Al-Baqarah ayat 190

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
August 22, 2012
0 Comments
2240 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 190

 

وَقَاتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُواْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبِّ الْمُعْتَدِينَ

[Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, (tetapi) janganlah kalian melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas.]

[Fight in the cause of Allah those who fight you, but do not transgress limits; for Allah loveth not transgressors.]

 

1). Sekarang, sampai ayat 195 nanti, kita bicara hal yang paling sensitif: perang. Karena ini menyangkut terganggunya ketenteraman kehidupan, menyangkut degradasi pembangunan, dan menyangkut nyawa banyak orang, maka sebelum bicara soal ini, Allah memperkenalkan kita kepada tahapan-tahapan pendahuluan yang harus dilalui sebelum sampai ke tahapan yang paling puncak dalam penegakan agama Allah ini. Apabila tahapan-tahapan tersebut tidak dilewati, kemudian langsung loncat ke puncak, maka alih-alih menjadi solusi, perang malah bisa menjadi penyebab runtahnya peradaban dan terhinanya umat. Allah memulainya dengan memperkenalkan kepada kita apa yang dimaksud dengan الْبِرُّ (al-birru, perbuatan bajik) beserta unsur-unsur yang membentuknya di ayat 177. Tanpa mengenal konsep ini, kita bisa terjerembab ke dalam lawannya, الإِثْمُ (al-itsmu, perbuatan dosa). Perang, dalam Islam, merupakan bagian dari الْبِرُّ (al-birru, perbuatan bajik) dan tidak boleh, sesedikit apapun, tercemari oleh الإِثْمُ (al-itsmu, perbuatan dosa). Setelah itu, di ayat 178 dan 179, Allah menyampaikan konsep qishash (hukuman setimpal). Apa sebab? Sebab Islam memandang bahwa pengobar perang itu adalah pelaku kejahatan terorganisir. Dan tidak ada kejahatan terorganisir kalau tidak didahului oleh kejahatan individual. Karena agama bersifat preventif, maka sebelum berkembang menjadi kejahatan terorganisir, harus secepatnya dihentikan sejak masih individual; dan di situlah fungsinya qishash. Kemudian melalui ayat 180-182, Allah menarik perhatian kita ke masalah washiat (pesan suci). Yang namanya kejahatan terorganisir pasti ada pemimpin tertingginya. Kalau perang, niscaya ada panglimanya; bahkan panglima pun ada yang mengangkatnya, ada pangti (panglima tertinggi)-nya. Soalannya ialah, apa yang mendasari pengangkatan dan pergantian kepemimpinan pada sebuah organisasi kejahatan? Jawabannya cuma satu: atas dasar suksesnya pelaksanaan dan keberlanjutan kejahatan tersebut. Maka pengangkatan dan pergantian itu bisa bottom-up (demokrasi), bisa top-down (washiat), bahkan bisa juga perebutan kekuasaan (kudeta). Pokoknya mana yang paling kondusif pada masa dan keadaannya masing-masing. Namanya saja kejahatan, tidak perlu ada formula yang pakem. Karena formula yang pakem akan mempersempit ruang gerak para pelaku kejahatan. Agama adalah keteraturan. Islam adalah ajaran yang keteraturannya berasaskan pada prinsip-prinsip keadilan; karena hanya dengan begitu suasana kedamaian (islam—dengan huruf “i” kecil) bisa terwujud. Sebagai agama langit—artinya lejitimasinya sepenuhnya bergantung pada titah langit—maka Islam menetapkan washiat sebagai formula penting dalam hal pengangkatan dan pergantian pemimpin tertingginya. Banyak pihak—bahkan di kalangan Islam sendiri—yang meributkan konsep ini, tapi hebatnya, keributan mereka sontak berhenti kalau raja-raja dan diktator-diktator ber-washiat—bahkan jauh hari sebelum tanda kemangkatannya—dengan mempersiapkan apa yang disebut putra mahkota. Tetapi harus secepatnya disampaikan bahwa masalah yang satu ini memang berat karena di dalamnya berjumpa banyak kepentingan. Itu sebabnya, di ayat 183-188, Allah mengajak kita berpuasa. Karena berpuasa, seperti telah diuraikan, adalah “negasi” (penolakan, berkata “tidak”, mengobarkan perang) kepada seluruh kepentingan-kepentingan itu yang tersimpulkan pada tiga perkara utama: makan, minum, dan libido. Tujuannya: takwa, menjunjung tinggi hukum-hukum Allah. Harapannya (ayat 189), agar semua pihak dalam Islam mencapai puncak pendakian: الْبِرُّ (al-birru, kebajikan yang sempurna) dengan mau (dengan pilihan rasionalnya alias secara suka rela) memasuki al-bayt (rumah risalah) dari pintu yang benar. “Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: ‘Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah’. Nabi mereka menjawab: ‘Mungkin sekali jika kalian nanti diwajibkan berperang, kalian tidak akan berperang.’ Mereka menjawab: ‘Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?’ Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.” (2:246)

 

2). Barulah setelah itu, perang boleh dibicarakan. Dapat kita bayangkan, begitu panjangnya perjalanan, begitu banyaknya tahapan-tahapan krusial, yang harus ditempuh sebelum sampai ke sana. Sayangnya banyak orang yang tidak sabar. “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: ‘Tahanlah tanganmu (dari keinginan untuk berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!’ Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: ‘Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?’ Katakanlah: ‘Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun.” (4:77) Mengapa (untuk sampai ke perintah) perang dibuat sedemikian berliku jalannya? Pertama, perang pada dasarnya tidak menyenangkan, karena akan memporak-porandakan pranata kehidupan, berpotensi meruntuhkan peradaban, memisahkan orang-orang yang saling mencintai, menjauhkan suami dari istri, orang tua dari anak-anaknya. Perang, karenanya, tidak disenangi oleh manusia. Sehingga memantik perang adalah kejahatan. Kedua, perang pasti menimbulkan korban jiwa. Dalam perspektif Islam, tiap jiwa adalah milik Allah. Sehingga hanya Dia-lah satu-satunya yang punya hak untuk mematikan jiwa-jiwa tersebut melalui berbagai peristiwa alamiah ciptaan-Nya—semisal penyakit, bencana alam, kerentaan, kecelakaan, dan sebagainya. Kematian di luar itu harus ada yang mempertanggungjawabkannya di hadapan Sang Pemilik jiwa-jiwa tersebut. Penangungjawab itu ada dua macam: penanggung jawab LIAR (tanpa mengantongi surat izin dari Sang Pemilik jiwa) dan penangung jawab RESMI (mengantongi surat izin). Yang pertama itulah yang disebut pelaku kejahatan karena membuat (atau mengkondisikan penyebab terjadinya) ketercabutan jiwa secara ilegal. Sedangkan yang kedua disebutشَهِيد (syaɦīd, saksi); yakni Figur Ilahi yang mendapatkan mandat syar’i dari Sang Pemilik jiwa (4:41) untuk menjadi saksi atas kematian mereka yang mempertaruhkan nyawanya di dalam suatu perang. Jika ada mobilisasi umat untuk pergi berperang di suatu medan atau negara tertentu, pertanyaannya ialah, siapa yang akan mempertanggungjawabkan perbuatan dan kematian mereka kelak di hadapan Allah swt? Syaɦĭd (saksi) inilah satu-satunya yang boleh mengambil keputusan tentang perang dan damai. Ketiga, agar perang dan semangat perang tidak gampang dibajak oleh pihak-pihak teretentu, termasuk oleh musuh-musuh Islam. Karena manakala perang dengan gampang diinisiasi tanpa memenuhi tahapan-tahapan dan unsur-unsur syar’inya, maka perang (atau semangat perang) seperti itu akan gampang dibajak oleh kelompok-kelompok tertentu demi memenuhi tujuan kelompk-kelompok tersebut, dan setelah itu mencampakkan umat ke dalam lembah kehina-dinaan. Pendeknya, umat akan gampang digiring bagai hewan piaraan menuju ke tempat-tempat pejagalan untuk memenuhi hajat musuh-musuhnya sendiri. Dalam hubungan itulah sehingga Allah mendahului ayat perang ini dengan pentingnya memasuki rumah melalui pintunya yang benar, dan tidak memlalui pintu belakang. “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya (kepada perdamaian itu) dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar Maha Mengetahui.” (8:60-61)

 

3). Karena memantik perang adalah kejahatan—siapapun pelakunya—maka satu-satunya perang yang diperbolehkan ialah perang untuk menghentikan kejahatan tersebut: وَقَاتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ (wa qātilū fī sabĭlillāɦi al-ladzĭna yuqātilūnakum, dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian). Di penggalan ayat yang dimulai dengan perintah untuk berperang ini, terkandung tiga unsur penting yang perlu mendapat perhatian. Pertama, adanya huruf وَ (wa, dan) di awal kalimat mengindikasikan dengan jelas bahwa ayat ini masih merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya (189) yang berbicara soal الأهِلَّةِ (al-aɦillah) dan memasukiالْبُيُوتَ (al-buyūt) melalui pintu yang Allah tunjuk. Urgensi الأهِلَّةِ (al-aɦillah) karena pada 4 (empat) bulan-bulan haram (9:36), perang harus dihentikan—paling tidak untuk sementara—demi menghormati kemuliaan bulan-bulan tersebut. Dan tentu saja, pemegang otoritas tertinggilah (yaitu syaɦīd, saksi ilahi) yang berhak melakukan tindakan itu. Kedua, penggunaan frasa فِي سَبِيلِ اللّهِ (fī sabīlil-lāɦ, di jalan Allah) memberikan peringatan keras bahwa perintah perang yang dimaksud di ayat ini tidak berlaku pada sebarang perang. Perintah perang hanya berlaku bilamana alasan-alasan syar’i-nya terpenuhi. Lagi-lagi di sini muncul kembali arti penting dan keniscayaan seorang syaɦīd (saksi ilahi); karena dialah yang paling memahami secara menyeluruh dan mendalam hukum-hukum syar’i yang dengannya sebuah perang pantas disebut فِي سَبِيلِ اللّهِ (fī sabīlil-lāɦ, di jalan Allah). Kalau tidak, maka pihak-pihak tertentu, termasuk musuh-musuh Islam, bisa merekrut umat dengan memanipulasi istilah sakral ini untuk mengampu kepentingan hegemonik mereka. Ketiga, kehadiran anak kalimat الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ (al-ladzĭna yuqātilūnakum, orang-orang yang memerangi kalian) adalah sebagai objek dari kata kerja perintah قَاتِلُواْ (qātilū, perangilah). Yakni bahwa perintah perang tidak berlaku pada sebarang objek. Allah hanya mengeluarkan perintah perang untuk menghadapi pihak yang secara terang-terangan mengangkat senjata. Sehingga bisa diartikan bahwa perang dalam Islam adalah bentuk lain dari penegakan hukum qishash. Tetapi karena perang melibatkan jumlah personil yang tidak sedikit dan dengan persenjataan yang lengkap sehingga aparat keamanan (kepolisian) tidak mungkin lagi mengatasinya, maka cara satu-satunya yang bisa ditempuh untuk menghentikan atau menghukum para pelakunya ialah dengan (terpaksa) mengibarkan bendera perang terhadapnya. Bisa dikatakan, di ranah “keamanan” sebutannya قِصَاص (qishāsh, hukuman setimpal), sementara di ranah “pertahanan” sebutannya قِتَال (qitāl, perang mempertahankan diri). Maknanya equivalen, sama-sama memberikan pembalasan yang setara. “Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati berlaku hukum qishāsh. Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kalian, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (2:194)

 

4). Berperang artinya berusaha untuk saling membunuh. Emosi dan perhitungan rasional cenderung tak diindahkan. Kemanusiaan kadang tak berarti lagi. Tetapi kendati demikian, dalam Islam, aturan perang tetap wajib ditegakkan: وَلاَ تَعْتَدُواْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبِّ الْمُعْتَدِينَ [wa lā ta’tadū innal-lāɦa lā yuhibbul-mu’tadīn, (tetapi) janganlah kalian melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas]. Penggalan ayat ini mengisyaratkan dengan jelas adanya sifat qishāsh di dalam qitāl. Perang dalam Islam adalah menerapkan hukum yang setimpal dan mempertahankan diri. Makna “melampaui batas” ialah bahwa berperang فِي سَبِيلِ اللّهِ (fī sabīlil-lāɦ, di jalan Allah) itu bukanlah balas dendam, pun bukan bermaksud menghabisi mereka, apalagi membunuh wanita-wanita, anak-anak, oran-orang tua, agamawan, dan mereka yang telah menyerah, tetapi menghentikan kejahatan terorganisir mereka dan mengusir mereka dari tempat-tempat yang telah mereka kuasai. Apabila perang (dalam pengertian mempertahankan diri) ini berubah menjadi balas dendam, bermaksud menghabisi mereka, menodai wanita-wanitanya, membunuh orang-orang yang tidak berdaya, serta mengejar mereka untuk merampas wilayah negeri mereka sendiri, maka perang seperti ini telah berubah menjadi kejahatan pula. Ini bukan lagi defensif, tapi sudah berubah menjadi agresif. Kita telah menyandang predikat agresor dan kolonial. Prilaku kita kembali sama dengan prilaku bejat mereka. Kita telah berbuat “melampaui batas”. Dan Allah memberikan peringatan tegas: إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبِّ الْمُعْتَدِينَ (innal-lāɦa lā yuhibbul-mu’tadīn, sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas). Sehingga perang seperti itu tidak pantas lagi disebut فِي سَبِيلِ اللّهِ (fī sabīlil-lāɦ, di jalan Allah) kendati alasan pencetusnya berkategori فِي سَبِيلِ اللّهِ (fī sabīlil-lāɦ, di jalan Allah). “Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda: ‘Apabila ada dua orang yang saling mencaci-maki, maka cacian yang diucapkan oleh keduanya itu, dosanya akan ditanggung oleh orang yang memulai cacian selama orang yang dizalimi itu tidak melampaui batas’.” (HR. Muslim no. 4688)

 

5). Hadis Nabi saw.:

حَدَّثَنَا أَبُو الْقَاسِمِ بْنُ أَبِي الزِّنَادِ قَالَ أَخْبَرَنِي ابْنُ أَبِي حَبِيبَةَ عَنْ دَاوُدَ بْنِ الْحُصَيْنِ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا بَعَثَ جُيُوشَهُ قَالَ اخْرُجُوا بِسْمِ اللَّهِ تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ لَا تَغْدِرُوا وَلَا تَغُلُّوا وَلَا تُمَثِّلُوا وَلَا تَقْتُلُوا الْوِلْدَانَ وَلَا أَصْحَابَ الصَّوَامِعِ

[Telah menceritakan kepada kami Abu al-Qasim bin Abu az-Zinad berkata, telah mengabarkan kepadaku Ibnu Abu Habibah dari Dawud bin al-Hushain dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah saw apabila mengutus pasukannya beliau bersabda: “Berangkatlah kalian dengan menyebut nama Allah, kalian berperang fī sabīlil-lāɦ (di jalan Allah) melawan orang-orang yang yang kafir kepada Allah, janganlah kalian mengkhianati perjanjian, janganlah kalian curang (mengambil harta rampasan perang sebelum dibagikan), janganlah kalian merusak jasad, janganlah kalian membunuh anak-anak dan orang-orang yang mendiami tempat-tempat ibadah.”] (Musnad Ahmad no. 2592. Lihat juga Sunan Abu Daud no. 2246, Sunan Tirmidzi no. 1328, Sunan Ibnu Majah no. 2848)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Setiap perang pasti menimbulkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan hancurnya sendi-sendi kehidupan. Maka mengobarkan perang adalah sebuah kejahatan terorganisir terhadap kemanusiaan, siapapun pelakunya, apapun agama dan ideologinya. Perang fī sabīlil-lāɦ (di jalan Allah) adalah perang yang dilakukan dalam rangka menghukum pelakunya dan menghentikan kejahatan mereka. Makanya perang fī sabīlil-lāɦ (di jalan Allah) sama sekali tidak boleh melampaui batas. Karena, “Allah sungguh tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas”.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

3 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply