Al-Baqarah ayat 160

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
January 2, 2012
0 Comments
1639 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 160

 

إِلاَّ الَّذِينَ تَابُواْ وَأَصْلَحُواْ وَبَيَّنُواْ فَأُوْلَـئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

[Kecuali mereka yang telah bertaubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya; dan Akulah Yang Maha Penerima taubat, Maha Penyayang.]

[Except those who repent and make amends and openly declare (the Truth): To them I turn; for I am Oft-returning, Most Merciful.]

 

1). Kalau ada orang yang Allah laknat, bisa dipastikan orang tersebut telah melakukan kesalahan yang amat besar di mata-Nya. Menyembunyikan kebenaran Kitab Suci yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya, yang dengannya Rasulullah menerjang semua penderitaan, penistaan, dan pengusiran dari kampung halaman datuk-datuknya sendiri, yang dengannya Baginda mengorbankan semua yang ada padanya termasuk keluarganya, yang dengannya fithrah manusia Dia kondisikan; pastilah sebuah dosa besar yang pantas mengundang laknat-Nya. Karena perbuatan itu sama saja dengan membajak tujuan asasi Allah dalam menciptakan manusia, yang akibat tak terhindarkannya ialah terjauhkannya manusia dari Rabb-nya. Sementara manusia yang terjauh dari Rabb-nya jauh lebih besar deritanya ketimbang seorang anak yang jauh dari ibunya. Sehingga bisa difahami kalau perbuatan itu jauh lebih besar dosanya dari kejahatan manapun. Betapa tidak, mayoritas kejahatan yang terjadi di muka bumi ini ialah tersebab tersembunyikannya petunjuk yang benar dan tersingkirkannya pelaksana petunjuk tersebut. “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab Suci (yaitu): ‘Hendaklah kalian menerangkan isi Kitab Suci itu kepada manusia, dan jangan kalian menyembunyikannya.’ Lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima.” (3:187)

 

2). Apakah orang yang telanjur Allah laknat karena menyembunyikan kebenaran dari kandungan Kitab Suci tidak mungkin lagi keluar daripadanya? Berkat Kemurahan-Nya tentu masih bisa, sebab Dia sendiri yang memperkenalkan diri-Nya dengan memaklumatkan: وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (wa anat-tawwābur-rahĭm,  dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang). Hanya saja ada syaratnya. Untuk diampuni, Allah mensyaratkan 3 (tiga) hal: تَابُواْ وَأَصْلَحُواْ وَبَيَّنُواْ [tābŭ wa ashlahŭ wa bayyanŭ, bertaubat, mengadakan perbaikan, dan menerangkan (kembali kebenaran yang telah disembunyikannya tersebut)]. Syarat pertama: تَابُواْ (tābŭ, bertaubat). Secara harafiyah artinya “melakukan penyesalan atau bersumpah untuk tidak mengerjakan (suatu perbuatan)”. Dalam hal ini, yang bersangkutan harus terlebih dahulu mengakui bahwa selama ini dia memang terlibat—langsung atau tidak langsung, sengaja atau tidak sengaja—dalam perbuatan menyembunyikan kebenaran, kemudian menyesali perbuatan tersebut. Setelah itu, dia harus bersumpah untuk sungguh-sungguh tidak mengulanginya lagi, dengan cara apapun, dengan bayaran apapun, dan risiko apapun. Itulah rahasianya kenapa ayat ini didahului oleh ayat tentang pentingnya mengingat Allah dan mensyukuri nikmat agama-Nya (152), ayat tentang sabar (153) dan ayat tentang hakikat orang yang terbunuh di jalan Allah (154); karena semua itu sangat berguna di dalam melakukan syarat yang pertama ini. “(Malaikat-malaikat) yang memikul Arasy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): ‘Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala’.” (40:7)

 

3). Syarat kedua: وَأَصْلَحُواْ (wa ashlahŭ, mengadakan perbaikan). Tidak cukup hanya dengan melakukan penyesalan dan berjanji untuk tidak mengulangi kembali kesalahan tersebut; yang bersangkutan juga harus memperbaiki diri, melakukan amal-amal saleh, dan berusaha memperbaiki kembali jejak-jejak kerusakan yang ditimbulkan oleh perbuatannya terdahulu. Karena seperti telah disampaikan sebelumnya, setiap tindakan manusia yang tidak sejalan dengan tuntunan Allah pasti mengakibatkan kerusakan, cepat atau lambat. Konstruksi perbuatan manusia adalah seperti anak panah yang meluncur dari busurnya; kalau sasarannya salah dari awal, maka untuk seterusnya salah, kecuali bisa mengejarnya untuk kemudian membelokkannya kepada arah yang benar. Agar kerusakan kemanusiaan yang ditimbulkan akibat menyembunyikan kebenaran Kitab Suci bisa diperbaiki, maka pelaku kerusakan itu—yaitu yang selama ini menyembunyikan kebenaran tersebut—mau tidak mau harus bersedia memperbaiki kembali jejak-jejak perbuatannya selama ini. “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.” (4:145-146)

 

4). Syarat ketiga: وَبَيَّنُواْ (wa bayyanŭ, dan menerangkan). Yaitu menjelaskan kembali kebenaran yang sesungguhnya, kebenaran Kitab Suci, yang selama ini mereka sembunyikan atau simpangkan. Bagaimana kalau yang bersangkutan telanjur telah menulis buku yang isinya sejalan dengan ‘kebenaran’ yang telah mereka sembunyikan tersebut. Tentu tidak ada cara lain kecuali dengan menulis buku lain yang isinya membantah atau memperbaiki buku sebelumnya. Atau paling tidak menulis buku yang mengkritisi buku-buku yang selama ini memengahruhinya serta membuatnya turut menyembunyikan kebenaran Kitab Suci tersebut, sehingga generasi-generasi yang datang belakangan tidak lagi tertipu oleh karya-karya semacam itu. Ini penting, karena bukulah yang menjadi induk kerusakan dan kebaikan bagi generasi-generasi yang datang sesudahnya. Anak-anak zaman pada umumnya memenuhi dahaga keingintahuannya dengan cara menyusu ke buku induk tersebut, sehingga darah-daging fikiran yang tubuh padanya adalah darah-daging generasi pendahulunya: terkunci di sana dan terperangkap di dalamnya. Padahal fikiran seharusnya dilepaskan terbang bebas di angkasa pencarian, karena menurut sifat dasarnya, fikiran adalah alat untuk “mencari”. “Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu (Muhammad), tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka syaitan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih. Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Kitab Suci (al-Qur’an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (16:63-64)

 

5). Hadits Nabi saw.:

حَدَّثَنَا يَعْلَى بْنُ عُبَيْدٍ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ سِيَاهٍ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ قَالَ أَتَيْتُ أَبَا وَائِلٍ فِي مَسْجِدِ أَهْلِهِ أَسْأَلُهُ عَنْ هَؤُلَاءِ الْقَوْمِ الَّذِينَ قَتَلَهُمْ عَلِيٌّ بِالنَّهْرَوَانِ فَفِيمَا اسْتَجَابُوا لَهُ وَفِيمَا فَارَقُوهُ وَفِيمَا اسْتَحَلَّ قِتَالَهُمْ قَالَ كُنَّا بِصِفِّينَ فَلَمَّا اسْتَحَرَّ الْقَتْلُ بِأَهْلِ الشَّامِ اعْتَصَمُوا بِتَلٍّ فَقَالَ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ لِمُعَاوِيَةَ أَرْسِلْ إِلَى عَلِيٍّ بِمُصْحَفٍ وَادْعُهُ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ فَإِنَّهُ لَنْ يَأْبَى عَلَيْكَ فَجَاءَ بِهِ رَجُلٌ فَقَالَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ كِتَابُ اللَّهِ

{ أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنْ الْكِتَابِ يُدْعَوْنَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرِيقٌ مِنْهُمْ وَهُمْ مُعْرِضُونَ }

فَقَالَ عَلِيٌّ نَعَمْ أَنَا أَوْلَى بِذَلِكَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ كِتَابُ اللَّهِ قَالَ فَجَاءَتْهُ الْخَوَارِجُ وَنَحْنُ نَدْعُوهُمْ يَوْمَئِذٍ الْقُرَّاءَ وَسُيُوفُهُمْ عَلَى عَوَاتِقِهِمْ فَقَالُوا يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ مَا نَنْتَظِرُ بِهَؤُلَاءِ الْقَوْمِ الَّذِينَ عَلَى التَّلِّ أَلَا نَمْشِي إِلَيْهِمْ بِسُيُوفِنَا حَتَّى يَحْكُمَ اللَّهُ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ فَتَكَلَّمَ سَهْلُ بْنُ حُنَيْفٍ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّهِمُوا أَنْفُسَكُمْ فَلَقَدْ رَأَيْتُنَا يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ يَعْنِي الصُّلْحَ الَّذِي كَانَ بَيْنَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَيْنَ الْمُشْرِكِينَ وَلَوْ نَرَى قِتَالًا لَقَاتَلْنَا فَجَاءَ عُمَرُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَسْنَا عَلَى الْحَقِّ وَهُمْ عَلَى بَاطِلٍ أَلَيْسَ قَتْلَانَا فِي الْجَنَّةِ وَقَتْلَاهُمْ فِي النَّارِ قَالَ بَلَى قَالَ فَفِيمَ نُعْطِي الدَّنِيَّةَ فِي دِينِنَا وَنَرْجِعُ وَلَمَّا يَحْكُمِ اللَّهُ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ وَلَنْ يُضَيِّعَنِي أَبَدًا قَالَ فَرَجَعَ وَهُوَ مُتَغَيِّظٌ فَلَمْ يَصْبِرْ حَتَّى أَتَى أَبَا بَكْرٍ فَقَالَ يَا أَبَا بَكْرٍ أَلَسْنَا عَلَى حَقٍّ وَهُمْ عَلَى بَاطِلٍ أَلَيْسَ قَتْلَانَا فِي الْجَنَّةِ وَقَتْلَاهُمْ فِي النَّارِ قَالَ بَلَى قَالَ فَفِيمَ نُعْطِي الدَّنِيَّةَ فِي دِينِنَا وَنَرْجِعُ وَلَمَّا يَحْكُمِ اللَّهُ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ إِنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَنْ يُضَيِّعَهُ اللَّهُ أَبَدًا قَالَ فَنَزَلَتْ سُورَةُ الْفَتْحِ قَالَ فَأَرْسَلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى عُمَرَ فَأَقْرَأَهَا إِيَّاهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَفَتْحٌ هُوَ قَالَ نَعَمْ

[Telah menceritakan kepada kami Ya’la bin ‘Ubaid dari Abdul Aziz bin Siyah dari Habib bin Abu Tsabit berkata; saya mendatangi Abu Wa’il di masjid keluarganya, saya bertanya kepadanya tentang kaum yang diperangi Ali di Nahrawan, hal-hal apa saja yang mereka terima, hal-hal apa saja yang mereka tak cocok, dan hal-hal apa saja sehingga Ali menganggap halal mereka diperangi. (Abu Wa’il ra) berkata; kami saat itu sedang di Shiffin, tatkala berkecamuk perang dengan penduduk Syam, mereka berpegang teguh untuk tetap di tempat yang tinggi. Lalu Amr bin al-Ash berkata kepada Muawiyah, “Utuslah seseorang kepada Ali dengan mushaf dan ajaklah dia kepada kitab Allah, (niscaya) dia tidak akan menolaknya.” Sang utusan pun datang menemui Ali dan berujar: “Antara kita dan kalian ada kitab Allah.Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bahagian yaitu al-Kitab (Taurat), mereka diseru kepada Kitab Allah supaya Kitab itu menetapkan hukum diantara mereka; Kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran)’. “ (3:23). Ali berkata; “Ya. Saya lebih layak untuk melakukan hal itu, antara kami dan kalian ada Kitab Allah.” Lalu datanglah kaum Khawarij—pada saat itu kami memanggil mereka dengan istilah al-Qurra—pedang mereka diletakkan pada pundak-pundak mereka. Mereka berkata; “Wahai Amirul Mukminin, kenapa kita menunggu mereka, kaum yang berada di atas dataran tinggi itu, tidak sebaiknyakah kita berjalan kepada mereka dengan membawa pedang kita, sampai Allah memutuskan antara kita dengan mereka?” Lalu Sahl bin Hunaif berkata; Wahai manusia, koreksilah diri kalian sendiri, kami telah mengadakan perdamaian pada saat Hudaibiyah antara Rasulullah saw dan kaum Musyrikin. Jika kami hendak berperang niscaya itu akan terjadi. Lalu datanglah Umar kepada Rasulullah saw berkata: “Wahai Rasulullah, bukankah kita berada di atas kebenaran dan mereka berada di atas kebatilan, bukankah jika ada yang terbunuh diantara kita berada di surga dan jika ada yang terbunuh dari mereka akan berada di neraka?” Beliau menjawab: “Ya.” (Umar ra) berkata (lagi); “Kenapa kita memberi kehinaan kepada agama kita ini dan kita kembali, bukankah Allah telah memutuskan antara kita dan mereka?” Beliau saw bersabda: “Wahai Ibnu Khattab, saya adalah Rasul Allah dan (Allah Azzawajalla) tidak akan menelantarkanku selamanya.” (Abu Wa’il ra) berkata; lalu Umar pulang dalam keadaan marah dan tidak sabar sehingga mendatangi Abu Bakar, seraya bertanya-tanya, “Wahai Abu Bakar, bukankah kita berada di atas kebenaran dan mereka di atas kebatilan, bukankah korban dari kita berada di syurga dan korban dari mereka di neraka?” (Abu Bakar) menjawab, “Ya.” (Umar ra) berkata (lagi): “Kenapa kita memberi kekurangan pada agama kita ini dan kita kembali, bukankah Allah telah memutuskan antara kita dan mereka?” Abu Bakar terus mengatakan; “Wahai Ibnu al-Khattab, dia adalah Rasulullah saw dan Allah Azzawajalla tidak akan menelantarkannya selama-lamanya.” (Abu Wa’il ra) berkata; lalu turunlah Surat al-Fath. Lantas Rasulullah saw mengutusku kepada Umar, dan saya membacakan kepadanya. Dia berkata; “Wahai Rasulullah, apakah itu berarti kemenangan?” Beliau menjawab: “Ya.”] (Musnad Ahmad, no. 15408)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Di antara yang menyebabkan Allah melaknat seseorang ialah perbuatannya menyembunyikan kebenaran isi Kitab Suci. Untuk lepas dari laknat itu, yang bersangkutan harus melakukan tiga hal: bertaubat, melakukan perbaikan, dan menjelaskan kembali secara terbuka kebenaran yang telah disembunyikannya tersebut. Ini penting, sebab ‘kebenaran’ yang salah menjadi pasung bagi generasi yang sudah kehilangan seni berfikirnya.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

3 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply