Al-Baqarah ayat 182

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
July 20, 2012
0 Comments
2863 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 182

 

فَمَنْ خَافَ مِن مُّوصٍ جَنَفاً أَوْ إِثْماً فَأَصْلَحَ بَيْنَهُمْ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

[(Akan tetapi) barangsiapa khawatir terhadap orang yang berwasiat itu, berlaku berat sebelah atau berbuat dosa, lalu ia mendamaikan antara mereka, maka tidaklah ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.]

[But if anyone fears partiality or wrong-doing on the part of the testator, and makes peace between (The parties concerned), there is no wrong in him: For Allah is Oft-forgiving, Most Merciful.]

 

1). Kalau ayat 181 berbicara soal saksi, kini giliran membicarakan pemberi washiat: مُّوصٍ (Mūshin). Yang diwacanakan di sini, sama dengan ayat sebelumnya, yaitu kemungkinan terjadinya penyimpangan—yang dilakukan oleh pemberi washiat (al-mūshi). Di sinilah kita melihat rasionalitas hukum dari Alqur’an. Saat membincang soal jināyat (hukum pidana), secara khusus hukum qishash, di ayat 178-179, celah yang Dia tunjukkan ialah “pintu maaf” dan “pembayaran diyat” seraya menyebut para pihak sebagai “saudara”. Lalu saat membincang soal farāid (hukum perdata), secara khusus washiat, di ayat 180-182, celah yang Dia perlihatkan ialah “kemungkinan terjadinya penyimpangan” oleh saksi dan atau pemberi washiat (al-mūshi). Di masalah farāid ini Allah memperlihatkan kepada kita apa yang harus dilakukan seandainya terjadi sesuatu yang dianggap mengganggu rasa keadilan. “Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (49:9)

 

2). Kata جَنَفاً (janafan), menurut Kamus Al-Munawwir, adalah bentuk mashdar (verbal noun, kata benda jadian) dari kata kerja ja-na-fa, yang artinya “menyimpang” atau “bertindak tidak adil”. Rumpun kata ini hanya muncul dua kali di dalam Alqur’an; yang satunya ada di Surat al-Maidah ayat 3: مُتَجَانِفٍ [mutajānifin, sengaja berbuat atau berkecenderungan kepada (perbuatan dosa)] . Terjemahan Departemen Agama mengartikan kata جَنَفاً (janafan) dengan “berat sebelah”. Abdullah Yusuf Ali mengartikannya dengan “partiality” (pemihakan). Shakir menerjemahkannya dengan “an inclination to a wrong course” (cenderung kepada hal yang salah). Marmaduke Pickthall memahaminya dengan “unjust” (tidak adil). Zayd bin Ali dalam Tafsir Gharib al-Qur’an-nya mengatakan فالجَنفُ: الجَورُ والخَطأ (fal-janafu: al-jawr wal-khatha’, maka al-janafu artinya “penyimpangan” dan “kesalahan”). Sedangkan kata إِثْماً (itsman) bermakna “dosa”. Kata إِثْم (itsmun, dosa) ini juga telah kita bahas di ayat 181 poin-3. Berarti di tiga rangkaian ayat (180, 181, dan 182) tentang washiat, tiga kali juga muncul kata إِثْم (itsmun, dosa). Satu di ayat 181 dan dua di ayat 182 ini. Yang di ayat 181, kata إِثْم (itsmun, dosa) ditujukan kepada saksi yang mengubah kesaksiannya. Yang di ayat 182, satu ditujukan kepada pemberi washiat (al-mūshi) yang melakukan penyimpangan, dan satunya lagi (dalam bentuk negasi) untuk pihak-pihak yang mengoreksi penyimpangan tersebut atau mendamaikan pemberi washiat (al-mūshi) dengan ahli warisnya (bila terdapat sengketa di antara mereka). Pertanyaannya sekarang ialah, menyimpang dari mana dan dosa apa? Menurut Thabarī dalam Tafsir Jāmi’ al-Bayan-nya—sambil mengutipkan begitu banyak pendapat—diantara makna dari kedua kata itu ialah menyimpang dari ayat 180, atau dari ketentuan sepertiga yang telah ditentukan Rasulullah, atau dari kebenaran dan keadilan. Jadi kata جَنَفاً (janafan) dan kata إِثْماً (itsman)—di penggalan pertama ayat ini—mempunyai makna yang sama, relasi keduanya bersifat “tasāwi” alias “berimpitan”, dengan catatan, perbuatan الجَنفُ (al-janaf, penyimpangan) itu disengaja. Itulah agaknya sebabnya sehingga di antara keduanya menggunakan kata sambung أَوْ (aw, atau) dan bukan وَ (wa, dan). “Dan tinggalkanlah إِثْم (itsmun, dosa) yang nampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang-orang yang mengerjakan إِثْم (itsmun, dosa), kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat), disebabkan apa yang mereka telah kerjakan.” (6:120)

 

3). Maka siapa saja yang mengetahui bahwa pemberi washiat (al-mūshi) melakukan perbuatan الجَنفُ (al-janaf, penyimpangan) atau إِثْم (itsmun, dosa), hendaklah berusaha mengembalikannya ke rel syariat yang benar, seperti yang telah Allah tetapkan. Upaya mengembalikan pemberi washiat (al-mūshi) kepada jalan yang benar atau mendamaikan sengketa antara pemberi washiat (al-mūshi) dan ahli warisnya—seandainya terjadi—merupakan tindakan yang terpuji dan لاَ إِثْمَ عَلَيْهِ (lā itsma ‘alayɦi, tidaklah ada dosa baginya). Sehingga yang bersangkutan tidak perlu ragu. Kata أَصْلَحَ (ashlaha, memperbaiki) adalah bentuk affirmative dari kata صَلَحَ (sha-la-ha, baik, saleh) yang berarti upaya proaktif untuk memperbaiki keadaan dengan cara mencegah terjadinya sesuatu yang berpotensi berkembang menjadi konflik jika tidak segera diatasi. Allah hendak mengesankan bahwa perbuatan merubah potensi konflik menjadi kondisi damai, alih-alih diganjar dengan إِثْم (itsmun, dosa) malah dipuji sebagai bagian dari kesalehan. “Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (6:48)

 

4). Perhatikan logika bahasa yang digunakan Alqur’an. Ayat yang lalu (181), yang berbicara soal saksi dan kesaksiannya, ditutup dengan penggalan إِنَّ اللّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (innallāɦa samī’un ‘alīm, sesungguhnya Allah Maha Mendengar Maha Mengetahui). Ayat yang sekarang (182), yang membincang masalah penyimpangan dari pemberi washiat (al-mūshi) dan isi washiat-nya, ditutup dengan penggalan إِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ (innallāɦa gafūrun rahīm, sesungguhnya Allah Maha Pengampun Maha Penyayang). Artinya, saksi tidak boleh seenaknya mengubah kesaksiannya karena kendati manusia biasa mungkin tidak mengetahuinya, tetapi Allah Maha Mendengar Maha Mengetahui. Sebaliknya, pemberi washiat (al-mūshi), apabila mau bersikap lapang dada dan memperbaiki kembali penyimpangannya, maka Allah Maha Pengampun Maha Penyayang. Sehingga di mata Allah, tidak ada satupun perbuatan kita (lahir atau batin, perbuatan atau pikiran) yang bisa dibungkus dengan kebohongan. Tetapi kendati demikian, kalau sudah telanjur berbuat salah atau menyimpang, kita tidak boleh berputus asa dari Rahmat-Nya karena Dia Maha Pengampun Maha Penyayang. “Dan Tuhanmulah Yang Maha Pengampun, lagi mempunyai Rahmat. Jika Dia (hendak) mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu yang tertentu (untuk mendapat azab) yang mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung daripadanya.” (18:58)

 

5). Hadits Nabi saw.:

و حَدَّثَنِي الْقَاسِمُ بْنُ زَكَرِيَّاءَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ زَائِدَةَ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ عَادَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ أُوصِي بِمَالِي كُلِّهِ قَالَ لَا قُلْتُ فَالنِّصْفُ قَالَ لَا فَقُلْتُ أَبِالثُّلُثِ فَقَالَ نَعَمْ وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ

[Dan telah menceritakan kepadaku al-Qasim bin Zakaria, telah menceritakan kepada kami Husain bin Ali dari Zaidah dari Abdul Malik bin Umair dari Mush’ab bin Sa’d dari ayahnya dia berkata: “Nabi saw datang menjengukku, maka saya pun berkata; ‘Saya telah mewasiatkan hartaku semuanya.’ Beliau bersabda: ‘Jangan.’ Saya berkata lagi; ’Bagaimana jika setengahnya?’ Beliau bersabda: ‘Jangan.’ Saya berkata lagi; ‘Bagaimana jika sepertiganya?’ Beliau menjawab: ‘Ya, tidak mengapa. Sepertiga itu sudah banyak’.”] (Shahih Muslim no. 3078)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Agar masyarakat tumbuh dan berkembang menuju kesempurnaannya, tiap orang sedapat mungkin menjauhkan diri dari perbuatan menyimpang dan dosa, termasuk dalam hal membuat washiat. Sebaliknya, jika menemukan potensi perbuatan menyimpang dan dosa, hendaklah berusaha memperbaikinya sebelum telanjur menjadi konflik. Karena setiap konflik selalu mengurangi dan memperlambat perkembangan sosial. Bahkan pada tingkat tertentu, bisa meruntuhkannya.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply