Al-Baqarah ayat 169

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
February 10, 2012
1 Comment
8356 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 169

 

 إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاء وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

[Hanya saja syaitan itu menyuruh kalian berbuat buruk dan keji, dan mengatakan atas nama Allah apa yang tidak kalian ketahui.]

[For he commands you what is evil and shameful, and that ye should say of Allah that of which ye have no knowledge.]

 

1). Ayat ini berisi alasan mengapa Allah (di ayat sebelumnya) melarang orang beriman mengikuti langkah-langkah syetan. Pelajaran terbesar yang bisa kita ambil dari sini ialah bahwa setiap perbuatan Tuhan selalu punya alasan. Sehingga tidak ada tempat bagi dogma. Artinya, setiap perbuatan Tuhan selalu bisa ditelusuri hubungan hirarkinya dari satu tahap ke tahap selanjutnya dengan menggunakan pisau analisis yang disebut “akal”. Sederhananya, setiap perbuatan Tuhan pasti masuk akal. Inilah yang menerangkan mengapa begitu banyak seruan dan tantangan menggunakan akal di dalam al-Qur’an; sebaliknya, tak satu ayat pun yang mewanti-wanti kita agar curiga terhadapnya. Pengetahuan yang terverifikasi oleh akal itulah yang disebut “ilmu”. Cermatilah alasan (perbuatan) Allah di ayat ini. Dia melarang manusia mengikuti langkah-langkah syetan karena syetan itu memerintahkan manusia untuk (1) melakukan hal-hal yang buruk dan keji atau amoral, dan (2) membicarakan sesuatu dengan mengatasnamakan Allah padahal tidak punya ilmu mengenai sesuatu tersebut. Penggunaan kata إِنَّمَا (inamā, hanya saja)—yang berfungsi sebagai qayid (pengikat)—di awal ayat menunjukkan bahwa alasan mengikuti langkah-langkah syetan hanya berhenti pada (atau di seputar) dua alasan tersebut. Kalau toh ada alasan lain yang disebutkan di ayat lain maka pasti maknanya tidak keluar dari dua alasan ini. Dengan demikian sekaligus menjadi jelas makna kata مُّبِينٌ (mubĭn, nyata) di penggalan ayat (sebelumnya): إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ (innaɦu lakum ‘aduwwun mubĭn, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu). Yaitu bahwa “setiap yang mengajak atau mendorong untuk (1) melakukan hal-hal yang buruk dan keji atau amoral, dan (2) membicarakan sesuatu dengan mengatasnamakan Allah padahal tidak punya ilmu mengenai sesuatu tersebut, adalah syaitan, walaupun wujud lahiriahnya seorang manusia.” Manusia jenis inilah kelak yang akan kita sesali di akhirat setelah kita berbondong-bondong berdiri sebagai pengikutnya di ambang pintu neraka (ayat 166 dan 167). “Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (2:268)

 

2). Kata السُّوء (as-sŭ’, buruk) seasal dengan kata سَيِّئَة (sayyiah, keburukan)—yang lawannya ialah حَسَنَة (hasanah, kebaikan)—seperti yang dapat kita temukan di Surat an-Nisā’ ayat 79: “Apa saja yang kamu peroleh dalam bentuk kebaikan maka (itu) dari Allah, dan apa saja yang menimpa kamu dalam bentuk keburukan maka (itu) dari dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” Di sini kita melihat bahwa setiap perbuatan السُّوء (as-sŭ’, buruk) atau سَيِّئَة (sayyiah, keburukan) berasal dari diri manusia itu sendiri, dan tak pantas mengalamtakannya kepada Allah. Tetapi berdasarkan ayat yang kini sedang kita bahas (2:169), perbuatan السُّوء (as-sŭ’, buruk) tidak akan terlaksana (aktual) manakala tidak ada pemantiknya—ingat, dari kata ini pula lahir istilah ulama sŭ’ (ulama buruk) yang diperkenalkan oleh ulama-ulama terdahulu sebagai sindiran terhadap “ulama istana”. Dan pemantik yang dimaksud ialah syaitan. Pertanyaannya kemudian, kalau perbuatan السُّوء (as-sŭ’, buruk) itu hanya bisa aktual bilamana terpantik oleh pihak lain yang berpredikat syaitan, lalu siapa gerangan kelak yang bertanggungjawab atas perbuatan tersebut? Jawabannya: keduanya. Yaitu “yang bertindak sebagai syaitan” dan “yang bersangkutan”. “Yang bertindak sebagai syaitan” dihukum karena menyesatkan pihak lain, sementara “yang bersangkutan” menerima hukuman karena mau-maunya disesatkan padahal Allah telah memberikan senjata pamungkas kepada dirinya yang bernama “akal”. “Allah berfirman: ‘Masuklah kalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu.’ Setiap suatu umat masuk (kedalam neraka), dia mengutuk kawannya (yang menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu: ‘Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan neraka yang berlipat ganda.’ Allah berfirman: ‘Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kalian tidak mengetahui’.” (7:38)

 

3). Kata الْفَحْشَاء (al-fahsyā’) dan الْفَاحِشَةَ (al-fāhisyah) beserta bentuk jamaknya, الْفَوَاحِشَ (al-fawāhisya), muncul masing-masing 7 kali (2:169, 2:268, 7:28, 12:24, 16:90, 24:21 dan 29:45), 13 kali (3:135, 4:15,19,22,25, 7:28,80, 17:32, 24:19, 27:54, 29:28, 33:30 dan 65:1) dan 4 kali (6:151, 7:33, 42:37 dan 53:32) di dalam al-Qur’an, dengan makna yang kurang lebih sama: perbuatan asusila, pelanggaran syariat dalam kaitannya dengan kepatutan sosial. Contoh-1: “Dan janganlah kalian mendekati (perbuatan) zina; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan فَاحِشَةً (fāhisyah, keji) dan سَاء سَبِيلاً (sā’a sabĭla, jalan yang buruk).” (17:32) Contoh-2: “Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya: ‘Sesungguhnya kalian benar-benar mengerjakan perbuatan الْفَاحِشَةَ (al-fāhisyah, keji) yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kalian’.” (29:28, 7:80, 27:54) Contoh-3: “Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya perbuatan السُّوء (as-sŭ’, buruk) dan perbuatan الْفَحْشَاء (al-fahsyā’, keji). Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (12:24) Dari tiga contoh ayat tersebut kita bisa melihat bahwa perbuatan الْفَحْشَاء (al-fahsyā’) atau الْفَاحِشَةَ (al-fāhisyah) adalah berkaitan dengan pergaulan bebas baik yang dilakukan oleh orang yang beda jenis ataupun oleh sesama jenis. Ayat pada contoh-1 berisi larangan Allah terhadap pergaulan bebas dengan alasan perbuatan seperti itu termasuk kategori فَاحِشَةً (fāhisyah, keji) dan سَاء سَبِيلاً (sā’a sabĭla, jalan yang buruk), perbuatan yang dipantik oleh syaitan. Alasan itu bisa difahami dari berbagai sudut pandang: teologis, sosiologis, psikologis, dan biologis. Sementara pada contoh-3, Allah menyebut bahwa Dia-lah yang menghindarkan Yusuf dari perbuatan seperti itu; dengan catatan, setelah Yusuf sendiri terlebih dulu berhasil menyingkap dan melihat بُرْهَانَ (burɦān)—bukti kehadiran Allah di semua gradasi wujud (baca kembali ayat 111 poin 2)—dari Tuhannya sehingga semua tersingkap dan terpapar di layar jiwanya. Kesimpulannya, orang yang melakukan perbuatan الْفَحْشَاء (al-fahsyā’) dan الْفَاحِشَةَ (al-fāhisyah) adalah orang yang telah disumbat jiwanya oleh syaitan sehingga tidak bisa lagi melihat بُرْهَانَ (burɦān) dari Tuhannya. Salah satu cara untuk menyingkap kembali بُرْهَانَ (burɦān) tersebut ialah dengan cara melibatkan Allah dengan menegakkan salat dan memaknai hakikat-hakikatnya. “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Suci (al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (29:45)

 

4). Perintah syaitan berikutnya ialah أَن تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ (an taqŭlŭ ‘alallāɦi mā lā ta’lamŭn, mengatakan atas nama Allah apa yang tidak kalian ketahui). Semua orang berpeluang melakukan ini. Tetapi yang paling besar kemungkinannya ialah mereka yang mengerti agama, karena hanya merekalah yang punya otoritas di tengah-tengah masyarakat untuk berbicara atau berfatwa dalam soal-soal keagamaan, dimana Tuhan sebagai domain utamanya. Apalagi jikalau kita kaitkan dengan pembahasan di ayat 166 dan 167 tentang hubungan antara pengikut dan yang diikuti. Ahli agama yang tega melakukan inilah yang disebut ulama sŭ’ (ulama buruk), karena akibat dari قُول (qawl, fatwa)—dari kata تَقُولُواْ (taqŭlŭ, mengatakan)—atau pendapat-pendapatnya itulah sehingga perbuatan sŭ’ (buruk) merebak di tengah-tengah masyarakat. Mereka melakukan itu seraya melanggar ayat 168: يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُواْ مِمَّا فِي الأَرْضِ حَلاَلاً طَيِّباً (yā ayyuɦān-nāsu kulŭ mimmā fĭl-ardli halālan thayyiban, hai sekalian manusia, makanlah apa-apa yang terdapat di bumi yang halal lagi suci). Mereka mengeluarkan pendapat atau قُول (qawl, fatwa) berdasarkan order dari Khalifah Duniawi atau pihak-pihak yang berkepentingan, dan sebagai imbalannya mereka menerima bayaran atau jabatan tertentu. Sadar atau tidak sadar, ‘ulama’ atau ‘mufti’ seperti ini telah menjadi permainan syaitan. “Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: ‘Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kalian menghindarkan kami dari azab Allah (walaupun) sedikit saja?’ Mereka menjawab: ‘Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri’. Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kalian lalu kalian mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kalian mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kalianpun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu’. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” (14:21-22)

 

5). Hadits Nabi saw.:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ مَطَرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ قَالَ شَكَّ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ زِيَادٍ فِي الْحَوْضِ فَقَالَ لَهُ أَبُو سَبْرَةَ رَجُلٌ مِنْ صَحَابَةِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ زِيَادٍ فَإِنَّ أَبَاكَ حِينَ انْطَلَقَ وَافِدًا إِلَى مُعَاوِيَةَ انْطَلَقْتُ مَعَهُ فَلَقِيتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو فَحَدَّثَنِي مِنْ فِيهِ إِلَى فِيَّ حَدِيثًا سَمِعَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمْلَاهُ عَلَيَّ وَكَتَبْتُهُ قَالَ فَإِنِّي أَقْسَمْتُ عَلَيْكَ لَمَا أَعْرَقْتَ هَذَا الْبِرْذَوْنَ حَتَّى تَأْتِيَنِي بِالْكِتَابِ قَالَ فَرَكِبْتُ الْبِرْذَوْنَ فَرَكَضْتُهُ حَتَّى عَرِقَ فَأَتَيْتُهُ بِالْكِتَابِ فَإِذَا فِيهِ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ الْفُحْشَ وَالتَّفَحُّشَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُخَوَّنَ الْأَمِينُ وَيُؤْتَمَنَ الْخَائِنُ حَتَّى يَظْهَرَ الْفُحْشُ وَالتَّفَحُّشُ وَقَطِيعَةُ الْأَرْحَامِ وَسُوءُ الْجِوَارِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ لَكَمَثَلِ الْقِطْعَةِ مِنْ الذَّهَبِ نَفَخَ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا فَلَمْ تَغَيَّرْ وَلَمْ تَنْقُصْ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ لَكَمَثَلِ النَّحْلَةِ أَكَلَتْ طَيِّبًا وَوَضَعَتْ طَيِّبًا وَوَقَعَتْ فَلَمْ تُكْسَرْ وَلَمْ تَفْسُدْ قَالَ وَقَالَ أَلَا إِنَّ لِي حَوْضًا مَا بَيْنَ نَاحِيَتَيْهِ كَمَا بَيْنَ أَيْلَةَ إِلَى مَكَّةَ أَوْ قَالَ صَنْعَاءَ إِلَى الْمَدِينَةِ وَإِنَّ فِيهِ مِنْ الْأَبَارِيقِ مِثْلَ الْكَوَاكِبِ هُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنْ اللَّبَنِ وَأَحْلَى مِنْ الْعَسَلِ مَنْ شَرِبَ مِنْهُ لَمْ يَظْمَأْ بَعْدَهَا أَبَدًا قَالَ أَبُو سَبْرَةَ فَأَخَذَ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ زِيَادٍ الْكِتَابَ فَجَزِعْتُ عَلَيْهِ فَلَقِيَنِي يَحْيَى بْنُ يَعْمَرَ فَشَكَوْتُ ذَلِكَ إِلَيْهِ فَقَالَ وَاللَّهِ لَأَنَا أَحْفَظُ لَهُ مِنِّي لِسُورَةٍ مِنْ الْقُرْآنِ فَحَدَّثَنِي بِهِ كَمَا كَانَ فِي الْكِتَابِ سَوَاءً

[Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Mathor dari Abdullah bin Buraidah berkata; “Ubaidullah bin Ziyad masih ragu tentang persoalan telaga,” maka Abu Sabrah berkata kepadanya (seorang lelaki dari sahabat Ubaidullah bin Ziyad): “Sesungguhnya bapakmu ketika berangkat kepada Mu’awiyah sebagai seorang utusan aku juga berangkat bersamanya, kemudian aku bertemu dengan Abdullah bin ‘Amru, maka dia menceritakan kepadaku dari mulut ke mulut sebuah hadits yang ia dengar dari Rasulullah saw. Dia membacakan kepadaku dan aku menulisnya. Dia berkata; ‘Sesungguhnya aku ingin berbagi denganmu ketika engkau telah menjadikan Birdzaun (hewan tunggangan sejenis kuda) ini berkeringat sehingga engkau bisa datang kepadaku dengan membawa buku.’ Dia berkata; maka akupun memacu birdzaun tersebut sehingga berkeringat dan aku datang kepadanya dengan membawa kitab. Maka Abdullah bin ‘Amru bin al-‘Ash menceritakan kepadaku bahwa dia mendengar Rasulullah saw bersabda: ‘Sesungguhnya Allah membenci perbuatan keji dan orang yang berbuat keji. Demi yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, tidak akan datang hari kiamat sehingga orang yang amanah dikhianati dan orang yang khianat diberi kepercayaan. Sehingga muncul kekejian dan perbuatan keji, putusnya hubungan kekerabatan dan buruknya muamalah antar tetangga. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya perumpamaan seorang mukmin adalah seperti potongan emas yang ditiup oleh pemiliknya yang tidak kurang dan tidak berubah. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya perumpamaan seorang mukmin adalah seperti lebah, ia makan yang baik-baik, mengeluarkan yang baik-baik, bila ia hinggap tidak membuat dahan patah dan rusak.’ Dia berkata; Rasulullah bersabda: ‘ketahuilah bahwa aku mempunyai sebuah telaga, yang jarak antara dua ujungnya adalah seperti jarak antara Ailah dan Makkah,’ atau beliau bersabda; ‘yaitu antara Shon’a` hingga Madinah, di dalamnya terdapat ceret sebagaimana bintang-bintang, lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu, barangsiapa meminum darinya maka dia tida akan pernah merasa haus selamanya’.” Abu Sabrah berkata: “Maka Ubaidullah pun mengambil kitab tersebut dan aku merasa takut dan kawatir terhadapnya, maka Yahya bin Ya’mar bertemu denganku, dan aku sampaikan prihal tersebut kepadanya. Maka dia menjawab: ‘Demi Allah, sungguh aku telah menghafalnya sebagaimana aku menghafal surat dari Al Quran,’ maka dia menceritakan kepadaku apa yang terdapat dalam kitab tersebut.”] (Musnad Ahmad no. 6577)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Pendorong manusia untuk melakukan suatu perbuatan ada dua: fithrah dan hawa nafsu. Apabila inspirator perbuatan ialah Allah, maka mesin pendorongnya “fithrah”. Tetapi apabila inspiratornya syaitan, maka mesin pendorongnya “hawa nafsu”. Jikalau suatu pendapat mengkondisikan merebaknya perbuatan “buruk” dan “keji”—siapapun pemilik pendapat itu—yakinlah inspiratornya ialah syaitan. Agar mendapat kepercayaan, mereka mengatakan itu atas nama Allah. Maka janganlah mempercayainya, jika Anda tidak ingin melihat fitnah bersimaharajalela…!!!

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply