Al-Baqarah ayat 193

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
August 26, 2012
0 Comments
1986 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 193

 

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ۖ فَإِنِ انتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ

[Dan perangilah mereka itu hingga tidak ada lagi fitnah dan (sehingga) ad-dīn (agama itu hanya) untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kalian), maka tidak ada (lagi) permusuhan (antara kalian dan mereka), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.]

[And fight them on until there is no more Tumult or oppression, and there prevail justice and faith in Allah; but if they cease, Let there be no hostility except to those who practise oppression.]

 

1). Ayat 192 bercita rasa penutup pembahasan tentang perang. Tetapi kini, perintah itu datang lagi. Apa sesungguhnya yang terjadi? Perhatikan kembali ayat sebelumnya: فَإِنِ انتَهَوْاْ (fa-in intaɦaū, kemudian jika mereka berhenti—dari memerangi kalian), maka ampunan Allah bagi mereka. Pertanyaannya, bagaimana kalau mereka tidak ada niatan untuk berhenti? Atau sudah pernah berhenti tapi kumat lagi? Ya, tidak ada pilihan lain: وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ [wa qātilūɦum hattā lā takūna fitnatun wa yakūnad-dīnu lillāɦi, dan perangilah mereka itu hingga tidak ada lagi fitnah dan (sehingga) ad-dīn (agama itu hanya) untuk Allah]. Perang harus berlanjut, karena “lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup bercermin bangkai”. Lebih mulia mati syahid daripada mencium kaki penindas. Kehidupan adalah ujian, kematian adalah kepastian. Penindas dan yang ditindas sama-sama mengikuti ujian persamaan. Penindas dan yang ditindas sama-sama akan mati, yang beda hanya waktunya. Sehingga tidak ada alasan untuk takut mati. Menoleransi kejahatan hanya akan memperluas ruang gerak kejahatan tersebut. Dan sama dengan membiarkan korban terus berjatuhan. Padahal, secara psikologis, tiap orang yang terzalimi jiwanya pasti berteriak minta perlindungan dan pertolongan. Firman-Nya: “Mengapa kalian tidak mau berperang di jalan Allah padahal kaum mustadh’afin (orang-orang yang lemah) dari kalangan bapa-bapa, ibu-ibu maupun anak-anak, semuanya berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri yang zalim penduduknya ini dan berilah kami pelindung dari sisi-Mu, juga berilah kami penolong dari sisi-Mu!’.” (4:75)

 

2). Karena perang itu menimbulkan fitnah, kerusakan sistem, maka hanya dengan menghentikan perang yang disulut para penjahat kemanusiaan itulah fitnah bisa dienyahkan dan sistem bisa ditata kembali. Untuk itu, perang harus diteruskan sampai tiada lagi fitnah yang racunnya menyeruak ke dalam darah daging masyarakat: وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ (wa qātilūɦum hattā lā takūna fitnatun, dan perangilah mereka itu hingga tidak ada lagi fitnah). Jadi kalau puasa dimulai dengan WAKTU dan disudahi dengan WAKTU (baca ayat 187), maka perang dimulai dengan KEADAAN dan diakhiri dengan KEADAAN. Yaitu dimulai oleh keadaan MENYERANG, saat penjahat kemanusiaan mengangkat senjata dan menyatakan perang, kemudian disudahi oleh keadaan GENCATAN SENJATA, saat mereka menghentikan serangannya dan meninggalkan wilayah dan/atau negara yang mereka duduki. Maka dari itu, diantara ayat yang paling banyak kita jumpai di dalam Alquran ialah ayat-ayat tentang perang, jauh melebihi ayat-ayat tentang salat-puasa-zakat-haji. Karena inti penegakan sistem ada di sana. Musuh-musuh kemanusiaan tidak takut kepada orang yang beribadah (salat-puasa-zakat-haji) namun kehilangan ideologi dan semangat jihadnya. Kalau perlu mereka membantu pembangunan masjid mewah, memobilisasi kebutuhan pokok bulan Ramadlan, membangun lembaga pengumpul zakat-infak-sedekah yang profesional, memfasilitasi pelaksanaan haji dan umrah. Yang mereka takuti ialah bersatunya umat Islam lantas berbicara soal perlunya menyingkirkan pelbagai bentuk penindasan, diskriminasi, dan neokolonialisme. Mereka lantas menstigmatisasi istilah JIHAD dengan memelihara sekelompok kecil orang yang di dalam nama kelompoknya ada kata jihad lalu membuat makar di sana-sini. Mereka, karenanya, mendorong terbentuknya sebanyak mungkin ormas dan sekte, lalu mereka pelihara semuanya dengan baik, karena dengan begitu mereka bisa mengadu-domba satu sama lain. Mereka bisa menjepit posisi umat Islam ke dalam dilema-dilema. “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah . Jika mereka berhenti (dari memerangimu), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Allah Pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (8:39-40)

 

3). Sebegitu gigihnyakah Islam dalam memerangi para pelaku kejahatan terhadap kemanusiaan? Betul. Sebab Islam adalah kemanusiaan itu sendiri. Pecinta kemanusiaan sejati adalah pembenci kejahatan terhadap kemanusiaan. Cinta dan benci adalah dua sisi dari satu mata uang. Tanpa salah satunya, maka yang satunya pun tidak bernilai sama sekali. Kalau tidak begitu, lalu apa artinya cinta? Pihak mana saja yang mengusung nama Islam tetapi tidak ramah terhadap nilai-nilai kemanusiaan—seperti toleran, cinta, kasih sayang, kompetisi, keadilan, pendidikan, keterbukaan—yang bersifat universal itu, maka itu bukan “atas-nama Islam”, melainkan “meng-atas-nama-kan Islam”. Terhadap para pembuat makar, perang harus tetap diasaskan, agar: وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ [wa yakūnad-dīnu lillāɦi, dan (sehingga) ad-dīn (agama itu hanya) untuk Allah]. Apa maksudnya agama untuk Allah? Apakah Allah butuh agama? Kata “untuk” di situ adalah dalam maknanya sebagai “milik”. Agama itu milik Allah, dan bukan milik siapa-siapa. Tujuan filosofis dari penggalan ayat ini ialah bahwa klaim individu harus dinegasi. Karena dari klaim individu itulah lantas berkembang menjadi formula khauvinis (sempit): primordialisme, sektarianisme, parokialisme, institusionalisme, hingga nasionalisme. Benturan dan perang terjadi setelah formula khauvis ini mengalami proses radikalisasi. Agama bisa ‘dijadikan’ sebagai salah satu katalisator yang mengerikan. Inilah yang menarangkan kenapa sering terjadi perang yang “meng-atas-nama-kan agama”. Islam harus memerangi semua itu. Karena Islam datang untuk mengembalikan agama pada proporsinya, yaitu: الدِّينُ لِلَّهِ (ad-dīnu lillāɦi, agama milik Allah semata)—bukan milik saya, bukan milik Anda, bukan milik mereka. Kematian saya, kematian Anda, kematian mereka, tidak menyebabkan kematian agama. “Tidak ada paksaan untuk dalam ad-dīn (agama); (karena) sungguh telah jelas jalan-benar daripada jalan-sesat. Maka barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut (penindas dan pelaku kejahatan lainnya) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar Maha Mengetahui.” (2:256)

 

4). Lagi-lagi Allah menekankan bahwa perang fī sabīlil-lāɦ (di jalan Allah) tidak dimaksudkan untuk melampiaskan amarah dan kebencian kepada pihak-pihak tertentu. Kebencian kepada pelaku kejahatan merupakan bagian tak terpisahkan dari cinta terhadap kemanusiaan. Maka Allah mengulangi kembali maklumat yang telah Dia umumkan di ayat sebelumnya: فَإِنِ انتَهَوْا [fa-in intaɦaū, jika mereka berhenti (dari memusuhi kalian)] dengan tambahan: فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ [falāudwāna illāalāzh-zhālimīn, maka tidak ada (lagi) permusuhan (antara kalian dan mereka), kecuali terhadap orang-orang yang zalim]. Ingat, pembahasan kita soal perang ini bermula dari perintah Allah di ayat 190: وَقَاتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ (wa qātilū fī sabĭlillāɦi al-ladzĭna yuqātilūnakum, dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian). Artinya penyulut pertama perang dan permusuhan adalah mereka (musuh-musuh kemanusiaan), bukan kaum Muslim. Sehingga, logikanya, apabila mereka sudah menghentikan perang dan permusuhan tersebut, bukan saja perlawanan terhadapnya yang harus dihentikan tetapi juga permusuhan. Terusan إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ (illāalāzh-zhālimīn, kecuali terhadap orang-orang yang zalim) adalah pertanda selesainya tugas kemiliteran (pertahanan) dan selanjutnya penyerahan tugas kepada kepolisian (keamanan). Bila sistem sudah kembali tegak dan pranata sosial sudah bekerja dengan benar seperti sediakala, tidak berarti bahwa dengan sendirinya kejahatan individual pun musnah. Selama yang menghuni suatu komunitas itu masih manusia yang punya hawa nafsu maka selama itu pula potensi kejahatan tetap ada. Kini saatnya sistem keamanan diperbaiki guna meredam peluang teraktualisasinya potensi (keburukan) tersebut. Jika mereka mengaktualisasikannya, yakni melakukan kezaliman, maka aparat penegak hukum harus bertindak, kebenaran harus bicara, keadilan harus ditegakkan. “Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui. (Tapi) jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin mereka, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, supaya mereka berhenti.” (9:11-12)

 

5). Hadis Nabi saw.:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَتَاهُ رَجُلَانِ فِي فِتْنَةِ ابْنِ الزُّبَيْرِ فَقَالَا إِنَّ النَّاسَ صَنَعُوا وَأَنْتَ ابْنُ عُمَرَ وَصَاحِبُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا يَمْنَعُكَ أَنْ تَخْرُجَ فَقَالَ يَمْنَعُنِي أَنَّ اللَّهَ حَرَّمَ دَمَ أَخِي فَقَالَا أَلَمْ يَقُلْ اللَّهُ { وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ } فَقَالَ قَاتَلْنَا حَتَّى لَمْ تَكُنْ فِتْنَةٌ وَكَانَ الدِّينُ لِلَّهِ وَأَنْتُمْ تُرِيدُونَ أَنْ تُقَاتِلُوا حَتَّى تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِغَيْرِ اللَّهِ وَزَادَ عُثْمَانُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ ابْنِ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي فُلَانٌ وَحَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ عَنْ بَكْرِ بْنِ عَمْرٍو الْمَعَافِرِيِّ أَنَّ بُكَيْرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَهُ عَنْ نَافِعٍ أَنَّ رَجُلًا أَتَى ابْنَ عُمَرَ فَقَالَ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا حَمَلَكَ عَلَى أَنْ تَحُجَّ عَامًا وَتَعْتَمِرَ عَامًا وَتَتْرُكَ الْجِهَادَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَقَدْ عَلِمْتَ مَا رَغَّبَ اللَّهُ فِيهِ قَالَ يَا ابْنَ أَخِي بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ إِيمَانٍ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالصَّلَاةِ الْخَمْسِ وَصِيَامِ رَمَضَانَ وَأَدَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ قَالَ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَلَا تَسْمَعُ مَا ذَكَرَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ { وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ } { قَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ } قَالَ فَعَلْنَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ الْإِسْلَامُ قَلِيلًا فَكَانَ الرَّجُلُ يُفْتَنُ فِي دِينِهِ إِمَّا قَتَلُوهُ وَإِمَّا يُعَذِّبُونَهُ حَتَّى كَثُرَ الْإِسْلَامُ فَلَمْ تَكُنْ فِتْنَةٌ قَالَ فَمَا قَوْلُكَ فِي عَلِيٍّ وَعُثْمَانَ قَالَ أَمَّا عُثْمَانُ فَكَأَنَّ اللَّهَ عَفَا عَنْهُ وَأَمَّا أَنْتُمْ فَكَرِهْتُمْ أَنْ تَعْفُوا عَنْهُ وَأَمَّا عَلِيٌّ فَابْنُ عَمِّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَخَتَنُهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ فَقَالَ هَذَا بَيْتُهُ حَيْثُ تَرَوْنَ

[Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab, telah menceritakan kepada kami Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar ra(ma) bahwa dua orang laki-laki mendatangi Ibnu Jubair mengadukan perihal fitnah yang menimpa Ibnu Jubair, keduanya berkata: “Sesungguhnya orang-orang telah berbuat sesuatu kepadanya, sedangkan kamu wahai Ibnu Umar sebagai sahabat Rasulullah saw, apa yang menghalangimu tidak ikut campur dalam urusan ini?” Ibnu Umar menjawab: “Yang menghalangiku ialah karena Allah telah mengharamkan darah saudara Muslim.” Lalu keduanya berkata: “Bukankah Allah telah berfirman: ‘Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah?’.” (2:193) Maka Ibnu Umar menjawab: “Kami telah berperang hingga fitnah itu tidak ada lagi dan dīn (agama) ini sudah menjadi milik Allah. Sedangkan kalian menginginkan peperangan hingga terjadi fitnah dan dīn (agama) ini menjadi bukan milik Allah.” Utsman bin Shalih menambahkan dari Ibnu Wahhab dia berkata, telah mengabarkan kepadaku Fulan dan Haiwah bin Syuraih dari Bakr bin Amru al-Ma’afiri bahwa Bukair bin Abdullah telah menceritakan kepadanya dari Nafi’ bahwa seseorang menemui Ibnu Umar seraya berkata: “Wahai Abu Abdurrahman apa yang menghalangimu untuk berhaji dan berumrah pada tahun ini dan kamu meninggalkan jihad di jalan Allah padahal kamu tahu bahwa Allah sangat menganjurkan hal itu?” Ibnu Umar menjawab: “Wahai anak saudaraku, Islam ini dibangun atas lima dasar: Iman kepada Allah dan Rasul-Nya, salat lima waktu, puasa di bulan Ramadlan, menunaikan zakat, dan haji ke Baitullah.” Laki-laki itu berkata: “Wahai Abu Abdurrahman, apakah kamu tidak mendengar apa yang disebutkan Allah di dalam kitabnya: ‘Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kalian damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai kembali pada perintah Allah’ (49:9).” (Juga firman Allah) “Perangilah mereka hingga tidak ada fitnah.” (2:193) Ibnu Umar menjawab: “Kami telah melakukan hal itu pada masa Rasulullah saw ketika Islam masih sedikit sehingga seseorang dari kami di-fitnah karena agamanya, baik dengan dibunuh maupun disiksa sampai Islam semakin menyebar dan tidak ada lagi fitnah.” Orang itu berkata lagi: “Bagaimana pendapatmu tentang Utsman dan Ali?” Ibnu Umar menjawab: “Adapun Utsman, maka Allah telah memaafkannya sedangkan kalian telah membenci untuk memaafkannya. Sedangkan Ali, dia adalah sepupu Rasulullah saw dan menantunya.” Lalu dia mengisyaratkan dengan tangannya seraya berkata: “Inilah rumahnya sebagaimana kamu lihat.”] (Shahih Bukhari no. 4153)

 

 

AMALAN PRAKSTIS

Agama adalah ajaran yang datang dari Allah, agar manusia mengamalkannya sebagai jalan kembali kepada-Nya. Karenanya, agama adalah milik Allah; tidak boleh ditarik atau diklaim menjadi milik manusia. Klaim-klaim itulah yang menjadi sumber perpecahan umat manusia. Inti ajaran Islam ialah pengakuan tak berpunya di hadapan Allah dan penyerahan diri secara total kepada-Nya. Maka tujuan perang dalam Islam ialah mengembalikan manusia kepada jati-dirinya yang sejati: menyatu pada kemanusiaan, meraih kemuliaan, menghamba kepada Allah.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

2 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

Leave a Reply