Al-Baqarah ayat 186

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
July 27, 2012
0 Comments
3764 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 186

 

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

[Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu menempuh jalan kebenaran.]

[When My servants ask thee concerning Me, I am indeed close (to them): I listen to the prayer of every suppliant when he calleth on Me: Let them also, with a will, listen to My call, and believe in Me: That they may walk in the right way.]

 

1). Allah sekarang mengajak kita bicara soal doa. Dimulai dengan pengumuman penting: وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ [wa idzā saalaka ‘ibādī ‘annī fainnī qarīb, dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat]. Kata-kata penting di sini ialah: عِبَادِي (ibādī, hamba-hamba-Ku), عَنِّي (‘annī, tentang Aku), dan قَرِيبٌ (qarīb, dekat). Kita mulai dari kata عِبَادِي (ibādī, hamba-hamba-Ku). Ada dua komponen di dalamnya: kata عِبَاد (ibād) yang merupakan bentuk jamak tidak beraturan (taksīr) dari kata عَبْدٌ (‘abd, hamba), dan huruf ي (ya’) yang merupakan kata ganti (dlamīr) dari orang pertama tunggal (mutakallim)—dalam hal ini Allah. Menurut asal-usulnya, seluruh manusia adalah hamba-hamba Allah, karena tak satupun manusia yang tercipta oleh selain-Nya. Tetapi faktanya, tidak semua manusia mengakui ke-Tuhanan-Nya, mengakui bahwa dirinya diciptakan oleh Allah. Kemudian dari mereka yang mengakui ke-Tuhanan-Nya, hanya sedikit sekali yang betul-betul menyembah-Nya. Kebanyakan mereka menyembah selain-Nya; menyembah uang, menyembah harta benda, menyembah pangkat jabatan, menyembah status sosial, menyembah popularitas, menyembah mazhab, menyembah korps, menyembah organisasi, menyembah agama, menyembah partai, menyembah negara, menyembah suami atau istri, menyembah orang tua, menyembah anak, menyembah atasan, menyembah jin, menyembah setan, bahkan menyembah ego pribadi dan hawa nafsunya sendiri. Yang sedikit yang benar-benar menyembah kepada-Nya itulah yang—di ayat 186 ini—diakui sebagai عِبَادِي (ibādī, hamba-hamba-Ku). Sedangkan untuk hamba-hamba Allah dalam pengertian umum, Alquran menggunakan bentuk jamak yang lain: عَبِيد (‘abīd)—lihat 3:182, 8:51, 22:10, 41:46, dan 50:29. Di dalam Alquran (2:221), Allah sendiri yang mendefenisikan kata عَبْدٌ (‘abd, hamba) sebagai “budak belian” atau “hamba sahaya”. Dan “hamba sahaya”—seperti yang difahami semua kalangan—ialah seseorang yang tidak memiliki apapun termasuk tidak memiliki diri dan kehendak pribadinya karena semuanya telah diserahkan kepada tuannya; paradigma hidupnya bukan “memiliki” tapi “dimiliki”. “Maka (yang sebenarnya) bukan kamu (Muhammad) yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar….” (8:17) Seorang hamba tidak lagi berbuat dan berkata menurut kehendak hawa nafsunya, menurut kehendak pribadi dan golongannya, melainkan menurut kehendak Tuhannya. “Dan tiadalah yang dia (Muhammad) berbicara menurut kemauan hawa nafsunya. Wicaranya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (53:3-4) Seorang hamba tidak lagi dihinggapi rasa khawatir dan sedih dalam kehidupan dunianya karena telah meleburkan semuanya ke dalam samudra ilahiah Tuhannya. “Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (10:62) Baginya dunia itu tidak ‘ada’, dirinya tidak ‘ada’, kehendaknya pun tidak pantas ‘ada’, yang ADA hanya Allah. Segala sesuatu yang kelihatan ada hanyalah manifestasi belaka dari keber-ADA-an-Nya. Berjuta gradasi warna tak akan muncul andai tidak ada CAHAYA. “Allah adalah Cahaya langit dan bumi.…” (24:35)

 

Dan karena ayat ini berada dalam konteks puasa, maka bisa dipastikan, yang dimaksud عِبَادِي (ibādī, hamba-hamba-Ku) di sini ialah orang-orang beriman yang berhasil menegasi—berkata TIDAK kepada—selain-Nya melalui puasanya. Itulah orang yang TAKWA. Sebab yang namanya capaian spiritual itu berbeda-beda menurut ilmu, kesungguhan, dan perjuangannya, maka derajat عِبَادِي (ibādī, hamba-hamba-Ku) dan takwanya pun bergradasi (secara vertikal). Yang paling tinggi ialah mereka yang mencapai PUNCAK, yang disebut Imamul Muttaqīn (Pemimpinnya orang-orang bertakwa). Hamba inilah agaknya yang ditakuti dan disebut-sebut Iblis di hadapan Allah saat dia bersumpah-serapah menyesatkan anak-cucu Adam: “Iblis berkata: ‘Ya Tuhanku, sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, (maka) pasti aku akan menjadikan mereka memandang indah (kehidupan) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas di antara mereka’.” (15:39-40) Dan عِبَاد (ibād) yang mukhlas itulah ternyata yang Allah tunjuk sebagai shirāthal-mustaqīm (jalan yang lurus): “… [عِبَاد (ibād) yang mukhlas] inilah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (untuk) menjaga (agar tetap lurus).” (15:41) Inilah yang diisyaratkan Nabi saw di dalam doanya: “….Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami, (agar) pasangan-pasangan kami dan ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (25:74) Ini jugalah yang selalu kita minta saat berdiri dalam salat menghadap kepada Allah swt. “Beri petunjuklah kami (agar bisa mengikuti) jalan yang lurus!” (1:6) Fahaman ini melepaskan kita dari pengertian yang abstrak mengenai shirāthal-mustaqīm yang diklaim oleh semua kelompok, mazhab, dan organisasi; hebatnya lagi karena justru dengan klaim shirāthal-mustaqīm itu mereka (kelompok-kelompok tadi) berseteru satu sama lain sehingga tidak pernah bersatu di jalan yang lurus—tanpa difasilitasi oleh Khalifah Duniawi—demi kemaslahatan umat agar tetap berada di jalan yang lurus. “Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis sebelumnya dalam) Adzdzikr (Alquran saat masih di Lauh Mahfuzh), bahwasanya bumi ini kelak akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.” (21:105)

 

Masih dalam kaitan عِبَادِي (ibādī, hamba-hamba-Ku). Jadi orang yang berpuasa tidak cukup hanya dengan berkata TIDAK kepada makanan, TIDAK kepada minuman, TIDAK kepada hubungan suami-istri. Makanan, minuman, dan hubungan suami-istri barulah merupakan penyambung antara jiwa dan dunia luar, dunia materi. Karena tujuan puasa itu takwa (sifat ilahiah daripada jiwa), maka sebetulnya yang dibidik oleh puasa ialah jiwa. Apabila yang masuk ke mulut itu terjaga, maka yang keluar pun seharusnya terjaga. Untuk itu, mulut juga wajib berkata TIDAK kepada kajassus (bertanya-tanya soal kekurangan orang lain), TIDAK kepada ghibah (menggunjing atau menceritakan kekurangan sesama), TIDAK kepada amarah (kata-kata yang penuh emosi). Apa yang  masuk ke mulut adalah cermin dari perut. Apa yang keluar dari mulut adalah cermin dari jiwa. Manakala yang masuk ke mulut tidak bisa dikontrol maka yang keluar daripadanya pun tidak akan terkontrol. Orang yang tak kuasa mengontrol jiwanya, berarti juga tak kuasa mengendalikan ibadahnya. Perabot-perabot jasmaniahnya kelihatan melakukan ritual ibadah—bahkan mungkin meninggalkan bekas di sana—tetapi jiwanya tetap menyembah selain Allah. Mereka ini, bagaimanapun, tak kan dihitung sebagai عِبَادِي (ibādī, hamba-hamba-Ku). “Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’.” (40:60)

 

Kata berikutnya ialah عَنِّي (‘annī, tentang Aku) dan قَرِيبٌ (qarīb, dekat). Bila keberadaan عَن (‘an) di sini bermakna ta’lil (alasan), maka kalimat lengkapnya berbunyi: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad mengenai) alasan keberadaan Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat”. Kata عَن (‘an) yang bermakna ta’lil (alasan) menunjukkan adanya permintaan hujjah (argumen) dan dalil (petunjuk) di dalam kalimat itu. Yang dalam hal ini adalah hujjah dan dalil akan keberadaan Tuhan sebagai mutakallim (pembicara). Tuhan sendiri kemudian mengatakan: فَإِنِّي قَرِيبٌ (fa innī qarīb, maka sesungguhnya Aku dekat). Kenapa jawaban Tuhan “Aku dekat” dan bukan “Aku ADA”? Karena sesuatu yang sudah jelas-jelas adanya, tidak membutuhkan lagi argumen akan keberadaannya. Keberadaan sesuatu adalah swabukti atas dirinya. Seluruh realitas yang dapat kita jangkau dengan panca indera dan akal adalah dalil (petunjuk) akan keberadaan-Nya. Justru negasi atas keberadaan Tuhan di balik seluruh realitas itulah yang membutuhkan argumen. Itu sebabnya Allah cukup mengatakan إِنِّي قَرِيبٌ (innī qarīb, sungguh Aku dekat). Kata قَرِيبٌ (qarīb, dekat) tentu tidak dalam pengertian kita selama ini terhadap benda-bendak empirik yang selalu harus berada dalam perangkap ruang waktu. Ruang waktu beserta seluruh entitas yang ada di dalamnya adalah ciptaan-Nya. Dan semua ciptaan-Nya adalah manifestasi akan keberadaan-Nya, sehingga konsekuensi logisnya, tidak ada sesuatu pun—termasuk bau dan rasa, sel-sel darah dan entitas-entitas atomik—yang mengada tanpa Dia ADA bersamanya. Bahkan pada ruang waktu yang secara awam kita persepsi sebagai entitas hampa, pun Dia ADA di sana. Pokoknya, Dia benar-benar قَرِيبٌ (qarīb, dekat). Kalau kita merasakan-Nya “jauh”, maka itu semata soal kesadaran kita yang selama ini telah dikuasai oleh angan-angan panjang tentang dunia. Puasa melatih kita menegasi semuanya agar Dia kembali nyata di dalam cermin jiwa kita. “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (58:7)

 

2). Dan karena Allah itu قَرِيبٌ (qarīb, dekat) maka Dia menghibur hamba-hamba-Nya yang berpuasa dengan kalimat ini: أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ (ujību da’watad-dā’i idzā da’āni, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku). Kata kunci memahami kalimat ini ialah pada kata إِذَا (idzā, apabila). Karena pernyataan Allah yang mengatakan “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa” sebetulnya sudah cukup. Bukankah pada kenyataannya Dia memang Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Mengetahui, dan  Maha Mengijabah doa? Tetapi penggunaan kata إِذَا (idzā, apabila) menunjukkan bahwa dalam hal mengubah keadaan, inisiatif ada pada manusia—ini sudah cukup menyanggah pendapat fatalistik yang mengatakan bahwa semuanya sudah ditentukan oleh Tuhan dan manusia hanya menjalani takdirnya saja. Kata إِذَا (idzā, apabila) di sini adalah zharaf (keterangan) yang menyimpan makna syarat untuk masa yang akan datang. Dalam hal ini, syaratnya ialah دَعَانِ (da’āni, memohon kepada-Ku). Sehingga maklumat “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa” berubah menjadi jawaban atas syarat. Maknanya, Allah hanya akan mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila yang bersangkutan berdoa. Sama ketika Allah berfirman: “…. Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (40:60) Yang terfahami di 40:60 ini ialah bahwa doa itu termasuk ibadah (penyembahan kepada Allah) sehingga karenanya orang yang tidak mau berdoa dianggap sebagai orang-orang yang menyombongkan diri. Dengan begitu, doa adalah instrumen ilahiah yang menghubungkan ikhtiar alami manusia—usaha yang murni berdasarkan hukum sebab akibat—dengan Tuhannya. Sehingga doa tidak lagi sekedar permohonan tapi sekaligus menjadi alat yang menyatukan hamba dengan Tuhannya yang memang sudah قَرِيبٌ (qarīb, dekat).

 

Pertanyaannya kini, apakah gerangan doa yang paling penting itu? Tentu saja kita boleh meinta apa saja, selama itu sejalan dengan syariat; mulai dari kunci lemari yang hilang sampai ketenangan hati yang lagi gundah. Tetapi bagi mereka yang puasanya berhasil menegasi semuanya, yang puasanya berhasil menjadikannya insan yang TAKWA, yang puasanya memberikan predikat عِبَادِي (ibādī, hamba-hamba-Ku), ini dia doa yang dianggap paling mendasar: “Beri petunjuklah kami (agar bisa mengikuti) jalan yang lurus!” (1:6) Yaitu jalannya “…. orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, dari kalangan para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. (Yang) apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (19:58)

 

3). Lantas apa efek dari meyakini bahwa Allah itu قَرِيبٌ (qarīb, dekat) dan mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon? Allah sendiri yang meminta efek tersebut. Wasiat-Nya: فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي [falyastajībūlī wal-yu’minūbī, maka hendaklah mereka memenuhi (seruan agama)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku]. Kenapa kata يَسْتَجِيبُواْ (yastajībū, memenuhi) mendahului kata يُؤْمِنُواْ (yu’minūbī, beriman)? Bukankah seharusnya beriman dulu baru seseorang bisa mamatuhi perintah dan larangan Tuhan? Benar. Tetapi ayat ini tidak dimaksudkan untuk mereka yang belum beriman. Pertama, ayat ini masih dalam konteks puasa, dimana yang dipanggil untuk berpuasa ialah orang yang sudah beriman. Kedua, ayat ini diawali dengan kata عِبَادِي (ibādī, hamba-hamba-Ku), yang merujuk kepada orang-orang yang telah menghambakan diri semata kepada Allah. Hanya saja iman juga bertingkat-tingak, yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Keberadaan Tuhan yang begitu قَرِيبٌ (qarīb, dekat) dan maklumat-Nya untuk mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon, seyogyanya mendorong orang beriman untuk lebih persisten dan isitqamah dalam memenuhi seruan agama Tuhan. Karena dengan begitu akan meningkatkan imannya. Iman yang sempurna adalah iman yang di dalamnya tidak lagi bersemayam sedikitpun keraguan. Istilah lainnya ialah “yakin”. Seruan-Nya: “Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat). Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu sifat yakin.” (15:98-99)

 

4). Ayat ini ditutup dengan kalimat pengharapan: لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (la’allaɦum yarsyudūn, agar mereka selalu menempuh jalan kebenaran). Menurut Allah di 2:256, jalan itu cuma dua: ar-rusyd (jalan yang mengantarkan kepada kebenaran) dan al-ghayyi (jalan yang mengantarkan kepada kebatilan). Dan keduanya sangat gampang dikenali dengan akal sehat. Ar-rusyd itu jelas. Al-ghayyi itu jelas. Untuk sampai kepada shirāthal-mustaqīm, mengenali keduanya sangat penting agar tidak salah memilih jalan. Dengan memahami kedekatan-Nya kepada hamba-Nya, dan selalu memohon kepada-Nya, serta memenuhi seruan agama-Nya dan terus mengimani-Nya, harapannya, Allah tetap memlihara hamba-hamba-Nya untuk selalu يَرْشُدُونَ (yarsyudūn, menempuh jalan kebenaran). Agar jangan terpelanting dari shirāthal-mustaqīm. “Katakanlah (hai Muhammad): ‘Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (Alquran), lalu mereka berkata; sesungguhnya kami telah mendengarkan Alquran yang menakjubkan. (Yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Tuhan kami’.” (72:1-2)

 

5). Hadits Nabi saw.:

حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي مُعَاوِيَةُ وَهُوَ ابْنُ صَالِحٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الِاسْتِعْجَالُ قَالَ يَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيبُ لِي فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ

[Telah menceritakan kepadaku Abu ath-Thahir telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb telah mengabarkan kepadaku Mu’awiyah bin Shalih dari Rabi’ah bin Yazid dari Abu Idris al-Khaulani dari Abu Hurairah dari Nabi saw beliau bersabda: “Doa seseorang senantiasa akan dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk perbuatan dosa ataupun untuk memutuskan tali silaturahim dan tidak tergesa-gesa.” Seorang sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan tergesa-gesa?” Rasulullah saw menjawab: “Yang dimaksud dengan tergesa-gesa adalah apabila orang yang berdoa itu mengatakan; ‘Aku telah berdoa dan terus berdoa tetapi belum juga dikabulkan’. Setelah itu, ia merasa putus asa dan tidak pernah berdoa lagi.”] (Shahih Muslim no.4918)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Doa bukan sekedar perkara meminta sesuatu kepada Allah. Doa adalah ibadah yang menghubungkan antara ikhtiar alamiah seorang hamba dengan samudra ilahiah Tuhannya. Orang yang berdoa ialah hamba yang sedang berupaya merapat dan menyatu dengan Tuhannya. Doanya menunjukkan kehendaknya yang kuat untuk mentransendesikan semua hukum sebab-akibat yang dilakoni setiap hari di alam dunia ini. Karena puasa adalah negasi, maka kalau Anda berpuasa, niscaya Anda mempunyai peluang yang paling besar untuk diijabah permohonannya. Semoga….

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply