Al-Baqarah ayat 198

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
September 4, 2012
0 Comments
4814 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 198

 

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا فَضْلًا مِّن رَّبِّكُمْ ۚ فَإِذَا أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِندَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِن كُنتُم مِّن قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ

[Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kalian telah bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram. Dan berzikirlah (dengan menyebut nama)-Nya sebagaimana yang Dia tunjukkan kepadamu; dan sesungguhnya kalian sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang sesat.]

[It is no crime in you if ye seek of the bounty of your Lord (during pilgrimage). Then when ye pour down from (Mount) Arafat, celebrate the praises of Allah at the Sacred Monument, and celebrate His praises as He has directed you, even though, before this, ye went astray.]

 

1). Apa yang dimaksud dengan: لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا فَضْلًا مِّن رَّبِّكُمْ [laysa ‘alaykum junāhun an tabtaghū fadl’lan min rabbikum, tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu]? Pertama, disebutkan bahwa setelah pelaksanaan haji diperbaharui syariatnya oleh Islam—ingat: sebelum Islam datang prosesi tahunan haji sudah ada kendati diwarnai dengan penyembahan terhadap berhala-berhala—banyak yang merasa keberatan untuk memanfaatkan musim ibadah kolosal itu untuk melakukan perniagaan sehingga pasar-pasar sontak sepi. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra(ma) bahwasanya: ”Ukazh, Majannah dan Dzul Majaz adalah nama-nama pasar di zaman Jahiliyah. Ketika Islam datang mereka seakan-akan merasa berdosa bila tetap berdagang di pasar-pasar tersebut. Maka turunlah Surat al-Baqarah ayat 198 ini.” (Shahih Bukhari no. 1909 dan 1956) Jadi ayat ini turun untuk memberikan semacam justifikasi bahwa berdagang itu pada dasarnya ialah mencari karunia Allah sehingga tidak ada alasan untuk melarangnya. Kata فَضْلًا (fadl’lan) sebetulnya selain bermakna “karunia” juga bermakna “kemuliaan” atau “keutamaan”. Bisa dirumuskan bahwa perniagaan itu adalah salah satu bentuk pencarian karunia dari Allah yang tujuannya untuk mendatangkan “kemuliaan” dan “keutamaan” bagi pelakunya. Sehingga, selain sekaitan dengan pelaksanaan ibadah haji, penggalan ayat ini juga menjadi pernyataan umum tentang utama dan mulianya profesi berniaga.

Kedua, sebagaimana telah diuraikan di ayat 196 bahwa haji tamattu’ adalah memisahkan umrah dari (tapi berlanjut ke) haji sehingga ihram dan larangan-larangannya menjadi tidak berlaku lagi di antara keduanya. Memanfaatkan masa jedah tersebut termasuk tidak terlarang; alias boleh melakukan aktivitas perniagaan selama tidak mengganggu tujuan utama dari ibadah haji itu sendiri. Dengan kata lain, perniagaan tidak boleh menjadi main activity (aktivitas utama) bagi jamaah haji agar tidak merusak niat dan tujuan hajinya. “Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kalian di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kalian beruntung.” (62:10)

 

2). Tersebab berniaga hanyalah side activity (kegiatan sampingan), sehingga apabila para jamaah menggunakan ihramnya kembali dan bergerak ke Mina dan Arafah, maka para pedagang tadi pun harus melakukan hal yang sama dan bersegera meninggalkan aktivitas jual-belinya. Di sinilah gerakan spiritual kolosoal itu bermula. Di sini pulalah prolog narasi perang sapu jagat antara manusia yang mulia melawan setan yang hina. Perniagaan harus berhenti karena setan bisa memanfaatkannya untuk membekap pelakunya. Semua harus angkat senjata, karena musuh itu mengambil posisi di dalam diri masing-masing. Pada hari ke-9 Zulhijjah, di Arafah sama sekali tidak boleh ada kegiatan lain selain wuquf, berdiam diri, bertafakkur memikirkan nasib diri sejak dari zaman ketiadaan—sebelum bisa di sebut apa-apa dan siapa-siapa (76:1)—sampai kelak bangkit kembali untuk bertanggung jawab di hadapan Rabb semesta alam. Setan itu harus ditemukan tempat persembunyiannya di dalam diri, untuk kemudian dikalahkan. Jika tidak, dia akan memperlihatkan wajah aslinya nanti di Hari Kebangkitan. Wukuf di Arafah adalah puncaknya haji—tidak ada haji bagi mereka yang tidak wukuf di padang tandus nan luas ini. Padang Arafah seakan merupakan gambaran imajiner dari Padang Mahsyar. Wajar kalau berenung menjadi wajib di tempat ini. Itu berlangsung dari mulai tergelincirnya matahari, awal waktu duhur, sampai terbenamnya matahari. Setelah itu, فَإِذَا أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِندَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ (fa idzā afadltum min ‘arafātin fadzkurūl-lāɦa ‘indal-masy’aril-harāmi, maka apabila kalian telah bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram). Masy’aril Haram ialah sebuah perbukitan luas di Muzdalifah. Di masyarakat, nama Muzdalifah lebih populer daripada Masy’aril Haram. Berdasarkan penggalan ayat ini, yang harus diperbanyak di tempat ini ialah berzikir kepada Allah, tetapi yang terkenal oleh sebagian besar jamaah haji hanya mengumpulkan batu-batu kecil yang akan digunakan sebagai ‘peluru’ untuk bertempur melawan setan di Jamarat. Itu betul, tapi jangan lupa bahwa amunisi paling handal mnggempur pertahanan setan ialah berzikir kepada Allah, dengan menyebut-sebut nama-Nya. “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang bodoh. Dan jika kamu ditimpa godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan munafik) membantu setan-setan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan).” (7:199-202)

 

3). Kelihatannya sederhana. Menyebut nama Allah akan memenangkan manusia dari perang melawan setan dan bala tentaranya. Tetapi faktanya, betapa sering kita melihat orang-orang melakukan kejahatan dan pengrusakan sambil meneriakkan zikir “Allahu akbar”. Mereka membunuh jiwa dan membakar properti orang atau kelompok yang berbeda faham dengannya atas nama Allah. Bagaimana bisa nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang itu dipergunakan untuk melakukan perbuatan yang benar-benar tidak mengandung unsur kasih dan sayang? Bagaimana bisa nama Allah yang begitu agung nan mulia dibajak untuk melakukan tindakan yang hina dan tercela? Bagaimana menjelaskan kejadian seperti itu? Melalui ayat 198 ini, melalui pelaksanaan ibadah haji yang begitu sakral, Allah menjelaskan masalahnya; Dia mengatakan: وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ [wadzkurūɦu kamā ɦadākum, dan berzikirlah (dengan menyebut nama)-Nya sebagaimana yang Dia tunjukkan kepadamu]. Coba cermati penggalan ayat ini dengan nanar! Rahasianya ada pada frasa كَمَا هَدَاكُمْ (kamā ɦadākum, sebagaimana yang Dia tunjukkan kepadamu). Menurut konteks ayat, ungkapan ini bisa bermakna “sebagaimana manasik haji yang telah Allah ajarkan kepada kalian”. Sementara menurut pengertiannya yang paling umum, “berzikirlah kepada Allah sebagaimana petunjuk zikir yang telah Dia ajarkan kepada kalian”. Lalu bagaimana gerangan berzikir berdasarkan petunjuk yang benar itu? Firman-Nya: “Serulah Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. (Karena) sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (7:55) Jadi, berdasarkan ayat ini, tidak bisa dikatakan zikir atau seruan kepada Allah manakala penyebutan nama Allah itu dilakukan dengan “arogan, amarah, dan semena-mena” kepada pihak lain. Pada hakikatnya, perbuatan seperti itu bukanlah zikir atau seruan kepada Allah tapi kepada setan; karena mereka telah menjadi bala tentara setan. Dan setan pulalah yang tujuan hidupnya menipu manusia dengan cara menimbulkan permusuhan di antara mereka. “Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka seraya mengatakan: ‘Tidak ada seorang manusiapun yang dapat mengalahkan kalian pada hari ini, karena sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu’. Maka tatkala kedua pasukan itu berhadapan, setan itu balik ke belakang sambil berkata: ‘Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kalian; (sebab) sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kalian tidak lihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah’. Dan Allah sangat keras siksa-Nya.” (8:48)

 

4). Sebelum Allah mengajarkan petunjuk zikir yang benar itu, manusia sungguh hidup dalam kesesatan: وَإِن كُنتُم مِّن قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ (wa in kuntum min qabliɦi laminadl-dlāllīn, dan sungguh kalian sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang sesat). Pernyataan Allah ini menarik untuk ditelusuri. Bukankah sebelum Islam datang, orang-orang Arab dan kaum yang serumpun dengannya, sudah menyebut Tuhan yang menciptakan alam semesta ini dengan sebutan “Allah”? Ini mendapat pengakuan dari Alquran. “Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?’ Tentu mereka akan menjawab: ‘Allah’, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).” (29:61. Lihat juga 29:63, 31:25, 39:38, 43:9, dan 43:87) Tetapi, oleh Allah, pengakuan mereka itu tidak dinilai valid, karena pada faktanya dalam kehidupan sehari-hari, penyebutan nama Allah tidak menimbulkan bekas sedikit pun di jiwa mereka. Mereka hidup arogan, membangga-banggakan moyang-moyang mereka. Mereka sangat mudah menumpahkan darah dan mengobarkan perang terhadap kelompok-kelompok, klan-klan, yang mereka tidak setujui. Demi gengsi sosial, bahkan anak-anak perempuannya sendiri pun dengan tega, dengan tanpa welas asih, mereka bunuh dengan menguburkannya hidup-hidup. Sebutan nama Allah tidak disertai dengan penyerapan sifat-sifat Allah yang begitu agung dan mulia. Sebutan nama Allah hanyalah penghias bibir belaka saja. Itu sebabnya, sebelum tuntunan zikir mereka dapatkan, Allah mengatributi mereka dengan “dan sungguh kalian sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang sesat”. Haji adalah ritual ibadah Ibrahim dan keluarganya yang berfungsi mengembalikan fungsi zikir pada posisinya yang benar, sebagaimana ketika Sayyidut-Tauhid itu beserta keluarga sucinya mencontohkannya untuk yang pertama kalinya. “Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)-mu dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya : ‘Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagimu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun darimu (siksaan) Allah’. (Ibrahim berkata):’”Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat serta hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (60:4)

 

5). Hadis nabi saw.:

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ حَدَّثَنَا ابْنُ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ أَهْلَلْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ فَكُنْتُ مِمَّنْ تَمَتَّعَ وَلَمْ يَسُقْ الْهَدْيَ فَزَعَمَتْ أَنَّهَا حَاضَتْ وَلَمْ تَطْهُرْ حَتَّى دَخَلَتْ لَيْلَةُ عَرَفَةَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ لَيْلَةُ عَرَفَةَ وَإِنَّمَا كُنْتُ تَمَتَّعْتُ بِعُمْرَةٍ فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْقُضِي رَأْسَكِ وَامْتَشِطِي وَأَمْسِكِي عَنْ عُمْرَتِكِ فَفَعَلْتُ فَلَمَّا قَضَيْتُ الْحَجَّ أَمَرَ عَبْدَ الرَّحْمَنِ لَيْلَةَ الْحَصْبَةِ فَأَعْمَرَنِي مِنْ التَّنْعِيمِ مَكَانَ عُمْرَتِي الَّتِي نَسَكْتُ

[Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail, telah menceritakan kepada kami Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Syihab dari Urwah bahwa Aisyah ra(ha) berkata: “Aku bertalbiyah (memulai haji) bersama Rasulullah saw pada haji Wada’. Dan aku adalah diantara orang yang melaksanakannya dengan cara tamattu’ namun tidak membawa hewan sembelihan.” Aisyah menyadari bahwa dirinya mengalami haid dan belum bersuci hingga tiba malam Arafah. Maka Aisyah berkata: “Wahai Rasulullah, malam ini adalah maam ‘Arafah sedangkan aku melaksanakan tamattu’ dengan Umrah lebih dahulu?” Maka bersabdalah Rasulullah saw kepadanya: “Urai dam sisirlah rambut kepalamu, lalu tahanlah Umrahmu.” Aku lalu laksanakan hal itu. Setelah aku menyelesaikan haji, beliau memerintahkan Abdurrahman pada malam hashbah (Malam di Muzdalifah) untuk melakukan Umrah buatku dari Tan’im, tempat dimana aku mulai melakukan manasikku.”] (Shahih Bukhari no. 305)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Secara awam, perdagangan ialah usaha untuk mencari untung. Tetapi menurut Alquran, berniaga artinya mencari karunia Allah. Salah satu bukti pengakuan seseorang terhadap karunia Allah ialah dengan mensyukurinya. Artinya, mengakui secara batini dan imani bahwa apapun yang dia dapatkan semata bentuk kemurahan Rabb semesta alam. Sehingga, bagi yang sudah berprinsip seperti itu, perniagaan tidak lagi melalaikannya dari mengingat-Nya. Kesibukan bisnisnya tidak menghalanginya beribadah, karena semua itu dia lakukan justru sebagai wahana untuk membaktikan diri kepada Allah swt.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply