaik tersebut, seraya mengatakan bahwa mengikuti selainnya berarti mengikuti langkah-langkah setan. Dengan asumsi bahwa manusia sebagai makhluk rasional pasti akan memilih apa yang Allah tunjukkan, baru setelah itu keluar ancaman-Nya: Tetapi jika kalian menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.Dan (inilah) suatu permakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik. Kemudian jika kalian bertaubat, maka bertaubat itu lebih baik bagimu; dan jika kalian berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kalian tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakanlah kepada orang-orang yang ingkar (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (9:3)

2). Pada saat membahas kata خُطُوَاتِ (khuthuwāt, langkah-langkah) di ayat sebelumnya, kita telah menyinggung sedikit soal kata “menyimpang”. Di ayat 209 ini, Allah mempertegas bahwa penyimpangan itu sangat mendasar, karena dari sanalah awal mula rusaknya agama. Dari sana pula awal mula rusaknya manusia. Dan penyimpangan seperti itu sangat halus. Sebegitu halusnya sehingga banyak orang beragama tidak menyadari bahwa dirinya sebetulnya sudah menyimpang sedikit-demi sedikit, langkah demi langkah, dari jalan yang benar. Yakni tidak sadar bahwa orang-orang yang di depan, orang-orang terdahulu, yang diikutinya ternyata juga telah menyimpang jauh, bahkan telah membentuk سَبِيل (sabīl, jalan)-nya sendiri. Tampaknya itulah sebabnya kenapa Allah menggunakan bentuk ancaman saat menyebut soal penyimpangan ini: فَإِن زَلَلْتُمْ (fa in zalaltum, tetapi jika kalian menyimpang). Menyimpang dari mana? Apatah lagi kalau bukan menyimpang dari سَبِيلِ ٱللَّهِ (sabilllah, jalan Allah). Karena selain “jalan Allah” sudah pasti “jalan setan”, maka ancamannnya pun terdengar sangat tegas. Ini bukan untuk kepentingan Allah. Ini adalah demi kepentingan orang beriman itu sendiri, karena manakala “penyimpangan” sebagai syarat yang Allah sebutkan itu kita lakukan, akibatnya bukan hanya di dunia tetapi berlanjut hingga alam akhirat sebagai alam akibat paling akhir. “Dan Kami berfirman: ‘Hai Adam diamilah oleh kamu dan isterimu taman ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu berdua sukai, dan janganlah kamu berdua dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim. Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari taman itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: ‘Turunlah kalian! sebagian kalian menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kalian ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan’.” (2:35-36)

3). Kendati bernada ancaman, tetapi rasionalitasnya tidak ketinggalan. Rasionalitas ancaman itu terletak pada penggalan kalimat: مِّن بَعْدِ مَا جَاءتْكُمُ الْبَيِّنَاتُ (min ba’di mā jāatkumul bayyināt, sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran). Allah mendesakkan hak-Nya (melalui sebuah ancaman) setelah sebelumnya menunaikan kewajiban-Nya (dengan mendatangkan bukti-bukti kebenaran). Sehingga tidak ada celah sedikitpun untuk menuduh hukuman Allah sebagai bersifat otoriter. Titik tekannya ada pada kata مِّن بَعْدِ (min ba’di, sesudah). Sehingga kepada mereka yang “belum” datang kepadanya “bukti-bukti kebenaran” tentu Allah tidak punya alasan rasional untuk menghukumnya. Firman-Nya: “Kami tidak akan mengazab (seseorang atau suatu kaum) sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (17:15) Bahkan andaipun mereka telah melakukan penyimpangan tetapi setelah itu mereka datang kepada Allah dengan tulus mengakui seluruh kesalahan-kesalahannya, Allah juga tidak akan menghukumnya: “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (8:33)

4). Lalu apa itu الْبَيِّنَاتُ (al-bayyināt), sehingga menjadi batas antara “ancaman” (syarat) dan jatuhnya “hukuman” (jawaban atas syarat)? Kata الْبَيِّنَاتُ (al-bayyināt) ini tidak saja banyak kita temukan di dalam Alquran tetapi bahkan menjadi salah satu nama surat; yaitu surat yang ke-98. Kata الْبَيِّنَاتُ (al-bayyināt) merupakan bentuk jamak beraturan dari ٱلۡبَيِّنَةُ (al-bayyinah), yang secara umum diartikan dengan “keterangan” atau “ilmu yang menjelaskan” (seperti di 45:25), secara khusus diartikan dengan “mukjizat” atau “bukti kebenaran yang nyata” (seperti di 2:211), kemudian lebih khusus lagi dengan “kitab suci” manapun (seperti di 6:157), dan lebih dalam lagi dengan “Alquran” atau “figur tertentu yang pada dirinya hadir secara menyeluruh Alquran beserta pemahaman dan pengamalannya” seperti di ayat berikut ini: “Orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.  (Yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Alquran). Di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab suci yang lurus (yang belum mengalami perubahan).” (98:1-3) Di surat ke-98 inilah muncul satu ayat yang memuji orang-orang mukmin sebagai خَيْرُ البَرِيَّةِ (khayrul bariyyah, sebaik-baik makhluk) dan mengganjarnya dengan رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ (radliyallāɦu ‘anɦum wa radlū ‘anɦu, Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha terhadap-Nya), yang telah kita sebutkan saat mengulas ayat 207 berkenaan dengan jenis manusia keempat yang tanpa kepentingan, tanpa pamrih, tanpa harapan, kecuali ابْتِغَاء مَرْضَاتِ اللّهِ (ibtighā-a mardlātillāɦ, mencari keridhaan Allah) semata. Sehingga kata الْبَيِّنَاتُ (al-bayyināt) di ayat 209 ini pasti sama maknanya dengan kata ٱلۡبَيِّنَةُ (al-bayyinah) yang ada di surat ke-98 tersebut; yaitu sosok figur yang pada dirinya sudah menyatu padu Kitab Suci seperti barusan kita kutip di ayat 1-3. Dan pengertian itu juga kiranya yang dimaksud Nabi di hadis berikut ini: “Dari Abu Hurairah dari Nabi saw bersabda: ‘Tidak seorang nabi pun kecuali ia diberi beberapa mukjizat yang tak bisa diserupai oleh apapun sehingga manusia mengimaninya–atau dengan redaksi ‘sehingga manusia dijadikan beriman’–namun yang diberikan kepadaku hanyalah berupa wahyu yang Allah wahyukan kepadaku, maka aku berharap menjadi manusia yang paling banyak pengikutnya di hari kiamat’.” (Shahih Bukhari no. 6732, Musnad Ahmad no. 8135)

5). Kini tiba gilirannya kita bicara “jawaban atas syarat”, yang dengan serta-merta akan datang manakala terjadi penyimpangan dari Islam yang السِّلْمِ (as-silmi). Firman-Nya: فَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (fa’lamū annallāɦa ‘azīzun hakīm, maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana). Di sini Allah mendemonstrasikan kebijaksanaan-Nya, dengan tidak langsung kepada jenis hukuman yang harus diterima oleh para penyimpang dari jalan yang benar. Dia hanya mewartakan bahwa diri-Nya Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kesan yang timbul daripadanya: “Penyimpangan kalian dari jalan-Ku tidak akan melemahkan (agama dan risalah)-Ku karena Aku Maha Perkasa. Penyimpangan kalian itu hanya akan merugikan diri kalian sendiri, karena Saya tidak butuh dengan iman kalian, siapapun kalian. Di dunia ini kalian bisa melakukan sesuka kalian, tetapi karena Aku Maha Perkasa maka kalian tidak akan bisa lari dari ketentuan-Ku. Sebentar lagi Aku akan mematikan kalian dan Kuhadapkan pada kenyataan yang tak mungkin kalian lari daripadanya”. Namun, pada saat yang sama, karena Dia Maha Bijaksana, betapapun jauhnya manusia menyimpang dari jalan-Nya, dari سَبِيلِ ٱللَّهِ (sabilllah, jalan Allah), Dia akan tetap membuka pintu-pintu ampunan-Nya dan menerima kembali hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih, lebih dari seorang ibu kepada anak-anaknya. “Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, padahal Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Alquran) dan agama yang benar untuk Dia menangkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (9:32-33)

6). Hadis Nabi saw.:

حَدَّثَنَا هَاشِمٌ حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ يَا عَائِشَةُ قَوْمُكِ أَسْرَعُ أُمَّتِي بِي لَحَاقًا قَالَتْ فَلَمَّا جَلَسَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ لَقَدْ دَخَلْتَ وَأَنْتَ تَقُولُ كَلَامًا ذَعَرَنِي قَالَ وَمَا هُوَ قَالَتْ تَزْعُمُ أَنَّ قَوْمِي أَسْرَعُ أُمَّتِكَ بِكَ لَحَاقًا قَالَ نَعَمْ قَالَتْ وَمِمَّ ذَاكَ قَالَ تَسْتَحْلِيهِمْ الْمَنَايَا وَتَنَفَّسُ عَلَيْهِمْ أُمَّتُهُمْ قَالَتْ فَقُلْتُ فَكَيْفَ النَّاسُ بَعْدَ ذَلِكَ أَوْ عِنْدَ ذَلِكَ قَالَ دَبًى يَأْكُلُ شِدَادُهُ ضِعَافَهُ حَتَّى تَقُومَ عَلَيْهِمْ السَّاعَةُ قَالَ أَبُو عَبْد الرَّحْمَنِ فَسَّرَهُ رَجُلٌ هُوَ الْجَنَادِبُ الَّتِي لَمْ تَنْبُتْ أَجْنِحَتُهَا

[Telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Said, dari ayahnya, dari Aisyah berkata; Rasulullah saw menemuiku seraya bersabda: “Wahai Aisyah! Kaummu adalah umatku yang paling cepat menyimpang.” (Aisyah rah) menuturkan; ketika beliau duduk, saya berkata: “Wahai Rasulullah, Allah telah menjadikanku sebagai tebusanmu, dan engkau telah berkata dengan perkataan yang membuat saya takut.” Beliau bersabda: “Apa itu (yang membuat kamu takut)?” (Aisyah rah) menjawab: “Engkau mengatakan bahwa kaumku adalah umatmu yang paling cepat menyimpang.” Beliau bersabda: “Ya.” (Aisyah Rah) berkata: “Apa yang menyebabkan hal itu?” Beliau bersabda: “Kematian akan menghiasi mereka dan umat mereka akan saling berebut.” (Aisyah rah) mengatakan; saya berkata: “Lalu bagaimana kondisi mereka setelah itu atau ketika itu?” Beliau bersabda: “Seperti belalang yang kuat memakan belalang yang lemah sampai terjadinya hari kiamat.” Abu Abdurrahman berkata: “Lalu ada seorang lelaki membisikinya, (bahwa) dia adalah belalang yang belum tumbuh bulu sayapnya.”] (Musnad Ahmad 23378)

AMALAN PRAKTIS

Agama Ilahi adalah jalan lurus. Ancaman terbesar dalam beragama ialah “menyimpang” dari jalan lurus tersebut. Karena begitu terjadi penyimpangan sedikit saja, lama kelamaan akan menjadi semakin jauh. Mengerikannya lagi, kebanyakan para penempuh jalan menyimpang itu tidak sadar kalau sedang berada di jalan yang salah. Maka waspadalah wahai manusia dalam hal beragama. Teruslah melakukan muhasabah…!!!

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

One Response to “Al-Baqarah ayat 205”

  1. alle says:

    Ayat yg mencerahkan.

Leave a Reply