Al-Baqarah ayat 189

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
August 18, 2012
0 Comments
2417 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 189

 

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوْاْ الْبُيُوتَ مِن ظُهُورِهَا وَلَـكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَى وَأْتُواْ الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

[Mereka bertanya kepadamu tentang hilal (bulan sabit). Katakanlah: “(Hilal) itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji.” Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah (milik) orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintunya, serta bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung.]

[They ask thee concerning the New Moons. Say: They are but signs to mark fixed periods of time in (the affairs of) men, and for Pilgrimage. It is no virtue if ye enter your houses from the back: It is virtue if ye fear Allah. Enter houses through the proper doors: And fear Allah: That ye may prosper.]

 

1). Ini adalah ayat transisi sebelum subjek pembahasan pindah ke masalah perang dan haji. Betapa tidak, tema yang dibicarakannya, ɦilāl (bulan sabit), selain terkait dengan masalah haji juga dengan puasa Ramadlan. Yang mengundang tanya ialah, kenapa masalah ɦilāl ini datang setelah tuntas seluruh pembahasan mengenai puasa? Bahwa ɦilāl penting dalam menentukan awal dan akhir Ramdlan, itu betul, tetapi Tuhan sepertinya hendak meninggalkan pesan bahwa substansi puasa bukan pada penentuan ɦilāl-nya tapi pada takwanya. Apalah artinya berseteru dalam penentuan ɦilāl, tapi meninggalkan prinsip-prinsip takwa—diantaranya: menggerus ego dan menjaga keharmonisan umat. Tentang ɦilāl ini, pendekatan yang dianut Nabi sangat sederhana. “Janganlah berpuasa hingga kalian melihat ɦilāl dan jangan pula berbuka (lebaran) hingga kalian melihatnya. Apabila kalian terhalang oleh awan maka perkirakanlah jumlahnya (menjadi 30 hari).” (HR. Bukhari-Muslim) Nabi melakukan formulasi sepertu itu karena Beliau tahu persis bahwa tujuan agama ialah menyatukan, bukan memisahkan; mempersaudarakan, bukan memperseterukan; menyederhanakan dan bukan merumitkan; mengabsolutasi Tuhan dan merelativisasi diri; menjunjung Islam dan menjinjing kelompok; merubah hiruk-pikuk menjadi adem-ayem; merubah Dārul Harb (wilayah perang) menjadi Dārus Salam (wilayah damai). Untuk mencapai semua itu, takwa adalah jawabannya. Untuk mencapai derajat takwa, puasa lantas diinisiasi. Dan yang paling ujung, paling di belakang sana, untuk memulai dan mengakhiri bulan puasa, penentuan ɦilāl diperlukan. Maka alangkah naifnya bilamana semua menjadi berantakan hanya karena ketidaksepakatan dalam “cara” penentuan ɦilāl. Para pemimpin boleh berkilah bahwa perbedaan itu karunia, tetapi kalangan bawah, orang-orang awam, tidak bisa disimplifikasi seperti itu. Faktanya: mereka bingung, ribut, dan saling menegasi. Buntutnya: lemahnya kekuatan politik umat. “” (3:159)

 

2). Kasak-kusuk soal ɦilāl (bulan sabit) tampaknya juga terjadi pada zaman Nabi. Buktinya, ayat ini dimulai dengan kata يَسْأَلُونَكَ [yas-alūnaka, mereka bertanya kepadamu (Muhammad)]. Karena bentuknya jamak dan Allah sendiri yang langsung menjawabnya, pasti banyak yang terlibat dalam pertanyaan itu. Dan yang mereka pertanyakan tak sekedar ɦilāl, tapi عَنِ الأهِلَّةِ (‘anil aɦillah, tentang al-aɦillah). Kata الأهِلَّةِ (al-aɦillah) adalah bentuk jamak taksir (tidak beraturan) dari هلال (ɦilāl, bulan sabit). Penggunaan bentuk jamak menunjukkan bahwa yang mereka pertanyakan bukan hanya ɦilāl dalam pengertian pada pemunculannya yang pertama (atau tanggal 1), tapi perubahannya dari bulan ke bulan. Perubahan posisi ɦilāl dari waktu ke waktu ini kelihatan jelas, empiris, bisa diverivikasi oleh mata telanjang semua orang. Sehingga bisa dikatakan bahwa penanggalan berdasarkan perputaran bulan (lunar system, perhitungan qamariah) ini adalah yang paling akurat dan mudah dipertanggungjawabkan. Sebaliknya, berdasarkan matahari, itu sulit; atas dasar apa misalnya sehingga bulan Januari berjumlah 31 hari dan Februari hanya 28 atau 29? Mengapa Juli dan Agustus berturut-turut 31 hari sementara yang lainnya berselang-seling (antara 30 dan 31)? Walaupun mungkin para ahli astronomi bisa menjawabnya, tetapi jawaban itu sulit diverifikasi secara empirik oleh manusia kebanyakan. Makanya, tentang pertanyaan عَنِ الأهِلَّةِ (‘anil aɦillah, tentang al-aɦillah), Allah menjawabnya: هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ [ɦiya mawāqītun lin-nāsi wal-hajji, (Hilal) itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji]. Mengapa haji disebutkan secara khusus di ayat ini? Selain karena pelaksanaan ibadah haji memang menggunakan penanggalan Qamariah (yakni bulan Zulhijjah), juga karena haji merupakan puncak penyerahan diri seorang Muslim kepada Tuhannya, yang ditandai dengan pelucutan seluruh pakaian duniawi dan material di Miqat, peleburan diri ke dalam samudra kemanusiaan sewaktu tawaf, tafakkur massal di Arafah, dan perlawanan heroik terhadap setan dalam seluruh stratanya (dari yang paling kecil hingga yang paling besar) di Mina; idealnya, orang yang pulang haji adalah orang yang berhasil menihilisasi ego pribadi dan kelompoknya. Sehingga mereka pantas berbaiat kepada Nabi Ibrahim dan dzurriyat (keturunan)-nya, karena tujuan berhaji ialah mendatangi Nabi Ibrahim. “Dan (wahai Ibrahim) berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepada-mu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (22:27)

 

3). Frasa مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ (mawāqītun lin-nāsi, tanda-tanda waktu bagi manusia) perlu mendapat komentar khusus. Penggunaan kata النَّاس (an-nās, manusia) mengandung pesan bahwa penanggalan berdasarkan الأهِلَّةِ (al-aɦillah, perubahan posisi-posisi ɦilāl) selayaknya juga digunakan oleh seluruh manusia. Dan pesan Allah ini agaknya tak hanya berhenti pada aspek angka-angkanya. Ada yang lebih penting yang Allah kehendaki di balik semua itu. Yaitu korespondensi segitiga Matahari-Bulan-Bumi. Relasi konstruktif ketiganyalah yang menyebabkan kehidupan manusia berjalan normal. Secara geografis, ada dua penyebab permukaan bumi menjadi gelap: ketiadaan cahaya matahari, dan ketiadaan cahaya bulan. Tanpa keduanya, bumi benar-benar tenggelam ke dalam ngarai kegelapan, dan tak ada yang bisa dikenal, tak ada yang bisa diberi nama, tak ada apa-apa, tak ada kata-kata. Akhirnya, bukan hanya bumi yang tertelan ke dalam ceruk ketiadaan, tapi manusia pun tak lagi kuasa untuk meng-ada. Tetapi antara matahari dan bulan pun ada perbedaan mendasarnya. Bulan tidak menghasilkan cahayanya sendiri. Bulan hanya memantulkan cahaya yang diterimanya dari matahari. Mataharilah yang menjadi sumber cahaya. Sebetulnya matahari dan bulan itu tidak pernah tidak ada. Keduanya selalu eksis dengan tugasnya masing-masing. Karena kalau keduanya tidak ada, kehidupan jadi musnah. Posisi kitalah di bumi yang menyebabkan terhijab dari pancaran cahaya keduanya. Bulan, sambil mengitari bumi dengan posisi yang terus berubah dari malam ke malam, terus-menerus menerima cahaya dari matahari untuk dipancarkan ke planet hunian manusia ini. Satu putaran bulan (moon) mengitari bumi itulah yang disebut satu bulan (month). Dalam satu tahun ada 12 kali putaran atau bulan. Artinya setiap tahun hanya ada 12 kali bulan purnama, sehingga juga hanya ada 12 nama bulan. Tidak kurang tidak lebih. Sekarang, bayangkanlah matahari itu Allah, bulan (moon) sebagai nabi, rasul atau imam, dan bumi adalah kita manusia pada umumnya. Kemudian renungkanlah ayat berikut ini: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram . Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamlian menganiaya diri dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kalian semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (9:36)

 

4). Kalau kita memahami pembahasan di poin-3, kita tidak akan heran kalau sambungan ayat tiba-tiba ‘pindah’ ke masalah الْبِرُّ (al-birr, kebajikan yang sempurna) dalam kaitannya dengan memasukiالْبُيُوتَ (al-buyūt, bentuk jamak dari al-bayt, rumah). Suatu perpindahan yang kelihatan sangat ekstrim karena tidak adanya korelasi langsung dengan masalah هلال (ɦilāl, bulan sabit): وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوْاْ الْبُيُوتَ مِن ظُهُورِهَا (wa laysal-birra bi anta’tulbuyūt min zhuɦūriɦā, dan bukanlah kebajikan yang sempurna memasuki rumah-rumah dari belakangnya). Pertanyaan yang tak boleh disepelekan ialah, huruf وَ (wa, dan) di awal penggalan ayat ini kembali ke mana? Jikalau kita cermati susunan kalimatnya, yang paling mungkin adalah kembali menginduk ke الأهِلَّةِ (al-aɦillah). Sehingga الأهِلَّةِ (al-aɦillah) ini pasti ada hubungannya dengan الْبُيُوتَ (al-buyūt). Dari sisi kebahasaan, keduanya sama-sama bentuk jamak taksir (tidak beraturan) dan dalam bentuk ma’rifah (dikenal, terdefinisikan). Karena setiap bayt (rumah) pasti ada aɦli (pemilik)-nya—yang kemudian dikenal dengan sebutan Aɦlul Bayt—maka kalau kita paralelkan, dimana satu bayt (rumah) kita samakan dengan satu bulan (month), berarti tiap satu bulan (month) selalu berisi satu Aɦlul Bayt. Artinya tiap Aɦlul Bayt memiliki manzilah-nya masing-masing di bayt (rumah) tersebut. Itu sebabnya Allah juga menggunakan jamak pada istilah مَنَازِل (manāzil, manzilah-manzilah, posisi-posisi kediaman) ini di dalam Surat Yasin: “Dan telah Kami tetapkan bagi bulan posisi-posisi kediamannya, sehingga (setelah dia sampai ke posisi yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.” (36:39). Dan karena menurut Allah sendiri di 9:36, hanya ada 12 bulan (month), berarti di sana ada juga 12 Aɦlul Bayt yang masing-masing menempati manzilah-nya silih berganti.. Itu sebabnya Allah melarang kita memasuki rumah-rumah dari belakangnya, tanpa melalui pintunya yang benar, sebab di sana ada Aɦlul Bayt yang menjadi pemiliknya yang sah. Siapa yang masuk tanpa melalui pemiliknya yang sah, berarti yang bersangkutan tidak melakukan perbuatan الْبِرُّ (al-birr, kebajikan yang sempurna). Kenapa? Karena di dalamالْبُيُوتَ (al-buyūt) itu ada aɦli (pemilik)-nya yang tak lagi dilalaikan oleh urusan dunia tersebab mereka adalah orang-orang yang terjaga: “Terus bertasbih kepada Allah di rumah-rumah yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, (yaitu) laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual-beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (24:36-37)

 

5). Kalau begitu, apa itu الْبِرُّ (al-birr, kebajikan yang sempurna)? Ini kita sudah bahas di ayat 177 (silahkan dirujuk). Ayat ini (189) cuma mempertegas kembali bahwa sifat-sifat الْبِرُّ (al-birr, kebajikan yang sempurna) hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang bertakwa. Dan takwa bisa dimiliki oleh orang yang berpuasa. Di penghujung ayat 177, setelah menunjuk sejumlah sifat-sifat الْبِرُّ (al-birr, kebajikan yang sempurna), Allah juga menggarisbawahi hubungannya dengan takwa: وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ (wa ŭlāika ɦumul muttaqŭn, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa). Karena bukanlah الْبِرُّ (al-birr, kebajikan yang sempurna) itu manakala kita memasuki الْبُيُوتَ (al-buyūt) dari arah belakang, dari pintu yang salah, maka وَلَـكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَى [walākinnal-birra manit-taqā, akan tetapi kebajikan itu ialah (milik) orang yang bertakwa]. Hanya orang yang bertakwa yang bisa memasuki pintu rumah itu dengan cara yang benar. Bani Israil dikutuk karena tidak memenuhi permintaan Nabi Musa untuk memasuki suatu negeri melalui pintunya yang benar (2:58-59), yang pada akhirnya merubah agama samawi menjadi agama hawa nafsu, agama Khalifah Ilahi menjadi agama Khalifah Duniawi. Dan agar itu tidak terulang, Allah meminta kepada mereka yang mengimani Kitab Suci Alquran: وَأْتُواْ الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا (wa’tūl-buyūta min abwābiɦā, dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintunya). Karena selain bayt (rumah) yang diberkahi itu, pada dasarnya hanyalah sarang laba-laba belaka saja: “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (29:41)

 

6). Kewajiban puasa dan haji—dua ibadah kolosal—datang setiap tahun selama satu setengah milenium, tak mungkin Tuhan tidak punya tujuan penting di situ. Allah mengharapkan agar kita tidak mengulangi kembali kesalahan umat-umat sebelumnya. Allah menginginkan kita semua agar tetap memelihara ketakwaan itu. Bahkan Allah mengamanahkan kepada khatib-khatib Jumat agar terus mewasiatkan takwa ini kepada umat. Persis seperti apa yang Allah sendiri pesankan di akhir ayat ini: وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (wattaqūllāɦa la’allakum tuflihūn, serta bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung). Dapat kit bayangkan, di beberapa ayat yang mendahului dan menyusuli ayat 189 ini, Allah terus mencecar kita dengan kata-kata takwa ini. Lihatlah penghujung ayat-ayat ini: 177, 179, 180, 183, 187, (189), 194, dan 197. Di ayat 194, Allah menegaskan kebersamaan-Nya dengan orang-orang yang bertakwa: وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (wattaqūllāɦa wa’lamū annallāɦa ma’al-muttaqīn, bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa). Ternyata, semua itu agar orang-orang beriman memasuki bayt (rumah) itu melalui pintunya yang benar. Renungkanlah doa Nabi Nuh ini: “Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, (dan) siapa saja yang masuk ke rumahku dalam keadaan beriman, serta semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan”.” (71:28)

 

7). Hadis Nabi saw.:

حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرَ بْنِ الرُّومِيِّ حَدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ عَنْ سُوَيْدِ بْنِ غَفَلَةَ عَنْ الصُّنَابِحِيِّ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا دَارُ الْحِكْمَةِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا

[Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Musa telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Umar bin ar-Rumi telah menceritakan kepada kami Syarik dari Salamah bin Kuhail dari Suwaid bin Ghaflah dari ash-Shunabihi dari Ali ra dia berkata; Rasulullah saw bersabda: “Aku adalah pemilik Hikmah sedangkan Ali adalah pintunya.“] (Sunan Tirmidzi no.3657)

 

حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنِي أَجْلَحُ الْكِنْدِيُّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ بُرَيْدَةَ قَالَ بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْثَيْنِ إِلَى الْيَمَنِ عَلَى أَحَدِهِمَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَعَلَى الْآخَرِ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ فَقَالَ إِذَا الْتَقَيْتُمْ فَعَلِيٌّ عَلَى النَّاسِ وَإِنْ افْتَرَقْتُمَا فَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْكُمَا عَلَى جُنْدِهِ قَالَ فَلَقِينَا بَنِي زَيْدٍ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ فَاقْتَتَلْنَا فَظَهَرَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ فَقَتَلْنَا الْمُقَاتِلَةَ وَسَبَيْنَا الذُّرِّيَّةَ فَاصْطَفَى عَلِيٌّ امْرَأَةً مِنْ السَّبْيِ لِنَفْسِهِ قَالَ بُرَيْدَةُ فَكَتَبَ مَعِي خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخْبِرُهُ بِذَلِكَ فَلَمَّا أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَفَعْتُ الْكِتَابَ فَقُرِئَ عَلَيْهِ فَرَأَيْتُ الْغَضَبَ فِي وَجْهِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا مَكَانُ الْعَائِذِ بَعَثْتَنِي مَعَ رَجُلٍ وَأَمَرْتَنِي أَنْ أُطِيعَهُ فَفَعَلْتُ مَا أُرْسِلْتُ بِهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقَعْ فِي عَلِيٍّ فَإِنَّهُ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَهُوَ وَلِيُّكُمْ بَعْدِي وَإِنَّهُ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَهُوَ وَلِيُّكُمْ بَعْدِي

[Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah bercerita kepadaku Ajlah al-Kindi dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, Buraidah berkata: Rasulullah saw mengirim dua utusan ke Yaman, salah satunya dipimpin Ali bin Abi Thalib dan yang lain dipimpin Khalid bin Al Walid, beliau bersabda: Bila kalian bertemu maka yang menjadi pemimpin adalah Ali dan bila kalian berpisah maka masing-masing dari kalian memimpin pasukannya. Buraidah melanjutkan: Kami bertemu dengan Bani Zaid dari penduduk Yama, kami berperang lalu kaum muslimin memenangkan kaum musyrikin, kami membunuh banyak orang dan menawan banyak orang. Kemudian Ali memilih seorang wanita diantara para tawanan untuk dirinya sendiri. Khalid bin al-Walid mengirim surat kepada Rasulullah saw memberitahukan hal itu. Saat aku mendatangi Nabi saw, aku menyerahkan surat, surat pun dibacakan dihadapan beliau lalu aku melihat muka marah di wajah Rasulullah saw, kemudian aku berkata: Wahai Rasulullah! Inilah aku meminta perlindungan kepadamu, sebab engkau sendiri yang mengutusku bersama seorang lelaki dan baginda memerintahkanku untuk menaatinya, dan aku hanya melakukan tugasku karena diutus. Rasulullah saw bersabda: “Ya, Jangan membeci Ali karena ia bagian dariku dan aku bagian darinya, ia adalah pemimpin kalian sepeninggalku, ia bagian dariku dan aku bagian darinya, ia adalah pemimpin kalian sepeninggalku.”] (Musnad Ahmad no. 21934)

 

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ وَتَقَارَبَا فِي اللَّفْظِ قَالَا حَدَّثَنَا حَاتِمٌ وَهُوَ ابْنُ إِسْمَعِيلَ عَنْ بُكَيْرِ بْنِ مِسْمَارٍ عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ أَمَرَ مُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ سَعْدًا فَقَالَ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسُبَّ أَبَا التُّرَابِ فَقَالَ أَمَّا مَا ذَكَرْتُ ثَلَاثًا قَالَهُنَّ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَنْ أَسُبَّهُ لَأَنْ تَكُونَ لِي وَاحِدَةٌ مِنْهُنَّ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَهُ خَلَّفَهُ فِي بَعْضِ مَغَازِيهِ فَقَالَ لَهُ عَلِيٌّ يَا رَسُولَ اللَّهِ خَلَّفْتَنِي مَعَ النِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلَّا أَنَّهُ لَا نُبُوَّةَ بَعْدِي وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ يَوْمَ خَيْبَرَ لَأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ رَجُلًا يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ قَالَ فَتَطَاوَلْنَا لَهَا فَقَالَ ادْعُوا لِي عَلِيًّا فَأُتِيَ بِهِ أَرْمَدَ فَبَصَقَ فِي عَيْنِهِ وَدَفَعَ الرَّايَةَ إِلَيْهِ فَفَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ { فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ } دَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيًّا وَفَاطِمَةَ وَحَسَنًا وَحُسَيْنًا فَقَالَ اللَّهُمَّ هَؤُلَاءِ أَهْلِي

[Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id dan Muhammad bin Abbad, lafazh keduanya tidak jauh berbeda, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hatim yaitu Ibnu Ismail dari Bukair bin Mismar dari Amir bin Sa’ad bin Abi Waqqash dari ayahnya, dia berkata: “Mu’awiyah bin Abu Sufyan pernah menyuruh Sa’ad dan menanyakan kepadanya tentang sikapnya kepada Ali, dia berkata; ‘Kenapa kamu tidak mau mencaci Ali?’ Dia menjawab; ‘Aku teringat kepada tiga hal tentang kedudukan Ali yang pernah di ucapkan oleh Rasulullah saw, maka aku selamanya tidak akan mencelanya karena tiga hal tersebut. Sesungguhnya salah satu dari tiga hal tersebut lebih aku sukai dari pada seekor sapi yang mahal. (Pertama), aku pernah mendengar Rasulullah saw berkata kepada Ali—ketika beliau mengangkatnya sebagai pengganti (di Madinah) dalam beberapa peperangan beliau. Ali bertanya: “Apakah anda meninggalkanku bersama para wanita dan anak-anak!” Beliau menjawab: “Wahai Ali, tidakkah kamu rela bahwa kedudukanmu denganku seperti kedudukan Harun dengan Musa? Hanya saja tidak ada Nabi setelahku.” (Kedua), dan saya juga mendengar beliau bersabda pada Perang Khaibar: “Sungguh, saya akan memberikan bendera ini kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan RasulNya dan Allah dan RasulNya juga mencintainya.” Maka kami semuanya saling mengharap agar mendapatkan bendera itu. Beliau bersabda: “Panggilllah Ali!” Kemudian dia dihadirkan dalam keadaan sakit matanya. Lantas beliau meludahi matanya dan menyerahkan bendera tersebut kepadanya, kemudian Allah memberi kemenangan kepadanya. (Ketiga), tatkala turun ayat: “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kalian….” (3:61) Rasulullah saw memanggil Ali, Fatimah, Hasan dan Husain dan bersabda: ‘Ya Allah, mereka itulah aɦli (keluarga)-ku’.“] (Shahih Muslim no. 4420. Lihat juga Sunan Tirmidzi no. 3658)

 

 

 

AMALAN PRAKTIS

Alam semesta adalah tanda kebesaran Allah. Allah menciptakan matahari untuk menerangi bulan dan bumi. Allah membuat bulan mengitari bumi dengan posisi yang berubah-ubah supaya manusia bisa menyaksikan hilal hingga bentuknya yang purnama. Selain untuk menghitung waktu, juga agar manusia bisa merasakan keindahan dan keharmonisan. Maka alangkah jauhnya kita dari tujuan penciptaan itu, jikalau hilal justru menjadi sumber persetruan dan perpecahan. Untuk itu isilah jiwa Anda dengan keindahan. Karena hanya dengan begitu Anda akan memiliki cinta.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

3 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply