Al-Baqarah ayat 157

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
December 26, 2011
0 Comments
1829 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 157

 

أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

[Mereka itulah (orang-orang) yang mendapat salawat (keberkatan yang sempurna) dan rahmat dari Tuhanya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.]

[They are those on whom (Descend) blessings from Allah, and Mercy, and they are the ones that receive ance.]

 

1). Ayat ini berbicara tentang ganjaran dan sekaligus identitas bagi orang-orang beriman yang menyikapi secara positif seruan Allah di ayat 153. Yaitu bahwa orang-orang beriman yang (a) ber-isti’ānah dengan sabar dan salatnya, (b) menjadikan syahadah sebagai cita-cita hidupnya karena meyakini bahwa syahid (gugur di jalan Allah) itu pada dasarnya tidak mati tapi tetap hidup, dan (c) bersikap sabar dalam menghadapi berbagai macam musibah dan ujian; maka Allah akan menganugrahkan kepada mereka salawat (keberkatan yang sempurna) dan rahmat (kemurahan hati), serta Allah menunjuk mereka sebagai contoh orang-orang yang mendapatkan hidayah (petunjuk). Melalui ayat ini Allah hendak menginformasikan kepada kita bahwa yang namanya salawat, rahmat, dan hidayah itu tidak datang dengan serta-merta, melainkan harus diperjuangkan melalaui tiga cara tadi (a,b,dan c). Dengan demikian bisa dipastikan, orang yang mendapatkan ganjaran-ganjaran ini niscaya bukan orang sembarangan. Struktur kalimat di dalam ayat ini mirip dengan ayat yang menutup rangkaian ayat yang menjelaskan ciri-ciri orang yang bertakwa di awal Surat al-Baqarah: “Mereka itulah (orang-orang) yang (berjalan) menurut petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang menang.” (2:5)

 

2). Ganjaran pertama yang Allah akan berikan ialah صَلَوَاتٌ (shalawāt). Kata ini sama dengan bentuk jamak dari kata shalat (sembahyang), juga sama dengan ucapan penghormatan kita kepada Nabi. Coba perhatikan dua ayat berikut ini: وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ  [walladzĭna ɦum ‘alā shalawāti-ɦim yuhāfizhŭn, dan orang-orang yang memelihara sembahyang (lima waktu)-nya. (23:9)] dan حَافِظُواْ عَلَى الصَّلَوَاتِ والصَّلاَةِ الْوُسْطَى وَقُومُواْ لِلّهِ قَانِتِينَ [hāfizhŭ ‘alās-shalawāti was-shalātil wusthā wa qŭmŭ lillāɦi qānitĭn, peliharalah shalat-shalat (lima waktumu), dan (peliharalah pula) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan qunut. (2:238)]. Kata yang sama di ayat 157 ini tentu tidak bisa diartikan bahwa Allah bersembahyang kepada hamba-Nya yang sabar. Itu tidak mungkin, baik dari sisi syari’at maupun dari sisi hubungan struktural antara al-Khāliq (Pencipta) dan al-makhlŭq (ciptaan). Dari sisi hamba kepada Tuhannya, صَلَوَاتٌ (shalawāt) tentu bermakna “penyembahan”, dari sisi umat kepada Nabinya bermakna “pemuliaan”, sedang dari sisi Allah kepada hambanya yang beriman dan sabar berarti “pelimpahan” (berbagai nikmat, karunia, ilmu, dan keberkahan yang sempura). “Dialah (Allah) yang bershalawat (memberi keberkahan) kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (33:43) Siapakah gerangan orang yang Allah dan para malaikat bershalawat kepadanya itu? Allah sendiri yang menjawabnya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. (Maka) hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan (juga) ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (33:56) Kalau memang hanya Nabi saja yang mendapatkan صَلَوَاتٌ (shalawāt) lalu kenapa di awal ayat 157 ini Allah menggunakan kata tunjuk أُولَـئِكَ (ŭlāika, mereka itulah)? Allah mengajarkan tata-cara shalat kepada Nabi-Nya, kemudian Nabi mengajarkan itu kepada kita ummatnya bahwa tiap selesai membaca syahadat baik di tasyahhud awal ataupun akhir, wajib membaca shalawat yang bunyinya—telah disepakati oleh seluruh ulama—kurang lebih seperti ini (yang tidak boleh ditambah dan dikurangi): اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ (Allāɦumma shalli ‘alā muhammadin wa āli muhammadin, ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad). Kalau toh ada yang menambahinya, biasanya ditambah dengan shalawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Pertanyaannya: Selain kepada Nabi Muhammad saw, kenapa hanya kepada keluarga Nabi Muhammad saw saja? Allah sendiri yang menjawabnya: “… Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan dosa dari kalian, hai ahlul bait (keluarga Nabi), dan mensucikan kalian sesuci-sucinya.” (33:33)

 

3). Ganjaran kedua ialah رَحْمَةٌ (rahmah). Ini adalah salah satu nilai utama yang ada di dalam Diri-Nya. Sebagaimana yang Dia katakan sendiri: كَتَبَ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ [kataba ‘alā nafsiɦir-rahmah, Dia (Allah) telah menetapkan atas Diri-Nya rahmat (6:12)]. Karena yang tetap atas Diri-Nya ialah rahmat, maka yang bisa difahami ialah bahwa segala apa yang menjelma dari Diri-Nya pasti rahmat juga. Itu sebabnya Nabi yang diutus-Nya disebut-Nya rahmat (11:28, 11:63, 19:2, 19:21, 21:107, 27:77, dst.), Kitab Suci yang dikirim-Nya pun disebut-Nya rahmat (6:147, 7:203, 10:57, 11:17, 12:111, 16:89, 17:82, 28:43, dst.). Karenanya, seperti juga dengan  صَلَوَاتٌ (shalawāt), orang yang mendapatkan رَحْمَةٌ (rahmah) ini pastilah bukan orang sembarangan. Ketika Nabi Musa berjumpa dengn seorang hamba—yang keberadaannya dikenal ‘misterius’ kemudian disebut-sebut bernama Khaidir—Allah menyebutnya seperti ini: “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (18:65) Tentang Rasulullah, Allah bercerita: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah (sehingga) kamu (Muhammad) berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (3:159)

 

4). Kemudian Allah menggunakan kata tunjuk أُولَـئِكَ (ŭlāika, mereka itulah) sekali lagi. Dan kali ini yang diperjelas dengan penunjukan itu ialah: الْمُهْتَدُونَ (al-muɦtadŭn, orang-orang yang mendapat hidayah). Ini penting, sebab al-Qur’an sendiri menyebut dirinya sebagai الْهُدَى (al-ɦudā, petunjuk)—catatan: الْمُهْتَدُونَ (al-muɦtadŭn) dan الْهُدَى (al-ɦudā) mempunyai akar kata yang sama; الْمُهْتَدُونَ (al-muɦtadŭn) adalah isim maf’ŭl (kata benda objek), yang artinya ialah orang-orang yang telah diberi petunjuk sehingga mendapatkan kemampuan untuk menghidupkan pada dirinya الْهُدَى (al-ɦudā). Artinya, kalau kita—sebagai orang awam—mau mengikuti al-Qur’an secara konsisten dan menyeluruh maka cara yang paling gampang ialah cukup dengan mengenali dan mengikuti الْمُهْتَدُونَ (al-muɦtadŭn, orang-orang yang mendapat hidayah) ini. Dan, sesuai pembahasan sebelumnya, selain hidupnya diisi dengan tiga hal (a,b, dan c), الْمُهْتَدُونَ (al-muɦtadŭn, orang-orang yang mendapat hidayah) ini juga telah mendapatkan صَلَوَاتٌ (shalawāt) dan رَحْمَةٌ (rahmah) dari Tuhannya. “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (al-Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.” (43:36-37)

 

5). Hadits Nabi saw:

حَدَّثَنَا قَيْسُ بْنُ حَفْصٍ وَمُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ حَدَّثَنَا أَبُو فَرْوَةَ مُسْلِمُ بْنُ سَالِمٍ الْهَمْدَانِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عِيسَى سَمِعَ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ أَبِي لَيْلَى قَالَ لَقِيَنِي كَعْبُ بْنُ عُجْرَةَ فَقَالَ أَلَا أُهْدِي لَكَ هَدِيَّةً سَمِعْتُهَا مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ بَلَى فَأَهْدِهَا لِي فَقَالَ سَأَلْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ الصَّلَاةُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ عَلَّمَنَا كَيْفَ نُسَلِّمُ عَلَيْكُمْ قَالَ قُولُوا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

[Telah bercerita kepada kami Qais bin Hafsh dan Musa bin Isma’il keduanya berkata telah bercerita kepada kami ‘Abdul Wahid bin Ziyad telah bercerita kepada kami Abu Farwah Muslim bin Salim Al Hamdaniy berkata telah bercerita kepadaku ‘Abdullah bin ‘Isa dia mendengar ‘Abdur Rahman bi Abi Laila berkata; Ka’ab bin ‘Ujrah menemui aku lalu berkata; “Maukah kamu aku hadiahkan suatu hadiah yang aku mendengarnya dari Nabi saw.” Aku jawab; “Ya, hadiahkanlah aku“. Lalu dia berkata; “Kami pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; ‘Wahai Rasulullah, bagaimana caranya kami bershalawat kepada tuan-tuan kalangan Ahlul Bait sementara Allah telah mengajarkan kami bagaimana cara menyampaikan salam kepada kalian?’. Maka Beliau bersabda: ‘Ucapkanlah: Allahumma shalli ‘alā Muhammadin wa ‘alā āli Muhammad kamaa shollaita ‘alā Ibrahiim wa ‘alā āli Ibrahim innaka hamiidun majid. Allahumma baarik ‘alā Muhammadin wa ‘alaa āli Muhammadin kamaa baarakta ‘alā Ibrahiim wa ‘alā āli Ibrahim innaka hamiidun majĭd. (Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahiim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkah Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah berilah barakah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi barakah kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkah Maha Terpuji dan Maha Mulia)’.”] (Shahih Bukhari, no. 3119)

 

 

 

AMALAN PRAKTIS

Dalam kehidupan ini, petunjuk memgang peranan yang teramat penting. Karena setiap kita mencari sesuatu yang belum kita kenal, kita butuh orang lain yang mengenalnya untuk menunjukkan itu kepada kita. Benar tidaknya yang ditunjuk tergantung pada jujur tidaknya yang menunjuk. Apabila Allah yang mengatakan: “Mereka itulah  yang mendapat shalawat dan rahmat dari Tuhanya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”; dijamin itu adalah petunjuk yang benar. Maka ikutilah orang itu.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

2 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

Leave a Reply