Al-Baqarah ayat 172

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
March 22, 2012
0 Comments
4244 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 172

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُواْ لِلّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

[Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang suci yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kalian menyembah.]

[O ye who believe! Eat of the good things that We have provided for you, and be grateful to Allah, if it is Him ye worship.]

 

1). Dalam rentang lima ayat, ayat serupa ini sudah muncul dua kali. Mari bandingkan ayat ini dengan ayat 168:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُواْ مِمَّا فِي الأَرْضِ حَلاَلاً طَيِّباً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

[Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi suci dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.]

Ada beberapa hal yang perlu kita renungkan dari dua ayat ini. Pertama, ayat 168 dimulai dengan يَا أَيُّهَا النَّاسُ (yā ayyuɦannāsu, hai sekalian manusia), sementara ayat 172 ini dimulai dengan يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ (yā ayyuɦalladzĭna āmanŭ, hai orang-orang yang beriman). Dari sini saja sudah jelas bahwa yang ditarget oleh Allah di ayat 168 ialah seluruh manusia, sedangkan di ayat 172 hanya terbatas pada orang-orang yang beriman. Apa sebab? Perhatikan dua ayat yang mendahului ayat 168 (yaitu ayat 166 dan 167), di situ Allah mengingatkan bahwa sistem kepemimpinan atau imamah adalah niscaya bagi kelanjutan kehidupan umat manusia sehingga menjadikannya sebagai bagian terpenting dalam pertanggungjawaban mereka nanti di akhirat. Lantas dua ayat yang mendahului ayat 172 (yaitu ayat 170 dan 171) membincang soal keberimanan. Yakni bahwa keberimanan tidak boleh bersandar pada warisan para pendahulu; keberimanan harus bersandar pada hujjah (argumen) yang dapat diuji kebenarannya oleh akal sehat. Orang-orang yang tidak menyandarkan keberimanannya pada akal sehat oleh Allah disamakan dengan kawanan hewan yang tak mengerti makna seruan dan panggilan gembalanya karena tuli, bisu dan buta.

Kedua, di ayat 168 ada tambahan kata حَلاَلاً (halālan, halal), sementara di ayat 172 ini langsung pada kata طَيِّبَاتِ (thayyibāt, yang suci). Perbedaan istilah حَلاَلاً (halālan, halal) dan طَيِّبَاتِ (thayyibāt, yang suci) sudah kita bahas di ayat 168 (terutama poin 3). Bagi orang beriman, tanpa menyebut kata حَلاَلاً (halālan, halal) pun tak masalah, karena kalau sudah طَيِّبَاتِ (thayyibāt, yang suci) pasti sekaligus حَلاَلاً (halālan, halal). Orang beriman seyogyanya tak lagi cukup dengan mengejar yang حَلاَلاً (halālan, halal), tapi langsung kepada yang طَيِّبَاتِ (thayyibāt, yang suci), karena orang beriman adalah orang yang menganggap hidup ini sebagai “gerak maju” menuju ke Puncak Kesucian (Allah swt). Dan syarat untuk itu ialah dengan menempuh pola hidup dan pola makan yang طَيِّبَاتِ (thayyibāt, yang suci), yakni “bersih dari dosa (dalam hal perbuatan) dan najis (dalam hal makanan)”. Ingat, hanya orang yang menempuh cara hidup yang suci yang dapat mencapai Puncak Kesucian.

Ketiga, ayat 168 ditutup dengan LARANGAN untuk mengikuti langkah-langkah syaitan: وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ  (wa lā tattabi’ŭ khuthuwātis-syaythāni, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan). Sementara ayat 172 ditutup dengan PERINTAH untuk bersyukur kepada Allah: وَاشْكُرُواْ لِلّهِ (wa-sykurŭ lillāɦi, dan bersyukurlah kepada Allah). Bagi manusia pada umumnya, perhatian mereka masih pada warna-warni kehidupan yang demikian majemuk, dan sifat keawaman mereka menyelimuti kemajemukan itu sehingga tidak jelas baginya mana-mana saja yang dapat menimbulkan mudarat bagi kehidupan mereka. Untuk itu yang mereka butuhkan ialah LARANGAN (untuk mengikuti langkah-langkah syaitan). Tetapi bagi orang beriman, perhatiannya sudah mulai fokus pada Yang Tunggal, Puncak Kesucian. Mereka sudah mulai tidak terpukau (apalagi tertipu) oleh warna-warni kehidupan. Agar “gerak maju” mereka berkelanjutan, maka yang mereka butuhkan ialah PERINTAH (untuk bersyukur kepada Allah).

 

2). Kalau kita kaitkan dengan ayat 171, ayat 172 ini mengandung pesan bahwa manusia akan menjadi ‘hewan gembalaan’ manakala “perut”-nya telah mengalahkan “akal”-nya. Maka kepada orang beriman Allah meminta mereka untuk menjaga makanannya: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ (yā ayyuɦalladzĭna āmanŭ kulŭ minath-thayyibāti mā razaqnākum, hai orang-orang yang beriman makanlah di antara rezeki yang suci yang Kami berikan kepadamu). Dalam pengertian bukan saja “zat” (materi atau jenis) makanan itu, tapi juga “sumber” (asal atau cara mendapatkan)-nya. Bisa saja “zat” (materi atau jenis)-nya طَيِّبَاتِ (thayyibāt, yang suci), tapi cara mendapatkannya ialah dengan menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah—dengan kata lain, menukar kebenaran dengan kebatilan. Misalnya, mengeluarkan fatwa yang menguntungkan pelaku kezaliman. Atau dengan cara-cara lain yang tidak jelas halal-haramnya. Bagi orang beriman setiap cara perolehan rezeki yang masuk wilayah abu-abu (samar-samar) harus ditinggalkan. Orang beriman selalu memilih prinsip “kehati-hatian”. “Makanlah di antara rezeki yang suci yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia.” (20:81)

 

3). Kata اشْكُرُواْ (usykurŭ, perintah bersyukur untuk objek jamak) berasal dari kata شكر (sya-ka-ra), يشكر (yasy-ku-ru) yang dalam Maktoob Dictionary diartikan thank (berterima kasih), render (memberikan, membuat), recognize (mengenali, mengakui, menyadari), dan return (kembali, mengembalikan). Jika pengertian-pengertian ini kita satukan maka bersyukur kepada Allah bermakna: “Berterima kasih kepada-Nya dengan cara memberikan apa yang menjadi hak-Nya dan mengembalikan semua yang kita miliki, sebagai prasyarat membuat ‘gerak maju’ kembali ke Puncak Kesucian, setelah mengenali, mengakui, dan menyadari bahwa semua yang ada ini (termasuk diri kita) adalah milik-Nya”. Dengan demikian, bersyukur tak sekedar melontarkan ucapan alhamdulillāɦ (segala puji bagi Allah) dari ujung lidah. Bersyukur adalah sikap jiwa untuk membebaskan diri dari sifat-sifat hewan gembalaan. Sikap jiwa untuk keluar dari keadaan صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ (shummun bukmun ‘umyun, tuli, bisu dan buta). Untuk menggunakan akal. Untuk menjadi bagian dari orang-orang yang mengikuti Petunjuk. “Allah-lah yang menjadikan malam untukmu supaya kalian beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai (banyak) karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (40:61)

 

4). Setelah Allah memerintahkan untuk bersyukur kepada-Nya, Dia lantas menyertai perintah itu dengan ungkapan: إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ (ing kuntum iyyāɦu ta’budŭn, jika benar-benar hanya kepada-Nya kalian menyembah). Bisa dibalik menjadi: “Jika benar-benar hanya kepada Allah kalian menyembah, maka bersykurlah kepada-Nya”. Artinya, manakala ada orang yang kelihatan rajin beribadah kepada Allah tetapi tidak bersykur kepada-Nya, maka bisa dipastikan, ibadahnya itu tidak dalam keadaan yang sebenar-benarnya. Ibadahnya hanyalah ritualitas belaka tanpa mendatangkan nilai apa-apa. Ibadah seperti inilah yang tidak mendekatkan pelakunya kepada Allah. Ibadah seperti ini bahkan bisa membuat pelakunya lebih angkuh, sombong, arogan, dan meremehkan orang lain. Itu sebabnya Allah mengingatkan: فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى (falā tuzakkŭ anfusakum ɦuwa a’lamu bimanittaqā, maka janganlah kalian mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa) (53:32). Ibadah yang benar ialah iabadah yang membawa pelakunya untuk melakukan penyerahan diri secara total kepada Allah hingga tidak ada lagi jarak (keraguan) antara dirinya (yang menyembah) dan Rabb-nya (Yang Disembah). “Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat). Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu (rasa) yakin.” (15:97-99)

 

5). Hadits Nabi saw.:

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بْنُ مُسْلِمٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ

[Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim berkata, telah menceritakan kepada kami ar-Rabi’ bin Muslim dari Muhammad bin Ziyad dari Abu Hurairah dari Nabi saw, beliau bersabda: “Tidak dianggap bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur kepada manusia.“] (Sunan Abu Daud no. 4177)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Manusia rata-rata makan tiga kali sehari. Berarti, kemungkinan memakan makanan yang tidak suci, sangat besar. Wahai orang-orang yang beriman berhati-hatilah dalam hal makanan, karena menyantap makanan yang tidak suci pertanda tidak bersyukur. Sedangkan tidak bersykur pertanda ibadah tidak benar. Makanan yang tidak suci bisa dari zatnya, bisa juga dari cara memperolehnya. Maka janganlah menjual agama Anda demi sesuap nasi.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

3 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply