Al-Baqarah ayat 205

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
January 27, 2013
1 Comment
4945 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 205

 

وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي الأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيِهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ الفَسَادَ

[Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan menghancurkan tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kerusakan.][When he turns his back, His aim everywhere is to spread mischief through the earth and destroy crops and cattle. But Allah loveth not mischief.]

1). Imam as-Suyuthi dalam kitab Asbabun Nuzul-nya mengutip dua riwayat yang berkenan dengan ayat 204 dan 205 ini. Riwayat pertama, dinukil dari Ibnu Abi Hatim dari Sa’id atau Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa ketika pasukan kaum Muslim—yang di dalamnya terdapat Ashim dan Martsad—terdesak, berkatalah dua orang munafik: “Rugilah mereka yang tertipu dan binasa seperti itu. Mereka tidak duduk (tenteram) bersama keluarganya, tidak juga menunaikan tugas pemimpinnya”. Riwayat kedua, (juga diangkat oleh al-Wahidi dalam kitab Asbabun Nuzul-nya) menukil riwayat dari Ibnu Jarir yang bersumber dari As-Suddi, bahwa al-Akhnas bin Syuraiq ats-Tsaqafiy (seorang anggota sekutu Bani Zuɦra yang memusuhi Rasulullah) datang kepada Nabi saw mengutarakan maksudnya untuk masuk Islam dengan bahasa yang sangat menarik sehingga Nabi sendiri mengaguminya. Dikala pulang dari tempat Rasulullah, ia melewati kebun dan ternak kaum Muslim. Ia bakar tanamannya dan bunuh ternak-ternaknya.

Kedua riwayat ini menjelaskan betapa pintarnya orang-orang munafik itu bermulut manis di depan kaum Muslim. Mereka bahkan berani mempersaksikan kepada Allah akan ‘kebenaran’ isi hatinya. Mereka berani menggunakan simbol-simbol keagamaan yang gampang dikenal orang awam guna menarik hati mereka. Tetapi fakta jualah yang menentukan. “Sikap” adalah caranya jiwa mempertunjukkan dirinya kepada lingkungan sosialnya. Hanya beberapa saat setelah meninggalkan tempat Nabi, ketika ada kesempatan, orang-orang yang mendua hatinya itu dengan serta-merta melakukan kerusakan apa saja yang sanggup mereka lakukan, karena memang itulah yang menjadi hasratnya selama ini yang dibungkus dengan senyuman indah nan memesona. “Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli Kitab: ‘Sesungguhnya jika kalian diusir niscaya kamipun akan keluar bersamamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun untuk (menyusahkan) kalian, dan jika kalian diperangi pasti kami akan membantumu’. Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta.” (59:11)

 

2). Di ayat ini Allah menggunakan kata سَعَى (sa’ā)—kata kerja bentuk lampau (fi’il madli)—untuk pengertian “berjalan”. Sebetulnya mengartikan kata ini dengan “berjalan” memang tidak salah tapi juga tidak terlalu tepat. Betul “berjalan”, tetapi di dalamnya ada unsur bergegas atau berlari-lari kecil atau nyaris berlari. Itu sebabnya, dengan alasan kebahasaan, kata سَعَى (sa’ā) bisa berubah menjadi “sa’ī” yang berarti “berlalri-lari kecil antara Safa dan Marwah” (dalam pelaksanaan haji dan umrah). Coba perhatikan penggunaan kata سَعَى (sa’ā) dalam bentuk sekarang (fi’il mudhari’)-nya di ayat berikut ini (28:20 dan 36:20): وَجَاءَ رَجُلٌ مِّنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ يَسْعَىٰ (wa jā-a min aqshāl-madīnati yas’ā…. dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas….). Menurut Almaany English Arabic Dictionary (http://www.almaany.com) kata سَعَى (sa’ā) berarti: تَحَرّكَ، مَشَى، عَدَا (taharraka/to move/bergerak, masyā/to walk/berjalan, ‘adā/to run/berlari) dan عَمِلَ (amila, -to go about, be occupied with, be busy with, -to work, -to toil, labor). Kenapa kata سَعَى (sa’ā) ini kita perkarakan? Ingat, pembicaraan kita sejauh ini masih di seputar haji. Melalui ayat 205 ini, Allah seakan memesankan bahwa سَعَى (sa’ā) itu ternyata ada dua macam. Pertama, سَعَى (sa’ā)-nya orang kafir dan munafik; yaitu bergegas—tanpa ditunda-tunda, jika memang ada kesempatan—melakukan kerusakan di muka bumi dan atau merampas hak-hak sesama. Maka kaum Mukmin hendaknya berhati-hati seraya berusaha memersempit ruang gerak (keburukan) mereka. Kedua, سَعَى (sa’ā)-nya orang beriman; ialah bergegas—juga tanpa ditunda-tunda—untuk melakukan kebaikan dan kemaslahatan di muka bumi dan terhadap sesama; inilah yang sesungguhnya yang disebut “sa’ī”, sepertimana Hajar bergegas di antara Safa dan Marwah untuk melakukan kebaikan dan kemaslahatan demi bayinya (Ismail) yang menangis kehausan. “Sesungguhnya Shafā dan Marwah adalah sebahagian dari syiar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Menerima kebaikan, Maha Mengetahui” (2:158)

 

3). Ada dua kata kerja yang Allah gunakan di ayat ini dalam kaitannya dengan kejahatan yang dilakukan oleh orang kafir dan munafik. Yaitu kata يُفْسِدَ (yufsida, merusak) dan يُهْلِكَ (yuɦlika, menghancurkan). Kedua kata ini beserta rumpun tasrifnya masing-masing sangat sering digunakan dalam Alquran. Misal untuk kata يُفْسِدَ (yufsida, merusak): “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki (atau menguasai) suatu negeri, niscaya mereka merusakkannya dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina….” (27:34) Misal untuk kata يُهْلِكَ (yuɦlika, menghancurkan): “Perumpamaan harta yang mereka (orang kafir itu) nafkahkan di dalam kehidupan dunia ini adalah seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa yang sangat dingin yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu menghancurkannnya. Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (3:117) Pelaku kata يُفْسِدَ (yufsida, merusak) selalu manusia. Sementara pelaku kata يُهْلِكَ (yuɦlika, menghancurkan) hampir semuanya adalah Allah sendiri, karena kata ini cenderung bermakna “hukuman” duniawi terhadap para pelaku kejahatan, baik individual ataupun masyarakat, sebagai akibat dari perbuatan mereka sendiri (umpamanya: 6:6, 19:74, 21:6, 28:58, 44:37). Orang-orang yang menggunakan agama sebagai tameng untuk menutupi rupa dirinya yang sesungguhnya, tanpa rasa sungkan sedikit pun, melakukan kedua kejahatan ini sekaligus. Mereka fasih berbicara tentang kemanusiaan, tentang lingkungan hidup, bahkan tentang agama, tetapi mereka melakukan sebaliknya demi mencapai tujuan-tujuan pribadi dan golongannya. Kelihatannya mereka merusak bumi seraya menghancurkan tanaman-tanaman dan hewan ternak, tetapi yang mereka tuju sesungguhnya ialah manusianya. Istilah sekarangnya, mereka melakukan embargo ekonomi terhadap Nabi dan umatnya. Harapannya, Nabi dan pengikutnya kehabisan sumber-sumber kehidupan dan pada akhirnya datang bertekuk lutut kepada para pelaku kejahatan tersebut. Itu sebabnya kita pertama kali dipertemukan oleh Alquran pada kata يُفْسِدَ (yufsida, merusak) saat mengenalkan ciri-ciri orang munafik (2:11). Dan mengerti pulalah kita kini, tangan siapa gerangan yang dimaksud Allah saat mengatakan: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (30:41)

 

4). Ayat ini ditutup dengan pernyataan umum dan mengandung pesan yang amat tegas: وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ الفَسَادَ (wallāɦu lā yuhibbul fasād, dan Allah tidak menyukai kerusakan). Karena الفَسَادَ (al-fasād, kerusakan) adalah kata benda abstrak yang merupakan buah dari suatu perbuatan, maka yang kongkrit tentu hanya “pelaku” perbuatannya. Maka Allah menjelaskan karakter manusia jenis ketiga ini agar kaum Muslim jangan masuk ke dalam perangkapnya. Dalam Alquran, pelaku الفَسَادَ (al-fasād, kerusakan) disebut مُفْسِدُونَ atau مُفْسِدِينَ (mufsidūn atau mufsidīn, orang-orang yang berbuat kerusakan). Dan karena Allah tidak menyukai “kerusakan”, sudah barang tentu juga tidak menyukai “pelaku” kerusakan tersebut, karena—seperti dikatakan tadi—tidak mungkin ada kerusakan manakala tidak ada pelakunya: “…dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (28:77) Selain jenis pelaku yang disebutkan di ayat 205 ini, Alquran juga mengambil contoh pelaku kerusakan yang lain, seperti Ya’juj dan Ma’juj: “…sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di bumi….” (18:94). Atau Fir’aun: “Sekarang (baru kamu mau beriman)? (Padahal) sungguh kamu (wahai Fir’aun) telah durhaka sejak dahulu, dan termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (10:91) Dengan demikian, para pelaku kerusakan di bumi ialah orang-orang yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya. Itu sebabnya Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman mengikuti jalan mereka: “Dan janganlah kalian merugikan hak-hak manusia dan janganlah (pula) berkeliaran di bumi seraya membuat kerusakan.” (26:183, lihat juga 11:85) Dan bila ada penguasa yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-nya tetapi kekuasaannya digunakan untuk melakukan kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan silaturrahim (memecah belah umat manusia), maka dapat dipastikan penguasa seperti itu telah keluar dari Jalan Allah, menyelisihi Kitab-Nya dan melanggar Sunnah Nabi-Nya. “Maka apakah kiranya jika kalian berkuasa, kalian akan membuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka (yakni penguasa seperti) itulah orang-orang yang dilaknat Allah dan ditulikan telinganya dan dibutakan penglihatannya. Maka apakah mereka tidak memerhatikan Alquran ataukah hati mereka terkunci?” (47:22-24)

 

5). Hadis Nabi Saw.:

حَدَّثَنَا حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ الْحَضْرَمِيُّ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ حَدَّثَنِي بَحِيرٌ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ أَبِي بَحْرِيَّةَ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ الْغَزْوُ غَزْوَانِ فَأَمَّا مَنْ ابْتَغَى وَجْهَ اللَّهِ وَأَطَاعَ الْإِمَامَ وَأَنْفَقَ الْكَرِيمَةَ وَيَاسَرَ الشَّرِيكَ وَاجْتَنَبَ الْفَسَادَ فَإِنَّ نَوْمَهُ وَنُبْهَهُ أَجْرٌ كُلُّهُ وَأَمَّا مَنْ غَزَا فَخْرًا وَرِيَاءً وَسُمْعَةً وَعَصَى الْإِمَامَ وَأَفْسَدَ فِي الْأَرْضِ فَإِنَّهُ لَمْ يَرْجِعْ بِالْكَفَافِ

[Telah menceritakan kepada kami Haiwah bin Syuraih al-Hadhrami, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, telah menceritakan kepadaku Bahir dari Khalid bin Ma’dan dari Abu Bahriyyah dari Mu’adz bin Jabal dari Rasulullah saw bahwa beliau bersabda: “Berperang ada dua macam. Adapun orang yang mengharapkan wajah Allah, mentaati pemimpin, menginfakkan barang berharga, dan bergaul dengan sekutunya dengan mudah, serta menjauhi kerusakan maka tidurnya dan terjaganya adalah pahala semua. Adapun orang yang berperang karena berbangga diri, ingin dilihat dan didengar orang, durhaka kepada pemimpin serta membuat kerusakan, maka ia tidak kembali dengan membawa manfaat.”] (Sunan Abu Daud no. 2154)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Bagi orang beriman, segala sesuatu adalah rahmat dari Penciptanya. Karena rahmat-Nya meluas hingga mencakup seluruh realitas. Sengaja merusak tumbuh-tumbuhan dan membunuh hewan-hewan merupakan perbuatan yang tidak disenangi oleh Allah. Perbuatan seperti itu hanya pantas dilakukan oleh orang-orang munafik dan mereka yang keluar dari Jalan Kebenaran. Maka jika Anda mengaku beriman, bersahabatlah dengan lingkungan Anda!!!

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

3 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply