Al-Baqarah ayat 197

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
September 2, 2012
0 Comments
3527 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 197

 

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

[(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Siapa yang memastikan dirinya untuk berhaji di bulan-bulan itu, maka tidak boleh berbicara kotor, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan saat berhaji. Dan kebaikan apa saja yang kalian kerjakan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah (untuk berhaji), tetapi sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.]

[For Hajj are the months well known. If any one undertakes that duty therein, Let there be no obscenity, nor wickedness, nor wrangling in the Hajj. And whatever good ye do, (be sure) Allah knoweth it. And take a provision (With you) for the journey, but the best of provisions is right conduct. So fear Me, o ye that are wise.]

 

1). Walaupun inti ibadah haji hanya terdiri dari beberapa hari, tetapi prosesi pelaksanaannya berlangsung sekitar tiga bulan: Syawal, Zulqaiddah, dan Zulhijjah. Terhitung sejak dari pemberangkatan jamaah (yang ditandai dengan mulai dibolehkannya ihram haji) hingga rampungnya seluruh rangkaian ibadah (di penggalan pertama bulan Zulhijjah). Rentang waktu itulah yang juga kadang disebut dengan istilah miqat zamani, yang dalam ayat ini menggunakan redaksi: الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ [al-hajju asyɦurun ma’lūmāt, (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi]. Dengan demikian bulan-bulan haji bersambung dengan bulan puasa (Ramadlan), sesuai urutan pembahasannya di Surat Albaqarah ini. Adanya beberapa ayat perang yang menyelingi, mengisyaratkan betapa pentingnya mengamankan prosesi suci ini. Bahkan sedari awal Allah telah melakukan tindakan preventif dengan menjadikan bulan Zulqaiddah dan Zulhijjah sebagai bagian dari bulan-bulan haram, yang padanya semua bentuk kontak senjata harus dihentikan. Tetapi manakala bulan-bulan wajib gencatan senjata itu musuh langgar, maka kaum Muslim harus berjihad untuk menghentikannya. Pesannya jelas: Jiɦād fī sabīlillāɦ harus menjadi tameng bagi pelaksanaan ibadah haji. Kembali kepada bulan-bulan haji; jadi ungkapan الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ [al-hajju asyɦurun ma’lūmāt, (musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi] tidak bisa diartikan bahwa pelaksanaan ibadah haji bisa dilakukan di bulan apa saja. Yang bisa dilakukan kapan saja ialah ibadah umrah. Karena Hari Arafah, Hari Wuquf, yang menjadi inti ibadah haji, hanya sekali dalam setahun, yakni tanggal 9 Zulhijjah. “Dari az-Zuhri dari Ibnul Musayyab dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda: ‘Adapun bulan-bulan haram itu sendiri adalah Rajab, Zulqaiddah, Zulhijjah dan Muharram. Sedangkan bulan-bulan haji adalah Syawal, Zulqaiddah, dan sepuluh hari pada bulan Zulhijjah’.” (Sunan Tirmidzi no. 1432)

 

2). Beda dengan salat lima waktu (tiap hari) dan puasa Ramadlan (tiap tahun), Haji adalah ibadah ritual yang status fardlu (wajib)-nya jatuh hanya sekali seumur hidup bagi tiap-tiap Muslim dewasa dan berkemampuan untuk menunaikannya. Kalau kita berfikir hirarki substansial pada sebuah bangunan, maka urutannya seperti ini: Salat adalah pondasinya, puasa adalah dindingnya, dan haji adalah atapnya. Agar bangunan tersebut tidak ambruk, struktut atap harus mampu dipikul oleh dinding, dan struktur dinding harus mampu didukung oleh pondasi. Atap tanpa dinding dan pondasi bukanlah bangunan namanya. Asumsinya, orang-orang yang berhaji adalah mereka yang telah berhasil dalam ibadah salat dan puasanya. Jika urutan-urutan ini tidak terpenuhi, niscaya yang akan kita saksikan ialah tiadanya kebajikan pada diri mereka yang pulang dari haji. Padahal kata mabrūr artinya “memiliki kemampuan untuk melakukan amalan-amalan al-birr”—tentang amalan-amalan apa saja yang masuk kategori al-birr, baca kembali ayat 177 dan 189, juga 3:92. Lalu kenapa hanya sekali seumur hidup? Jawaban teologisnya: karena berhaji adalah mendatangi Nabi Ibrahim (22:27) dan dzurriyat-nya untuk berbaiat kepadanya dengan mengakui dan menerimanya sebagai Imam pilihan Allah (2:124), seraya berjanji untuk ‘menjadi’ seperti diri dan keluarganya. Maka berhaji berarti menapaktilasi manasik Ibrahim dan keluarganya. Dan semua itu dilakukan dengan penuh takzim (penghormatan) di hadapan Allah, Tuhannya Ka’bah (Baytullah). Jawaban praktisnya: karena tempat pelaksanaan prosesi ibadah haji sangat terbatas. Masjidil Haram terbatas. Arafah terbatas. Masy’aril Haram terbatas. Dan Mina terbatas. Penetapan kewajiban ibadah haji hanya seumur hidup mengajarkan kepada kita suatu kearifan, bahwa mengalah untuk kepentingan orang lain adalah ibadah yang luar biasa. Memahami kearifan ini termasuk salah satu ciri haji mabrūr. “Dari Said bin al-Musayyab dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw ditanya tentang Islam, manakah yang paling utama? Maka Rasulullah saw menjawab: ‘Iman kepada Allah dan Rasul-Nya’. Lalu ditanya lagi: ‘Lalu apa?’ Beliau menjawab: ‘Jiɦād fī sabīlillāɦ (berperang di jalan Allah). Lalu ditanya lagi: ‘Kemudian apa lagi?’ Jawab Beliau saw: ‘Haji mabrūr.” (Shahih Bukhari no. 25)

 

3). Dalam rangka meraih predikat haji mabrūr itulah sehingga setelah seseorang menyiapkan diri untuk melaksanakan ibadah haji di bulan-bulan haji, pantangan berikut ini dimunculkan: فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ (faman faradla fīɦinnal-hajja fa lā rafatsa wa lā fusūqa wa lā jidāla fīl-hajji, siapa yang memastikan dirinya untuk berhaji di bulan-bulan itu, maka tidak boleh berbicara kotor, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan saat berhaji). Pertama, tidak boleh رَفَث (rafats, berbicara kotor); yaitu pembicaraan atau aktivitas apa saja yang dapat membuat pikiran terasosiasi dengan hal-hal erotis dan menimbulkan hasrat untuk bercampur dengan pasangan. Tujuannya, agar pikiran benar-benar bersih dan hanya tertuju kepada Allah Rabbul Alamin. Kata رَفَث (rafats, berbicara kotor) ini juga kita temukan saat membahas masalah boleh tidaknya bercampur dengan istri di malam hari bulan Ramadlan (di ayat 187). Kedua, tidak boleh فُسُوق (fusūq, berbuat fasik). Sederhananya, fasik ialah perbuatan apa saja yang melanggar perintah dan larangan Allah sehingga menimbulkan kerusakan, mulai dari mencabuti rambut sendiri, menggunakan joki untuk mencium Hajar Aswad, sampai menghilangkan nyawa. Kata yang persis sama dengan فُسُوق (fusūq) ini hanya muncul 4(empat) kali dalam Alquran (2:197, 2:282, 49:7, dan 49:11). Ketiga, tidak boleh جِدَال (jidāl, berbantah-bantahan), mulai dari berdebat kusir kuda hingga bertengkar. Ini caranya Allah menuntun para jamaah haji untuk saling mengalah. Sayangnya, inilah larangan yang paling banyak dilanggar, terutama pada saat jam-jam sibuk (di depan lift hotel dan di pintu-pintu bus angkutan umum), saat pengaturan shaf salat, bahkan ketika sedang di depan Hajar Aswad.

Ketiga larangan itu, jika dilanggar, membatalkan ihram. Haji mabrūr adalah konsisten memegang kedisiplinan menghindari larangan-larangan itu hingga ke kampung halaman. Ibrahim, Ismail dan Hajar adalah figur-figur yang hajinya mabrūr, sehingga mereka yang hajinya berhasil menyandang gelar mabrūr ialah jamaah haji yang pulang ke negeri asalnya dengan menduplikasi figur ketiganya ke dalam dirinya yang kemudian terjelmakan ke dalam kehidupan sehari-harinya. Kebalikan dari larangan-larangan itu adalah “kebaikan”: وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ (wa mā taf’alū min khayrin ya’lamɦullāɦu, dan kebaikan apa saja yang kalian kerjakan, niscaya Allah mengetahuinya). Maksudnya, stok waktu yang tersisa setelah meninggalkan larangan-larangan Allah sedapat mungkin dipergunakan untuk berbuat baik, sekecil apapun. Karena tidak ada satu perbuatan yang luput dari ilmu-Nya. “Katakanlah: ‘Jika kalian menyembunyikan apa yang ada di dalam hatimu atau kalian melahirkannya, pasti Allah mengetahuinya.’ (Karena) Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (3:29)

 

4). Yang menarik untuk disoal, kenapa begitu banyak jamaah haji yang melanggar larangan-larangan ihram tersebut, bahkan tak peduli di sisi Baytullah sekalipun? Jawabannya: mereka berhaji tanpa bekal takwa. Bekal mereka satu-satunya ialah uang. Mereka berfikir, haji bisa dibeli dengan uang. Itu sebabnya, di ayat ini, Allah mewanti-wanti para calon jamaah haji: وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ [wa tazawwadū fa inna khayraz-zādit-taqwā, berbekallah (untuk berhaji), tetapi (ketahuilah bahwa) sesungguhnya sebaik-baik bekal ialah takwa]. Inilah sebabnya kenapa puasa Ramadlan mendahuli pelaksanaan ibadah haji. Puasa tujuannya takwa, sementara haji bekalnya takwa. Sehingga penalaran yang benar mengatakan, mereka yang puasanya berhasil meraih takwalah yang paling berhak menunaikan ibadah haji. Karena merekalah yang sesungguhnya punya sebaik-baik bekal. Ini yang menerangkan mengapa begitu banyak orang yang pulang dari haji tetapi tidak ada perubahan yang signifikan dalam prilaku kesehariannya, mulai di rumah tangganya sampai di tempat pekerjaannya. Mulai dari caranya mengeluarkan kata sampai caranya mennyikapi suatu masalah. Kehajian mereka bukannya mengharumkan nama Islam, bahkan mencemarinya. Agar itu tidak terjadi, Allah seolah-olah memelas kepada mereka yang akan berhaji: وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ (wattaqūni yā ūlīl-albābi, dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal). Allah hendak menyentuh kesadaran mereka yang paling dalam dengan menyapa mereka melalui panggilan أُولِي الْأَلْبَابِ (ūlīl-albābi, orang-orang yang berakal). Sebab orang berakallah yang bisa diajak bicara, yang bisa memahami. Seruan Allah itu mengandung pesan: “Hilangkanlah segala macam motif sosial-ekonomi-politik kalian dalam berhaji; bertakwalah kepada-Ku, karena Akulah yang kalian tuju, bukan kepentingan-kepentinganmu.” Alkisah, satu rombongan dari bani Tamim datang kepada Nabi saw. Abu Bakar ra berkata: “Angkatlah al-Qa’qa’ bin Ma’bad bin Zurarah.” Sedangkan Umar ra berkata: “Angkatlah al-Aqra’ bin Habis.” Abu Bakr berkata: “Apakah kamu ingin menyelisihiku?” Umar menjawab: “Ya, aku ingin menyelisihimu.” Maka terjadilah perdebatan antara keduanya hingga suara mereka meninggi. Maka berkenaan dengan hal itu turunlah ayat: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah…” Hingga akhir ayat (49:1). (Shahih Bukhari no. 4019)

 

5). Hadis Nabi saw.:

و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ أَفْلَحَ بْنِ حُمَيْدٍ عَنْ الْقَاسِمِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُهِلِّينَ بِالْحَجِّ فِي أَشْهُرِ الْحَجِّ وَفِي حُرُمِ الْحَجِّ وَلَيَالِي الْحَجِّ حَتَّى نَزَلْنَا بِسَرِفَ فَخَرَجَ إِلَى أَصْحَابِهِ فَقَالَ مَنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ مِنْكُمْ هَدْيٌ فَأَحَبَّ أَنْ يَجْعَلَهَا عُمْرَةً فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ كَانَ مَعَهُ هَدْيٌ فَلَا فَمِنْهُمْ الْآخِذُ بِهَا وَالتَّارِكُ لَهَا مِمَّنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ هَدْيٌ فَأَمَّا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ مَعَهُ الْهَدْيُ وَمَعَ رِجَالٍ مِنْ أَصْحَابِهِ لَهُمْ قُوَّةٌ فَدَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أَبْكِي فَقَالَ مَا يُبْكِيكِ قُلْتُ سَمِعْتُ كَلَامَكَ مَعَ أَصْحَابِكَ فَسَمِعْتُ بِالْعُمْرَةِ قَالَ وَمَا لَكِ قُلْتُ لَا أُصَلِّي قَالَ فَلَا يَضُرُّكِ فَكُونِي فِي حَجِّكِ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَرْزُقَكِيهَا وَإِنَّمَا أَنْتِ مِنْ بَنَاتِ آدَمَ كَتَبَ اللَّهُ عَلَيْكِ مَا كَتَبَ عَلَيْهِنَّ قَالَتْ فَخَرَجْتُ فِي حَجَّتِي حَتَّى نَزَلْنَا مِنًى فَتَطَهَّرْتُ ثُمَّ طُفْنَا بِالْبَيْتِ وَنَزَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُحَصَّبَ فَدَعَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ أَبِي بَكْرٍ فَقَالَ اخْرُجْ بِأُخْتِكَ مِنْ الْحَرَمِ فَلْتُهِلَّ بِعُمْرَةٍ ثُمَّ لِتَطُفْ بِالْبَيْتِ فَإِنِّي أَنْتَظِرُكُمَا هَا هُنَا قَالَتْ فَخَرَجْنَا فَأَهْلَلْتُ ثُمَّ طُفْتُ بِالْبَيْتِ وَبِالصَّفَا وَالْمَرْوَةِ فَجِئْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي مَنْزِلِهِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ فَقَالَ هَلْ فَرَغْتِ قُلْتُ نَعَمْ فَآذَنَ فِي أَصْحَابِهِ بِالرَّحِيلِ فَخَرَجَ فَمَرَّ بِالْبَيْتِ فَطَافَ بِهِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَدِينَةِ

[Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Sulaiman dari Aflah bin Humaid dari al-Qasim dari Aisyah ra(ha), ia berkata; Kami pernah keluar bersama Rasulullah saw di bulan-bulan haji untuk menunaikan Ibadah haji, melewati hari dan malam-malam haji hingga kami singgah di Saraf. Kemudian beliau pun keluar menemui para sahabatnya dan bersabda: “Siapa yang tidak membawa hadyu (hewan kurban) dan ia suka bila menjadikan (ihramnya) sebagai Umrah, maka hendaklah ia melakukannya. Sedangkan siapa yang mempunyai hadyu (hewan kurban) maka janganlah ia melakukannya.” Maka sebagian sahabat pun ada yang melakukannya, dan sebagian yang lain ada juga yang tidak, yakni mereka yang tidak membawa hadyu. Adapun Rasulullah saw, maka beliau membawa hadyu, demikian juga beberapa sahabatnya yang kuat. Kemudian Rasulullah saw masuk menemuiku (ke dalam kemahku), sementara saat itu aku sedang menangis, maka beliau pun bertanya: “Apa yang menyebabkanmu menangis?” Aku menjawab: “Aku telah mendengar ungkapan Anda dengan para sahabat, maka aku pu mendengar ucapan umrah.” Beliau bertanya lagi: “Ada apa denganmu?” Aku menjawab: “(Sekarang) aku tidak salat (karena sedang haid).” Akhirnya beliau bersabda: “Hal itu tidaklah merugikanmu, lakukanlah ibadah hajimu. Semoga Allah memberimu pahala umrah. Kamu hanyalah anak ketururan Adam yang Allah telah tetapkan sebagaimana apa yang ditetapkan pada kaum wanita.” Lalu aku pun keluar untuk haji hingga kami singgah di Mina. Kemudian aku bersuci dan melakukan thawaf di Baitullah, dan Rasulullah saw singgah di al-Muhashshab. Lalu beliau memanggil Abdurrahman bin Abu Bakar dan bersabda: “Keluarlah bersama saudara perempuanmu dari al-Haram hingga ia dapat melakukan ihram untuk umrah dan thawaf di Baitullah, sedangkan aku menunggu kalian berdua di tempat ini.” Akhirnya kami segera keluar, lalu aku berihram (untuk umrah) dan melakukan thawaf di Baitullah serta Sa’i antara Shafa dan Marwa. Sesudah itu, kami kembali menemui Rasulullah saw di tempat persinggahannya yakni di malam hari. Lalu beliau bertanya: “Apakah kamu telah selesai (mengerjakan umrah)?” Aku menjawab: “Ya.” Akhirnya beliau mengungumkan kepada para sahabatnya untuk melanjutkan perjalanan. Kemudian beliau melewati Baitulalh, maka beliau pun thawaf di Ka’bah sebelum shalat Shubuh dan barulah beliau keluar menuju Madinah.] (Shahih Muslim no. 2117)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Pelaksanaan ibadah haji membutuhkan kesehatan fisik, karena prosesi pelaksanaannya lumayan panjang dan melelahkan. Dalam keadaan berjubel dan berdesak-desakan terkadang manusia mengalami kebuntuan nalar, sehingga emosi yang berbicara. Haji bukanlah olahraga massal yang berlomba untuk sampai ke garis finish. Haji adalah menjumpai Allah serta membaiat Nabi Ibrahim dan keluarganya di Tanah Suci. Maka setiap jamaah haji haruslah bertakwa agar jangan melakukan rafats (berbicara dan berfikiran kotor), fusūq (berbuat fasik), dan jidāl (berbantah-bantahan) di Rumah-Nya.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

3 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply