Al-Baqarah ayat 174

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
March 24, 2012
0 Comments
2627 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 174

 

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلَ اللّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَناً قَلِيلاً أُولَـئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلاَّ النَّارَ وَلاَ يُكَلِّمُهُمُ اللّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

[Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Allah turunkan dari (isi) Kitab Suci dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan mensucikan mereka, dan bagi mereka siksa yang amat pedih.]

 

[Those who conceal Allah’s revelations in the Book, and purchase for them a miserable profit,- they swallow into themselves naught but Fire; Allah will not address them on the Day of Resurrection. Nor purify them: Grievous will be their penalty.]

 

1). Ayat ini mengingatkan kita pada ayat 159 yang berbicara tentang menyembunyikan kebenaran isi Kitab Suci dan laknat Allah atas pelakunya. Kalau di ayat 159 penekanannya ialah pada bagaimana Allah dan para pelaknat (dari kalangan malaikat dan manusia—ayat 161) melaknat mereka, maka di ayat 174 ini Allah mengaitkannya dengan makanan-makanan haram yang dibahas di ayat sebelumnya (173). Yakni bahwa orang—siapapun orangnya—yang menyembunyikan (atau menyempalkan manusia) dari isi Kitab Suci dan ‘menjual’ ayat-ayatnya dengan menerima bayaran tertentu (uang, pekerjaan, pangkat, jabatan, dsb.) maka dosanya jauh lebih besar dari sekadar mengonsumsi makanan haram. Orang seperti itu bahkan pada hakikatnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan mensucikan mereka, dan bagi mereka siksa yang amat pedih. Penjelasannya, kalau mereka memakan bangkai misalnya, mereka hanya melanggar satu dua ayat dari Kitab Suci dan tidak menyebabkan ‘kerusakan’ pada Kitab Suci tersebut; yang memikul akibatnya juga cuma yang bersangkutan. Tetapi kalau mereka menyembunyikan kebenaran dari ayat-ayat tertentu dari Kitab Suci maka pada dasarnya sama dengan ‘merusak’ Kitab Suci secara keseluruhan, dan pada saat yang sama sudah mendeviasi manusia dari Kitab Suci tersebut. Apalagi kalau yang disembunyikan ialah ayat-ayat yang berkenaan dengan pelaksana risalah, imamah atau kepemimpinan ilahi yang telah Allah amanatkan kepada Nabi Ibrahim as beserta ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya (2:124); betapa banyak nanti orang yang masuk neraka karenanya (baca kembali ayat 166 dan 167). “Dan apabila mereka (orang-orang Yahudi atau munafik) datang kepadamu mengatakan, ‘kami telah beriman’, padahal mereka datang kepada kamu dengan kekafirannya dan mereka pergi (dari sisimu) dengan kekafirannya (pula); dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. Dan kalian akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi dan munafik itu) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu.” (5:61-62)

 

2). Di ayat ini ada dua perbuatan nista yang Allah bicarakan. Pertama: يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلَ اللّهُ مِنَ الْكِتَابِ (yaktumŭna mā anzala-llāɦu minal-kitābi, menyembunyikan apa yang telah Allah turunkan dari Kitab Suci) dan kedua:  يَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَناً قَلِيلاً(yasytarŭna biɦ tsamanang-qalĭla, menjualnya dengan harga yang murah). Tentang yang pertama, kita sudah membahasnya dengan cukup memadai di ayat 159. Kalau kita tanyakan kepada orang-orang Yahudi pada masa kedatangan Nabi Isa as, kenapa mereka menentangnya, bahkan berkonspirasi dengan penguasa Romawi untuk menghabisinya, jawaban mereka ternyata sangat sederhana dan sekaligus aktual: “Kami sudah merasa cukup dengan ulama-ulama kami selama ini beserta riwayat-riwayat yang mereka sampaikan kepada kami. Kami tidak butuh lagi pelaksana risalah baru, walaupun itu dari kalangan kami sendiri, kalangan Bani Israil. Tiada lagi yang berhak mengklaim sebagai pelaksana risalah selain dari ulama-ulama kami.” Jika pertanyaan yang sama kita ajukan kepada orang-orang Nashrani pada masa kedatangan Nabi Muhammad saw, niscaya kita akan menemukan jawaban yang sama. Mereka akan berkata: “Kalau ada Injil yang meriwayatkan bahwa masih akan ada lagi pelaksana risalah setelah Nabi Isa, dan itu ialah Nabi Muhammad, itu pasti Injil yang tidak benar, tidak valid, tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Kami sudah merasa cukup dengan 4 (empat) Injil kami selama ini: Matius, Lukas, Markus, dan Johannes. Kalian jangan lagi mengganggu ketenangan dan kedamaian masyarakat kami.” Kalau kita simpulkan, semua itu terjadi karena baik Yahudi ataupun Nashrani tidak percaya akan keberlanjutan risalah. Mereka tidak percaya bahwa di dalam Kitab Suci mereka masing-masing sesungguhnya ada kewajiban yang diemban tiap rasul untuk berwasiat tentang pelaksana-pelaksana risalah sepeninggalnya. Ternyata, penolakan akan wasiat inilah yang melahirkan pluralisme agama-agama. Inilah hebatnya al-Qur’an—Kitab Suci terakhir—karena untuk urusan harta bendapun disebutkan pentingnya berwasiat sebelum datangnya kematian: “Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kalian menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kalian, atau dua orang yang berlainan agama denganmu, jika kalian dalam perjalanan di muka bumi lalu kalian ditimpa bahaya kematian. Kalian tahan kedua saksi itu sesudah sembahyang (untuk bersumpah), lalu mereka keduanya bersumpah dengan nama Allah jika kalian ragu-ragu: ‘(Demi Allah) kami tidak akan menukar sumpah ini dengan harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang), walaupun dia karib kerabat, dan tidak (pula) kami menyembunyikan persaksian Allah; sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang berdosa’.” (5:106)

 

3). Tentang:  يَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَناً قَلِيلاً(yasytarŭna biɦi tsamanang-qalĭla, menjualnya dengan harga yang murah). Yang kedua ini seperti hendak menjelaskan kenapa yang pertama terjadi. Kenapa ada orang-orang tertentu yang sampai hati menyembunyikan ayat-ayat yang Allah turunkan di dalam Kitab Suci; seakan mereka kehilangan pengertian dari kata “Suci” yang menyertai Kitab tersebut, kehilangan makna Alllah di balik kata Kitabullah. Dan penjelasannya, mengulangi kembali pembahasan kita di ayat 168 dan 172, ketika Allah mengingatkan manusia dan orang beriman untuk berhati-hati soal makanan, yang tak cukup sekedar حَلاَلاً  (halālan, yang halal) tapi sekaligus طَيِّبَاتِ (thayyibāt, yang suci); mereka melakukan semua itu karena masalah “perut”. Tidak makan bangkai, darah, daging babi, hewan yang disembelih untuk selain Allah, banyak yang mampu melakukannya; bahkan mendengarnya saja sudah bisa membuatnya muak, jijik, dan muntah-muntah; dan mereka berusaha sedapat mungkin mencari tempat makan yang terjamin kehalalannya. Tetapi memakan makanan yang dibeli dari hasil menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit dengan mudah mereka lakukan tanpa rasa penolakan seperti itu. Mereka malah terkadang bangga, sebab ada efek lain daripadanya: popularitas; terlebih kalau yang membayarnya ialah raja, penguasa, saudagar besar, dan orang-orang penting lainnya yang berkepentingan dengan penyembunyian ayat-ayat tersebut. “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab Suci (yaitu): ‘Hendaklah kalian menerangkan isi Kitab Suci itu kepada manusia, dan janganlah kalian menyembunyikannya.’ Lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan menjualnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima.” (3:187)

 

4). Orang-orang yang menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, sebetulnya tak lagi sekedar menyantap makanan yang haram tetapi juga api yang menyala-nyala: أُولَـئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلاَّ النَّارَ [ŭlāika mā ya’kulŭna fĭ buthŭniɦim illan-nāra, mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api]. Tetapi mungkin karena tidak langsung kelihatan kasat mata—seperti bangkai, darah, dan daging babi—sehingga banyak yang merasa tidak perlu bersikap hati-hati, menolak dan menghindar. Apalagi amalan-amalan agama yang kasat mata tetap mereka laksanakan, dan pemberi order tetap membolehkan melakuakan ibadah-ibadah ritual. Bukankah parameter paling gampang dan paling kasat mata yang bisa dilihat pada orang ‘shaleh’ ialah ibadah ritualnya—rajin ke masjid, bajunya putih-putih, piawai menyitir riwayat-riwayat dari Nabi, dan bacaan (murattal)-nya bagus? Selama mereka melakukan itu semua, sepertinya tidak ada yang salah. Andai bukan Allah yang mengatakan “mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api” mungkin kita menuduh kalimat itu fitnah belaka, tendensius dan ambisius. “Sesungguhnya pohon zaqqum itu. Makanan(nya) orang yang banyak berdosa. (Ia) bagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut. Seperti mendidihnya air yang sangat panas. Peganglah dia kemudian seretlah dia ke tengah-tengah neraka. Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya siksaan (dari) air yang amat panas. (Dikatakan kepadanya) rasakanlah, sesungguhnya kamu dulu orang yang berkuasa lagi mulia.” (44:43-49) 

 

5). Cukup sampai di situ? Tidak. Masih ada yang lebih memilukan: وَلاَ يُكَلِّمُهُمُ اللّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (wa lā yukallimuɦumu-llāɦu yawmal-qiyāmati wa lā yuzakkĭɦim wa laɦum ‘adzābun alĭm, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan mensucikan mereka, dan bagi mereka siksa yang amat pedih). Sedemikian murkanya Allah kepada mereka sehingga Dia tidak akan mengajak mereka berwicara di Akhirat. Barangkali inilah siksaan yang paling menyesakkan dada, karena adakah makhluk yang tidak ingin beraudiensi langsung dengan Allah Rabbul Alamain, Raja Diraja? Bukankah asal dan tempat kembali seluruh maujud ialah Diri-Nya? Jangankan Allah, tak disapa ibu saja sudah sebuah siksaan yang tak terperikan. Setelah itu, Allah juga tidak akan mensucikan mereka, sementara pada saat itu tak satu orang pun yang tidak mengharapkan ampunan-Nya, sebab hanya dengan suci dari dosalah seseorang bisa merasakan Rahmat-Nya, mencicipi nikmatnya Surga. Alih-alih dapat mencium aroma Aden dan Firdaus, Allah malah menjerumuskannya ke dalam azab yang pedih: وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (wa laɦum ‘adzābun alĭm, dan bagi mereka siksa yang amat pedih). “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji-(nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berbicara dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.” (3:77)

 

6). Hadits Nabi saw.:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ وَأَبُو كُرَيْبٍ وَاللَّفْظُ لِأَبِي كُرَيْبٍ قَالُوا حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ شَقِيقٍ عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَحْصُوا لِي كَمْ يَلْفِظُ الْإِسْلَامَ قَالَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَخَافُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ مَا بَيْنَ السِّتِّ مِائَةٍ إِلَى السَّبْعِ مِائَةٍ قَالَ إِنَّكُمْ لَا تَدْرُونَ لَعَلَّكُمْ أَنْ تُبْتَلَوْا قَالَ فَابْتُلِيَنَا حَتَّى جَعَلَ الرَّجُلُ مِنَّا لَا يُصَلِّي إِلَّا سِرًّا

[Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Muhammad bin Abdullah bin Numair serta Abu Kuraib dan lafazh tersebut milik Abu Kuraib, mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Mua’wiyah dari al-A’masy dari Syaqiq dari Hudzaifah dia berkata; Rasulullah saw bersabda ketika kami bersamanya: “Kumpulkan untukku beberapa orang sahabat yang bisa menyatakan Islam.” Hudzaifah berkata; Kami menjawab: “Wahai Rasulullah! Apakah tuan meragukan kami, sedangkan kami berjumlah antara enam hingga tujuh ratus orang?” Rasulullah saw bersabda: “Kalian tidak dapat menyangka bahwa suatu hari nanti kalian akan diuji.” Hudzaifah berkata: “Ujilah kami walaupun hingga sahabat-sahabat kami terpaksa mendirikan shalat secara sembunyi.”] (Shahih Muslim no. 213)

 

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْأَزْهَرِ حَدَّثَنَا الْهَيْثَمُ بْنُ جَمِيلٍ حَدَّثَنِي عُمَرَ بْنُ سُلَيْمٍ حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ

[Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin al-Azhar berkata, telah menceritakan kepada kami al-Haitsam bin Jamil berkata, telah menceritakan kepadaku Umar bin Sulaim berkata, telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Ibrahim ia berkata; Aku mendengar Anas bin Malik berkata; Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa ditanya tetang sutau ilmu lalu menyembunyikannya, maka pada hari kiamat ia akan dicambuk dengan cambuk dari neraka.”] (Sunan Ibnu Majah no.260)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Kalau menyembunyikan barang milik orang lain saja tidak boleh, apatah lagi menyembunyikan apa-apa yang telah Allah turunkan di dalam Kitab Suci-Nya. Dosa menyembunyikan makna-makna (kebenaran) Kitab Suci lebih besar dari memakan makanan haram seperti bangkai, darah, dan daging babi. Untuk yang satu ini, dosanya sama dengan menelan api neraka ke dalam perut, karena itu adalah hasil dari menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Terhadap pelakunya, Allah berjanji untuk tidak mengajaknya berbicara nanti di Hari Akhirat.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply