Al-Baqarah ayat 180

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
July 18, 2012
0 Comments
3563 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 180

 

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ

[Diwajibkan atas kalian, apabila salah seorang di antara kalian kedatangan (tanda-tanda) kematian, jika dia meninggalkan harta, (agar) berwasiat untuk ibu-bapa dan karib kerabat dengan cara yang baik (ma’ruf), (sebagai) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.]

[It is prescribed, when death approaches any of you, if he leave any goods that he make a bequest to parents and next of kin, according to reasonable usage; this is due from the Allah-fearing.]

 

1). Ini adalah kata كُتِبَ (kutiba) yang keduadalam pengertian “diwajibkan”—setelah sebelumnya di ayat 178 yang berbicara soal qishash. Bedanya, di ayat 178, kata كُتِبَ (kutiba) didahului oleh seruan يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ (hai orang-orang yang beriman). Sementara di ayat 180 ini tiba-tiba, tanpa basa-basi, kata كُتِبَ (kutiba) muncul begitu saja. Apa gerangan rahasia di balik tidak adanya seruan khusus kepada orang beriman di awal ayat 180 ini? Ada dua hal yang terpikirkan di sini. Pertama, ayat ini masih kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya (178 dan 179), dan karenanya kandungannya masih bagian dari seruan يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ (hai orang-orang yang beriman) yang sudah tercantum di ayat 178, kendati terjadi perpindahan subjek bahasan dari masalah qishash ke masalah washiat. Kedua, (andaikata kita pandang ayat 180 ini berdiri sendiri, maka) Allah hendak mengesankan bahwa masalah washiat bukan masalah orang beriman saja, tetapi masalah seluruh manusia. Terbukti, di dalam sistem hukum manapun dan di negara manapun, substansi masalah ini diatur, walaupun dengan nama dan istilah yang berbeda. Artinya, washiat adalah salah satu tema hukum yang dapat mencegah terjadinya kekacauan sosial. Dari sisi ini, washiat bisa dianggap sama dengan maksud dan tujuan dari qishash; yakni sama-sama bermuara kepada tegaknya tatanan sosial yang berkeadilan. “Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. Lalu mereka tidak kuasa membuat suatu wasiatpun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarganya.” (36:49-50)

 

2). Karena dimulai dengan kata كُتِبَ (kutiba), maka sulit menghindari faham bahwasanya masalah washiat sama derajat hukumnya dengan qishash (hukuman setimpal, ayat 178), shiam (ibadah puasa, ayat 183), dan qital (wajib militer, ayat 216), karena ketiga ayat yang terakhir ini juga sama-sama dimulai dengan kata كُتِبَ (kutiba). Pendapat yang manganggap bahwa ayat washiat ini di-nasakh (dibatalkan) oleh ayat warisan (4:11-12 dan 176), agaknya perlu kita cermati baik-baik. Pasalnya, kalau itu benar, maka bukan hanya ayat (180) ini yang kehilangan relevansinya, tetapi semua ayat yang berkaitan dengan wasiat tersebut; misalnya ayat 181 dan 182 (yang merupakan jabaran dari ayat 180) serta 5:106-108. Artinya, dalam hal washiat saja—kalau memang benar dibatalkan—maka paling tidak sudah ada 6 (enam) ayat yang terpaksa ‘menganggur’. Untuk memahami pengertian nāsikh-mansūkh ini, silahkan rujuk kembali ayat 106 (Juz-1). Kalau begitu, lalu bagaimana memposisikan ayat wasiat ini kaitannya dengan ayat waris? Perlu kita ingat bahwa jantung Islam ialah tauhid, yang secara teologis terjabarkan menjadi Kebenaran Tunggal (Allah), dan secara sosiologis terjabarkan menjadi Keadilan Sosial (Al’adl). Pertemuan keduanya (teologis dan sosiologis) terjelma di dalam ayat ini: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kalian dapat mengambil pelajaran.” (16:90) Ayat tentang waris adalah ayat yuridis-formal, yang tentu saja menafikan existing condition (keadaan sebenarnya atau kondisi objektif) dari pihak-pihak yang menjadi objek hukum. Yang kalau diterapkan menurut hitungan matematisnya, sangat mungkin pesan dari 16:90 ini tidak terakomodasi. Sebab, faktanya, kondisi objektif masing-masing orang tua dan kerabat benar-benar tidak sama; ada yang kaya, ada yang miskin, bahkan ada yang miskin sekali yang kalau ditinggalkan oleh anak atau keponakan laki-lakinya tanpa washiat—murni bergantung kepada warisan—maka sangat mungkin membuat kehidupan masa tuanya terlantar atau menjadi beban orang lain. Dengan pendekatan begini berarti ayat warisan tidak harus secara otomatis membatalkan ayat washiat. “Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruhmu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kalian menetapkan(nya) dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (4:58)

 

3). Anak kalimat إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ (idzā hadlara ahadakumul maut, apabila salah seorang di antara kalian kedatangan kematian) merupakan keterangan waktu (zharfiyah) bagi berlakunya kata كُتِبَ (kutiba, diwajibkan), yang tentu saja tidak bisa difahami berdasarkan teks (yang tertulis). Apabila fahaman kita murni berdasarkan teks, maka kewajiban ber-washiat nanti jatuh pada saat sakratul maut, saat nafas sudah di kerongkongan. Karena begitulah makna lahirian dari apa yang terbaca. Masalahnya, masih sanggupkah seseorang menyampaikan washiat pada saat Malaikat Maut tengah melaksanakan tugasnya? Kata “sakrat” atau sekarat sendiri artinya “mabuk”. Lalu bagaimana mungkin orang yang ‘mabuk’ menyampaikan washiat!!! Orang yang mabuk ialah orang yang setengah sadar atau bahkan tidak sadar sama sekali. Maka yang terfahami dari penggalan ayat ini ialah bahwa washiat menjadi wajib manakala tanda-tanda kematian sudah mulai muncul. Misal: tua, sakit-sakitan, kecelakaan yang mengancam nyawa, atau hendak bepergian menempuh perjalanan yang berisiko tinggi. Caranya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kalian menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antaramu, atau dua orang yang berlainan agama denganmu. Jika kalian dalam perjalanan di muka bumi lalu kalian ditimpa bahaya kematian, kalian tahan kedua saksi itu sesudah sembahyang (untuk bersumpah), lalu mereka keduanya bersumpah dengan nama Allah jika kalian ragu-ragu. (Bunyi sumpahnya): ‘(Demi Allah) kami tidak akan menukar sumpah ini dengan harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang), walaupun dia karib kerabat, dan tidak (pula) kami menyembunyikan persaksian Allah; sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang berdosa’. Jika diketahui bahwa kedua (saksi itu) memperbuat dosa, maka dua orang yang lain di antara ahli waris yang berhak yang lebih dekat kepada orang yang meninggal (memajukan tuntutan) untuk menggantikannya, lalu keduanya bersumpah dengan nama Allah: ‘Sesungguhnya persaksian kami lebih layak diterima daripada persaksian kedua saksi itu, dan kami tidak melanggar batas, sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang menganiaya diri sendiri’. Itu lebih dekat untuk (menjadikan para saksi) mengemukakan persaksiannya menurut apa yang sebenarnya, dan (lebih dekat untuk menjadikan mereka) merasa takut akan dikembalikan sumpahnya (kepada ahli waris) sesudah mereka bersumpah. Dan bertakwalah kepada Allah dan dengarkanlah (perintah-Nya). Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (5:106-108)

 

4). Selain dari keterangan waktu tadi, tentu masih ada hal lain. Dan hal lain itulah agaknya yang menjadi syarat penting. Yaitu: إِنْ تَرَكَ خَيْرًا (in taraka khayran, JIKA dia meninggalkan harta). Karena kalau tidak ada sesuatu yang ditinggalkan, tentu juga tidak ada sesuatu yang bisa diwasiatkan. Yang menarik dari kalimat syarat (syarthiyah) ini justru pada penggunaan kata خير (khayr) yang oleh kalangan ualam tafsir pada umumnya diartikan dengan “harta” atau “harta yang banyak”. Kalau kita cermati penggunaan kata ini di dalam Alqur’an, dari 176 kali muncul, mayoritas mutlak dalam pengertian “kebaikan” atau “lebih baik” atau “terbaik”. Contohnya (2:197): وَمَا تَفْعَلُواْ مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللّهُ (wa mā taf’alū min khayrin ya’lamɦu-llāɦ, dan kebaikan apa saja yang kalian kerjakan niscaya Allah mengetahuinya). Sedang yang dalam pengartian “harta (yang banyak)” bisa dihitung jari (2:180, 2:215, 100:8). Mengartikannya sebagai “harta (yang banyak)” tentu tidak salah. Karena menurut sifat alamiahnya, di dalam harta memang melekat tujuan untuk mendatangkan “kebaikan.” Semakin banyak harta seseorang semakin banyak juga pintu untuk melakukan “kebaikan”. Tetapi ada lagi yang lebih mendasar dari harta. Yaitu,  agama. Bahkan bisa dikatakan, agama adalah “kebaikan” itu sendiri. Itu sebabnya, di ayat 180 ini, rasa-rasanya teramat sempit jikalau pemaknaannya kita batasi pada “harta (yang banyak)” saja. Faktanya, para raja-raja pun saling berwasiat kepada keturunannya atau kepada saudaranya—yang disebut putra mahkota—untuk memakai mahkota kerajaannya nanti kalau raja mangkat. Begitu juga di negara-negara konstitusional, washiat ini bahkan dituangkan secara tertulis di dalam undang-undang dasar negara mereka, yaitu bentuk dan mekanisme suksesi kepala negaranya. Semua itu tentu dengan tujuan agar tidak terjadi kekacauan dan pertumpahan darah di antara anak-anak bangsanya. Apabila ada institusi, negara, atau agama yang tidak mengatur washiat seperti itu, bisa dipastikan bahwa institusi, negara, dan agama tersebut akan mengalami kekacauan demi kekacauan hingga ke titik keruntuhannya. “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan Risalah-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (5:67)

 

5). Secara yuridis-formal, washiat diperuntukkan buat kedua orang tua dan karib-kerabat: الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ (al-washiyah lilwalidayni wal-aqrabīna bil-ma’rūf, berwasiat untuk ibu-bapa dan karib-kerabat dengan cara yang ma’ruf). Secara bahasa, washiat artinya “pesan”; yaitu “pesan” yang disampaikan oleh pemberi washiat (al-Mushī) kepada penerima (al-Musha laɦu) mengenai harta benda atau suatu kebaikan (al-Musha biɦi) yang disertai dengan pernyataan yang jelas (shighah, yaitu lafaz ijab-kabul). Washiat ini harus dilaksanakan “dengan cara yang ma’ruf”. Yakni mengikuti rukun dan syarat-syaratnya yang telah ditentukan syari’at; serta tidak merugikan para ahli waris yang lain—misalnya dengan mengambil hak-hak mereka yang melekat pada sesuatu (harta) tersebut tanpa keredlaan mereka. Itu sebabnya apabila pemberi washiat (al-Mushī) masih punya ahli waris maka tidak selayaknya mewasiatkan seluruh harta-bendanya—sebuah Hadits dari Saad bin Abi Waqqash ra yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim membatasinya pada angka 1/3 (sepertiga). “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (4:9)

 

6). Penutup ayat, حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ (haqqan ‘alal-muttaqīn, sebagai kewajiban atas orang-orang yang bertakwa), mempertegas kembali status yuridis dan nilai kesucian dari washiat ini. Status yuridisnya dipertegas oleh kata حَقًّا (haqqan, sebagai kewajiban), yang seakan mengulangi kembali bentuk lain dari makna yang terkandung dalam kata كُتِبَ (kutiba, diwajibkan). Sehingga, seharusnya, tekanan kewajibannya bukannya justru diperlemah oleh ayat warisan. Sementara nilai kesuciannya atau sakralitasnya diungkap oleh kata الْمُتَّقِينَ (al-muttaqīn, orang-orang yang bertakwa). Tampaknya, karena sedemikian sucinya derajat الْمُتَّقِينَ (al-muttaqīn, orang-orang yang bertakwa) tersebut sehingga Allah mewajibkan puasa di Bulan Suci Ramadhan di tiga ayat ke depan (ayat 183), seusai pembahasan washiat ini. “Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antaramu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). Akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma’ruf terhadap diri mereka. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Dan) kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut’ah (pemberian yang menyenangkan hatinya) dengan cara yang ma’ruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang takwa.” (2:240-241)

 

7). Hadits Nabi saw.:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُوصِي فِيهِ يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ تَابَعَهُ مُحَمَّدُ بْنُ مُسْلِمٍ عَنْ عَمْرٍو عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

[Telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Nafi’ dari Abdullah bin ‘Umar ra(ma) bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada hak seorang muslim yang mempunyai suatu barang yang akan diwasiatkannya, ia bermalam selama dua malam kecuali wasiatnya itu ditulis di sisinya“. Hadits ini diikuti pula oleh Muhammad bin Muslim dari Amru dari Ibnu Umar dari Nabi saw.] (Shahih Bukhari no. 2533)

 

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ زُرَارَةَ أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ عَنْ ابْنِ عَوْنٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ الْأَسْوَدِ قَالَ ذَكَرُوا عِنْدَ عَائِشَةَ أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كَانَ وَصِيًّا فَقَالَتْ مَتَى أَوْصَى إِلَيْهِ وَقَدْ كُنْتُ مُسْنِدَتَهُ إِلَى صَدْرِي أَوْ قَالَتْ حَجْرِي فَدَعَا بِالطَّسْتِ فَلَقَدْ انْخَنَثَ فِي حَجْرِي فَمَا شَعَرْتُ أَنَّهُ قَدْ مَاتَ فَمَتَى أَوْصَى إِلَيْهِ

[Telah bercerita kepada kami Amru bin Zurarah telah mengabarkan kepada kami Isma’il dari Ibnu Aun dari Ibrahim dari al-Aswad berkata: “Orang-orang menyebutkan di hadapan Aisyah bahwa Ali ra(ma) menerima wasiat (kekhalifahan) “. Maka dia bertanya: “Kapan Beliau memberi wasiat itu kepadanya padahal aku adalah orang yang selalu menyandarkan Beliau di dadaku (saat menjelang wafat Beliau)”. Atau dia berkata: “Berada dalam pangkuanku, dimana Beliau meminta air dalam wadah (terbuat dari tembaga) hingga Beliau jatuh dalam pangkuanku dan aku tidak sadar kalau Beliau sudah wafat. Jadi kapan Beliau memberi wasiat kepadanya“.] (Shahih Bukhari no. 2536)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Apakah Anda sudah merasa bahwa Malaikat Maut tidak lama lagi akan datang menjemput? Kalau, ya, berarti Anda sebaiknya secepatnya membuat surat wasiat, andai memang ada sesuatu yang pantas diwasiatkan. Wasiat diwajibkan dan diatur oleh agama demi menghindari terjadinya kekacauan dan menyebarnya fitnah. Islam adalah suatu sistem kedamaian dan keadilan yang bersifat menyeluruh, dan mengajak umatnya untuk memasukinya juga secara menyeluruh.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

3 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply