Al-Baqarah ayat 200

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
September 13, 2012
0 Comments
2750 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 200

فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُواْ اللّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْراً فَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ

[Apabila kalian telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, sebagaimana kalian menyebut-sebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa:”Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”. Dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.]

[So when ye have accomplished your holy rites, celebrate the praises of Allah, as ye used to celebrate the praises of your fathers,- yea, with far more Heart and soul. There are men who say: “Our Lord! Give us (Thy bounties) in this world!” but they will have no portion in the Hereafter.]

1). Dari Muzdalifah, jamaah haji bergerak menuju Mina. Aktivitas pertama di Mina ialah melempar Jumrah yang paling dekat ke Mekah, yaitu Jumrah Aqabah, sebanyak 7 (tujuh) kali lemparan. Tiap kali lemparan dianjurkan bertakbir—membaca lafaz “Allahu Akbar” (Allah Mahabesar). Hikmahnya; kendati yang dilempar adalah sebuah tugu ‘pusaran’ setan, tetapi pada hakikatnya yang dilempar itu adalah ‘pusaran’ ego yang ada di dalam diri yang selama ini mengecilkan—bahkan menegasikan—peranan Allah di semua lini kehidupan. Kita percaya seratus persen bahwa hidup ini diatur oleh hukum-hukum yang ajek, yang tersistematisasi sedemikian rupa sehingga tidak ada cacat padanya, tetapi kita enggan mengalamatkan hukum-hukum itu kepada-Nya, dan karenanya kita menepuk dada, merasa sanggup membuat hukum-hukum tandingan guna mengatur prihal kehidupan kita sebagai manusia yang sesungguhnya sangat lemah di hadapan-Nya. Inilah awal arogansi manusia. Inilah muasal penolakan manusia terhadap Pemerintahan Ilahi yang sepaket dengan Khalifah Ilahi. Lafaz “Allahu Akbar” adalah afirmasi akan kebesaran Allah yang terjelma di semua entitas, yang ghaib (non empirik) ataupun yang syahadah (yang empirik); dan sekaligus negasi terhadap ego diri yang selama ini menciptakan jarak dualitas antara aku-ku dan Aku-Nya, yang menyebabkan manusia kesulitan menyamakan kehendak-nya dengan kehendak-Nya, yang karenanya manusia berfikir mampu membangun secuil pemerintahannya sendiri di antero wilayah pemerintahan Allah yang meliputi semesta raya ini. Itu sebabnya kenapa satu-satunya yang dilempar di Hari Nahar (tanggal 10 Zulhijjah, bertepatan dengan hari Idul Adha, Lebaran Haji) ialah Jumrah yang paling dekat jaraknya ke Ka’bah. Karena Rumah Tua itu adalah Baitullah yang merupakan simbol Pusat Pemerintahan Tuhan, yang kepadanya juga manusia bertawaf 7 (tujuh) kali. Jadi, melempar Jumrah adalah negasi terhadap Pemerintahan Setan, sementara bertawaf adalah afirmasi terhadap Pemerintahan Tuhan. Melempar Jumrah adalah pemberontakan untuk berlepas diri, sementara bertawaf adalah pembaiatan untuk berserah diri. Manusia tidak akan bisa sampai ke Rumah Allah kalau tidak kuasa mengalahkan Musuh Allah terlebih dahulu. Manusia tidak mungkin memasuki Rumah Allah seraya menggandeng tangan-tangan Musuh Allah. “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa Maha Pengampun. Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis; kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat, dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah. Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.” (67:1-5)

 

2). Setelah melempar Jumrah Aqabah, jamaah haji ‘menyembelih’ hewan kurbannya kemudian menggunting atau mencukur rambutnya. Inilah yang dikenal dengan istilah tahallul awal. Pakaian ihram sudah bisa dicopot, larangan-larangannya tak efektif lagi kecuali bercampur suami-istri. Perjalanan sebaiknya diteruskan ke Masjidil Haram untuk melakukan Thawaf Ifadlah (Tawaf Haji) dan Sa’i Haji antara Shafa dan Marwah. Usai Sa’i alias berlari-lari kecil (juga) sebanyak 7 (tujuh) kali, masuk pada tahapan terakhir dari ihram, yaitu tahallul akhir. Dan larangan bercampur suami-istri pun ikut tercabut. Tetapi prosesi haji belum sempurna. Jamaah yang meninggalkan wilayah Mina harus kembali ke sana lagi sebelum matahari terbenam, untuk menginap dan melempar 3 (tiga) jumrah—Ula-Wustha-Aqabah—esok harinya. Dalam rangkaian inilah Allah mengingatkan: فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُواْ اللّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْراً [fa idzā qadlaytum manāsikakum fadzkurūllāɦa kadzikrikum ābā-akum aw asyaddu dzikrā, apabila kalian telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, sebagaimana kalian menyebut-sebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu]. Artinya, kendati larangan-larangan berihram sudah tidak berlaku lagi, tetapi tetaplah berzikir kepada Allah, karena setan tak pernah mengenal lelah untuk menguasai manusia, menggelincirkannya dari Jalan Lurus dan menggunakannya sebagai bala tentaranya. Hingga, pada akhirnya, manusia itu tidak bersedia taat kepada Pemerintahan Tuhan dengan Khalifah Iahi-nya. “Iblis menjawab: ‘Karena Engkau (Tuhan) telah menghukumi saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka (manusia) dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)’.” (7:16-17) Maka jangan pernah lengah sedikit pun juga. Berjanjilah untuk melawan setan selamanya sebagaimana Iblis berikrar untuk menyesatkan manusia selamanya. Jangan pernah berhenti membentengi diri dari depan dan dari belakang, dari kanan dan dari kiri, dengan berzikir kepada Allah, sebagaimana Iblis telah bersumpah untuk mengepung manusia dari seluruh sisi. Bahkan berzikirlah hingga detik-detik menjelang tidur karena Iblis akan tetap terjaga dan menanti hingga mata terbuka.

 

3). Sebelum Islam datang, manusia pada saat itu memanfaatkan masa-masa ini untuk saling memertontonkan kedigdayaan suku-suku mereka dengan menyebut-sebut moyang-moyangnya, yang merupakan tokoh-tokoh melegenda dalam suku-suku tersebut. Setiap anggota suatu komunitas merasa bangga dengan kelompoknya masing-masing. Sehingga haji tak lagi menjadi ibadah untuk membunuh ego, melainkan sebaliknya. Haji tak lagi menjadi alat untuk meredam benih-benih perpecahan, melainkan justru menumbuh-suburkannya. Itu sebabnya, selepas musim haji, selepas bulan-bulan haram, pedang kembali dihunus, darah kembali ditumpahkan, nyawa-nyawa kembali tak diharga. Yang dijunjung bukan Tuhan tapi setan. Yang diperjuangkan bukan keadilan tapi kezaliman. Setiap kelompok membuat kriteria ‘kebenaran’-nya masing-masing seraya mengeluarkan yang lain daripadanya, sehingga selain kelompoknya, sah untuk diusir dari tempat tinggalnya, ditumpahkan darahnya, dirampas propertinya, dan dilayangkan nafasnya. Maka Allah membalik paradigma lama itu dengan mengatakan: فَاذْكُرُواْ اللّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْراً [fadzkurūllāɦa kadzikrikum ābā-akum aw asyaddu dzikrā, maka berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah sebagaimana kalian menyebut-sebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu]. Kata آبَاءكُمْ (ābā-akum, bapak-bapak atau nenek moyang) di sini adalah dalam maknanya yang negatif, seperti dalam ayat: “(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: ‘Patung-patung apakah ini yang kalian tekun beribadah kepadanya?’ Mereka menjawab: ‘Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya’. Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya kalian dan bapak-bapak kalian berada dalam kesesatan yang nyata’.” (21:52-54) Kesalahan mereka di ayat 200 ini ada dua: selain nenek-moyang mereka itu jelas-jelas berada dalam kesesatan, mereka bangga-banggakan pula. Allah menginginkan agar kebanggaan primordialisme seperti itu ditanggalkan karena bertentangan dengan agama tauhid, yang dengannya Allah mengajarkan kepada Ibrahim dan keluarganya manasik haji. Itu sebabnya, melalui ayat 200 ini, Allah meminta jamaah haji tidak lagi memuji-muji moyang-moyang mereka, menyanjung-sanjung komunitas mereka, dengan menggantinya dengan memuji-muji dan menyebut-sebut Allah, أَوْ أَشَدَّ ذِكْراً [aw asyaddu dzikrā, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu]. Kata أَشَدَّ (asyaddu) di sini sebetulnya kurang tepat jika hanya diartikan dengan “lebih banyak”. Sebab di dalam kata itu tak hanya terkandung makna “banyak” tapi juga “keras” dan “tegas”. Allah seakan bermaksud menyampaikan bahwa berzikir menyebut nama-Nya haruslah lebih “berkesan” daripada sebutan masyarakat Jahiliah kepada moyang-moyang mereka dahulu, sehingga zikir kepada Allah benar-benar tidak hanya menutupi tapi sekaligus mengenyahkan sesedikit apapun sifat primordialisme tersebut. “Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu (Muhammad) seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.’ (Rasul itu) berkata: ‘Apakah (kalian akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kalian dapati bapak-bapakmu menganutnya?’ Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya’.” (43:23-24).

 

4). Kenapa di dalam pelaksanaan ibadah hajipun masih ada saja orang-orang yang membangga-banggakan ego pribadi dan kelompoknya? Jawabannya: cinta dunia. Cintanya kepada harta benda dunia berikut penghormatan sosial yang diterimanya, menutup mata hatinya dari melihat keutamaan akhirat. Sehingga ketika sedang melakoni peran Ibrahim-Ismail-Hajar pun yang mereka fikirkan tetap bukan figur-figur ilahiah yang sangat terhormat di mata Allah itu, tetapi figur-figur duniawi yang menurut mereka sangat terhormat di mata manusia. Yang mereka cita-citakan ialah menjadi terpandang dan tersanjung di kalangan penghuni bumi, tak peduli harus terhina dan terkutuk di kalangan penghuni langit. Bagi mereka, haji bukanlah ‘tangga’ ruhani untuk sampai ke Sidratul Muntaha, tetapi sekedar ‘permen’ agama untuk mempermanis tampilan sosial. Jauh-jauh hari Allah sudah mengingatkan tentang adanya orang-orang seperi itu di dalam mengikuti manasik haji: فَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا [fa minan-nāsi man yaqūlu rabbanā ātinā fīd-dun’yā, maka diantara manusia ada orang yang berdoa:”Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”]. Mereka itu bukanlah dari kalangan ateis. Mereka juga percaya kepada Tuhan. Bahkan yakin bahwa doa hanya pantas ditujukan kepada dan diijabah oleh Tuhan. Makanya mereka pun memanjatkan doanya dengan khusyu kepada Tuhan. Mereka memulai permohonanya dengan seruan: رَبَّنَا (rabbanā, wahai Tuhan kami!). Di Miqat, mereka juga ‘menanggalkan’ pakaian duniawinya dan menggantinya dengan ihram. Sayangnya, di balik ihramnya yang putih bersih itu, mereka memendam hasrat jiwa yang hitam pekat: cinta dunia yang tak terperi. Sesuai dengan niat dan tujuannya, mereka mendapatkan panggilan “haji” atau hal-hal lahiriah yang berkaitan dengannya, tetapi مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ [mā laɦu fīl-ākhirati min khalāq, tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat]. Mereka lupa bahwa “haji” adalah janji, sumpah, dan baiat untuk menjadi seperti Ibrahim, Ismail, dan Hajar yang merupakan teladan abadi dalam mengosongkan seluruh bilik jiwa dari selain Allah. “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.” (3:77)

 

5). Hadis Nabi saw.:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ بَكْرٍ حَدَّثَنَا ابْنُ جَابِرٍ حَدَّثَنِي أَبُو عَبْدِ السَّلَامِ عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

[Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ibrahim bin ad-Dimasyqi berkata, telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Bakr berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Jabir berkata, telah menceritakan kepadaku Abu Abdus Salam dari Tsauban ia berkata; Rasulullah saw bersabda: “Hampir-hampir bangsa-bangsa memperebutkan kalian (umat Islam), layaknya memperebutkan makanan yang berada di mangkuk.” Seorang laki-laki berkata: “Apakah kami waktu itu berjumlah sedikit?” Beliau menjawab: “Bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, namun kalian seperti buih di genangan air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut (musuh) kepada kalian, dan akan menanamkan ke dalam hati kalian Alwahn.” Seseorang lalu berkata: “Wahai Rasulullah, apa itu Alwahn?” Beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.”] (Sunan Abu Daud no. 3745)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Haji adalah ritual tauhid yang bertujuan mendekatkan pelakunya kepada figur Ibrahim dan keluarga sucinya. Tetapi setelah berinplikasi dengan sistem salutasi sosial, pada tingkat tertentu haji mengalami reduksi makna. Haji tak lagi dipandang sebagai ibadah pengosongan diri dari cinta kepada selain Allah, tetapi telah bermetamorfosa menjadi predikat kelas, yang pada ujungnya berperan untuk meraih keuntungan-keuntungan duniawi belaka. Jika Anda telah atau akan berhaji, coba perbaiki kembali niatnya.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply