Al-Baqarah ayat 194

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
August 27, 2012
0 Comments
1812 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 194

 

الشَّهْرُ الْحَرَامُ بِالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالْحُرُمَاتُ قِصَاصٌ ۚ فَمَنِ اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

[Bulan haram dengan bulan haram, dan pada hal-hal yang terhormat berlaku hukum qishāsh. Maka barangsiapa yang menyerang kalian, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.]

[The prohibited month for the prohibited month,- and so for all things prohibited,- there is the law of equality. If then any one transgresses the prohibition against you, Transgress ye likewise against him. But fear Allah, and know that Allah is with those who restrain themselves.]

 

1). Munculnya kembali masalah qishāsh di ayat ini menunjukkan bahwa pembahasan kita selama ini belum ke mana-mana, belum keluar dari subjek utamanya, masih tentang pembangunan masyarakat madani, yang dibangun di atas dua tonggak sosiologis: الْبِرّ (al-birr)—sebagai watak personalnya (ayat 177)—dan الْقِصَاصُ (al-qishāsh)—sebagai pranata sosialnya (ayat 178). Untuk melahirkan watak personal yang memiliki kemampuan menangkal pelbagai kejahatan individual, صِيَام (shiyām, puasa)—perang melawan kejahatan diri—adalah instrumennya (ayat 183). Sementara untuk membangun pranata sosial yang memiliki kemampuan menangkal pelbagai kejahatan komunal, قِتَال (qitāl, perang)—perjuangan melawan kejahatan sosial—adalah perangkatnya (ayat 190). Ayat yang kita bahas sekarang (194) kembali menekankan—dan sekaligus semacam inti sari—bahwa qitāl itu ialah bentuk terapan lain dari qishāsh. Maka bagian pertama ayat ini berbicara tentang pemaknaan ulang qishāsh, sedangkan bagian keduanya membincang soal momentum diterapkannya qitāl. Karena baik qishāsh ataupun qitāl adalah sama-sama demi kemaslahatan manusia dan kemanusiaan, bukan demi kemaslahatan kelompok tertentu saja, maka pelaksanaan keduanya harus tetap berada dalam koridor takwa kepada Allah. Selama semuanya dilaksanakan dalam koridor takwa, pada hakikatnya itu bukan lagi perbuatan “kalian”, tetapi perbuatan Allah. “Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, sementara Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa.” (45:19)

 

2). Bulan haram adalah bulan-bulan yang dimuliakan. Dalam tradisi Arab pra-Islam, semua pihak menghormati bulan-bulan tersebut. Ini diantara tradisi lama yang dipertahankan, bahkan diadopsi, oleh Islam. Melalui pengadopsian ini, Allah mengajarkan bahwa tidak semua tradisi lama patut dicap “ketinggalan zaman” dan karenanya harus ditinggalkan. Menurut 9:36, bulan-bualan haram itu ada 4 (empat), yang kemudian oleh Rasulullah saw dipertegas kembali nama-namanya: Zulqaiddah (bulan ke-11), Zulhijjah (bulan ke-12), Muharram (bulan ke-1), dan Rajab (bulan ke-7). Salah satu bentuk penghormatan yang paling masyhur pada masa itu ialah larangan berperang. Kalaupun perang sudah terlanjur berkobar, maka begitu tiba bulan-bulan haram, gencata senjata harus diberlakukan, senjata-senjata harus digantung. Pedang-pedang harus disarungkan. Itu telah menjadi semacam hukum adat yang mengikat seluruh unsur dan anggota masyarakat. Para pelaku kejahatan terhadap kemanusiaan saat itu hendak mengecoh Nabi dan para sahabatnya dengan memanfaatkan bulan-bulan haram tadi. Mereka tahu bahwa Nabi suci itu paling patuh memegang perjanjian; pasti para pengikutnya dilarangnya membawa senjata. Sayangnya, mereka lupa bahwa Islam adalah logika kemanusiaan: kemuliaan manusia jauh lebih tinggi ketimbang kemuliaan bulan. Bagi Islam, semua hukum dan peraturan dibuat justru dalam rangka memuliakan harkat dan martabat manusia. Sebelum mereka sempat melaksanakan niat jahatnya, Allah terlebih dahulu mewahyukan kepada Nabi-Nya: الشَّهْرُ الْحَرَامُ بِالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالْحُرُمَاتُ قِصَاصٌ (asy-syaɦrul harām bisy-syaɦril harām wal-hurumātu qishāshun, bulan haram dengan bulan haram, dan pada hal-hal yang terhormat berlaku hukum qishāsh). Kata kunci dari penerapan hukum qishāsh ialah: وَالْحُرُمَاتُ قِصَاصٌ (wal-hurumātu qishāshun, dan pada hal-hal yang terhormat berlaku hukum qishāsh). Jadi, apa saja yang dihormati oleh manusia, padanya berlaku hukum qishāsh. Inilah prinsip keadilan yang sesungguhnya. “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: ‘Berperang pada bulan itu adalah dosa besar, tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (lagi dosanya) di sisi Allah . Dan fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai mereka (dapat) mengembalikan kalian dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antaramu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (2:217)

 

3). Setelah sebelumnya menerangkan filosofi hukum qishāsh, selanjutnya Allah mengajarkan amalan praktisnya: فَمَنِ اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ (famani’tadā ‘alaykum fa’tadū ‘alayɦi bimitsli mā’tadā ‘alaykum, maka barangsiapa yang menyerang kalian, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu). Kita sekarang sudah mendapatkan tiga terma perlawanan. Di ayat 190, Alquran menggunakan kata kerja perintah: قَاتِلُواْ (qātilū, perangilah). Di ayat 191, yang digunakan ialah kata kerja perintah: اقْتُلُو (uqtulū, bunuhlah). Di ayat 194 ini, Allah memerintahkan kaum Muslim dengan kata: اعْتَدُوا (i’tadū, seranglah). Sebetulnya kita juga sudah bertemu rumpunan kata اعْتَدُوا (i’tadū, seranglah) ini di ayat 190; saat itu Allah mengatakan begini: لاَ تَعْتَدُواْ (lā ta’tadū) yang diterjemahkan dengan “jangan melampaui batas”. Dari sisi perubahan kata kerja, keduanya sama, kecuali bahwa di ayat 194 ini dalam bentuk perintah (amr), sementara yang di ayat 190 dalam bentuk larangan (naɦyi). Lalu kenapa artinya berbeda? Sebenarnya tidak. Secara etimologi, “menyerang” adalah “perbuatan melampaui batas”. Itu sebabnya di ayat 190 ditegaskan: إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبِّ الْمُعْتَدِينَ (innal-lāɦa lā yuhibbul-mu’tadīn, sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas). Oleh karena itu Allah melarangnya. Tetapi karena Islam—baik perintah maupun larangannya—selalu ada pintu daruratnya, maka jika pihak musuh “menyerang” atau “melampaui batas” (dalam hal ini melanggar kemuliaan bulan-bulan haram) terlebih dahulu, Imam kaum Muslim juga diperintah untuk melakukan hal yang sama demi melindungi kemuliaan manusia dan kemanusiaan. Dengan catatan penting: بِمِثْلِ مَا اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ (bimitsli mā’tadā ‘alaykum, seimbang dengan serangannya terhadapmu). Kalau serangan balik melebihi serangan mereka, itu bukan qishāsh lagi. Itu adalah balas dendam. Sedangkan pemiliki dendam tidak punya tempat di Surga. “Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (15:47)

 

4). Agar “serangan” balik tidak berkategori “melampaui batas”, maka dalam suasana seperti itupun Allah tetap mewanti-wanti kaum Muslim agar tetap memelihara sifat-sifat takwa: وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (wattaqūllāɦa wa’lamū annallāɦa ma’al-muttaqīn, bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa). Pesan ini juga menyiratkan bahwasanya Imam kaum Muslim itu ialah figur yang berada di puncak derajat ketakwaan sehingga pantas menyandang gelar “Imamul Muttaqīn”, agar peluang berbuat “melampaui batas”, sekecil apapun, tertutup. Semakin rendah derajat ketakwaan seorang pemimpin semakin besar juga peluangnya melakukan perbuatan-perbuatan yang “melampaui batas”, dan Allah semakin menjauh pula dari padanya. Karena, وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (wa’lamū annallāɦa ma’al-muttaqīn, dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa). Sebaliknya, إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبِّ الْمُعْتَدِينَ (innal-lāɦa lā yuhibbul-mu’tadīn, sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas). Kalau pemimpinnya saja kurang atau bahkan tidak bertakwa, dapat kita bayangkan bagaimana pula dengan pengikutnya di bawah. Kalau pemimpinnya “mengancam”, umatnya pasti dengan gampang dan tampa merasa bersalah melakukan perbuatan-perbuatan ini: “melempar”, “membakar”, dan “membunuh”. “Dan (inilah) suatu permakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik. Kemudian jika kalian (kaum musyrik) bertaubat, maka bertaubat itu lebih baik bagimu; dan jika kalian berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kalian tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakanlah kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Kecuali orang-orang musyrik yang kalian telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatupun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhimu; maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya . Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.” (9:3-4)

 

5). Hadis Nabi saw.:

حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ بْنُ يَحْيَى أَبُو السُّكَيْنِ قَالَ حَدَّثَنَا الْمُحَارِبِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سُوقَةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ كُنْتُ مَعَ ابْنِ عُمَرَ حِينَ أَصَابَهُ سِنَانُ الرُّمْحِ فِي أَخْمَصِ قَدَمِهِ فَلَزِقَتْ قَدَمُهُ بِالرِّكَابِ فَنَزَلْتُ فَنَزَعْتُهَا وَذَلِكَ بِمِنًى فَبَلَغَ الْحَجَّاجَ فَجَعَلَ يَعُودُهُ فَقَالَ الْحَجَّاجُ لَوْ نَعْلَمُ مَنْ أَصَابَكَ فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ أَنْتَ أَصَبْتَنِي قَالَ وَكَيْفَ قَالَ حَمَلْتَ السِّلَاحَ فِي يَوْمٍ لَمْ يَكُنْ يُحْمَلُ فِيهِ وَأَدْخَلْتَ السِّلَاحَ الْحَرَمَ وَلَمْ يَكُنْ السِّلَاحُ يُدْخَلُ الْحَرَمَ

[Telah menceritakan kepada kami Zakaria bin Yahya Abu as-Sukain berkata, telah menceritakan kepada kami al-Muharibi berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Suqah dari Sa’id bin Jubair berkata: “Aku pernah besama Ibnu Umar saat dia terkena ujung panah pada bagian lekuk telapak kakinya. Dia lalu merapatkan kakinya pada tunggangannya, lalu aku turun dan melepaskannya. Kejadiaan itu terjadi di Mina. Kemudian peristiwa ini didengar oleh al-Hajjaj, maka dia pun menjenguknya seraya berkata; ‘Seandainya kami ketahui siapa yang membuatmu terkena mushibah ini!’ Maka Ibnu Umar menyahut; ‘Engkaulah yang membuat aku terkena mushibah ini.’ Al-Hajjaj berkata; ‘Bagaimana bisa!’ Ibnu Umar menjawab: ‘Engkau yang membawa senjata di hari yang tidak diperbolehkan membawanya. Dan engkau pula yang membawa masuk senjata ke dalam Masjidil Haram padahal tidak diperbolehkan membawa masuk senjata ke dalam Masjidil Haram pada hari ini’.“] (Shahih Bukhari no. 913)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Masjidil Haram adalah tempat sujud yang mendatangkan kemuliaan. Maka setiap orang yang memasukinya harus menanggalkan pakaian egonya. Sebab senjata bisa menjadi alat pelampiasan ego, senjata pun harus ditanggalkan, apatah lagi jika itu bertepatan dengan bulan-bulan haram. Akan tetapi jika ada pihak yang melanggar ketentuan ini dengan sengaja, maka hukum qishāsh harus diberlakukan kepadanya. Karena hanya dengan hukum qishāsh-lah kehormatan bisa mengalahkan kejahatan.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

3 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply