Al-Baqarah ayat 167

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
January 29, 2012
0 Comments
2511 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 167

 

 وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُواْ لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّؤُواْ مِنَّا كَذَلِكَ يُرِيهِمُ اللّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُم بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ

[Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti (pemimpin/imam tersebut): “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia) sekali lagi, pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka (saat ini) berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka.]

[And those who followed would say: “If only We had one more chance, We would clear ourselves of them, as they have cleared themselves of us.” Thus will Allah show them (The fruits of) their deeds as (nothing but) regrets. Nor will there be a way for them out of the Fire.]

1). Kata اتَّبَعُواْ (ittaba’ŭ, mereka yang mengikuti) yang muncul di awal ayat ini merupakan pasangan dari kata اتُّبِعُواْ (ittubi’ŭ, mereka yang diikuti). Kalau ada “yang mengikut” (pengikut) maka pasti ada pula “yang diikuti” (pemimpin atau imam). Yang diikuti bisa pemimpin politik (penguasa), pemuka agama (ulama), atau figur publik (tokoh). Menurut salah satu ayat di Surat Yasin, segala sesuatu—termasuk masalah kepengikutan—mempunyai wilayah malakut-nya: “Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya(lah) malakut segala sesuatu dan kepada-Nyalah kalian dikembalikan.” (36:83) Istilah “malakut” bisa kita sederhanakan menjadi “aspek teologi”. Sehingga tidak ada satu hal pun dalam hidup ini yang tidak mempunyai aspek teologinya, termasuk perbuatan kita, yang dalam hal ini ialah hubungan sebab-akibat antara pengikut dan yang diikutnya. Bersama aspek teologi dari perbuatan itulah kita kelak dikembalikan kepada Allah untuk bertanggung jawab. Untuk itu, masalah kepengikutan ini tidak bisa kita anggap sepele. Dan atas dasar itulah sehingga Allah selalu mengirim figur-figr langit. Di dalam al-Qur’an, Rasulullah disuruh mengatakan: “Katakanlah: ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, maka (barulah) Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (3:31) Jadi, hanya perbuatan yang merujuk kepada figur ilahilah yang memiliki bobot pertanggungjawaban. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah Wasilah (yang melaluinya kalian mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kalian mendapat keberuntungan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir (terhadap Allah dan Wasilah-Nya), sekiranya mereka memiliki semua yang di bumi ini dan memiliki yang sebanyak itu (pula) untuk menebus diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih.” (5:35-36)

 

2). Setelah para pemimpin atau imam (yang dulu di dunia diikuti oleh banya orang) berlepas diri dari para pengikutnya—begitu berada di ambang pintu neraka—maka berkatalah para pengikut tersebut: لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّؤُواْ مِنَّا [law anna lanā karratan fanatabarra-u minɦum kamā tabarra-ŭ minnā, seandainya kami dapat kembali (ke dunia) sekali lagi, pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka (saat ini) berlepas diri dari kami]. Apakah pengandaian ini bisa terjadi? Tentu tidak. Perjalanan hidup tiap orang tidak pernah bisa mundur. Roda kehidupan menggelinding ke depan. Alam akhirat adalah kehidupan paska alam dunia. Ungkapan para pengikut ini Allah angkat di dalam al-Qur’an menjadi bagian dari Kitab Suci, mukjizat sepanjang masa, agar berfungsi sebagai “testimoni” untuk mereka yang masih hidup, bahwa memilih pemimpin atau imam tidak boleh berdasarkan warisan leluhur, pengetahuan kolektif dan emosi belaka. Memilih pemimpin atau imam harus berdasarkan kesadaran individual, pengetahuan rasional, dan petunjuk Allah melalui Kitab Suci-Nya. Untuk memahami dengan baik penjelasan-penjelasan ini, loncatlah ke ayat 170: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah Allah turunkan!’ Mereka menjawab: ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (warisan) nenek moyang kami’. (Apakah mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak menggunakan akalnya sedikit pun, dan tidak mendapat petunjuk?

 

3). Perkataan فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ (fanatabarra-u minɦum, pasti kami akan berlepas diri dari mereka) menunjukkan mestinya manusia ber-تَبَرَّأ (tabarra’, berlepas diri) dari seluruh pemimpin atau imam yang tidak sejalan dengan kehendak-kehendak Allah. Kalau manusia tidak berani melakukannya di dunia, maka mereka akan melakukannya nanti di akhirat. Manusia suci seperti Nabi Ibrahim as meneladankan soal ini ketika berleps diri dari ‘bapak’-nya: “… Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa ‘bapak’-nya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (9:114) Nabi Ibrahim as telah mengajarkan kepada kita bahwa “tatkala jelas” baginya bahwa ‘bapak’-nya itu adalah “musuh Allah”, maka dia pun dengan serta-merta ber-تَبَرَّأ (tabarra’, berlepas diri), karena dia tahu betul bahwa “berlepas diri” di akhirat tidak bernilai lagi sama sekali, padahal “Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” Ingat, sejauh ini kita masih berbicara soal مِّلَّة (millah) Ibrahim dan ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya. Dengan demikian, adalah tugas pribadi masing-masing untuk terus mencermati dan menelusuri hingga ke puncak kepada siapa dia “belajar” dan menjadi “pengikut” sebelum dipaksa oleh keadaan nanti di akhirat untuk berlepas diri daripadanya. Berlepas diri di dunia adalah pilihan, sementara berlepas diri di akhirat adalah hukuman. “Orang yang beriman (Pemimpin atau Imam) itu berkata: ‘Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar’. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (40:38-39)

 

4). Siapa yang tidak berani ber-تَبَرَّأ (tabarra’, berlepas diri) dari pemimpin atau imam yang tidak benar di dunia ini maka yang bersangkutan kelak akan menyesali sikapnya di akhirat, karena hal itu menjadi sebab mereka tidak bisa keluar dari azab api neraka: كَذَلِكَ يُرِيهِمُ اللّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُم بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ (kadzālika yurĭɦimullaɦu a’mālaɦum hasarātin ‘alayɦim wa mā ɦum bikhārijĭna minan-nār, demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka). Pengandaian mereka untuk bisa hidup sekali lagi adalah pengandaian kosong. Mereka kini (di akhirat) hanya bisa berdiri terpana, menatap hampa, menyaksikan kesalahan fatal amal pilihannya dulu di dunia, dengan rasa cemas dan sedih yang luar biasa, seraya berkata dengan nada putus asa: “Dan mereka (penghuni neraka) berkata: ‘Sekiranya kami (dulu di dunia mau) mendengarkan atau menggunakan akal (terhadap peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala’.” (67:10).  Dan karenanya, di dunia ini, pilihan menjadi sangat penting. Untuk sampai kepada “pilihan yang sangat penting” ini, kita harus mau berlapang dada mendengarkan informasi dan pengetahuan dari manapun asalnya. Setelah semua informsi terkumpul dengan sempurna, tahap selanjutnya ialah “berani” menggunakan akal. “Dan ikutilah dengan cara yang terbaik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kalian tidak menyadarinya. Supaya jangan ada orang yang mengatakan: ‘Amat besar penyesalanku atas kelalaianku terhadap (perjumpaan dengan) Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama-Nya)’.” (39:55-56)

 

5).  Allah menyampaikan ayat 166-167 ini setelah ayat 124 yang berbicara tentang مِّلَّة (millah) Ibrahim dan ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya serta ayat-ayat selanjutnya yang membincang soal pemindahan kiblat dan menyembunyikan kebenaran yang datang dari Allah, agar para pembaca al-Qur’an menyadari bahwa memilih pemimpin atau imam yang bukan pilihan-Nya akan berdampak besar pada diterima tidaknya nilai amal-amal perbuatan kita nanti di akhirat. Manakala pilihan kita salah maka nilai amal-amal kita pun tak bersyarat untuk kita nikmati. Nilai dari amal-aamal tersebut menjadi حَسَرَاتٍ (hasarātin, sesalan) yang tak berguna. Dengan demikian, masalah kepemimpinan atau imamah ini menjadi semacam password untuk mendapatkan nilai dari amal-amal kita nanti di sana. “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kalian mengikuti pemimpin-pemimpin selain (pemimpin pilihan)-Nya. Amat sedikitlah kalian mengambil pelajaran (dari Kitab Suci).” (7:3) “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian, niscaya tidak seorangpun dari kalian suci (atau terjaga dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah mensucikan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (24:21)

 

6). Hadits Nabi saw.:

و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ قَالَ هَذَا مَا حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ أَحَادِيثَ مِنْهَا وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّاسُ تَبَعٌ لِقُرَيْشٍ فِي هَذَا الشَّأْنِ مُسْلِمُهُمْ تَبَعٌ لِمُسْلِمِهِمْ وَكَافِرُهُمْ تَبَعٌ لِكَافِرِهِمْ

[Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi’ telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Hammam bin Munabbih dia berkata; ini seperti yang pernah diceritakan oleh Abu Hurairah kepada kami dari Rasulullah saw, kemudian dia menyebutkan beberap hadits yang di antaranya adalah: Rasulullah saw bersabda: “Manusia itu mengikuti Quraisy dalam permasalahan ini (kepemimpinan), Muslim mereka mengikuti Muslim (Quraisy), dan kafir mereka mengikuti kafir mereka (Quraisy).“] (Shahih Muslim no.3390)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Ada dua jenis penyesalan: penyesalan positif dan penyesalan negatif. Penyesalan di dunia adalah penyesalan positif, karena masih ada waktu untuk melakukan perbaikan. Penyesalan di akhirat adalah penyesalan negatif, karena tiap orang meninggal tidak mungkin lagi kembali ke dunia untuk mengoreksi apa-apa yang disesalinya. Penyesalan terbesar di akhirat ialah “salah memilih pemimpin.”

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply