Al-Baqarah ayat 191

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
August 24, 2012
0 Comments
2375 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 191

 

وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُم مِّنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ وَلاَ تُقَاتِلُوهُمْ عِندَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّى يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ فَإِن قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ كَذَلِكَ جَزَاء الْكَافِرِينَ

[Dan bunuhlah mereka di mana saja kalian jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusirmu; dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kalian memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangimu di tempat itu. Maka jika mereka memerangimu (di tempat itu), bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.]

[And slay them wherever ye catch them, and turn them out from where they have Turned you out; for tumult and oppression are worse than slaughter; but fight them not at the Sacred Mosque, unless they (first) fight you there; but if they fight you, slay them. Such is the reward of those who suppress faith.]

 

1). Kata اقْتُلُو (uqtulū, bunuhlah) satu sumber dengan kata قَاتِلُواْ (qātilū, perangilah). Kata dasarnya ialah قتل – يقتل (qa-ta-la, yaq-tu-lu, membunuh), yang kemudian terfahami bahwa yang namanya perang itu adalah berusaha untuk saling membunuh, walaupun tujuan dari kedua belah pihak berbeda—yang memprakarsai penyerangan bertujuan untuk merebut kekuasaan (memberontak) atau memperluasnya (ekspansi) sementara yang mempertahankan diri bertujuan untuk membela hak-haknya dan menghentikan kejahatan para penyerang (agresor) tersebut. Terhadap pihak yang berperang demi membela hak-haknya dan menghentikan agresor itulah Allah mengeluarkan perintah ini: وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ (waqtulūɦum haytsu tsaqiftumūɦum, dan bunuhlah mereka di mana saja kalian jumpai mereka). Melalui ayat ini, Allah sebagai Pencipta dan Pemilik seluruh jiwa, memberikan keizinan-Nya untuk membunuh mereka yang telah menodai jiwanya sendiri. Karena di ayat sebelumnya ada larangan untuk melampaui batas, وَلاَ تَعْتَدُواْ (wa lā ta’tadū, janganlah kalian melampaui batas), maka perintah اقْتُلُو (uqtulū, bunuhlah) di sini jelas tidak berlaku di sebarang tempat. Ungkapan حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ (haytsu tsaqiftumūɦum, di mana saja kalian jumpai mereka) dibatasi keberlakuannya, pertama, hanya di dalam “wilayah perang” (dārul-harb), dan tidak berlaku di dalam “wilayah damai” (dārus-salām). Itupun harus dipastikan bahwa yang bersangkutan benar-benar anggota milisi yang mengambil bagian di dalam peperangan tersebut. Maka meletakkan bahan peledak—dalam jenis apapun—di tempat-tempat umum bukanlah perang fī sabīlil-lāɦ (di jalan Allah), sehingga tidak mungkin dilakukan oleh seorang muslim yang faham akan agamanya. Perbuatan durjana seperti itu pasti dilakukan oleh pihak luar untuk mengambinghitamkan dan mendiskreditkan Islam dengan menggunkan tangan-tangan orang dalam. Kedua, seandainya pun mereka dijumpai di dalam “wilayah perang” (dārul-harb), tetapi yang bersangkutan menyerah, juga dilarang membunuhnya. Itu sebabnya, kendati suasana perang itu sudah sedemikian heroiknya namun para pejuang fī sabīlil-lāɦ (di jalan Allah) tetap diminta oleh Allah untuk selalu mencermati jangan sampai membunuh orang yang sudah angkat tangan: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kalian mengatakan kepada orang yang mengucapkan ‘salam’ (menyerah) kepadamu: ‘Kamu bukan seorang mukmin’, (lalu kalian membunuhnya) dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitulah keadaan kalian dahulu (di zaman Jahiliah), lalu Allah menganugerahkan nikmat (agama)-Nya atas kalian; maka telitilah! Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (4:94)

 

2). Bagi musuh yang mengobarkan perang untuk melakukan ekspansi dan atau aneksasi terhadap wilayah teritorial atau negara, maka perang fī sabīlil-lāɦ (di jalan Allah) bertujuan untuk mengusir mereka dan memulihkan kembalikan wilayah teritorial atau kedaulatan negara. Petunjuk operasionalnya: وَأَخْرِجُوهُم مِّنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ (wa akhrijūɦum min haytsu akhrajūkum, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusirmu). Jadi perintah untuk mengusir musuh atau pemberontak dibatasi keberlakuannya pada wilayah teritorial atau negara yang telah mereka kuasai. Tidak boleh lebih dari itu. Kalau lebih dari itu, berarti sudah masuk kategori agresi untuk memperluas wilayah (ekspansi), atau bahkan bermaksud mengambil alih negara orang (aneksasi). Dan itu bukan perang fī sabīlil-lāɦ (di jalan Allah) lagi. Tapi perang fī sabīlith-thāghūt (di jalan Thaghut), perang demi arogansi dan hawa nafsu. Di sini kita bisa melihat bagaimana Islam menghargai kedaulatan wilayah atau negara lain; kemudian pada saat yang sama terdepan dalam menentang pelbagai bentuk agresi, baik untuk melakukan ekspansi, aneksasi ataupun kolonisasi, baik total (untuk menguasai semua lini) ataupun parsial (menguasai lini-lini tertentu saja semisal sumber daya alam). Penentangan Islam terhadap bentuk-bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan itu merupakan bagian dari salah satu ajarannya yang sangat penting: amar ma’ruf nahyi mungkar. Satu-satunya jalan bagi Islam untuk memperluas pengaruhnya ialah dengan edukasi. “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: ‘Tuhan kami hanyalah Allah’. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia terhadap sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat Maha Perkasa.” (22:39-40)

 

3). Kenapa Islam menyuruh umatnya berdiri di barisan paling depan dalam menentang segala bentuk penjajahan di muka bumi? Karena agresi, ekspansi, aneksasi, dan kolonisasi selalu menimbulkan kerusakan sistem di semua lapisan kehidupan masyarakat. Kerusakan sistem inilah yang disebut الْفِتْنَةُ (al-fitnah, fitnah) di ayat ini. Bukan fitnah dalam pengertiannya yang difahami oleh sebagian besar orang—yaitu seseorang menuduh orang lain melakukan suatu perbuatan buruk padahal pada kenyataannya tidak demikian; Alquran menyebut tuduhan palsu seperti itu dengan بُهْتَانٌ (buɦtān), bukan فِتْنَةٌ (fitnah)—lihat 4:20, 4:112, 4:156, 24:16, 33:58, dan 60:12. Karena, dalam hal فِتْنَةٌ (fitnah), yang rusak adalah sistem, maka orang-orang yang tidak tahu menahu masalah pun akan merasakan akibatnya: “Dan takutlah terhadap fitnah yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim diantara kalian….” (8:25) Korbannya bukan hanya satu, tapi sangat banyak, bahkan sangat mungkin seluruh anggota masyarakat. Sehingga nilai kejahatannya jauh lebih dahsyat dari membunuh, وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ (wal-fitnatu asyaddu minal-qatli, dan fitnah itu lebih dahsyat bahayanya dari pembunuhan). Misalnya, bom dengan mudah meledak di mana-mana, jiwa manusia tak lagi diharga, kemiskinan dan penyakit bersimaharajelela, kebutahurufan dan kebodohan menjadi pemandangan umum, transaksi perkara dan hukum mewarnai dunia peradilan, pelanggaran hak asasi manusia menjadi hal yang biasa, dan sebagainya. Untuk itu kaum Muslim beserta pemimpinnya (dari kalangan ulama) diminta untuk bangkit melawan penyebab dari semua itu. “Adapun orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kalian (hai kaum Muslim) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (8:73)

 

4). Di ayat ini Masjidil Haram disebutkan secara khusus: وَلاَ تُقَاتِلُوهُمْ عِندَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّى يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ (wa lā tuqātilūɦum ‘inda al-masjidi al-harami hattā yuqātilūkum fīɦi, dan janganlah kalian memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangimu di tempat itu). Ini sebetulnya bentuk takhshīsh (pengkhusussan) dari ayat sebelumnya (190) yang secara umum dan tegas mengatakan: وَقَاتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ (wa qātilū fī sabĭlillāɦi al-ladzĭna yuqātilūnakum, dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian). Di penggalan ayat 191 ini memang dimulai dengan huruf nahyi (larangan), لاَ (lā, jangan), tetapi larangan itu tidak berlaku mutlak, sebagaimana juga larangan perang di tempat-tempat lain. Larangan itu dibatasi oleh kata حَتَّى (hattā, sampai atau kecuali). Artinya, kendati Masjidil Haram merupakan tempat terhormat dan termulia bagi umat Islam, dan karenanya harus dijunjung tinggi dan tak boleh dinodai dengan perseteruan apalagi peperangan, tetapi apabila musuh-musuh Allah mengobarkan perang di sana, maka menghentikan serangan mereka itu dengan cara menyerang balik, nilainya jauh lebih mulia dan lebih terhormat. Pelajaran penting yang dapat kita petik di situ; bahwa “bukti seseorang atau suatu kaum mencintai dan memuliakan sesuatu ialah dengan rela mengorbankan jiwa demi menjaga kehormatan dan kemulian sesuatu itu”. Jika tidak begitu, berarti tidak ada bukti cintanya. Pengakuan cintanya adalah hampa belaka. Masjidil Haram adalah Baitullah (baytallah), dan karena setiap bayt ada aɦli-nya—seperti diuraikan di ayat 189—maka menghormati dan memuliakan Baitullah harus sama dengan menghormati dan memuliakan aɦlibayt Masjidil Haram. Yaitu فَإِن قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ [fain qātalūkum faqtulūɦum, jika mereka memerangimu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka]. Alasannya: كَذَلِكَ جَزَاء الْكَافِرِينَ (kadzālika jazāul-kāfirīn, demikianlah balasan bagi orang-orang kafir). Mereka yang melakukan perbuatan terkutuk itu, memerangi kaum Muslim di Masjidil Haram, menodai kemuliaan dan kehormatan Baitullah, oleh Allah disebut KAFIR. Melawan mereka adalah tanda cinta, kemuliaan, dan kehormatan. “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: ‘Berperang pada bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah . Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai mereka (dapat) mengembalikanmu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kalian dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (2:217)

 

5). Hadis nabi Saw.:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ يَعْنِي ابْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْقَارِيَّ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَوْمَ خَيْبَرَ لَأُعْطِيَنَّ هَذِهِ الرَّايَةَ رَجُلًا يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَى يَدَيْهِ قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ مَا أَحْبَبْتُ الْإِمَارَةَ إِلَّا يَوْمَئِذٍ قَالَ فَتَسَاوَرْتُ لَهَا رَجَاءَ أَنْ أُدْعَى لَهَا قَالَ فَدَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهَا وَقَالَ امْشِ وَلَا تَلْتَفِتْ حَتَّى يَفْتَحَ اللَّهُ عَلَيْكَ قَالَ فَسَارَ عَلِيٌّ شَيْئًا ثُمَّ وَقَفَ وَلَمْ يَلْتَفِتْ فَصَرَخَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلَى مَاذَا أُقَاتِلُ النَّاسَ قَالَ قَاتِلْهُمْ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ فَقَدْ مَنَعُوا مِنْكَ دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

[Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id; Telah menceritakan kepada kami Ya’qub yaitu Ibnu Abdur Rahman al-Qari dari Suhail dari Bapaknya dari Abu Hurairah bahwa pada waktu perang Khaibar Rasulullah saw bersabda: “Sungguh aku akan menyerahkan bendera ini kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan RasulNya, dan Allah akan memberikan kemenangan dengan tangannya.” Umar bin Khaththab berkata: “Sungguh aku tidak pernah menginginkan sebuah kepemimpinan kecuali hanya pada hari itu saja.” Ia (selanjutnya) berkata: “Lalu akupun menampakkan wajahku dengan harapan agar aku dipanggil untuk menerima bendera itu.” Ia berkata: “Kemudian Rasulullah saw memanggil Ali bin Abi Thalib dan beliau memberikan bendera itu kepadanya seraya berkata: ‘Berangkatlah dan janganlah kamu menoleh ke belakang hingga Allah memenangkanmu’.” Abu Hurairah berkata; kemudian Ali berjalan lalu berhenti dengan tidak menoleh ke belakang ia berteriak: “Wahai Rasulullah, atas dasar apa aku memerangi manusia?” Beliau menjawab: “Perangilah mereka hingga mereka mau bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka telah melaksanakan hal itu berarti mereka telah mencegahmu untuk menumpahkan darah mereka dan mengambil harta mereka kecuali yang menjadi haknya (Islam) sedang hisab (perhitungan) mereka ada di sisi Allah”.] (Shahih Muslim no. 4422)

 

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ ح و حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِي مُعَاوِيَةَ كِلَاهُمَا عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي ظِبْيَانَ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ وَهَذَا حَدِيثُ ابْنِ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَرِيَّةٍ فَصَبَّحْنَا الْحُرَقَاتِ مِنْ جُهَيْنَةَ فَأَدْرَكْتُ رَجُلًا فَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَطَعَنْتُهُ فَوَقَعَ فِي نَفْسِي مِنْ ذَلِكَ فَذَكَرْتُهُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَقَتَلْتَهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنْ السِّلَاحِ قَالَ أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لَا فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ قَالَ فَقَالَ سَعْدٌ وَأَنَا وَاللَّهِ لَا أَقْتُلُ مُسْلِمًا حَتَّى يَقْتُلَهُ ذُو الْبُطَيْنِ يَعْنِي أُسَامَةَ قَالَ قَالَ رَجُلٌ أَلَمْ يَقُلْ اللَّهُ { وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ } فَقَالَ سَعْدٌ قَدْ قَاتَلْنَا حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَأَنْتَ وَأَصْحَابُكَ تُرِيدُونَ أَنْ تُقَاتِلُوا حَتَّى تَكُونُ فِتْنَةٌ

[Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid al-Ahmar. (Dalam riwayat lain disebutkan) dan telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib dan Ishaq bin Ibrahim dari Abu Mu’awiyah keduanya dari al-A’masy dari Abu Dlibyan dari Usamah bin Zaid dan ini hadits Ibnu Abu Syaibah, dia berkata; “Rasulullah saw mengutus kami dalam suatu pasukan. Suatu pagi kami sampai di al-Huruqat, yakni suatu tempat di daerah Juhainah. Kemudian aku berjumpa seorang lelaki, lelaki tersebut lalu mengucapkan ‘lā ilāɦa illallāɦ’ (tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah), namun aku tetap menikamnya. Lalu aku merasa ada ganjalan dalam diriku karena hal tersebut, sehingga kejadian tersebut aku ceritakan kepada Rasulullah. Rasulullah lalu bertanya: ‘Kenapa kamu membunuh orang yang telah mengucapkan lā ilāɦa illallāɦ?’ Aku menjawab; ‘Wahai Rasulullah! Sesungguhnya lelaki itu mengucap demikian karena takutkan ayunan pedang.’ Rasulullah bertanya lagi: ‘Sudahkah kamu membelah dadanya sehingga kamu tahu dia benar-benar mengucapkan Kalimah Syahadat atau tidak?’ Rasulullah terus mengulangi pertanyaan itu kepadaku hingga menyebabkan aku berandai-andai bahwa aku baru masuk Islam saat itu.” Usamah menceritakan lagi: “Sa’d telah berkata; ‘Demi Allah, aku tidak akan membunuh seorang Muslim hingga dia telah dibunuh oleh orang yang mempunyai perut yang kecil, yaitu Usamah.’ Usamah berkata lagi: ‘Seorang lelaki telah bertanya; ‘Tidakkah Allah telah berfirman, “Dan perangilah mereka sehingga tiada lagi fitnah, dan jadikanlah agama itu semata-mata untuk Allah.” (8:38). Maka Sa’d menjawab: “Sesungguhnya kami memerangi mereka supaya tidak berlaku fitnah, tetapi kamu dan para sahabatmu memerangi mereka (justru) untuk menimbulkan fitnah.“] (Shahih Muslim no. 140)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Orang atau pihak manapun yang mengobarkan perang dengan menyerang pihak lain, berarti dia atau mereka telah merubah suatu wilayah menjadi medan perang (dārul-harb) seraya bertekad untuk menghilangkan nyawa orang lain. Sebelum semuanya tersulap menjadi fitnah, maka Allah memerintahkan hamba yang mengimani-Nya untuk menghentikan makar tersebut. Karena hanya dengan begitu, cinta dan nilai-nilai kemuliaan bisa ditegakkan. Menghormati kesucian Masjidil Haram adalah perbuatan yang sangat mulia, tetapi membela kesuciannya dari pelaku makar jauh lebih mulia lagi.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

2 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

Leave a Reply