Al-Baqarah ayat 166

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
January 23, 2012
0 Comments
2391 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 166

 

 إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُواْ مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُواْ وَرَأَوُاْ الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الأَسْبَابُ

[(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala sebab hubungan antara mereka terputus.]

[Then would those who are followed clear themselves of those who follow (them): They would see the penalty, and all relations between them would be cut off.]

 

1). Istilah penting yang harus kita bawa dari ayat sebelumnya ialah الْقُوَّةَ (al-quwwah, kekuatan). Karena dengan alasan kekuatanlah sehingga manusia mencari أَندَاد (andād, sekutu-sekutu) pada selain Allah. Mereka tidak bisa melihat Kekuatan Besar di balik kekuatan-kekuatan kecil dan parsial. Bilamana kekuatan kecil dan parsial ini menyatu ke dalam diri seseorang atau beberapa orang yang dipercaya sebagai pemangku urusan orang banyak maka bermetamorfosalah menjadi kekuasaan. Dan wujud kekuasaan seperti ini akan menjadi semakin krusial kalau dibalut dengan bahasa, simbol, serta jargon-jargon agama. Kekuasaan adalah kekuatan finansial; jargon agama adalah kekuatan sosial. Orang-orang lalu berbondong-bondong membaiatnya, golongan-golongan berlomba menjadi pengikutnya, nyawa-nyawa siap melayang untuk membelanya, karya-karya ‘intelektual’ ditulis untuk memujinya, buku-buku sejarah dipublikasikan untuk melanggengkannya. Kini, kepalsuan telah bereingkarnasi ‘menjadi kebenaran’. “Dan janganlah kalian seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kalian menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya (mayoritas) dari golongan yang lain (minoritas). Sesungguhnya Allah hanya menguji kalian dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kalian perselisihkan itu.” (16:92)

 

2). Lantas apa yang dimaksud dengan “Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kalian perselisihkan itu”?—penggalan ayat yang mirip dengan ini bertebaran di dalam al-Qur’an (misal: 2:113, 3:55, 5:48, 6:164, 10:93, 16:124, 22:89, 32:25, 45:17, dst.). Diantara maksudnya ialah ketika manusia hanya dibagi ke dalam dua golongan: pengikut kebenaran dan pengikut kepalsuan; anggota golongan kanan dan anggota golongan kiri; penerima catatan amal di tangan kanan dan penerima catatan amal di tangan kiri; pendukung Hizbullah dan Pendukung Hizbusyaithan; warga Khalifah Ilahi dan warga Khalifah Duniawi. Masing-masing golongan punya Pemimpin atau Imam-nya masing-masing. Kemudian semua pengikut tersebut berbaris di belakang Pemimpin atau Imam-nya (seperti layaknya di dunia) karena mereka percaya bahwa Pemimpin atau Imam mereka itu akan membawanya ke dalam keselamatan. ”Pada hari itu Kami panggil tiap umat dengan imamnya (masing-masing); dan barang siapa yang diberikan kitab amalnya di tangan kanannya maka merekalah (yang) akan membaca kitabnya (tersebut), dan mereka tidak dianiaya sedikit pun. Dan siapa yang buta (hatinya) di dunia ini (sehingga tidak mengenal imamnya yang benar), niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang lurus).” (17:71-72)

 

 

3). Tetapi alangkah kecewanya para pengikut itu karena menyadari bahwa Pemimpin atau Imam-nya tersebut ternyata ada yang membawanya ke depan Pintu Neraka: إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُواْ مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُواْ وَرَأَوُاْ الْعَذَابَ [idz tabarra-alladzĭnat-tubi’ŭ minalladzĭnat-taba’ŭ wa ra-awŭl-‘adzāba, (yaitu) ketika orang-orang yang diikuti (Pemimpin) itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya (pengikut), dan mereka melihat siksa]. Ini menjelaskan secara gamblang bahwa benar-benar ada yang namanya Pemimpin atau Imam yang tersesat, yang kita percaya membawa kita kepada keselamatan tetapi ternyata melabuhkan kita ke dalam azab Neraka. Ayat ini sekaligus menjelaskan bahwa yang namanya Pemimpin atau Imam itu musti. Dan karena kemustiannya itulah sehingga Allah menjelaskannya dengan sangat luas dan rinci di dalam al-Qur’an. Bahkan yang pertama Allah deskripsikan sebelum menciptakan manusia ialah tentang Pemimpin atau Imam ini yang disebutnya Khalifah Ilahi (dalami kembali ayat 31 dan 124 beserta ayat-ayat yang menyertainya) yang Dia tugaskan membimbing manusia. Karena Allah—dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya—tidak menghendaki hamba-Nya berakhir di lebah penderitaan abadi. Maka adalah sangat mengherankan manakala ada pihak-pihak tertentu yang memungkiri mustinya Imamah Ilahiah ini. “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai imam-imam (pemimpin-pemimpin ilahi) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.” (21:73)

 

4). Pertanyaannya, kenapa para Pemimpin atau Imam itu berlepas diri dari para pengikutnya? Jawabannya sangat gampang: Karena mereka memang tidak mendapat mandat dari Allaw swt. Mereka menaburi dirinya dengan simbol-simbol agama hanya agar manusia mendukung dan membelanya. Mereka menipu manusia. Pada hakekatnya mereka “sesungguhnya (adalah) orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Kitab Suci, mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknat” (2:159). Sebetulnya yang mereka inginkan ialah menjadi Khalifah Duniawi, karena di situ tersimpul seluruh kesenangan duniawi. Dan agar posisinya kelihatan legitimate, mereka terlebih dahulu mendelegitimasi Khalifah Ilahi pilihan Allah dengan cara memfitnahnya atau bahkan dengan membunuhnya. “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih.” (3:21) Siapakah yang dimaksud “orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil” di ayat itu? Nabi? Tentu bukan, karena nabi sudah disebutkan sebelumnya. Yang dimaksud tentu para Khalifah pilihan Allah yang menjadi pelanjut dan penerus tugas-tugas kenabian. Di akhirat para Khalifah Duniawi ini tidak bisa lagi menyembunyikan belangnya. Para pengikut tak lagi bisa dikelabui. Semua menjadi jelas. Maka para Khalifah Duniawi itu pun terpaksa berlepas diri, sehingga terputuslah semua sebab hubungan kepengikutan diantara mereka: وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الأَسْبَابُ (wa taqaththa’at biɦimul asbāb, dan terputuslah segala sebab hubungan antara mereka). “Berkatalah orang-orang yang telah tetap hukuman atas mereka; ‘Ya Tuhan kami, mereka inilah orang-orang yang (dulu) kami sesatkan; kami telah menyesatkan mereka sebagaimana kami (sendiri) sesat, kami menyatakan berlepas diri (dari mereka) kepada Engkau, mereka sekali-kali tidak menyembah kami’.” (28:63)

 

5). Hadits Nabi saw.:

حَدَّثَنَا هَدَّابُ بْنُ خَالِدٍ الْأَزْدِيُّ حَدَّثَنَا هَمَّامُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ ضَبَّةَ بْنِ مِحْصَنٍ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَتَكُونُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ

[Telah menceritakan kepada kami Haddab bin Khalid al-Azdi telah menceritakan kepada kami Hammam bin Yahya telah menceritakan kepada kami Qatadah dari al-Hasan dari Dlabbah bin Mihshan dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah saw bersabda: “Akan datang para penguasa, kalian mengenal mereka namun kalian mengingkari (perbuatan mereka, saking mungkarnya), (maka) siapa yang tahu (kemungkarannya) hendaklah berlepas diri, dan barangsiapa mengingkari maka ia telah selamat…“] (Shahih Muslim no. 3445)

 

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ عَنْ مُسْلِمٍ حَدَّثَنِى زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا شَبَابَةُ حَدَّثَنِي وَرْقَاءُ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ

[Telah menceritakan kepada kami Ibrahim dari Muslim telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Syababah telah menceritakan kepadaku Warqa` dari Abu az-Zinad dari al-A’raj dari Abu Hurairah dari Nabi saw, beliau bersabda: “Seorang imam itu ibarat perisai, seseorang berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (pemimpin) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ‘azza wajalla dan berlaku adil, maka dia (imam) akan mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia (imam) memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.”] (Shahih Muslim no. 3428)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Akhirat termasuk salah satu ajaran inti dari Islam. Semua bentuk dan jenis perbuatan di dunia ini mempunyai sisi akhiratnya, termasuk masalah politik dan kepemimpinan. Hubungan politik kita dengan seorang pemimpin harus dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah. Setiap pemimpin yang membusanai diri dengan baju agama tetapi sebetulnya tidak mendapat mandat dari Allah, maka yang bersangkutan dan para pengikutnya akan disambut oleh azab neraka. Maka berhati-hatilah Anda dalam soal yang satu ini.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

2 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

Leave a Reply