Al-Baqarah ayat 164

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
January 10, 2012
0 Comments
4927 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 164

 

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاء فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخِّرِ بَيْنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

[Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang menggunakan akal.]

[Behold! in the creation of the heavens and the earth; in the alternation of the night and the day; in the sailing of the ships through the ocean for the profit of mankind; in the rain which Allah Sends down from the skies, and the life which He gives therewith to an earth that is dead; in the beasts of all kinds that He scatters through the earth; in the change of the winds, and the clouds which they Trail like their slaves between the sky and the earth;- (Here) indeed are Signs for a people that are wise.]

 

1). Setelah Allah memperkenalkan ke-Eesa-an-Nya, afirmasi atas-Nya dan negasi kepada selain-Nya, kini Dia memperkenalkan matra alam syaɦādah (terindera)-Nya: langit dan bumi beserta peristiwa-peristiwa natural padanya. Peristiwa-peristiwa itu tidak akan terjadi andai hanya ada satu entitas. Semakin banyak entitas semakin banyak pula peristiwa yang mungkin terjadi. Karena peristiwa-peristiwa tersebut merupakan hasil interkasi dari dan diantara entitas-entitas itu. Kehidupan di alam dunia ini bergantung kepada peristiwa-peristiwa. Tanpa peristiwa, kehidupan tidak akan ada. Tanpa hujan, misalnya, kelangsungan hidup akan terhenti. Hujan ada karena adanya interaksi antara entitas-entitas: laut, udara, matahari, siang, malam, panas, tekanan udara, angin, awan, kondensasi, gravitasi, dan sebagainya. Entitas-entitas itu, dengan kadar proporsionalnya masing-masing, membentuk siklus yang harmonis (mikro dan makro), yang pada akhirnya, setelah membangun lingkaran interaksi baru antara satu siklus dengan sikulus-siklus yang lain, melahirkan mata rantai kehidupan. Singkatnya, kemajemukan adalah hal yang mutlak dalam kehidupan ini. Berbeda dengan Diri-Nya, yang mutlak justru ke-Esa-an-Nya. Kalau begitu, lalau apa makna dari kemajemukan itu? Jawabannya: لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ [la-ayātin liqawmin ya’qilŭn, (di situ) pasti ada tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang menggunakan akal]. Yaitu bahwa yang majemuk itu terejawantah dari yang Tunggal. Ayat atau tanda kebesaran dan ke-Esa-an-Nya, kalau begitu, adalah juga kebenaran-Nya. Maka menyembunyikan kebenaran sama dengan menyembunyikan seluruh realitas kehidupan, yang juga berarti sama dengan menyangkal realitas diri sendiri. Di sinilah letak naifnya orang-orang yang menyembunyikan kebenaran, dan di sini pulalah letak rasionalitas pelaknatan terhadap mereka. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) supaya kalian dapat mencari karunia-Nya; mudah-mudahan kalian bersyukur.” (30:46)

 

2). Tekanan ayat ini terletak pada penggalan awal: إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ (inna fĭ khalqis-samāwāti wal-ardli, sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi). Peristiwa-peristiwa yang disebutkan sesudahnya hanyalah akibat dan kelanjutan dari keterciptaan langit dan bumi. Kata خَلْق (khalq, penciptaan) dalam ilmu Bahasa Arab disebut mashdar (yaitu perbuatan yang sudah terbebas dari ikatan “waktu” sehingga diperlakukan sebagai kata benda—Ingat! Setiap kata kerja dalam Bahasa Arab selalu di dalamnya menyatu dengan waktu: lampau atau sekarang, tanpa perlu menambahkan kata “telah” atau “sedang”). Kata خَلْق (khalq, penciptaan) berasal dari kata kerja (lampau) خَلَقَ (khalaqa, mencipta) dan (sekarang) يَخْلُقُ (yakhluqu, mencipta). Penggunaan kata خَلْق (khalq, penciptaan) menunjukkan bahwa yang Allah ingin tonjolkan bukan pada “pekerjaan” menciptakan, melainkan pada hal “penciptaan”; yaitu pada totalitas prosesnya secara utuh dari ‘awal’ sampai ‘akhir’, tetapi sekaligus dengan melepaskan semua itu dari jebakan waktu. Di alam semesta ini kita tak henti-hentinya menyaksikan ‘perbuatan’ Allah, tapi ‘perbuatan’ itu sama sekali tak terikat oleh waktu. Waktu hanyalah ‘halusinasi’ yang muncul di layar penginderaan kita. Dampak ruhaniahnya, tidak ada satu pun entitas yang kita saksikan di langit dan di bumi tanpa kehadiran-Nya. Karena tidak ada satu pun perbuatan tanpa pelaku perbuatan. Pelaku خَلْق (khalq, penciptaan) ialah خَالِقُ (khāliq, Pencipta). Wajar jikalau Allah menyebut خَلْق (khalq, penciptaan) ini sebagai “ayat” (tanda kebesaran dan ke-Esa-an-Nya). “Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kalian menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (14:32-34)

 

3). Apa jadinya kehidupan ini seandainya tidak ada pergiliran siang dan malam? Dampak kejiwaannya sangat tak terperikan. Yang ada adalah monotonitas, siang terus atau malam terus. Kita tidak punya acuan sederhana untuk menghitung waktu. Karenanya pengandaian ini tidak mungkin terjadi sebab sama saja dengan menghentikan putaran bola bumi, yang artinya juga menghentikan seluruh kehidupan. Yang Allah hendak garis bawahi di sini ialah bahwa dalam kalimat: وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ (wakhtilāfil-layli wan-naɦāri, silih bergantinya malam dan siang) tersimpan makna adanya perputaran bola bumi secara konstan. Ada gerak di sana, sementara ilmu fisika mengajarkan bahwa setiap benda yang diam tidak akan bergerak jikalau tidak ada pihak (baca: gaya) luar yang mempengaruhinya. Lalu mana yang prinsip: “diam” atau “gerak”? Kalau kita percaya pernyataan di poin 2 bahwa waktu hanyalah ‘halusinasi’, berarti yang prinsip ialah “diam”, karena waktu muncul karena adanya gerak. Berarti semua yang kelihatannya bergerak pada dasarnya tidak punya gerak sejati sebagaimana semua yang kelihatannya ber-wujud sesungguhnya tidak punya wujud sejati. Keberwujudan mereka karena diwujudkan. Kebergerakan mereka karena digerakkan. Maka pada saat kita melihat atau merasakan perputaran bola bumi (siang dan malam) pada hakikatnya yang kita lihat atau rasakan ialah jamahan Allah Rabbul ‘Ălamĭn. “Katakanlah: ‘Bagaimana pendapatmu jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kalian beristirahat padanya? Maka apakah kalian tidak memperhatikan?’ Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kalian beristirahat pada malam itu dan supaya kalian mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.” (28:72-73)

 

4). Cobalah renungkan perhitungan matematis berikut ini. Bumi berputar pada sumbunya (berotasi) dengan kecepatan 1.600 km per jam. Pada saat yang sama bumi juga tiap tahun membawa kita berpetualang ke semesta alam raya seraya mengitari matahari (ber-evolusi) dengan kecepatan 107.000 km per jam. (Sebagai perbandingan: Kendaraan tercepat sekarang ialah pesawat ulang-alik seperti Challenger, Columbia atau Ariane, dengan rata-rata kecepatannya ‘cuma’ sekitar 20.000 km per jam). Hebatnya kita tidak merasakan apa-apa di muka bumi ini. Kita tidak merasakan gerak apapun. Yang membuat kita yakin kalau bergerak ialah peristiwa terbit dan terbenamnya matahari. Begitu tenangnya. Bahkan cawan raksasa yang disebut samudra pun tak pernah tumpah airnya. Bahtera bisa berlayar dengan aman: وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ (wal-fulkil-latĭ tajrĭ fil-bahri bimā yanfa’un-nāsa, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia). Perbuatan Allah benar-benar sempurna. “Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur.” (31:31)

 

5). Air lautan bukan saja tak tumpah, tapi sekaligus tak pernah berkurang. Padahal miliyaran manusia, triliyunan hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan yang tiap saat meminum daripadanya. Laut tak pernah mengeluh menerima buangan manusia dan hewan-hewan dari berbagai penjuru. Laut kemudian membersihkannya dengan sabar dan ikhlas lalu mempersembahkan kembali kepada kehidupan. Laut menguapkan bermiliyar-miliyar ton airnya dengan tidak menyertakan rasa asinnya. Air tawar murni itu kemudian turun dalam bentuk hujan, memenuhi reservoar-reservoar bumi, membasahi tenggorokan-tenggorokan, menyirami dan mengaliri tanah-tanah kering sehingga daripadanya tumbuhlah berbagai jenis tanaman dan hiduplah beragam macam hewan-hewan melata. Itu terjadi terus-menerus, dari waktu ke waktu, dari abad ke abad, dari milenium ke milenium. Untuk kehidupan. Untuk manusia. Untuk beribadah kepada-Nya: وَمَا أَنزَلَ اللّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاء فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ (wa mā anzalallāɦu minas-samāi min māin fa ahyā biɦil-ardla ba’da mawtiɦā wa batstsa fĭɦā min kulli dābatin, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan).

 

6). Bagaimana cara mengangkut air dari laut sebanyak itu? Kalau kita manusia yang melakukan, kita butuh miliyaran armada transportasi dengan organisasi kerja yang rapih, dengan tenaga dan biaya yang tak terkira. Untungnya yang melakukan semua itu ialah Allah: وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخِّرِ بَيْنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ (wa tashrĭfir-riyāhi was-sahābil-musakhkhari baynas-samāi wal-ardli, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi). Dia mengumpulkan uap air laut tadi dalam bentuk gumpalan-gumpalan awan yang bergelantungan tanpa penggantung, kemudian Dia perintahkan udara untuk bergerak membawanya ke daratan, tempat kehidupan hamba-hamba-Nya. Dalam bentuk awan pun sudah mempunyai manfaat yang sangat banyak. Kontur dan penataannya indah. Dapat menaungi para musafir. Kadang-kadang mengirim rona warna yang amat indah. Kadang-kadang menyemburkan cahaya terang dan suara yang menggelegar.  “Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.” (24:43)

 

7). Hadits Nabi saw.: (Ini adalah doa Nabi sebelum shalat tahajjud)

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ أَبِي مُسْلِمٍ سَمِعَهُ مِنْ طَاوُسٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ يَتَهَجَّدُ مِنْ اللَّيْلِ قَالَ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ حَقٌّ وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

[Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Sulaiman bin Abu Muslim ia mendengarnya dari Thawus dari Ibnu Abbas ia berkata; Nabi saw apabila bangun malam untuk shalat tahajjud, beliau mengucapkan: “Ya Allah, segala puji milikMu, Engkau cahaya seluruh langit dan bumi serta segenap makhluk yang ada padanya. Segala puji milikMu Engkaulah Pemelihara seluruh langit dan bumi serta segenap makhluk yang ada padanya. Segala puji milikMu, Engkaulah Penguasa segenap langit dan bumi serta segenap makhluk yang ada padanya, segala puji milikMu, Engkaulah Yang Maha Benar, janjiMu benar, pertemuan denganMu benar, firmanMu benar, surga adalah benar, neraka benar, kiamat adalah benar, para nabi adalah benar, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah benar. Ya Allah, hanya kepadaMu aku berserah, hanya kepadaMu aku beriman, hanya kepadaMu aku bertawakal, hanya kepadaMu aku bertaubat, hanya kepadaMu aku mengadu, hanya kepadaMu aku memohon keputusan, oleh karena itu ampunilah dosa-dosaku yang lalu dan yang akan datang, yang aku lakukan secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. Engkaulah yang Terdahulu dan Engkaulah yang Terakhir, tiada sembahan yang hak selain Engkau.”] (Musnad Ahmad, no. 3196)

 

 

AMALA PRAKTIS

Penciptaan langit dan bumi, perputaran malam dan siang, bahtera yang berlayar di lautan, awan yang menggumpal-gumpal, hujan yang turun dari langit, yang kemudian menjamin kelangsungan hidup manusia, adalah ayat (tanda kebesaran dan ke-Esa-an-Nya). Semuanya itu terjadi karena adanya ‘gerak’. Sayangnya sangat sedikit yang menyadari bahwa tidak mungkin ada ‘gerak’ tanpa adanya “penggerak”. Manusia lebih senang berterima kasih kepada atasannya ketimbang kepada “Penggerak” atasannya.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

2 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

Leave a Reply