Al-Baqarah ayat 192

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
August 26, 2012
0 Comments
1421 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 192

 

فَإِنِ انتَهَوْاْ فَإِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

[Kemudian jika mereka berhenti (dari memerangi kalian), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.]

[But if they cease, Allah is Oft-forgiving, Most Merciful.]

 

1). Karena perang dalam perspektif Islam adalah mempertahankan diri dan menghentikan serangan yang diprakarsai musuh, maka jika tujuan itu telah tercapai, secara otomatis perang (melawan mereka) harus pula dihentikan: فَإِنِ انتَهَوْاْ (fa-in intaɦaū, kemudian jika mereka berhenti–dari memerangi kalian). Coba perhatikan indah dan efektifnya bentukan kalimat dalam Alquran. “Kemudian jika mereka berhenti”, seakan menjadi kalimat yang menggantung. Kalau mereka berhenti, terus apa? Kelanjutan kalimatnya tidak dituliskan karena sudah inheren di dalam tujuan perang fī sabīlil-lāɦ (di jalan Allah) itu. Mafhum bahwa perang fī sabīlil-lāɦ (di jalan Allah) bertujuan menghentikan makar yang sengaja disulut, sehingga jikalau musuh menghentikan makar tersebut, dengan sendirinya perang melawan mereka pun harus dihentikan, tanpa perlu lagi menyebut kelanjutan kalimat itu secara eksplisit. Tujuan itu sudah terfahami secara saksama oleh pembaca yang mengikuti narasi sejak awal. Kalau tetap dilanjutkan, berarti perang itu telah kehilangan alasan pembenarnya, kehilangan tumpuan rasionalnya, kehilangan dalil syar’inya. Dan perang seperti itu mendadak berubah menjadi makar baru. Itu artinya, Allah menyusun suatu kalimat tidak saja memerhatikan format gramatikanya tapi juga materi (rasionalitas) dari setiap proposisi yang menyusun kalimat tersebut. Secara lengkap, ayat tadi seharusnya berbunyi: “Kemudian jika mereka berhenti dari memerangi kalian maka kalian pun    harus menghentikan permusuhan kalian kepada mereka.” Kita lihat betapa panjangnya sambungan kalimat yang dipotong. “Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Alquran ketika datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka). Dan sungguh Aluran itu benar-benar kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana Maha Terpuji.” (41:41-42)

 

2). Kata إِن (in, jika) di penggalan ayat فَإِنِ انتَهَوْاْ (fa-in intaɦaū, kemudian jika mereka berhenti–dari memerangi kalian) adalah syarat. Kalau ada syarat berati harus ada juga jawaban atas syarat tersebut. Menurut logika bahasa, jawaban atas syarat hanya wujud manakala syarat tersebut terpenuhi. Sehingga tidak mungkin jawaban atas syarat mendahului  terwujudnya syarat. Dalam hal فَإِنِ انتَهَوْاْ (fa-in intaɦaū, kemudian jika mereka berhenti–dari memerangi kalian), mengindikasikan bahwa perang fī sabīlil-lāɦ (di jalan Allah) hanya boleh berhenti (atau dihentikan) apabila mereka (musuh-musuh Allah dan musuh-musuh kemanusiaan itu) juga menghentikan perbuatan makarnya atau kejahatan terorganisirnya terhadap kemanusiaan. Kalau tidak, berarti Imam kaum Muslim harus tetap mengerahkan para mujaɦidīn (pejuang fī sabīlil-lāɦ) dengan seluruh tenaga dan potensi yang ada untuk meneruskan perjuangan menghadang gerak laju para penjahat kemanusiaan itu. Di sinilah pentingnya stok sumber daya (tenaga, spirit, dana, logistik, dan teknologi persenjataan) mendapat perhatian sangat penting dari pemimpin umat. Dan, Islam, sebagai agama yang paripurna, telah mensistematisasi semua itu dengan sangat mencengangkan. Kalau umat Islam KALAH, itu pasti karena ada yang SALAH. Kalau penganut agama Tuhan jadi PECUNDANG, itu pasti karena ada yang jadi MALIN KUNDANG. “Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah. Dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya). Dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi. Maka ia menerbangkan debu. Dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh.” (100:1-5)

 

3). Kendati Allah memandatir hamba yang mengimani-Nya untuk berjuang di pihak-Nya guna menghentikan perang, teror dan sabotase yang dilakukan para pembuat makar. Serta mengizinkan mereka membunuh penjahat-penjahat kemanusiaan itu di medan laga mana saja mereka temui. Tetapi, dalam pada itu, andai para musuh-musuh Allah itu menghentikan permusuhannya, Dia membujuk mereka dengan ungkapan penuh kasih: فَإِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ (fa innallāɦa ghafūrur-rāhīm, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun Maha Penyayang). Ungkapan ini mempertegas kembali tujuan perang fī sabīlil-lāɦ (di jalan Allah); yaitu bahwa perang dalam Islam merupakan bagian tak terpisahkan dari tugas dakwah: mengajak mereka kembali kepada kemanusiaan, kepada kebenaran, kepada Allah. Bahkan seandainya pun mereka belum ada keinginan untuk kembali kepada Penciptanya, cukup menghentikan saja dulu perbuatan makarnya, Allah sudah menjanjikan mereka ampunan. Dan kalau Allah sendiri sudah menyebut diri-Nya غَفُورٌ (ghafūrun, Maha Pengampun), maka Imam kaum Muslim yang di tangannya keizinan berperang itu tergenggam, pun harus memberikan ampunan massal kepada mereka. Inilah yang terjadi pada Nabi Saw saat menaklukkan Mekah (Fathu Makkah); Baginda memberikan ampunan massal kepada penduduk Mekah yang dulu mengusir Beliu dan para sahabatnya serta sejauh ini selalu terdepan di dalam mengangkat senjata melawan manusia suci itu beserta kaum Muslim di Madinah. “Dari Anas (bin Malik) ra, bahwa Ummu Sulaim selalu membawa parang ketika perang Hunain (perang pertama pasca Fathu Makkah, pen.), lalu Abu Thalhah melihatnya sehingga ia pun mengadu: ‘Wahai Rasulullah, Ummu Sulaim selalu membawa parang.’ Beliau lalu bertanya kepada Ummu Sulaim: ‘Untuk apakah kamu selalu membawa parang?’ Ummu Sulaim menjawab: ‘Jika ada orang Musyrik mendekatiku, maka aku akan membelah perutnya.’ Rasulullah saw tertawa mendengarnya. Ummu Sulaim berkata: ‘Wahai Rasulullah, bunuhlah orang-orang yang anda bebaskan di hari penaklukan kota Makkah, sekarang mereka telah lari dari Anda.’ Maka Rasulullah saw bersabda: ‘Wahai Ummu Sulaim, sesungguhnya Allah telah mencukupi dan memperbaiki’.” (Shahih Muslim no. 3374)

 

4). Pasangan Nama Allah غَفُورٌ رَّحِيمٌ (ghafūrur-rāhīm, Maha Pengampun Maha Penyayang)—termasuk yang disertai kata sandang ال (al)—muncul 76 kali dalam Alquran, dan hanya sekali bertukar posisi, yaitu di 34:2; “Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang keluar daripadanya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia-lah Yang Maha Penyayang Maha Pengampun.” Keterlebihdahuluan Nama غَفُورٌ (ghafūrun, Maha Pengampun) atas Nama رَّحِيمٌ (rāhīmun, Maha Penyayang) seakan hendak mengungkap rahasia pengetahuan Allah bahwa manusia makhluk ciptaan-Nya itu sangat rentan terhadap noda dan dosa, terhadap khilaf dan salah. Untuk meminimalisir teraktualisasinya potensi itu, Allah lalu memilih orang-orang suci dari kalangan manusia sendiri guna mendemonstrasikan kepada mereka bagaimana caranya berfikir, berkata, dan bertindak tanpa salah dan dosa. Tetapi andaipun manusia itu pada awalnya menentang dan memalin-kundangi orang-orang suci tersebut, bahkan mengangkat senjata untuk membunuhnya, namun kemudian berhenti memanipulasi kebenaran yang datang dari langit seraya menyadari kekhilafannya selama ini, Allah dengan segala sifat welas asih-Nya menerimanya dengan tangan terbuka. Karena Dia adalah غَفُورٌ (ghafūrun, Maha Pengampun). Dan umat Islam yang selama ini teraniaya oleh horor rekayasa mereka itu, pun harus membuka diri untuk berlapang dada menerima mereka sebagai saudara, walaupun berbeda keyakinan dan ideologi. Cuma alangkah baiknya jikalau mantan musuh Allah dan kemanusiaan tersebut melangkah lebih jauh lagi, yakni kembali ke pangkuan Penciptanya, mengimani-Nya, mengibadahi-Nya, dan menyatui-Nya. Jika itu yang mereka lakukan, Allah akan merasakan kepadanya nikmat رَّحِيمٌ (rāhīmun, Maha Penyayang)-Nya. “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (4:110)

 

5). Hadis Nabi Saw.:

حَدَّثَنِي إِسْحَقُ بْنُ مَنْصُورٍ أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى عَنْ شَيْبَانَ عَنْ يَحْيَى أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُا إِنَّ خُزَاعَةَ قَتَلُوا رَجُلًا مِنْ بَنِي لَيْثٍ عَامَ فَتْحِ مَكَّةَ بِقَتِيلٍ مِنْهُمْ قَتَلُوهُ فَأُخْبِرَ بِذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَكِبَ رَاحِلَتَهُ فَخَطَبَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَبَسَ عَنْ مَكَّةَ الْفِيلَ وَسَلَّطَ عَلَيْهَا رَسُولَهُ وَالْمُؤْمِنِينَ أَلَا وَإِنَّهَا لَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَلَنْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ بَعْدِي أَلَا وَإِنَّهَا أُحِلَّتْ لِي سَاعَةً مِنْ النَّهَارِ أَلَا وَإِنَّهَا سَاعَتِي هَذِهِ حَرَامٌ لَا يُخْبَطُ شَوْكُهَا وَلَا يُعْضَدُ شَجَرُهَا وَلَا يَلْتَقِطُ سَاقِطَتَهَا إِلَّا مُنْشِدٌ وَمَنْ قُتِلَ لَهُ قَتِيلٌ فَهُوَ بِخَيْرِ النَّظَرَيْنِ إِمَّا أَنْ يُعْطَى يَعْنِي الدِّيَةَ وَإِمَّا أَنْ يُقَادَ أَهْلُ الْقَتِيلِ قَالَ فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ يُقَالُ لَهُ أَبُو شَاهٍ فَقَالَ اكْتُبْ لِي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ اكْتُبُوا لِأَبِي شَاهٍ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ قُرَيْشٍ إِلَّا الْإِذْخِرَ فَإِنَّا نَجْعَلُهُ فِي بُيُوتِنَا وَقُبُورِنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا الْإِذْخِرَ

[Telah menceritakan kepadaku Ishaq bin Manshur telah mengabarkan kepada kami Ubaidullah bin Musa dari Syaiban dari Yahya telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bahwa ia mendengar Abu Hurairah berkata; Khuza’ah membunuh seorang laki-laki dari Bani Laits pada saat Fathu Makkah (Penaklukan Kota Mekah) karena terbunuhnya seorang laki-laki dari mereka oleh Bani Laits. Maka peristiwa itu pun dikabarkan kepada Rasulullah saw. Beliau bergegas menaiki kendaraannya, kemudian menyampaikan khutbah seraya bersabda: “Allah telah melindungi kota Mekah dari serangan tentara gajah serta memberi kekuatan kepada Rasul-Nya dan orang-orang beriman untuk mempertahankannya. Tidak seorang pun yang boleh berperang di negeri ini. Larangan itu telah ada sejak dahulu. Dan juga tidak dibolehkan bagi orang-orang yang sesudahku. Namun, hanya dikecualikan kepadaku untuk sesaat di siang hari. Dan pada waktu ini telah kembali menjadi haram. Tidak boleh dipotong pohon berdurinya, tidak boleh ditebang pepohonannya, dan jangan dipungut barang-barang yang hilang tercecer kecuali untuk diumumkan. Siapa yang anggota keluarganya terbunuh, dia mempunyai dua pilihan yang baik, yaitu menerima uang tebusan (diyat) atau atau meminta agar si pembunuh dibunuh.” Kemudian datanglah seorang laki-laki dari penduduk Yaman yang namanya Abu Syahin, ia berkata, “Tuliskanlah untukku ya Rasulullah.” Maka beliau pun bersabda: “Tuliskanlah untuk Abu Syahin.” Lalu seorang laki-laki dari Quraisy berkata: “Kecuali al-Idzkhir, karena kami menggunakannya di rumah dan kuburan kami.” Maka Rasulullah saw bersabda: “Melainkan Al Idzkhir.”] (Shahih Muslim no. 2415. Lihat juga Sunan Tirmidzi no. 737)

 

 

AMALAN PTRAKTIS

Manusia, kata orang, adalah tempatnya salah dan dosa. Dan itu benar, karena dalam dunia hewan dan tumbuhan tidak dikenal istilah pahala dan dosa. Mereka tidak punya akal. Mereka tidak punya pilihan. Maka manusia yang hebat bukan hanya mereka yang tidak melakukan salah dan dosa. Manusia yang menyadari kesalahan dan kejahatannya kemudian datang bersimpuh di pangkuan Penciptanya, tersungkur dan menangis, seraya berjanji untuk tidak lagi mengulangi semuanya, juga tak kalah hebatnya.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply