Al-Baqarah ayat 175

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
March 31, 2012
0 Comments
2872 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 175

 

أُولَـئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُاْ الضَّلاَلَةَ بِالْهُدَى وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ

[Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka (menantang) api neraka!]

 

[They are the ones who buy Error in place of Guidance and Torment in place of Forgiveness. Ah! what boldness (They show) for the Fire!]

 

1). Setiap perbuatan mempunyai empat unsur: bentuk lahir dari perbuatan itu, akibat atau hukumannya, hakikatnya, dan alasan di balik perbuatan itu. Yang pertama dan kedua telah dibahas di ayat 174, yang ketiga di ayat ini (175) dan yang terakhir di ayat 176. Bentuk lahirnya (174): يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلَ اللّهُ مِنَ الْكِتَابِ (yaktumŭna mā anzala-llāɦu minal-kitābi, menyembunyikan apa yang telah Allah turunkan dari Kitab Suci) dan:  يَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَناً قَلِيلاً(yasytarŭna biɦ tsamanang-qalĭla, menjualnya dengan harga yang murah). Akibat atau hukumannya (174): أُولَـئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلاَّ النَّارَ وَلاَ يُكَلِّمُهُمُ اللّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ [ŭlāika mā ya’kulŭna fĭ buthŭniɦim illan-nāra wa lā yukallimuɦumu-llāɦu yawmal-qiyāmati wa lā yuzakkĭɦim wa laɦum ‘adzābun alĭm, mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan mensucikan mereka, dan bagi mereka siksa yang amat pedih]. Hakikatnya (175): أُولَـئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُاْ الضَّلاَلَةَ بِالْهُدَى وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ (ŭlāikal-ladzĭnasytarawŭdl-dlalālata bil-ɦudā wal-‘adzāba bil-maghfirati, mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan). Alasannya (176): ذَلِكَ بِأَنَّ اللّهَ نَزَّلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ (dzālika biannal-llāɦa nazzalal-kitāba bil-haqqi, yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Kitab Suci dengan membawa kebenaran). Jadi di tiga ayat ini (174, 175, dan 176) satu perbuatan dibahas secara tuntas. “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian bersemayam di atas Arasy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dia bersama kalian di mana saja kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan. Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi. Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan.” (57:4-5)

 

2).  Orang yang menyembunyikan ayat-ayat Allah dan atau menjualnya dengan harga yang sedikit maka pada hakikatnya: أُولَـئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُاْ الضَّلاَلَةَ بِالْهُدَى وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ (ŭlāikal-ladzĭnasytarawŭdl-dlalālata bil-ɦudā wal-‘adzāba bil-maghfirati, mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan)—kalimat yang hampir sama telah kita bahas di ayat 16. Perbuatan lahiriahnya (yang bisa dilihat atau diketahui oleh mansuia pada umumnya) ialah menyembunyikan dan atau menjual ayat-ayat Allah, tetapi hakikat atau yang tak terlihat dari perbuatan itu ialah membeli kesesatan dengan petunjuk atau siksa dengan ampunan. Mengapa? Karena ayat-ayat Allah adalah kebenaran. Sementara kebenaran adalah cahaya itu sendiri. Cahaya adalah pancaran sinar yang menerangi jiwa dalam menempuh jalan kehidupan. Cahaya adalah الْهُدَى (al-ɦudā, petunjuk). Lawan dari kebenaran ialah kebatilan. Kebatilan ialah kegelapan yang menyembunyikan fithrah, yang menjadikan manusia terperangkap dalam kesesatan, الضَّلاَلَةَ (adl-dlalālah). Orang yang tersesat, perbuatannya pasti salah dan menyimpang; dan itu adalah azab, karena setiap perbuatan adalah sebab yang akan mendatangkan akibat. Maka menyembunyikan dan atau menjual ayat-ayat Allah pada dasarnya sama saja dengan membeli kesesatan dan azab, الْعَذَابَ (al-‘adzāb, azab). Karena orang yang terazab ialah orang yang tidak mendapatkan ampunan, الْمَغْفِرَةِ (al-maghfirah). Dari sisi dunia, ini adalah ‘kejahatan’ terhadap kemanusiaan karena menyebabkan manuia kehilangan ‘makanan’ jiwa—bahkan satu-satunya ‘makanan’ yang bisa menghidupkan jiwa. Bagi pelaku, ini sama saja dengan memakan makanan haram, yang dosa dan efeknya bahkan lebih besar dari sekedar memakan bangkai, darah dan daging babi. “Apakah kamu tidak melihat orang-orang yang telah diberi bahagian dari Kitab Suci (Taurat)? Mereka membeli (memilih) kesesatan (dengan petunjuk) dan mereka bermaksud supaya kalian tersesat (menyimpang) dari jalan (yang benar).” (4:44)

 

3). Manusia ditandai oleh kemampuannya untuk memilih. Tetapi oleh Tuhan pilihan itu tidak dibuat rumit agar semua manusia bisa menggunakan hak pilihnya dengan mudah. Pilihan selalu hanya dua: menjadi golongan kanan atau golongan kiri. Golongan kanan bermuara ke surga. Golongan kiri bermuara ke neraka. Memilih golongan kanan berarti menjadi pengikut Allah dan Rasul. Memilih golongan kiri berarti menjadi pengikut Iblis dan Syaitan. Allah dan Rasul adalah Penguasa Cahaya, pemilik الْهُدَى (al-ɦudā, petunjuk) dan الْمَغْفِرَةِ (al-maghfirah, ampunan). Iblis dan Syaitan adalah penguasa kegelapan, pemilik الضَّلاَلَةَ (adl-dlalālah, kesesatan) dan الْعَذَابَ (al-‘adzāb, azab). Dalam konteks ayat 175 ini, siapa saja yang melakukan perbuatan menyembunyikan (kebenaran) ayat-ayat Allah atau yang bersindikasi dengannya, berarti telah dengan sadar memilih menjadi anggota golongan kiri dan meninggalkan golongan kanan, dengan sadar memilih menjadi pengikut Iblis dan Syaitan sambil menarik diri dari keanggotaan partai Allah dan Rasul; maknanya, yang bersangkutan juga dengan sadar memilih الضَّلاَلَةَ (adl-dlalālah, kesesatan) dan الْعَذَابَ (al-‘adzāb, azab) seraya menyingkirkan الْهُدَى (al-ɦudā, petunjuk) dan الْمَغْفِرَةِ (al-maghfirah, ampunan). Maka siapa saja yang telah menjatuhkan pilihannya, harus saling menghargai. Persoalan akibatnya, itu tanggungan masing-masing; toh mereka memilihnya dengan penuh kesadaran, tanpa intimidasi, tanpa provokasi. “Sebahagian dari mereka menghadap kepada sebahagian yang lain (saling) berbantah-bantahan.  Para pengikut berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka): ‘Sesungguhnya kalianlah (dulu di dunia) yang datang kepada kami (dengan mengaku sebagai anggota) dari (golongan) kanan’. Pemimpin-pemimpin mereka menjawab: ‘(Memang kamilah yang menipu kalian, tetapi) sebenarnya kalian (sendirilah) yang tidak beriman’. Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kalianlah kaum yang melampaui batas. Maka pastilah putusan (azab) Tuhan akan menimpa kita (semua); sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu). Memang kami telah menyesatkan kalian, (karena) sesungguhnya kami (juga) adalah orang-orang yang tersesat. Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab.” (37:27-33)

 

4).  Karena begitu jelasnya keuntungan dan akibat dari masing-masing pilihan itu, maka kepada mereka yang memilih menjadi anggota golongan kiri, memilih الضَّلاَلَةَ (adl-dlalālah, kesesatan) dan الْعَذَابَ (al-‘adzāb, azab) seraya menyingkirkan الْهُدَى (al-ɦudā, petunjuk) dan الْمَغْفِرَةِ (al-maghfirah, ampunan), Allah menyampaikan keheranannya: فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ [famā ashbaraɦum ‘alān-nāri, maka alangkah beraninya mereka (menantang) api neraka!]. Penggunaan ungkapan “alangkah beraninya” menunjukkan bahwa pilihan itu benar-benar dilakukan dengan sesadar-sadarnya. Karena orang yang sadar melakukan suatu perbuatan berisikolah yang disebut “berani”. Dan risiko di sini bukan sembarang risiko. Risiko di sini ialah الْعَذَابَ (al-‘adzāb, azab), yaitu azab api neraka yang derita dan waktunya tak terbayangkan. Kita sakit di dunia ini saja akan dengan segera menggerakkan kita ke rumah sakit dan menjual apa saja yang kiti miliki demi meraih kesembuhan, karena tidak tahan terhadap derita yang berkepanjangan. Lalu bagaimana mungkin ada orang yang mengentengkan azab neraka dengan bersikap ‘tenang’ menjual (kebenaran) ayat-ayat Allah dengan menerima ‘bayaran’ kenikmatan duniawi yang tidak seberapa nilainya itu!? Alangkah beraninya mereka (menantang) api neraka!Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: ‘Janganlah kalian berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.’ Katakanlah: ‘Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas (nya)’, jikalau mereka mengetahui.” (9:81)

 

5). Hadits Nabi saw.:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ يَعْنُونَ ابْنَ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

 [Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah bin Sa’id dan Ibnu Hujr, mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Ismail yaitu Ibnu Ja’far dari al-‘Ala dari bapaknya dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw telah bersabda: “Barang siapa mengajak kepada petunjuk, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.“] (Shahih Muslim no. 4831)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Agama adalah petunjuk. Selainnya adalah kesesatan. Orang yang memilih petunjuk, Allah akan menghadiahkan ampunan kepadanya. Ampunan artinya kenikmatan atau surga. Orang yang memilih kesesatan, Allah akan memberikan kepadanya derita atau azab neraka. Orang yang menyembunyikan sebahagian dari kebenaran (isi Kitab Suci) sama dengan membeli kesesatan dengan petunjuk, atau azab dengan ampunan. Kalau Anda memang peduli dengan kehidupan akhirat, maka bergabunglah ke dalam sindikasi orang-orang yang memilih petunjuk dan ampunan.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

2 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

Leave a Reply