Al-Baqarah ayat 163

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
January 8, 2012
0 Comments
1542 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 163

 

وَإِلَـهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ

[Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pengasih Yang Maha Penyayang.]

[And your Allah is One Allah: There is no god but He, Most Gracious, Most Merciful.]

 

1). Mari semua berenung bersama! Mengapa Allah tiba-tiba berbicara soal keesaan-Nya setelah sekian ayat berbicara soal laknat-melaknat? Jawabannya agaknya ada pada dua kata terakhir dari ayat ini. Yaitu: الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (ar-rahmān ar-rahĭm, Yang Maha Pengasih Yang Maha Penyayang). Karena Tuhan itu hanya satu berarti sumber dari segala sesuatu pun hnya satu. Saat Allah menyebut Diri-Nya sebagai الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (ar-rahmān ar-rahĭm, Yang Maha Pengasih Yang Maha Penyayang), berarti sumber dari segala kasih dan sayang pun hanya satu: Diri-Nya. Di mana saja kita menemukan atau merasakan kasih sayang, pada dasarnya ialah kasih sayang-Nya. Kasih sayang seekor hewan kepada anaknya atau manusia kepada sesamanya, bersumber dari kasih sayang-Nya, dengan kata lain perwujudan dari الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (ar-rahmān ar-rahĭm)-Nya. Bahkan melalui penyebutan diri-Nya sebagai الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (ar-rahmān ar-rahĭm) berdampingan dengan sifat keesaan-Nya, Allah seakan hendak mengesankan kepada kita semua bahwa seluruh realitas ciptaan-Nya—material dan nonmaterial—beserta hukum-hukum yang mengaturnya, merupakan jelmaan dari الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (ar-rahmān ar-rahĭm)-Nya. Seluruh hamparan semesta alam ghāib (tak terindera) dan alam syaɦādah (terindera) adalah hamparan الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (ar-rahmān ar-rahĭm)-Nya. Orang yang Allah sebut أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ [Mereka itulah (orang-orang) yang mendapat salawat (keberkatan yang sempurna) dan rahmat dari Tuhanya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk—(ayat 157)] adalah manusia-manusia tertentu yang bisa menyerap sifat الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (ar-rahmān ar-rahĭm)-Nya ke dalam jiwanya secara sempurna. Sebaliknya orang yang Allah sebutأُولَئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللّهِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ [ŭlāika ‘alayɦim la’natullāɦi wal-malāikati wan-nāsi ajma’ĭn, mereka itu mendapat laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya—(ayat 161)] adalah manusia-manusia tertentu juga yang jiwanya sengaja menolak sifat الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (ar-rahmān ar-rahĭm)-Nya. Dengan demikian لَعْنَةُ (la’nat, laknat) Allah merupakan konsekuensi logis dari penolakan kepada رَحْمَةٌ (rahmat, rahmat)-Nya. Dan orang-orang yang melawan atau memerangi pihak yang Allah beri رَحْمَةٌ (rahmat, rahmat) adalah orang-orang yang juga pasti لَعْنَةُ (la’nat, laknat) Allah atasnya. “Ibrahim berkata: ‘Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat’.” (15:56)

 

2). Di ayat ini Allah memperkenalkan dirinya sebagai إِلَهٌ (ilāɦun, Tuhan). Bandingkan misalnya dengan ayat berikut ini: هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ [ɦuwallāɦul-ladzĭ lā ilāɦa illā ɦuwa ‘ālimul-ghaybi was-syaɦādati ɦuwar-rahmānur-rahĭm, Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang–(59:22)]. Di Surat al-Hasyr (59:22) ini, Allah langsung memperkenalkan diri-Nya sebagai اللَّهُ (allāɦu), nama khusus yang memang sudah akrab di telinga masyarakat pada saat itu, karena agama-agama samawi sebelumnya sudah terlebih dahulu menggunakannya (lihat 29:61, 29:63, 31:25, 39:38, dan 43:87). Sedangkan kata إِلَهٌ (ilāɦun, Tuhan) adalah bentuk umum yang bisa diterapkan kepada apapun yang dituhankan oleh manusia, termasuk hawa nafsu (25:43 dan 45:23). Tetapi apabila kata ini bisa diterapkan kepada semua hal, konsekuensinya, tuhan menjadi banyak dan tidak logis. Ayat 163 ini hendak mengembalikan konsep ketuhanan (ilāɦiah) kepada relnya yang logis. Yaitu bahwa إِلَـهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ (ilāɦukum ilāɦun wāhid, Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa). Jadi ayat ini adalah pernyataan dan sekaligus pengenalan. Pernyataan bahwa “Tuhan yang pantas kalian sembah hanyalah Tuhan Yang Esa.” Pengenalan bahwa “manakala tuhan banyak maka diantara mereka sendiri niscaya akan saling menegasikan sehingga pada kahirnya kembali ke titik nol (zero), dan itu tidak masuk akal; agar tidak saling menegasikan, maka yang masuk akal ialah Tuhan hanya satu”. “Katakanlah: ‘Jikalau ada tuhan-tuhan di samping-Nya, sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai ‘Arasy (Tuhan Yang Esa)’.” (17:42)

 

3). Setelah Allah menyatakan dan sekaligus mengenalkan bahwa Tuhan itu hanya satu, maka selanjutnya Dia menegaskan bahwa yang pantas disembah, yang pantas dijadikan objek penyerahan diri, hanya Yang Satu itu. Di sini bukan lagi tuhan yang saling menegasikan, tetapi manusialah yang harus menegasikan tuhan-tuhan itu: لاَّ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ (lā ilāɦa illā ɦuwa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia). Manusia hanya bisa sampai kepada Dia, Yang Satu, Pemilik ‘Arasy, kalau berani menegasikan secara menyeluruh tuhan-tuhan selain-Nya. Al-Qur’an menceritakan bahwa penyebab kaum ‘Ăd dilaknat di dunia dan di akhirat karena mereka menentang Nabi Hud seraya menuruti perintah dan kehendak penguasa-penguasa mereka yang totaliter dan menentang kebenaran (11:59-60). Tuhan Nabi Hud, Tuhan Yang Esa, Pemilik ‘Arasy, mereka campakkan, lalu ‘menyembah’ tuhan-tuhan negara mereka. Mereka tidak memiliki keberanian untuk berkata “tidak” kepada para Khalifah Duniawi dan pemuka-pemuka masyarakat. Mereka lebih terampil memanjangkan lidah mereka (untuk menjilat penguasa) ketimbang memanjangkan pikiran (untuk mencari dan berpihak kepada Kebenaran).  “Pemuka-pemuka dari kaum Syu’aib yang menyombongkan diri berkata: ‘Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami’. Berkata Syu’aib: ‘Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya? Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami daripadanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki(nya). Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakkal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya’.” (7:88-89)

 

4). Kata الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (ar-rahmān ar-rahĭm, Yang Maha Pengasih Yang Maha Penyayang) telah kita bahas dengan lumayan memadai di Surat al-Fatihah ayat 1 dan 3. Penyebutan dua rangkai Nama Allah Yang Indah di ayat 163 ini kaitannya dengan pernyataan dan pengenalan akan ke-Esa-an-Nya, hendak memberikan jawaban kepada dahaga jiwa manusia yang menyembah atau mempersembahkan dirinya kepada tuhan-tuhan semu karena mengharapkan kasih dan sayang dari mereka. Manusia terkadang lupa bahwa dahaga jiwanya akan kasih sayang sebetulnya adalah bagian dari الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (ar-rahmān ar-rahĭm) Allah yang Dia simpan di sana sebagai semacam alur-alur sungai agar mengantarkannya menuju ke Samudra Kasih Sayang. Jikalau manusia mengalirkan dahaga itu menuju kepada tuhan-tuhan, penguasa-penguasa, pemuka-pemuka masyarakat, niscaya dahaga mereka tidak akan terpenuhi. Yang akan terjadi justru sebaliknya: kekecewaan demi kekecewaan. Sehingga dahaga mereka semakin bertambah-tambah. Karena para penguasa itu hanya akan menggunakan dahaga mereka untuk dieksploitasi sebagai sumber energi politik, sehingga kekuasaan tiranik mereka tetap langgeng. Melalui ayat ini, Allah mengingatkan seluruh manusia, hamba-Nya, bahwa hanya Dia yang kuasa memenuhi dahaga kasih sayang mereka. “Hai manusia, jika kalian dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kalian dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepadamu dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kalian sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kalian sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kalian ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antaramu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kalian lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (22:5)

 

5). Hadits Nabi saw.:

حَدَّثَنِي مَالِك عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي الْحُبَابِ سَعِيدِ بْنِ يَسَارٍأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ وَلَا يَقْبَلُ اللَّهُ إِلَّا طَيِّبًا كَانَ إِنَّمَا يَضَعُهَا فِي كَفِّ الرَّحْمَنِ يُرَبِّيهَا كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ أَوْ فَصِيلَهُ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ

[Telah menceritakan kepadaku Malik dari Yahya bin Sa’id dari Abu Al Hubab Sa’id bin Yasar bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa bersedekah dari usaha yang baik, dan Allah tidak menerima kecuali yang baik, (maka) sesungguhnya dia telah meletakkannya di telapak tangan Yang Maha Pengasih. Allah akan memeliharanya sebagaimana salah seorang dari kalian memelihara anak kudanya atau anak untanya, hingga (sedekah itu) menjadi seperti gunung.”] (Muwatha’ Malik, no. 1581 dan Shahih Muslim no. 1684)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Pemuka-pemuka dari kaum Syu’aib yang menyombongkan diri berkata: ‘Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami’. Berkata Syu’aib: ‘Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?”(7:88) Pengusiran adalah rumus pamungkas yang selalu digunakan oleh mereka yang sudah kehabisan argumen dalam menentang dan menyembunyikan kebenaran.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

3 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply