Al-Baqarah ayat 171

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
March 16, 2012
0 Comments
2138 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 171

 

وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُواْ كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لاَ يَسْمَعُ إِلاَّ دُعَاء وَنِدَاء صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ

[Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.]

[The parable of those who reject Faith is as if one were to shout Like a goat-herd, to things that listen to nothing but calls and cries: Deaf, dumb, and blind, they are void of wisdom.]

 

1). Ini pasti bukan kebetulan. Bahwa setelah Allah berbicara tentang banyaknya manusia yang cintanya kepada dunia sama bahkan melebihi cintanya kepada Allah, tentang hubungan teleologis antara yang mengikuti dan yang diikuti, tentang pemimpin atau imam yang mengantarkan pengikutnya ke gerbang Neraka, tentang para penikmat rezki yang haram dari transaksi dukung-mendukung pemimpin atau imam, tentang orang-orang yang pilihan-pilihan hidupnya bukan bertumpu pada rasionalitas tapi semata pada warisan para pendahulunya; tiba-tiba Allah membuat perumpamaan seputar gembala dan hewan gembalaannya. Perumpamaan ini benar-benar terasa pas mewakili semua pembahasan itu (dari ayat 165-170). Dari sisi hirarki, gembala memiliki kedudukan yang jauh lebih tinggi daripada hewan gembalaannya. Jaraknya seperti bumi dan langit. Gembala memiliki pengetahuan yang sempurna seputar sifat dan prilaku hewan-hewan gembalaannya. Sementara hewan-hewan tidak memiliki pengetahuan bahkan terhadap dirinya sekalipun. Hewan-hewan itu mendengarkan setiap seruan dan panggilan gembalanya, semata sebagai naluri hewaniahnya, tetapi sama sekali tidak bisa memaknai kata demi kata yang membentuk seruan dan panggilan tersebut. Itu sebabnya seruan dan panggilan hanya efektif bilamana dikombinasi dengan pecutan. “Katakanlah (hai Muhammad): ‘Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kalian dengan wahyu, dan tiadalah (mungkin) orang-orang yang tuli mendengar seruan apabila mereka diberi peringatan’.” (21:45)

 

2). Orang-orang yang menentang atau mengabaikan kebenaran yang dibawah oleh para nabi dan rasul bagaikan hewan gembalaan yang mendengar seruan dan panggilan tetapi tidak bisa memaknainya sehingga seruan-seruan dan panggilan-panggilan itu tidak pernah menyeruak masuk ke dalam kesadaran mereka: كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لاَ يَسْمَعُ إِلاَّ دُعَاء وَنِدَاء (kamatsalilladzĭ yan’iqu bimā lā yasma’u illa du’ā-a wa nidā-a, seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja). Kesadaran mereka tak pernah tersentuh oleh دُعَاء وَنِدَاء (du’ā-a wa nidā-a, seruan dan panggilan) itu. Mereka tidak percaya kalau seruan dan panggilan para nabi dan rasul pada dasarnya adalah seruan dan panggilan dari langit. “Dan apakah kalian (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepada kalian peringatan dari Tuhanmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu dengan harapan kalian bertakwa dan mendapat rahmat?” (7:63) Sikap apriori inilah yang menyumbat kesadaran mereka. Jiwa mereka hanya digerakkan untuk menyadari sesuatu yang kasat mata dan dangkal. Mereka lebih memilih para Khalifah Duniawi untuk mereka ikuti—karena juga menjanjikan kesenangan-kesenangan duniawi—ketimbang Khalifah Ilahi yang hanya menjanjikan hal-hal yang abstrak dan “nanti”. Mereka menyangka, atau paling tidak mengopinikan melalui ‘lembaga-lembaga’ buatan mereka bahwa, para Khalifah Duniawi itu sebagai pemimpin-pemimpin yang juga mendapat petunjuk. “Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada pembesar-pembesar yang sombong: ‘Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kalian menghindarkan kami dari azab Allah (walaupun) sedikit saja?’ Mereka menjawab: ‘Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri’.” (14:21)

 

3). Perhatikan kata-kata ini: صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ [shummun bukmun ‘umyun, (mereka itu) tuli, bisu dan buta]. Kata-kata ini mengingatkan kita pada ayat 18 (dari Surat al-Baqarah ini). Untuk memahami secara mendalam kata-kata ini, terutama kaitannya dengan ayat-ayat yang serupa, silahkan baca kembali ayat (18) tersebut, terutama pada poin 3. Yang perlu ditekankan di sini ialah bahwa ayat 18 merupakan rangkaian ayat-ayat yang berbicara tentang karakter dan perilaku orang-orang munafik. Kalau kita gunakan ayat 18 tersebut untuk memaknai frase الَّذِينَ كَفَرُواْ (alladzĭna kafarŭ, orang-orang kafir) yang tertera di awal ayat 171 ini, maka orang kafir yang dimaksud sangat mungkin ialah: orang yang mengaku Muslim tetapi jiwanya sesungguhnya ingkar kepada seruan dan panggilan para nabi dan rasul, tetapi karena hendak merebut posisi kepemimpinan yang diduduki para nabi dan rasul tersebut maka mereka menggunakan kostum “iman”. Baik mereka melakukannya sendiri (sesama mereka) ataupun dengan membangun konspirasi dengan orang-orang kafir tulen di luar sana. Tanpa menengok ke ayat 18, maka orang kafir yang dimaksud tentu termasuk orang kafir tulen, orang yang lahir batin menolak seruan dan panggilan para nabi dan rasul. “Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin), seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka tidakkah kalian mengambil pelajaran (daripada perbandingan itu)?” (11:24)

 

4). Allah kemudian menyebut “(mereka yang) tuli, bisu dan buta” itu sebagai: لاَ يَعْقِلُون [lā ya’qilŭn, (orang yang) tidak menggunakan aqal(nya)], sehingga tidak mampu memaknai دُعَاء وَنِدَاء (du’ā-a wa nidā-a, seruan dan panggilan) para nabi dan rasul. Apabila akal tidak difungsikan maka pengetahuan yang diterima hanya berhenti pada tangkapan panca indera, pengetahuan empirik, pengetahuan yang kasat mata dan cetek. Di titik inilah ‘jualan’ para Khalifah Ilahi menemui wilayah marketing-nya yang amat luas, karena pada umumnya manusia paling gampang menerima sesuatu yang kasat mata dan cetek. Mereka menganggap bahwa yang disebut “bukti” (evidence) itu ialah sesuatu yang kasat mata. Kebanyakan manusia gagal melihat bahwa justru temuan akal itulah “bukti” (evidence) yang tak terbantahkan. Mereka tidak faham bahwa yang cetek dan kasat mata juga hanya mendatangkan manfaat yang cetek dan sesaat. Manfaatnya tidak mampu menembus relung-relung jiwa yang paling dalam dan tak kuasa melampaui batas-batas ruang dan waktu. Padahal دُعَاء وَنِدَاء (du’ā-a wa nidā-a, seruan dan panggilan) para nabi dan rasul merupakan konsumsi jiwa yang paling dalam dan berjangkauan jauh ke depan, melampaui kehidupan dunia ini. Kesimpulannya, akal hanya bekerja apabila orang tersebut mau mendengar masukan dari mana saja dan dari siapa saja (tidak tuli), mau bertanya, meminta informasi tambahan ataupun klarifikasi (tidak bisu), dan mau melihat, memperhatikan, memandang jauh ke depan (tidak buta). Tanpa itu, akal akan ‘menganggur’. Inilah yang terjadi pada mereka yang menyerahkan nasibnya kepada para pendahulunya (seperti telah diuraikan di ayat 170). “Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu (Muhammad) dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak menggunakan akal. Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka sesungguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (49:4-5)

 

5). Hadits Nabi saw.:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ اللَّيْثِ حَدَّثَنِي ابْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنِي اللَّيْثُ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ قَالَ قَالَ خَالِدُ بْنُ أَبِي عِمْرَانَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْبَيْلَمَانِيِّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ هُرْمُزَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَتَكُونُ فِتْنَةٌ صَمَّاءُ بَكْمَاءُ عَمْيَاءُ مَنْ أَشْرَفَ لَهَا اسْتَشْرَفَتْ لَهُ وَإِشْرَافُ اللِّسَانِ فِيهَا كَوُقُوعِ السَّيْفِ

[Telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Syu’aib bin al-Laits berkata, telah menceritakan kepadaku Ibnu Wahb berkata, telah menceritakan kepadaku al-Laits dari Yahya bin Sa’id ia berkata; Khalid bin Abu Imran berkata dari Abdurrahman bin Bailamani dari Abdurrahman bin Hurmuz dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda: “Akan terjadi fitnah: orang-orang tidak lagi dapat mendengar, bisu dan tuli dari kebenaran. Barang siapa yang mencoba untuk mendekati fitnah tersebut maka ia akan tertarik ke dalamnya, dan ikut serta dalam mengumbar lisan di dalamnya seperti memukulkan pedang (dalam mengakibatkan bahaya dan luka).“] (Sunan Abu Daud no. 3720)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Banyak pihak yang berbicara tentang KEBENARAN. Tetapi pada saat yang sama melarang orang-orang untuk membaca buku-buku tertentu, atau mendengar kuliah dari kelompok-kelompok lain, atau bertanya kepada sumber asli dan pelaku utama. Ini adalah satu masalah. Namun masalahnya menjadi lebih besar jikalau Anda juga bersikap tuli, bisu dan buta dalam menyoal KEBENARAN pakah yang dimaksud pihak tersebut.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply