Al-Baqarah ayat 161

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
January 3, 2012
0 Comments
1922 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 161

 

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللّهِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

[Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya.]

[Those who reject Faith, and die rejecting,- on them is Allah’s curse, and the curse of angels, and of all mankind.]

 

1). Berdasarkan tautan dengan ayat-ayat sebelumnya maka tampaknya yang dimaksud dengan الَّذِينَ كَفَرُوا (alladzĭna kafarŭ, orang-orang kafir) di sini ialah mereka yang tetap dalam posisi menyembunyikan kebenaran yang Allah turunkan di dalam Kitab Suci-Nya (yang termaktub di ayat 146 dan ayat 159). Mereka tidak punya keinginan untuk memenuhi 3 (tiga) syarat pengampunan yang Allah tetapkan di ayat 160. Sehingga, menurut ayat 161 ini, mereka yang menyembunyikan kebenaran itu pada dasarnya “kafir”, dalam pengertian menolak membeberkan makna-makna hakiki dari ayat-ayat Kitab Suci tersebut. Kenapa Allah menyebut mereka “kafir”? Karena sifat seperti inilah yang dimiliki ulama-ulama dari umat-umat terdahulu yang menyebabkan rusaknya agama-agama samawi. Dan hendaknya kita tidak perlu kaget dengan klaim Allah ini sebab sebelum sampai ke ayat ini, Allah telah mengantarkan kita ke belakang untuk melihat kenapa agama samawi yang dibawah Nabi Musa as rusak, yaitu saat menceritakan kepada kita tentang Bani Israil (ayat 40 sampai ayat 123). Itu sebabnya, sebelum Allah memulai kisah panjang itu, Dia mendahuluinya dengan ayat ini: “Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya” (2:39) Salah satu ayat yang ada di tengah-tengah kisah Bani Israil yang substansinya sama dengan pokok bahasan kita sekarang ialah: “… Apakah kalian beriman kepada sebahagian isi Kitab Suci (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kalian perbuat.” (2:85) Kesimpulannya: Allah menyebut “kafir” orang-orang yang menyembunyikan kebenaran karena kalau itu benar-benar terjadi pada pengikut Muhammad saw, maka kerusakan agama-agama samawi sebelumnya akan terulang kembali pada Agama Islam. “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (33:57)

 

2). Perbuatan menyembunyikan kebenaran memang terkadang ‘menyenangkan’ karena biasanya di sana ada tukar-guling, ada manfaat duniawi yang diterima pelaku. Masyarakat manusia yang hidup di alam duniawi, di tengah-tengah dunia materi, yang panca inderanya terkepung oleh benda-benda, praktis persepsi dan kehendaknya pun akan dikuasai oleh dunia beserta benda-benda yang ada di dalamnya. Mereka lalu melihat indah semua itu (2:212, 3:14, 6:122, 9:37, 10:12, 13:33, 35:8, 40:37, 47:14, dan 48:12). Allah tahu ini. Makanya sebelum menciptakan manusia, Dia terlebih dahulu memperagakan konsep Khalifah Ilahi (lihat ayat 30). Setelah itu, setelah manusia tercipta, masa demi masa Dia terus mengutus Khalifah Ilahi, yang diantara tugasnya ialah meluruskan persepsi dan kehendak manusia tersebut. Para Khalifah Ilahi ini mengingatkan bahwa dunia ini hanyalah sementara belaka saja, kesenangan-kesenangan bendawi yang ada padanya bersifat sementara namun menipu. Mereka juga tak hanya membangun wacana, tapi juga membangun sistem dan struktur, demi mencegah manusia terperdaya oleh kesenangan duniawi tersebut. Maka adalah sangat ironi manakala mereka yang menyebut diri “pewaris Nabi” (baca: ulama dan ustadz) justru terpesona olehnya sehingga kemudian menjadikan kebenaran Kitab Suci sebagai alat pembayaran untuk mendapatkan kesenangan itu. Itu sebabnya, ayat-ayat yang paling banyak ditukargulingkan ialah yang berkenaan dengan Khalifah Ilahi. Kalau yang bersangkutan kecanduan, sangat mungkin perbuatannya dalam menyembunyikan kebenaran itu akan terbawa sampai mati. “Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari jin dan manusia; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi. Dan orang-orang yang kafir berkata: ‘Janganlah kalian mendengar dengan sungguh-sungguh akan al-Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kalian dapat mengalahkan (mereka).” (41:25-26)

 

3). Kalau perbuatan menyembunyikan kebenaran tersebut terbawa sampai mati, Allah memperkenalkan—dengan kata tunjuk أُولَئِكَ (ŭlāika, mereka itu)—hukuman yang pantas bagi pelakunya dengan mengulangi kembali kandungan ayat 159, dengan redaksi yang sedikit beda: أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللّهِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (ŭlāika ‘alayɦim la’natullāɦi wal-malāikati wan-nāsi ajma’ĭn, mereka itu mendapat laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya). Pengulangan ini penting karena ilmu Allah meliputi orang-orang yang enggan atau bahkan benci melakukan pelaknatan dengan alasan kemanusiaan, kebebasan, keagamaan, dan sebagainya. Melalui ayat ini Allah mengirim pesan kepada mereka bahwa Allah (Dzat Yang Mahasuci) dan malaikat (makhluk yang suci) sekalipun melakukan pelaknatan. “Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, dan mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, serta keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim. Mereka itu, balasannya ialah: bahwasanya laknat Allah ditimpakan kepada mereka, (demikian pula laknat) para malaikat dan manusia seluruhnya.” (3:86-87) Saking tidak senangnya mereka ini terhadap pelaknatan sampai-sampai mereka melaknat orang yang melakukan pelaknatan. Perhatikan baik-baik kalimat terkahir ini. Ada yang lucu, bukan? Itu menunjukkan bahwa tidak ada satu manusia pun yang bisa melepaskan diri dari perbuatan laknat-melaknat. Karena melaknat pada prinsipnya adalah sikap jiwa yang menolak dan mengecam suatu perbuatan yang amat sangat tidak disukainya. Melaknat adalah pernyataan berlepas diri (tabarru’) dari pelaku dan perbuatan kejahatan. Yang perlu dimasalahkan sesungguhnya bukan perbuatan melaknatnya, tapi rasionalitas kepantasan atas objek yang dilaknat. “Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang (syaitan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?” (47:14)

 

4). Di ayat 159 kata-kata وَالْمَلآئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (wal-malāikati wan-nāsi ajma’ĭn, para malaikat dan manusia seluruhnya) tidak ada. Yang ada ialah kata: اللَّاعِنُونَ [al-lā’inŭn, semua (makhluk) yang dapat melaknat]. Kelihatannya ayat 161 (juga 3:87) ini merinci pengertian اللَّاعِنُونَ (al-lā’inŭn). Yaitu bahwa اللَّاعِنُونَ (al-lā’inŭn) itu ialah الْمَلآئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (al-malāikati wan-nāsi ajma’ĭn). Yang dimaksud وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (wan-nāsi ajma’ĭn, dan manusia seluruhnya) di sini ialah seluruh manusia di akhirat, karena faktanya di dunia hanya sedikit manusia yang melaknat orang-orang yang menyembunyikan kebenaran Kitab Suci. Di akhirat, setelah semuanya menjadi jelas, penghuni surga dan neraka sudah ketahuan, maka sambil berjalan menuju tempat “peristirahatan terakhir”-nya para penghuni neraka melaknat orang-orang yang dulu di dunia mereka ikuti karena percaya bahwa mereka itu adalah orang-orang baik, orang-orang yang menjadi representasi dari Agama Allah.. Mereka baru menyesal karena tidak melaknat orang-orang ‘baik’ itu dulu di dunia. Masalah ini nanti kita komentari secara lebih memadai saat membahas ayat berikut ini: “(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: ‘Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.’ Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka.” (2:166-167)

 

5). Hadits Nabi saw.:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنِ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ بَعَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَالِدَ بْنَ الْوَلِيدِ إِلَى بَنِي أَحْسِبُهُ قَالَ جَذِيمَةَ فَدَعَاهُمْ إِلَى الْإِسْلَامِ فَلَمْ يُحْسِنُوا أَنْ يَقُولُوا أَسْلَمْنَا فَجَعَلُوا يَقُولُونَ صَبَأْنَا صَبَأْنَا وَجَعَلَ خَالِدٌ بِهِمْ أَسْرًا وَقَتْلًا قَالَ وَدَفَعَ إِلَى كُلِّ رَجُلٍ مِنَّا أَسِيرًا حَتَّى إِذَا أَصْبَحَ يَوْمًا أَمَرَ خَالِدٌ أَنْ يَقْتُلَ كُلُّ رَجُلٍ مِنَّا أَسِيرَهُ قَالَ ابْنُ عُمَرَ فَقُلْتُ وَاللَّهِ لَا أَقْتُلُ أَسِيرِي وَلَا يَقْتُلُ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِي أَسِيرَهُ قَالَ فَقَدِمُوا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرُوا لَهُ صَنِيعَ خَالِدٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَبْرَأُ إِلَيْكَ مِمَّا صَنَعَ خَالِدٌ مَرَّتَيْنِ

[Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Zuhri dari Salim bin Abdillah dari Ibnu Umar, dia berkata; Suatu ketika Nabi saw pernah mengutus Khalid bin Walid ke Bani—seingatku—Jadzimah, lalu ia menyeru mereka masuk Islam. Tapi untuk mengatakan “kami mau masuk Islam” pun mereka enggan, bahkan mereka mengatakan “kami keluar dari Islam, kami keluar dari Islam.” Maka Khalid pun menjadikan mereka tawanan, juga ada yang dibunuhnya. Ibnu Umar berkata; dan ia juga memberikan kepada setiap orang diantara kami seorang tawanan hingga di suatu pagi Khalid memerintahkan kepada setiap orang yang diserahi tawanan untuk membunuhnya. Ibnu Umar berkata: “Demi Allah, aku tidak membunuh tawanan yang ada padaku, begitupun sahabatku ia juga tidak membunuh tawanan yang ada padanya.” Ia berkata: Lalu mereka mendatangi Nabi saw dan mengadukan perbuatan Kholid kepada beliau. Maka Nabipun berdoa sambil mengangkat kedua tangan beliau: “Ya Allah, aku berlepas diri kepadamu dari perbuatan Khalid.” (beliau mengatakannya dua kali)] (Musnad Ahmad, no. 6093)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Kehidupan ini akan berakhir. Kiamat kecil setiap saat terjadi. Siapa yang tidak mebeberkan secara jujur hakikat kebenaran isi Kitab Suci hingga meninggal dunia, maka Allah, malaikat dan manusia seluruhnya kelak akan melaknatnya. Karena mereka, sadar atau tidak sadar, langsung atau tidak langsung, punya andil terhadap para penghuni neraka. Maka, wahai kawan,  berenunglah sedalam-dalamnya, sebelum terlambat.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply