Al-Baqarah ayat 176

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
April 2, 2012
0 Comments
2034 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 176

 

ذَلِكَ بِأَنَّ اللّهَ نَزَّلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُواْ فِي الْكِتَابِ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ

[Yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Kitab Suci dengan membawa kebenaran; dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Kitab Suci itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh.]

 

[(Their doom is) because Allah sent down the Book in truth but those who seek causes of dispute in the Book are in a schism Far (from the purpose).]

 

1). Setelah menerangkan bentuk lahiriah dari suatu perbuatan (ayat 174) dan hakikatnya (ayat 175), kini saatnya melihat alasan di balik perbuatan itu. Allah menghukumi perbuatan يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلَ اللّهُ مِنَ الْكِتَابِ (yaktumŭna mā anzala-llāɦu minal-kitābi, menyembunyikan apa yang telah Allah turunkan dari Kitab Suci) dan  يَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَناً قَلِيلاً(yasytarŭna biɦi tsamanang-qalĭla, menjualnya dengan harga yang murah) serupa dengan:أُولَـئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلاَّ النَّارَ  [ŭlāika mā ya’kulŭna fĭ buthŭniɦim illan-nāra, mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api], karena pada hakikatnya أُولَـئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُاْ الضَّلاَلَةَ بِالْهُدَى وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ (ŭlāikal-ladzĭnasytarawŭdl-dlalālata bil-ɦudā wal-‘adzāba bil-maghfirati, mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan). Alasannya, menurut ayat 176 ini, ذَلِكَ بِأَنَّ اللّهَ نَزَّلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ (dzālika biannal-llāɦa nazzalal-kitāba bil-haqqi, yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Kitab Suci dengan membawa kebenaran). Sehingga yang mereka sembunyikan dan atau jual pada dasarnya ialah kebenaran. Apabila kita menetapkan bahwa hakikat kebenaran itu ialah Allah, berarti yang mereka sembunyikan dan atau jual ialah Allah itu sendiri. Dapat kita bayangkan betapa jahiliyahnya perbuatan itu; demi ‘menyembah’ dunia dan kenikmatan sesaatnya mereka menyembunyikan dan atau menjual Allah, Tuhan semesta alam—sebuah perbuatan yang paling naif. Adakah manusia yang sanggup menyembunyikan dan atau menjual Allah? “Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina. Allah telah menetapkan: ‘Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang’. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (58:20-21)

 

2). Penggalan ayat: نَزَّلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ [nazzalal-kitāba bil-haqqi, (Allah) telah menurunkan Kitab Suci dengan membawa kebenaran] menerangkan bahwa Kitab Suci yang Allah turunkan itu adalah بِالْحَقِّ [bil-haqqi, degan (mengandung atau isinya) kebenaran]. Dan kalau kita tetapkan lagi bahwa الْحَقّ (al-haqq, Kebenaran) ialah Allah itu sendiri, maka dapat kita katakan bahwa Allah selalu bersama dan seirama dengan Kitab Suci. Siapa saja yang bersama Kitab Suci berarti bersama Allah. Dan siapa saja yang berilmu dengan ilmu (yang ada di dalam) Kitab Suci berarti berilmu dengan ilmu Allah. Siapa saja yang berilmu dengan ilmu Allah, maka tak akan ada hujjah (argumen atau dalil) yang dapat membatilkannya, alias tak tergugurkan kebenarannya. Yang disebut kebenaran ialah sesuatu yang dapat dipastikan benar secara rasional (deduktif), benar secara empirik (induktif), dan benar secara spiritual (intuitif). Disebut benar secara rasional (deduktif) manakala terbebas dari kontradiksi di antara terma-terma dan presmis-premis yang menyusunnya sehingga dapat diterima oleh akal. Disebut benar secara empiris jikalau asumsi kita terhadap sesuatu sesuai dengan fakta atau keadaan yang sebenarnya. Dan disebut benar secara spiritual (intuitif) bilamana sesuatu dapat kita hadirkan di dalam jiwa melalui proses kontemplasi, refleksi, dan meditasi. Apabila ada sesuatu yang diaku sebagai Kitab Suci tetapi isinya mengandung kebatilan dan kepalsuan, maka itu pasti bukanlah Kitab Suci yang Allah turunkan. “Dan sesungguhnya al-Qur’an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Tuhanmu akan menyelesaikan perkara antara mereka dengan keputusan-Nya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Sebab itu bertawakkallah kepada Allah, sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata.” (27:77-79)

 

3). Secara sederhananya, disebut kebenaran manakala di dalamnya tidak ada sama sekali keraguan, atau dengan kata lain menyakinkan. Sehingga terangnya kebenaran di mata-jiwa sama dengan terangnya matahari di mata-kepala. Karenanya, kalau semua orang mau jujur pada dirinya—dengan melepaskan seluruh bentuk egonya—niscaya tidak mungkin ada perselisihan dalam hal kebenaran. Perselisihan atau ikhtilaf, oleh al-Qur’an selalu disifati secara negatif. “Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu.” (10:19) Di antara tujuan Kitab Suci ialah untuk menyelasaikan perselisihan itu: “Dan tatkala Isa datang membawa keterangan dia berkata: ‘Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmah dan untuk menjelaskan kepada kalian sebagian dari apa yang kalian berselisih tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatilah aku’.” (43:63). “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu (Muhammad) Kitab Suci (al-Qur’an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (16:64) Untuk itu Allah melarang perselisihan, apatah lagi setelah datang Kitab Suci: “Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (3:105) Maka kalau ada yang mengatakan “ikhtilaf itu adalah rahmat”, dan pernyataan itu benar dari Nabi, bisa dipastikan yang dimaksud ikhtilaf di situ bukanlah perselisihan, tetapi perbedaan-perbedaan alamiah dan tak terhindarkan, seperti perbedaan laki-laki dan perempuan, perbedaan suku bangsa dan warna kulit, perbedaan cita-cita dan spesialisasi, perbedaan seni dan budaya, perbedaan pendapat dan cara pandang, dan sebagainya. “Dan Kami berikan kepada mereka beebagai keterangan tentang urusan (agama); maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Sesungguhnya Tuhanmu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya.” (45:17)

 

4). Sebagai kebenaran, maka masuk akal kalau Allah tidak memberi tempat bagi terjadinya perselisihan pada Kitab Suci. Karena kalau di dalamnya ada ruang bagi perselisihan, tentu Kitab Suci tidak pantas lagi menjadi tuntunan dan hukum. Kegelisahan yang muncul terhadapnya; lalu apa yang mereka (orang-orang yang berseleisih itu) maksud dengan “kebenaran”? Sebetulnya, yang mereka perselisihan bukanlah kebenaran (isi) Kitab Suci, tetapi pemahaman mereka tentang “kebenaran” itu sendiri yang belum selesai. Sehingga setiap perselisihan dalam hal Kitab Suci, oleh Allah disebut sebagai “penyimpangan yang jauh”: وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُواْ فِي الْكِتَابِ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ [wa innal-ladzĭna-khtalafŭ fĭl-kitābi lafĭ syiqāqin ba’ĭd, dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Kitab Suci itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh]. Yaitu, mereka menerapkan keberatan pada objek yang salah. Yang seharusnya mereka keberatani ialah defenisi “kebenaran” dari lawannya, sebelum beranjak kepada ayat-ayat Kitab Suci yang mereka diskusikan. Kata شِقَاق (syiqāq) muncul 7 (tujuh) kali dalam al-Qur’an (2:137, 2:176, 4:35, 22:53, 38:2, 41:52, 11:89), yang sebenarnya selain bermakna “penyimpangan” juga bermakna “permusuhan”—keduanya digunakan secara bergantian di dalam Terjemahan Departemen Agama. Bisa disimpulkan bahwa kata شِقَاق (syiqāq) bermakna “penyimpangan yang didorong oleh semangat permusuhan”. Maka mereka yang memelihara perselisihan sementara Kitab Suci ada di tangannya, tak saja melakukan “penyimpangan” tetapi juga mengangkat bendera “permusuhan”. “Katakanlah: ‘Bagaimana pendapatmu jika (al-Qur’an) itu datang dari sisi Allah, kemudian kalian mengingkarinya; siapakah yang lebih sesat daripada orang yang selalu berada dalam penyimpangan yang jauh?’.” (41:52)

 

5). Hadits Nabi saw.:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي سُرَيْجٍ الرَّازِيُّ وَعَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ ابْنِ إِبْرَاهِيمَ وَعَلِيُّ بْنُ مُسْلِمٍ قَالُوا حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ مُسْلِمٍ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا تَكَلَّمَ اللَّهُ بِالْوَحْيِ سَمِعَ أَهْلُ السَّمَاءِ لِلسَّمَاءِ صَلْصَلَةً كَجَرِّ السِّلْسِلَةِ عَلَى الصَّفَا فَيُصْعَقُونَ فَلَا يَزَالُونَ كَذَلِكَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ جِبْرِيلُ حَتَّى إِذَا جَاءَهُمْ جِبْرِيلُ فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالَ فَيَقُولُونَ يَا جِبْرِيلُ مَاذَا قَالَ رَبُّكَ فَيَقُولُ الْحَقَّ فَيَقُولُونَ الْحَقَّ الْحَقَّ

[Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abu Suraij ar-Razi dan Ali Ibnul Husain bin Ibrahim dan Ali bin Muslim mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah berkata, telah menceritakan kepada kami al-A’masy dari Muslim dari Masruq dari Abdullah ia berkata, Rasulullah saw bersabda: “Jika Allah menyampaikan wahyu maka penduduk langit mendengar gemerincing seperti ada suara rantai yang beradu hingga mereka pingsan. Dan mereka terus dalam kondisi seperti itu hingga datang Jibril, maka ketika Jibril datang mereka pun sadar.” Beliau bersabda: “Lalu mereka berkata: ‘Wahai Jibril, apa yang disampaikan oleh Rabbmu?’ Jibril menjawab: ‘Kebenaran.’ Mereka pun berkata lagi: ‘Kebenaran, kebenaran’.”] (Sunan Abu Daud no. 4113)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Lawan dari kebenaran ialah ketidakbenaran atau kebatilan. Ketika Allah menyebut Kitab Suci-Nya sebagai kebenaran, berarti apapun yang bertentangan dengannya adalah ketidakbenaran atau kebatilan. Sesatu disebut kebenaran manakalah di dalam dirinya tidak mengandung unsur-unsur yang dapat diragukan, alias meyakinkan. Sehingga tidak ada ruang bagi terjadinya perselisihan. Maka, sungguh, “orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran isi) Kitab Suci itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh”.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

2 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

Leave a Reply