Al-Baqarah ayat 204

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
October 16, 2012
0 Comments
2565 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 204

 

وَمِنَ النَّاسِ مَن يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللّهَ عَلَى مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ

[Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.][There is the type of man whose speech about this world’s life May dazzle thee, and he calls Allah to witness about what is in his heart; yet is he the most contentious of enemies.]

 

1). Sekarang kita kembali kepada jenis-jenis manusia. Manusi pertama dan kedua telah kita bahas masing-masing di ayat 200 dan 201. Sekarang manusia jenis ketiga. Yaitu yang sebetulnya seideologi dengan manusia jenis pertama. Hanya saja, manusia jenis ketiga ini punya tambahan keterampilan. Terampil memainkan kata-kata. Demi sebuah cita-cita. Retorikanya tentang dunia amat memukau. Dibumbui dengan persaksian bahwa apa yang dikatakannya itu ialah ajaran agama alias perintah dari Tuhan. Dan untuk itu, manusia jenis ini rela bersumpah demi Allah. Tujuannya: agar orang-orang di sekitarnya percaya pada apa yang dikatakannya dan lantas memberikan pengakuan kepadanya. Proyeknya bermacam-macam. Ada yang murni ekonomi. Ada yang hendak mengkatrol status sosial. Ada yang karena mengejar popularitas. Ada yang punya motif politik; ambisi kekuasaan, untuk membangun dinasti. Manusia-manusia jenis inilah yang lebih populer dikenal sebagai “orang munafik”—mengatakan sesuatu yang kelihatannya sejalan dengan kepentingan agama padahal berbeda dengan apa yang sesungguhnya ada di dalam lubuk jiwanya karena bermaksud mengambil keuntungan duniawi. Orang kebanyakan sangat mudah termakan oleh figur seperti ini. Apalagi, setelah berhasil berkuasa, mereka bisa menciptakan ‘ulama’-nya sendiri seraya meneggelamkan ulama yang sesungguhnya. Ulama-ulama buatan mereka inilah yang kelak akan membuat fatwa-fatwa atau riwayat-riwayat yang sejalan dan mendukung program-program mereka. Dapat kita bayangkan apa yang terjadi dengan agama samawi jikalau penguasa-penguasa seperti itu bertahta seratusan atau seribuan tahun. Bukankah kita mengenal pribahasa yang mengatakan bahwa kebohongan yang terus diulang-ulangi suatu saat akan diterima menjadi sebuah ‘kebenaran’. “Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menakjubkan hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak nyawa mereka akan melayang sedang mereka dalam keadaan kafir.” (9:55 dan 85)

 

2). Kata يُعْجِبُكَ (yu’jibuka, menakjubkan kamu) menunjukkan bahwa kata-kata mereka sungguh mengagumkan. Karena dari akar kata ini kemudian diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi “menakjubkan” dan “ajaib”, yang keduanya menunjukkan keluarbiasaan. Tetapi karena keseluruhan ayat ini memotret manusia jenis ini sebagai tidak sejalannya hati dan kata-katanya, maka dapat dipastikan bahwa yang menakjubkan itu bukan faktanya, tetapi permainan ‘logika’-nya—(ingat, kata logika di sini dalam tanda petik). Sepintas, apa yang mereka ungkapkan kelihatan masuk akal, membuat pendengarnya berbunga-bunga, dan kehilangan kendali diri. Di Perang Shiffin, Ammar bin Yasir berada di pihak Khalifah yang sah, Khulafaur Rasyidin, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, namun kemudian terbunuh di awal pecahnya perang yang memakan korban puluhan ribu sahabat dan tabi’in itu. Kejadian itu mengingatkan semua orang pada Hadis Nabi yang sangat terkenal bahwa Ammar bin Yasir kelak akan dibunuh olel Fi’atul Bughatiyah (Kelompok Durhaka). Ketika Hadis ini disampaikan kepada Mu’awiyah bin Abi Sofyan selaku pihak yang mengobarkan perang melawan Amirul Mukminin yang terkenal tak pernah sekalipun menyembah berhala itu, ayah Yazid itu memberi jawaban yang memukau pendengarnya: “Bukan kita yang membunuhnya,” ungkap Mu’awiyah penuh percaya diri. “Yang membunuhnya ialah pihak yang membawanya ke medan perang ini sehingga menyebabkannya terbunuh.” (Baca “Khilafah dan Kerajaan”-nya Abu A’la al-Maududi). Sebuah permainan kata-kata yang teramat ‘indah’. Dan benar saja, pasukan yang tadinya sudah mulai mengalami demotivasi, kini kembali bersemangat mengayunkan pedang guna membunuh siapa saja yang berada di pihak Amirul Mukminin dan Khalifah Rasyidin. “Telah menceritakan kepada kami Qabishah bin Uqbah berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari al-A’masy dari Abdullah bin Murrah dari Masruq dari Abdullah bin Amru bahwa Nabi saw bersabda: ‘Empat hal bila ada pada seseorang maka dia adalah seorang munafiq tulen, dan barangsiapa yang terdapat pada dirinya satu sifat dari empat hal tersebut maka pada dirinya terdapat sifat nifaq hingga dia meninggalkannya. Yaitu, jika diberi amanah dia khianat, jika berbicara dia dusta, jika berjanji dia mengingkari dan jika bersengketa dia curang’. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Syu’bah dari al-A’masy.” (Shahih Bukhari no. 33; lihat juga Shahih Muslim no. 88)

 

3). Karena dasarnya memang bukan iman, maka bersumpah palsu dengan membawa-bawa nama Allah bagi manusia jenis ini bukanlah masalah. Karena yang mereka masalahkan bukan Allah-nya, tapi bagaimana mencapai kepentingan pribadi dan kelompoknya: وَيُشْهِدُ اللّهَ عَلَى مَا فِي قَلْبِهِ (wa yusyɦidullāɦa ‘alā mā fī qalbiɦi, dan dia mempersaksikan kepada—yakni bersumpah atas nama—Allah apa yang ada di hatinya). Maksudnya, manusia jenis ketiga ini rela bersumpah atas nama Allah bahwasanya apa yang dikatakannya itu benar adanya. Bahwa itu adalah sebuah kebohongan belaka, itu tidak penting baginya. Yang menjadi perhatiannya bukan itu—toh mereka tidak beriman—melainkan bagaimana manusia di sekitarnya dapat menerimanya sebagai orang agamis, dapat dipercaya mengurusi ‘kemaslahatan’ umat. Soal kelak umat menuntut pertanggungjawaban atas apa yang disumpahkannya, itu soal nanti; masih ada berjuta kata yang siap dimainkan. Manusia jenis ini faham betul bahwa kekuasaan adalah segala-galanya. Kekuasaan adalah simpul dari semua urusan, termasuk urusan keagamaan. Setelah Perang Shiffin berkecamuk begitu hebatnya dan nyaris mematahkan pemberontakan Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Amr bin Ash, diplomat Mu’awiyah, menombak Mushaf Alquran lalu mengayun-ayunkannya dengan tujuan meminta ‘damai’ dan memecah pasukan Amirul Mukminin. Dalam tahkim (arbitrasi), Amr bin Ash tiba-tiba mengkhianati kesepakatan itu dan secara sepihak mengangkat kembali atasannya, Mu’awiyah, sebagai ‘khalifah’ kaum Muslim. Dan lahirlah Dinasti Umayyah yang menjadi preseden sistem kerajaan dalam tubuh umat Islam, hingga kini. Dan sekaligus tertancapkannya nisan kematian kekuasaan Khalifah Ilahi yang Rasyidin. “Telah mengabarkan kepada kami Sulaiman bin Harb dan Abu an-Nu’man dari Hamad bin Zaid dari Ayub dari Abu Qilabah ia berkata; Ibnu Mas’ud pernah berkata: ‘Hendaklah kalian mempelajari ilmu sebelum dicabut. Dan, dicabutnya ilmu dengan cara meninggalnya ulama. Hendaklah kalian menjadikan ilmu sebagai perbekalan, sebab salah seorang diantara kalian tidak pernah tahu, kapan ia membutuhkannya. Sesungguhnya kalian akan menemui satu komunitas yang mengklaim diri mereka mengajak kalian kepada Alquran, padahal mereka telah meletakkan Alquran di belakang punggung mereka (meninggalkan Alquran). Karena itu, bekalilah diri kalian semua dengan ilmu. Tinggalkanlah bid’ah, bersilat lidah dan sikap sering mengada-adadan (bid’ah), melampui batas hingga masalah menjadi rumit. Dan, berpegang teguhlah kepada yang lama’.” (Sunan ad-Darimi no. 143)

 

4). Karena Alquran adalah هُدًى (ɦudan, petunjuk) yang amalan praktisnya ialah “menuntun dan membimbing manusia untuk selalu memilih Jalan Yang Benar agar tidak dijerusmuskan oleh pihak-pihak mana saja yang bermaksud mengambil keuntungan sesaat darinya,” maka buntut ayat ini mengingatkan pembacanya bahwa orang-orang yang retorikanya tentang kehidupan dunia sedemikian memukaunya dan amat mudah bersaksi atas nama Allah untuk mendukung apa yang dikatakannya itu, sesungguhnya هُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ (ɦuwa aladdul-khishām, ia adalah penantang yang paling keras). Artinya? Waspadalah! Agama samawi di sepanjang liuk-liuk sejarah kenabian dan kerasulan mengalami korosi dan rejimentasi di tangan orang-orang seperti itu. Orang berkarakter seperti ini berbahaya karena menggunakan jubah keagamaan, menunaikan haji, bahkan sangat mungkin, menjadi pelayan haji. Agama samawi adalah samudra ilmu yang kepadanya bermuara seluruh ilmu, dan—karena ilmu adalah pahaman maka—untuk sampai ke sana harus melalui guru atau pintu yang benar, agar pahamannya tidak dibiaskan. Itu sebabnya, sebelum bicara soal haji, Alquran menyuguhkan terlebih dahulu kepada pembacanya sebuah informasi penting bahwa diantara ciri utama orang bertakwa ialah memasuki rumah ilahi (samudra ilmu) melalui pintunya yang benar (ayat 189). Kata الْخِصَام (al-khishām, penantang) hanya digunakan 2 kali dalam Alquran (2:204 dn 43:18), tetapi bersama kata yang serumpun dengannya totalnya menjadi 18 kali (dalam bentuk kata benda 8 kali, dan kata kerja 10 kali). Semuanya merujuk ke makna yang sama: bertengkar, menantang, pembantah atau penantang. Contohnya: “Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia (manusia itu) menjadi pembantah yang nyata.” (16:4) Dalam pengertian, manusia yang tadinya tidak ada lalu diadakan oleh Yang Maha Ada, maka seharusnya seluruh alur pengetahuannya segaris dengan yang mengadakannya. Kalau tidak, berarti di sana (di dalam kandungan pengetahuannya) ada penyimpangan; dan penyimpangan—dari sisi manusia yang memiliki kehendak bebas—artinya penentangan terhadap pemberadaannya oleh Yang Maha Ada. Agama yang dibangun oleh pemilik pengetahuan seperti itu adalah agama yang telah kehilangan vitalitas kebenarannya. “Dari al-A’masy dari Adi bin Tsabit dari Zirr dia bilang, Ali berkata: Demi Dzat yang membelah biji-bijian dan membebaskan jiwa, sesungguhnya perjanjian Nabi yang ummi (tidak bisa membaca) kepadaku adalah; ‘Tidaklah orang yang mencintaiku melainkan dia seorang mukmin dan tidaklah membenciku melainkan seorang munafik’.” (Shahih Muslim no. 113)

 

5). Hadis Nabi saw.:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحِ بْنِ الْمُهَاجِرِ أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ أَتَى رَجُلٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْجِعْرَانَةِ مُنْصَرَفَهُ مِنْ حُنَيْنٍ وَفِي ثَوْبِ بِلَالٍ فِضَّةٌ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْبِضُ مِنْهَا يُعْطِي النَّاسَ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ اعْدِلْ قَالَ وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ لَقَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ دَعْنِي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَأَقْتُلَ هَذَا الْمُنَافِقَ فَقَالَ مَعَاذَ اللَّهِ أَنْ يَتَحَدَّثَ النَّاسُ أَنِّي أَقْتُلُ أَصْحَابِي إِنَّ هَذَا وَأَصْحَابَهُ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْهُ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ

[Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh al-Muhajir, telah mengabarkan kepada kami Laits dari Yahya bin Sa’id dari Abu Zubair dari Jabir bin Abdullah ia berkata; Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah saw saat beliau berada di Ji’ranah sekembalinya dari Hunain. Sedangkan pada kainnya Bilal terdapat perak, sementara Rasulullah saw mengambil darinya dan memberikannya kepada orang-orang. Lalu laki-laki itu pun berkata: “Wahai Muhammad, bersikap adillah.” Beliau bersabda: “Celaka kamu, kalau begitu, siapakah yang akan berlakuk adil kalau aku tidak lagi berlaku adil. Sungguhnya kamu telah celaka sekiranya aku tidak berlakuk adil.” Lalu Umar bin Khaththab ra berkata: “Ya Rasulullah, biarkanlah aku membunuh orang munafik ini.” Beliau bersabda: “Aku berlindung kepada Allah. Jika (engkau membunuhnya, niscaya) orang-orang mengatakan bahwa aku membunuh sahabatku. Sesungguhnya orang ini dan para sahabatnya senantiasa membaca Alquran namun tidak sampai melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar darinya (Islam) sebagaimana meluncurnya panah dari busurnya.”] (Shahih Muslim no. 1761)

 

حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ عَنْ مَالِكٍ عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ قَالَ دَخَلْنَا عَلَى أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ بَعْدَ الظُّهْرِ فَقَامَ يُصَلِّي الْعَصْرَ فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ ذَكَرْنَا تَعْجِيلَ الصَّلَاةِ أَوْ ذَكَرَهَا فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِينَ تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِينَ تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِينَ يَجْلِسُ أَحَدُهُمْ حَتَّى إِذَا اصْفَرَّتْ الشَّمْسُ فَكَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ أَوْ عَلَى قَرْنَيْ الشَّيْطَانِ قَامَ فَنَقَرَ أَرْبَعًا لَا يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا

[Telah menceritakan kepada kami al-Qa’nabi dari Malik dari al-Ala` bin Abdurrahman bahwasanya dia berkata; Kami pernah menemui Anas bin Malik setelah Zhuhur, lalu beliau bangkit dan shalat Ashar. Setelah selesai dari shalatnya, kami menyebutkan tentang tergesa-gesa dalam shalat, atau menceritakannya, maka dia berkata; Saya pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Itu adalah salatnya orang-orang munafik, itu adalah salatnya orang-orang munafik, itu adalah salatnya orang-orang munafik, salah seorang dari mereka duduk hingga sinar matahari telah menguning, tatkala itu ia sedang berada di antara dua tanduk setan atau pada dua tanduk setan, maka dia bengkit untuk salat, dia salat empat rakaat dengan sangat cepat (seperti burung mematuk makanan), dia tidak mengingat Allah padanya kecuali sangat sedikit.”] (Sunan Abu Daud no. 350)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Dunia ini memang menyenangkan. Hanya orang bodoh saja yang menyangkal itu. Tetapi kesadaran intelektual kita mengatakan bahwa setelah kehidupan dunia ini masih ada kehidupan selanjutnya yang jauh lebih menyenangkan dan abadi. Dan hanya orang bodoh pula yang mau mengorbankan kesenangannya yang abadi demi kesenangannya yang sementara. Maka berhati-hatilah Anda terhadap orang yang pembicaraannya tentang kehidupan dunia begitu memukau seraya menggunakan jargon-jargon keagamaan. Karena boleh jadi dia justru penantang kebenaran nomor wahid.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

3 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply