Al-Baqarah ayat 199

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
September 10, 2012
0 Comments
1830 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 199

 

ثُمَّ أَفِيضُواْ مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

[Kemudian bertolaklah kalian dari tempat bertolaknya orang banyak dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.][Then pass on at a quick pace from the place whence it is usual for the multitude so to do, and ask for Allah’s forgiveness. For Allah is Oft-forgiving, Most Merciful.]

1). Setelah melewati waktu malamnya di Masy’aril Haram seraya memungut batu-batu kecil dan berzikir dengan zikir yang benar, bertolaklah kembali (dengan meninggalkan tempat itu) sebagaimana bertolaknya jamaah pada umumnya. Yang agak menggelisahkan, siapa (“kalian”) yang dimaksud oleh objek kata kerja perintah أَفِيضُواْ (afīdlū, bertolaklah), dan siapa pula yang dimaksud oleh kata النَّاسُ (an-nāsu, orang banyak) di penggalan مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ (min haytsu afādlan-nāsu, dari tempat bertolaknya orang banyak)? Sepintas sepertinya ada dua pihak yang melakukan ibadah haji di sini. Ada “kalian” (orang-orang beriman) dan ada النَّاسُ (an-nāsu, orang banyak). Sepertimana telah disebutkan sebelumnya bahwa prosesi haji ini bukanlah ibadah baru bagi umat Muhammad saw. Ini adalah ibadah yang sudah ada sejak Nabi Ibrahim dan keluarganya pertama kali menempati wilayah suci itu. Sejak itu, pelaksanaannya terus berlangsung dari tahun ke tahun. Hanyasaja sudah banyak dicampuri oleh perbuatan-perbuatan syirik dan bid’ah. Tetapi rute, rentang waktu, dan amalan-malan utamanya masih tetap sama. Mereka, sebelum Islam datang, pun wukuf di Arafah dan mabit (melewati malamnya) di Muzdalifah sebelum melanjutkan perjalan menuju ke Mina. Maka النَّاسُ (an-nāsu, orang banyak) yang dimaksud di ayat ini ialah orang-orang sebelum Islam. Dalam hal yang itu—bertolak dari Muzdalifah seusai melewatinya semalaman—tidak ada perubahan manasik. Tetap sama seperti yang dulu. “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): ‘Ya Tuhan kami terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada-Mu dan (jadikanlah) di antara dzurriyat (anak cucu) kami umat yang tunduk patuh kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami manasik (cara-cara dan tempat-tempat) ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat Maha Penyayang.” (2:127-128)

 

2). Dalam prosesi ibadah haji ini, ada dua hal penting yang perlu digarisbawahi. Pertama, penapaktilasan perjalanan Nabi Ibrahim as bersama putra pertama dan kesayanganya saat itu untuk menunaikan perintah Allah kepada keduanya; yang pertama (Nabi Ibrahim selaku ayah) diperintah utuk menyembelih yang kedua (Nabi Ismail selaku anak). Bagi siapapun, anak adalah buah hati, belahan jiwa, yang kepadanyalah bermuara seluruh usaha duniawi. Puncak dari cita-cita orang tua yang menyebabkannya dapat menghadang seluruh rintangan hidup dari pagi hingga ke pagi berikutnya ialah kesejahteraan dan kebahagiaan anak. Pendeknya, bagi orang tua, anak adalah simpul cinta itu sendiri. Tetapi melalui prosesi haji ini, Allah hendak mengajarkan kepada seluruh manusia bahwa cinta kepada Allah harus mengatasi segala-galanya, karena dari pada-Nya-lah bermula segala sesuatu dan kepada-Nya pulalah berakhirnya perjalanan segala sesuatu. Tidak mungkin ada anak tanpa orang tua….. begitu seterusnya, menggelinding ke atas, ke orang tuanya orang tua, ke kakeknya kakek, ke datuknya datuk, ke moyangnya moyang, hingga terbukti bahwa tidak mungkin ada manusia tanpa kasih sayang Allah. Di panggung kehidupan yang bernama haji ini, Nabi Ibrahim dan Islamil mementaskan diorama cinta sejati. “(Ibrahim berdoa:) ‘Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang saleh.’ Maka Kami gembirakan dia dengan seorang anak yang berbudi-luhur. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersamanya, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam tidur bahwa aku (diperintah untuk) menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia (Ismail) menjawab: ‘Hai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang yang sabar’. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran dan kepatuhan keduanya untuk menunaikan perintah itu).” (37:100-103) Kedua, penggambaran mengenai keadaan manusia setelah bangkit kembali dari alam kuburnya masing-masing, sesaat setelah Hari Kiamat. Manusia berdiri di hadapannya Tuhannya dalam keadaan sendiri-sendiri, melucuti seluruh pakaian kebesaran duniawinya—yang selama ini membuatnya berkasta-kasta—seraya menampilkan postur dirinya yang sesungguhnya sesuai dengan amal-amal perbuatannya masing-masing. Prosesi haji menarik kesadaran manusia ke depan sana, melampaui kesadaran kini dan di sininya, sebelum masa itu benar-benar terjadi, agar jangan ada penyesalan. “Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka ke luar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. Mereka berkata: ‘Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?’ Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya).” (36:51-52)

Poin pertama mengingatkan betapa jauhnya kita selama ini dari cinta sejati. Sementara poin kedua mengingatkan betapa masih panjangnya perjalanan kita paska kematian dan betapa lalainya kita dari persiapan diri menuju ke sana. Tetapi, setelah menyadari itu semua, tidak usah berputus asa: وَاسْتَغْفِرُواْ اللّهَ (wastaghfirūllāɦa, dan mohonlah ampun kepada Allah). Maka di sepanjang perjalanan dari Masy’aril Haram menuju ke Mina, selain berzikir kepada Allah, juga perbanyaklah istighfar (permohon ampun kepada-Nya). “Dan sungguh jikalau kalian gugur atau meninggal di jalan Allah, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) dari harta benda yang mereka kumpulkan. Dan sungguh jikalau kalian meninggal atau gugur, tentulah kepada Allah saja kalian dikumpulkan.” (3:157-158)

 

3). Perhatikan kembali anak kalimat ini: وَاسْتَغْفِرُواْ اللّهَ (wastaghfirūllāɦa, dan mohonlah ampun kepada Allah). Dalam kata kerja perintah bentuk jamak اسْتَغْفِرُواْ (istaghfirū, mohon ampunlah kalian semua), objeknya (yang dimintai ampun) ialah “اللّه” (allāɦ). Pertanyaannya, kenapa bukan kepada yang lain? Jawabannya: Seluruh perbuatan manusia, lahir dan batin, bersumber dan berada di dalam wilayah kekuasaan Allah. Dan karena perbuatan manusia hanya ada dua macam—yaitu baik dan buruk, benar dan salah, hak dan batil, syar’i dan tidak syar’i—maka semua perbuatan yang bernuansa negatif itu pasti menyalahi hukum-hukum-Nya, yang secara praktis dan tak terelakkan berakibat pada hukuman. Kendati yang kelihatan terugikan dari perbuatan itu adalah orang lain atau alam sekitar. Penjelasannya; tiap-tiap entitas masing-masing memiliki relasi eksistensial satu sama lain sehingga membentuk kesatuan totalitas yang padu. Konsekuensinya, tiap satu entitas terganggu oleh ulah manusia, maka akan mengganggu semua yang lain, sehingga ‘bola raksasa’ kesatuan itu bagai garpu tala yang memebentuk getaran hingga ke Pencipta dan Pemeliharanya. Lalu berhenti di Sana. Sehingga, melalui mekanisme itu, tidak ada satu perbuatan pun yang tak terlaporkan kepada-Nya. Laporan itu tersimpan rapih di sisi-Nya. Dan tak akan terhapuskan kecuali melalui ungkapan istighfar kepada-Nya. Adakah manusia yang bisa menghitung jumlah pasti dari kesalahannya? Tentu saja tidak. Kalau begitu solusinya hanya satu: ber-istighfar kepada Allah sebanyak-banyaknya…!!! “Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Dia (Shaleh) berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kalian dari bumi (tanah) dan menjadikan kalian pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya), (serta) memperkenankan (doa hamba-Nya)’.” (11:61)

 

4). Apabila Allah menyuruh melakukan sesuatu pasti ada alasan dan harapan di balik suruhan tersebut. Itu sebabnya, setelah menyuruh jamaah haji ber-istighfar, dengan anak kalimat yang tegas Dia lantas menyebut diri-Nya:  إِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ(innallāɦa ghafūrur-rāhīm, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun Maha Penyayang). Ini sama dengan penutup ayat 192 yang berbicara tentang perang di jalan Allah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pasti ada kesamaan antara berperang di jalan Allah dengan berhaji ke Baitullah. Kehidupan ini adalah medan perang. Prosesi ibadah haji adalah miniasinya. Di dalam kehidupan ini, hanya satu cara untuk selamat: selalu introspeksi diri dengan melihat kembali apa-apa yang selama ini telah dilakukan. Setelah menemukan sumber kesalahan di dalam diri, bagai bertempur melawan musuh yang mengobarkan perang, lawanlah itu hingga ke titik darah yang penghabisan; jangan berikan kesempatan untuk aktual kembali karena lama kelamaan akan kian membesar sampai pada tingkat Anda tidak mampu lagi mengalahkannya. Maka begitu menemukan kesalahan itu di semua tingkatannya, lemparilah dia dengan batu-batu sebagaimana burung ababil melempari pasukan bergajahnya Abrahah hingga remuk-redam bagai daun-daun dimakan ulat (105:1-5). Kenapa musti dengan batu-batu? Karena jiwa yang berani melakukan dosa adalah jiwa yang berkepala batu, sehingga hanya bisa dijerakan juga dengan batu-batu. Dan batu-batu itu bernama: istighfar. Hanya dengan senjata istighfar itulah Anda bisa melumpuhkan musuh di dalam diri, dan sekaligus akan menemukan bahwa Allah itu benar-benar غَفُورٌ رَّحِيمٌ (ghafūrur-rāhīm, Maha Pengampun Maha Penyayang). “Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (tentara Fir’aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya, lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: ‘Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).’ Musa mendoa: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku’. Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allahlah Yang Maha Pengampun Maha Penyayang.” (28:15-16)

 

5). Hadis Nabi saw.:

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ حَدَّثَنَا فُضَيْلُ بْنُ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ أَخْبَرَنِي كُرَيْبٌ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ يَطَّوَّفُ الرَّجُلُ بِالْبَيْتِ مَا كَانَ حَلَالًا حَتَّى يُهِلَّ بِالْحَجِّ فَإِذَا رَكِبَ إِلَى عَرَفَةَ فَمَنْ تَيَسَّرَ لَهُ هَدِيَّةٌ مِنْ الْإِبِلِ أَوْ الْبَقَرِ أَوْ الْغَنَمِ مَا تَيَسَّرَ لَهُ مِنْ ذَلِكَ أَيَّ ذَلِكَ شَاءَ غَيْرَ أَنَّهُ إِنْ لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ فَعَلَيْهِ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَذَلِكَ قَبْلَ يَوْمِ عَرَفَةَ فَإِنْ كَانَ آخِرُ يَوْمٍ مِنْ الْأَيَّامِ الثَّلَاثَةِ يَوْمَ عَرَفَةَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ ثُمَّ لِيَنْطَلِقْ حَتَّى يَقِفَ بِعَرَفَاتٍ مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَى أَنْ يَكُونَ الظَّلَامُ ثُمَّ لِيَدْفَعُوا مِنْ عَرَفَاتٍ إِذَا أَفَاضُوا مِنْهَا حَتَّى يَبْلُغُوا جَمْعًا الَّذِي يَبِيتُونَ بِهِ ثُمَّ لِيَذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا وَأَكْثِرُوا التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ قَبْلَ أَنْ تُصْبِحُوا ثُمَّ أَفِيضُوا فَإِنَّ النَّاسَ كَانُوا يُفِيضُونَ وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى { ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ } حَتَّى تَرْمُوا الْجَمْرَةَ

[Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abu Bakr, telah menceritakan kepada kami Fudlail bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Musa bin Uqbah, telah mengabarkan kepadaku Kuraib dari Ibnu Abbas, dia berkata; Seseorang ber-thawaf di Ka’bah setelah ber-tahalul hingga dia ber-talbiyah untuk haji. Apabila hendak pergi ke Arafah, maka hendaklah dia menyembelih unta, atau sapi, atau kambing kapan saja dia kehendaki jika hal itu mudah baginya. Jika hal itu terasa sulit, maka hendaklah dia berpuasa selama tiga hari pada waktu haji, yaitu sebelum hari Arafah. Jika ternyata hari terakhirnya dari tiga hari tersebut adalah hari Arafah, maka hal itu tidak mengapa baginya. Kemudian hendaklah dia berangkat untuk wukuf di Arafah dari waktu Ashar hingga menjelang malam. Lalu berangkat dari Arafah ketika orang-orang keluar darinya hingga sampai di Muzdalifah, tempat mereka bermalam. Setelah itu hendaklah mereka berzikir kepada Allah dengan memperbanyak takbir, dan tahlil sebelum subuh tiba. Kemudian bertolaklah kalian dari Arafah karena orang-orang telah bertolak. Allah Ta’ala berfirman: “Kemudian bertolaklah dari tempat bertolaknya orang-orang banyak dan mohonlah ampun kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.” (2:199). Hingga kalian melempar Jumrah.] (Shahih Bukhari no. 4159)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Di Masy’aril Haram, jamaah haji menginap semalam. Selain untuk mengambil batu-batu sebagai bekal amunisi melawan pusaran-pusaran setan di Jamarat, juga memperbanyak zikir dan istighfar. Kenapa istighfar? Karena pusaran setan itu sesungguhnya berada di semua tingkatan dalam diri: indera (yang kecil), jiwa (yang menengah), dan pikiran (yang paling besar). Istighfar adalah batu-batu penggempur setan yang menguasai wilayah teritorial diri setiap orang. Maka apapun keadaan Anda, jangan pernah lupa ber-istighfar sebelum setan telanjur membangun kerajaannya di dalam diri Anda…!!!

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply