Al-Baqarah ayat 203

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
October 1, 2012
0 Comments
1965 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 203

وَاذْكُرُواْ اللّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ فَمَن تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَن تَأَخَّرَ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

[Dan berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah dalam beberapa hari yang ditentukan. Siapa yang bersegera (meninggalkan Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa atasnya. Dan siapa yang menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka (juga) tidak ada dosa atasnya, bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa kalian akan dikumpulkan kepada-Nya.][Celebrate the praises of Allah during the Appointed Days. But if any one hastens to leave in two days, there is no blame on him, and if any one stays on, there is no blame on him, if his aim is to do right. Then fear Allah, and know that ye will surely be gathered unto Him.]

1). Setelah memasuki kembali Mina, seandainya pun Anda telah terbebas dari larangan-larangan ihram, tetaplah jangan pernah berhenti dari berzikir menyebut nama Allah: وَاذْكُرُواْ اللّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ [wadzkurūllāɦa fī ayyāmin ma’dūdātin, dan berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah dalam beberapa hari yang ditentukan]. Karena berzikir artinya melempar setan terus-menerus, atau memagari diri sebagai proteksi terhadap upaya tanpa kenal lelah dari setan untuk berkuasa dan membangun kerajaannya di dalam singgasana jiwa. Berzikir juga berarti menghadirkan Allah di dalam singgasana-Nya; yaitu entitas jiwa yang memang Dia persiapkan untuk-Nya saat menciptakan manusia dari ruh-Nya (15:29, 38:72, dan 32:9), fithrah-Nya (30:30), dan sibghah-Nya (2:138). Makna lain dari berzikir ialah menyerap asma-asma Allah yang begitu indah ke dalam cawan jiwa sehingga kelak berakhlak dengan akhlak-Nya. Hingga di sini, di Mina ini, perjuangan belum selesai. Jamaah masih harus mabit (menginap) selama dua atau tiga malam. Kegiatan utamanya ialah berzikir kepada Allah sambil melempar tiga buah Jumrah (Ula-Wustha-Aqabah) setiap harinya. Jamaah sudah harus memasuki wilayah Mina sebelum matahari terbenam. Selain karena merupakan awal hari dalam penanggalan sistem Qomariah (Lunar System), terbenamnya matahari juga pertanda terlindunginya manusia dari sumber cahaya, sehingga kegelapan pun perlahan datang. Pada saat itu disamping hubungan dengan warna-warninya dunia mulai terputus sedikit demi sedikit, pula setan digambarkan sebagai penghuni dunia kegelapan. Dalam kegelapanlah setan menemukan vitalitasnya. Dan dalam kegelapan pulalah setan bisa memperdaya mangsanya. Pada saat itu, manusia butuh perlidungan yang kokoh. Dan itu adalah Mina. Karena di Mina ini, setan dari segala tingakatannya (kecil-menengah-besar) sudah terkubur di Jamarat. Dan jamaah harus merajamnya (mengutuk dengan melempari batu) tiap hari agar jangan hidup kembali di jiwa-jiwa mereka setiba di kampung halaman. “Allah berfirman: ‘Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud?’ Iblis menjawab: ‘Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau ciptakan dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk’. Allah berfirman: ‘Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk. Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat.” (15:32-35)

 

2). Selama berada di Mina, jamaah mempunyai dua pilihan. Bisa tinggal sampai tanggal 12 Zulhijjah saja, atau memilih sampai tanggal 13 Zulhijjah, akhir hari tasyrīq. Yang pertama biasanya disebut nafar awal. Yang kedua disebut nafar akhir. Redaksi ayatnya berbunyi: فَمَن تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَن تَأَخَّرَ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى [faman ta’ajjala fī yawmayni falā itsma ‘alayɦi wa man ta-akhkhara falā itsma alayɦi limanit-taqā, siapa yang bersegera (meninggalkan Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa atasnya. Dan siapa yang menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka (juga) tidak ada dosa atasnya bagi orang yang bertakwa]. Perhatikan baik-baik cuplikan teks ayat tadi. Kendati Allah menyodorkan dua opsi untuk dipilih secara sukarela, tetapi di kedua pilihan itu ada sedikit perbedaan penggunaan kata namun maknanya cukup mendasar. Dalam penyebutan فَمَن تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ [faman ta’ajjala fī yawmayni, siapa yang bersegera (meninggalkan Mina) sesudah dua hari], Allah secara datar mengatakan: فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ (falā itsma ‘alayɦi, maka tiada dosa atasnya). Akan tetapi saat menyebut مَن تَأَخَّرَ (man ta-akhkhara), sesudah menginformasikan status hukumnya sebagai فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ (falā itsma ‘alayɦi, maka tiada dosa atasnya), ada tambahan keterangan penting: لِمَنِ اتَّقَى (limanit-taqā, bagi orang yang bertakwa). Ini menunjukkan bahwa walaupun jamaah boleh memilih, namun Allah mengindikasikan bahwa opsi kedua akan dipilih oleh orang yang bertakwa, tanpa bermaksud mengecilkan hati mereka yang memilih opsi pertama. Melalui penggalan ayat ini, Allah tak saja mengajarkan kita mengenai hukum tapi juga kearifan dalam menghargai pilihan orang lain, yang dalam kearifan itu sekaligus ada edukasi dan motivasi untuk selalu memilih yang optimal. Allah menyiapkan ruang untuk memilih. Tetapi di dalam ruang itu ada batas yang jelas, agar para pemilih tidak terpelanting ke dalam kebebasan yang nista. Agama terlihat sederhana, tetapi di dalam kesederhanaan itu ada bingkai yang berperan sebagai penahan laju kesemberonoan. Sehingga melanggar atau merusak bingkai itu, dengan gampang menyebutnya “batil”. “[(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang padanya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan Alfurqan (pembeda antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kalian yang menyaksikan (di negeri tempat tinggalnya) bulan itu, maka hendaklah berpuasa di bulan itu. Dan barangsiapa sakit atau safar (bepergian)—lalu berbuka—maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu di hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran. Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah (pula) kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kalian bersyukur.” (2:185)

 

3). Setelah membedakan dua opsi itu, Allah lalu memerintahkan untuk bertakwa: وَاتَّقُواْ اللّهَ (wattaqullāɦa, dan bertakwalah kepada Allah). Sehingga selain menambah khasanah kita tentang takwa, juga tentang kebajikan yang sempurna atau al-birr (ayat 177), tentang qishāsh (ayat 179 dan 194), tentang washiyat (ayat 180), tentang puasa (ayat 183), tentang memasuki rumah dari pintunya (ayat 189), dan tentang haji (ayat 196 dan 197). Dalam Islam yang hakiki, semuanya terjalin satu sama lain. Tak terpisahkan. Memisah-pisahkan berarti memparsialisasi Islam, yang berarti juga melucutinya dari sifatnya yang universal. Tetapi arah dari perintah bertakwa di ayat 203 ini jelas, mengisyaratkan untuk memilih lebih lama di Mina, lebih lama di dalam benteng perlindungan, dalam benteng persaudaraan dan persatuan, yang berarti juga lebih sering melempar nisannya setan di Jamarat. Karena setan itulah yang paling bertanggungjawab—yang mejadi penyebab—dalam mengkavling-kavling agama menjadi serakan yang lantas masing-masing diurus oleh satu mazhab atau organisasi. Kemudian setiap orang merasa bangga dengan apa yang ada pada kelompoknya masing-masing. Kebanggaan terhadap Islam dikalahkan oleh kebanggaan kelompok. Perasaan primordialisme kembali mengalahkan rasa persaudaraan spiritual. Sehingga semangat jahiliah menemukan lagi media eksposisinya, dengan nama yang lebih mentereng. Kalau dulu mazhab hanya semacam ‘kelompok’ persaudaraan ijtihadiah; tetapi kini mazhab telah berbadan hukum dan hanya sebagai subordinat dari institusi moderen yang bernama “negara”. “Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu.” (23:52-54)

 

4). Agar makna kehadiran jamaah haji di Mina terselami, setiap dari mereka harus menyimak sebuah maklumat yang terdapat di buntut ayat ini: وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ (wa’lamū annakum ilayɦi tuhsyarūn, dan ketahuilah bahwa kalian akan dikumpulkan kepada-Nya). Pertama, Sejak hari nahar (10 Zulhijjah) sampai berakhirnya hari-hari tasyrīq (11, 12 dan 13 Zulhijjah), Mina sontak berubah menjadi sebuah perkampungan ‘militer’ yang seolah menggambarkan suasana perang dengan kemah-kemah prajuritnya yang mengepung posisi musuh di Jamarat. Arah gerak jamaah sama: memasuki medan laga seraya membawa peluru-peluru yang siap dimuntahkan ke posisi-posisi nisan setan yang terkutuk. Setiap selesai perang, jamaah kembali ke tendanya masing-masing untuk beristirahat, mempersiapkan tenaga buat perang esok harinya. Manusia didatangkan ke dunia ini oleh Allah dalam keadaan jiwa yang bersih, maka mereka pun harus kembali ke pangkuan-Nya dalam keadaan bersih. Dan yang dimaksud dengan bersih ialah jiwa tanpa pengarus setan. Kedua, kata تُحْشَرُونَ (tuhsyarūn, dikumpulkan) satu asal dengan kata “mahsyar” (tempat berkumpul) dalam ungkapan “Padang Mahsyar”. Jadi diantara pesan yang Allah hendak sampaikan melalui pertemuan raksasa di Mina ini ialah bahwa dari seluruh penjuru dunia manusia ternyata bisa datang berkumpul di suatu tempat, maka—secara simetris—begitu jugalah adanya nanti di akhirat: Dari seluruh penjuru masa dan tempat mereka akan dikumpulkan kembali di suatu ‘tempat’ yang telah keluar dari perangkap waktu, sehingga tidak ada lagi istilah manusia pertama manusia terakhir. Manusia di sana berdiri sejajar pada ‘momentum’ yang sama, tanpa jarak tanpa saat. Dan saling kenal-mengenal satu sama lain. Di sana, mereka semua sibuk mengutuki setan-setan (dari kalangan jin dan manusia) yang dulu menyesatkannya di dunia. “Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyerumu lalu kalian mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kalian mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu’. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” (14:22. Sebaiknya baca dari ayat 21)

 

5). Hadis Nabi saw.:

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عِيسَى بْنِ طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَفَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ بِمِنًى لِلنَّاسِ يَسْأَلُونَهُ فَجَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ لَمْ أَشْعُرْ فَحَلَقْتُ قَبْلَ أَنْ أَذْبَحَ فَقَالَ اذْبَحْ وَلَا حَرَجَ فَجَاءَ آخَرُ فَقَالَ لَمْ أَشْعُرْ فَنَحَرْتُ قَبْلَ أَنْ أَرْمِيَ قَالَ ارْمِ وَلَا حَرَجَ فَمَا سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ شَيْءٍ قُدِّمَ وَلَا أُخِّرَ إِلَّا قَالَ افْعَلْ وَلَا حَرَجَ

[Telah menceritakan kepada kami Ismail berkata, telah menceritakan kepadaku Malik dari Ibnu Syihab dari Isa bin Thalhah bin Ubaidillah dari Abdullah bin Amru bin al-Ash bahwa Rasulullah saw berdiri di Mina pada haji wada’ memberi kesempatan kepada manusia untuk bertanya kepada beliau. Lalu datanglah seseorang dan berkata: “Aku tidak menyadari, ternyata saat aku mencukur rambut aku belum menyembelih (hewan kurban).” Maka Nabi saw bersabda: “Sembelihlah, tidak apa-apa.” Kemudian datang orang lain dan berkata: “Aku tidak menyadari, ternyata ketika berkurban aku belum melempar (jumrah)”. Nabi saw bersabda: “Lemparlah dan tidak apa-apa”. Dan tidaklah Nabi saw ditanya tentang sesuatu perkara sebelum dan sesudahnya kecuali beliau menjawab: “Lakukanlah dan tidak apa-apa”.] (Shahih Bukhari no. 81)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Jamaah haji menginap di Mina antara dua atau tiga malam. Di sana mereka sibuk menyenut nama Allah seraya mempersiapkan diri untuk merajam nisan-nisan setan yang ada di Jamarat. Lho, kok batu nisan yang digempur dengan batu? Karena setan sesungguhnya tidak pernah mati. Di Mina memang mereka sudah terkubur. Tetapi di tempat-tempat lain di permukaan bumi ini, setan masih hidup bergentayangan mulai dari kolong-kolong jembatan sampai ke balik pintu-pintu istana. Setan seperti bunglon yang bisa berkamuflase ke dalam bentuk-bentuk lingkungan tempatnya berada. Bahkan setan bisa berkamuflase seperti diri Anda.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

2 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

Leave a Reply