Al-Baqarah ayat 159

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
January 1, 2012
3 Comments
4002 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 159

 

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَـئِكَ يَلعَنُهُمُ اللّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ

[Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Kitab Suci, mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknat.]

[Those who conceal the clear (Signs) We have sent down, and the Guidance, after We have made it clear for the people in the Book,-on them shall be Allah’s curse, and the curse of those entitled to curse]

 

1). Di ayat 146 kita telah membahas penggalan ayat ini: وَإِنَّ فَرِيقاً مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (wa inna farĭqan minɦum layaktumŭnal-haqqa wa ɦum ya’lamŭn, dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui). Huruf ل (lam) dalam kata لَيَكْتُمُونَ (layaktumŭna, benar-benar menyembunyikan) adalah taukĭd (penguatan) yang berfungsi menegaskan kata يَكْتُمُونَ (yaktumŭna, menyembunyikan) sehingga bermakna “mereka (Ahli Kitab) niscaya atau sungguh-sungguh menyembunyikan kebenaran yang tertera dengan jelas di dalam Kitab Suci”. Artinya, di sepanjang sejarah selalu akan ada pihak-pihak yang berusaha sedapat mungkin menyembunyikan kebenaran yang terkandung di dalam Kitab Suci. Kepada mereka itulah tampaknya Allah menurunkan ayat 159 ini, dengan maksud menyampaikan sikap tegas-Nya kepada orang-orang tersebut. Firman-Nya: أُولَـئِكَ يَلعَنُهُمُ اللّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ [ŭlāika yal’anuɦumullāɦu wa yal’anuɦumul-lā’inŭn, mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknat].  Hanya saja di ayat 159 ini, pihak-pihak itu tidak lagi dibatasi pada Ahli Kitab saja. Pokoknya siapa saja, nonmuslim atau muslim, yang dengan sengaja menyembunyikan kebenaran Kitab Suci (termasuk al-Qur’an) maka Allah bersama orang-orang yang sejalan dengan-Nya akan melaknat mereka. “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Kitab Suci dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.” (2:174)

 

2). Pertanyaan mendasarnya: Bagaimana bisa menyembunyikan kebenaran yang Allah turunkan padahal—menurut ayat ini sendiri—sesuatu yang Dia turunkan itu ialah الْبَيِّنَاتِ (al-bayyināti, sesuatu yang sangat terang dan jelas)? Bisakah sesuatu yang terang benderang, seperti matahari, disembunyikan? Tentu bisa, karena kalau ancaman hukumnya ada, berarti faktanya juga memang ada. Sebagaimana matahari bisa disembunyikan dengan cara menebarkan awan hitam di mana-mana, sehingga manusia hanya menerima pantulan ‘cahaya’ yang sudah terkondisikan oleh awan hitam tersebut. Dari perpektif Islam, ada dua cara yang mungkin dilakukan untuk menyembunyikan kebenaran itu. Pertama, dengan tidak mebahasnya. Pembahasan lantas dipindahan ke sumber lain, bisa ke sumber sekunder (Hadits) atau bahkan ke sumber tersier (karangan para ulama dan ilmuwan). Apa yang diturunkan Allah dalam bentuk الْبَيِّنَاتِ (al-bayyināti, sesuatu yang sangat terang dan jelas) isinya ditabukan sedemikian rupa untuk dibahas, dengan alasan hanya Allah saja yang mengetahuinya; manusia cukup mengimaninya saja. Kedua, membahas namun menyimpangkan maknanya. Makna sejatinya tak pernah diungkap. Makna yang dimunculkan ialah makna yang diwarisi dari para pendahulu yang ternyata tak lepas dari fahaman mazhab, organisasi, dan penguasa. Buntutnya, kita mengecam pluralisme liberal namun secara internal kita memelihara pluralisme parokial. Al-Qur’an akhirnya tidak saja ‘gagal’ menjadi الْبَيِّنَاتِ (al-bayyināti, sesuatu yang sangat terang dan jelas), tapi juga ‘gagal’ menjadi الْهُدَى (alɦudā, petunjuk)  untuk menyatukan umat Islam ke dalam satu kekuatan politik yang padu demi kemaslahatan manusia dan kemanusiaan. “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka dan para saksi akan berkata: ‘Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka’. Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim.” (11:18)

 

3). Tujuan akhir kebenaran itu ialah untuk kemaslahatan seluruh manusia, bukan untuk satu kelompok tertentu saja: مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ (min ba’di mā bayyannāɦu linnāsi fĭl-kitābi, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Kitab Suci). Huruf مَا (mā) yang terselip di dalam penggalan ayat ini disebut “maushŭlah” (penyambung) terhadap kalimat sebelumnya, yang menujukkan bahwa “apa yang Allah turunkan” ialah sebuah keterangan dan petunjuk yang ditujukan kepada seluruh manusia. Suatu kelompok tertentu boleh saja berjuang sendirian dari awal, tapi tujuan perjuangan itu ialah membebaskan manusia dari belenggu-belenggu kemanusiaan seperti kebodohan, kemiskinan, kezaliman, penindasan, ketidakadilan, pengusiran, pencaplokan sumber daya alam, pengrusakan lingkungan, dan sebagainya. Karenanya, walaupun Kitab Suci itu hanya diimani oleh agama tertentu, tapi isinya terbuka untuk dibaca oleh manusia manapun, guna membuktikan bahwa Kitab Suci tersebut benar-benar untuk kemaslahatan mereka, sehingga mereka juga seyogyanya bahu-membahu membantu kelompok yang memperjuangkan terlaksananya kandungan Kitab Suci itu. Dalam konteks inilah Allah membeberkan tujuan pengutusan Rasul-Nya: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (21:107) Juga firman-Nya: “Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (al-Qur’an) supaya Dia mengeluarkan kalian (wahai manusia) dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu.” (57:9)

 

4). Karena untuk kemaslahatan seluruh manusia itulah sehingga Allah teramat sangat murka kepada mereka yang menyembunyikan kebenaran yang tertera dalam Kitab Suci (al-Qur’an). Firman-Nya: أُولَـئِكَ يَلعَنُهُمُ اللّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ [ŭlāika yal’anuɦumullāɦu wa yal’anuɦumul-lā’inŭn, mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknat]. Ayat ini tak saja mengungkapkan bahwa Allah pun melaknat, tapi juga menerangkan perlunya juga manusia melaknat orang yang Allah laknat. Juga mengingatkan bahwa sifat melaknat itu ada pada semua manusia sejak awal (fithrah). Dan laknat yang benar adalah laknat yang sejalan dengan laknat Allah swt. Ingat, orang yang mengaku bertakwa dan cinta kepada Allah ditandai oleh kesamaan kehendak dengan-Nya. Larangan Allah adalah larangannya. Murka Allah adalah murkanya. Redla Allah adalah redlanya. Laknat Allah adalah laknatnya. Jadi kalau ada orang yang mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya tetapi tidak melaknat orang yang Allah dan Rasul-Nya laknat, tidak murka kepada orang yang Allah dan Rasul-Nya murkai, tidak redla terhadap orang yang Allah dan Rasul-Nya redlai, mengindikasikan bahwa cintanya adalah palsu belaka. Dan pada akhirnya, orang yang seperti itu pasti “dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknat”. Al-Qur’an adalah الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى (al-bayyināti walɦudā, sesuatu yang sangat terang dan jelas, serta petunjuk) sehingga orang yang menyembunyikan kebenarannya sekalipun tak akan sanggup bersembunyi dari kejelasannya. Adakah tempat untuk bersembunyi dari terang-benderangnya ayat berikut ini? “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan (Allah juga) melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (4:93)

 

5). Hadits Nabi saw.:

أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى وَهُوَ ابْنُ زَكَرِيَّا بْنِ أَبِي زَائِدَةَ عَنْ ابْنِ حَيَّانَ يَعْنِي مَنْصُورًا عَنْ عَامِرِ بْنِ وَاثِلَةَ قَالَ سَأَلَ رَجُلٌ عَلِيًّا هَلْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسِرُّ إِلَيْكَ بِشَيْءٍ دُونَ النَّاسِ فَغَضِبَ عَلِيٌّ حَتَّى احْمَرَّ وَجْهُهُ وَقَالَ مَا كَانَ يُسِرُّ إِلَيَّ شَيْئًا دُونَ النَّاسِ غَيْرَ أَنَّهُ حَدَّثَنِي بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ وَأَنَا وَهُوَ فِي الْبَيْتِ فَقَالَ لَعَنَ اللَّهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَهُ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ غَيَّرَ مَنَارَ الْأَرْضِ

[Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya yaitu Zakariya bin Abu Zaidah dari Ibnu Hayyan yaitu Manshur dari Amir bin Watsilah, ia berkata; seseorang telah bertanya kepada Ali; apakah Rasulullah saw pernah merahasiakan sesuatu kepadamu tanpa orang lain? Kemudian Ali marah hingga wajahnya memerah, dan berkata; beliau tidak pernah merahasiakan sesuatu kepadaku tanpa orang lain, selain bahwa beliau telah menceritakan kepadaku empat perkataan, saya dan beliau berada dalam rumah. Beliau bersabda: “Allah melaknat orang yang melaknat orang tuanya, Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah dan Allah melaknat orang yang melindungi orang yang berbuat jahat, serta Allah melaknat orang yang mengubah patok tanah.”] (Sunan Nasa’i, no. 4346, dishahihkan oleh Syaikh Albani)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Adanya kata “laknat” menunjukkan bahwa laknat-melaknat adalah sesuatu yang lumrah dalam kehidupan ini. Yang menjadi persoalan, apakah orang yang kita laknat itu memang pantas untuk dilaknat? Agar jangan salah melaknat, maka Allah memberi tuntunan tentang siapa saja yang pantas untuk dilaknat. Maka kalau Anda mengaku bertakwa dan cinta kepada Allah tapi tidak melaknat orang yang Dia laknat, pertanda bahwa takwa dan cinta Anda itu palsu belaka—jangan-jangan Anda adalah bagian dari orang yang Allah laknat tersebut.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply