Al-Baqarah ayat 149

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
November 29, 2011
0 Comments
2189 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 149

 

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِنَّهُ لَلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

[Dan dari mana saja kamu ke luar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram; dan sesungguhnya ketentuan itu benar-benar suatu kebenaran dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kalian kerjakan.]

[And from whatsoever place you come forth, turn your face towards the Sacred Mosque; and surely it is the very truth from your Lord, and Allah is not at all heedless of what you do.]

 

1). Secara maknawi, ayat ini sama dengan ayat 144. Maka sebelum membaca komentar ayat ini sebaiknya baca terlebih dahulu komentar ayat 144 tersebut. Berkiblat ke Masjidil Haram bukan perkara kecil, bukan sekedar perkara membalikkan badan ke arah Ka’bah. Buktinya, Allah mengulangi masalah ini sebanyak tiga kali (144, 149, dan 150). Bahkan kalimat ini وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ (wa min haytsu kharajta fawalli wajɦaka syathral masjidil harām, dan dari mana saja kamu ke luar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram) diulangi secara persis di ayat berikutnya (150). Pengulangan ini menunjukkan urgensi dan adanya sebuah upaya wanti-wanti dari Allah kepada umat Islam. Di ayat 144 bunyi ayatnya: وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّواْ وُجُوِهَكُمْ شَطْرَهُ (wa haytsu mā kuntum fa wallŭ wujŭɦakum syathraɦ, dan di mana saja kalian berada, palingkanlah mukamu ke arahnya). Perbedaan utamanya pada klausa وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ (wa min haytsu kharajta, dan dari mana saja kamu ke luar)—di ayat 149 dan 150—dan وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ (wa haytsu mā kuntum, dan di mana saja kalian berada)—di ayat 144. Secara geografis keduanya bisa diartikan di negara manasaja ummat Islam berada (144) atau dari negara mana saja mereka keluar (149 dn 150), maka yang dituju harus selalu Masjidil Haram. Tetapi khusus untuk ayat 149 dan 150, bisa juga bermakna “dari lingkungan material mana saja atau dari tataran duniawi mana saja keluar”. Penekanannya di sini (149 dan 150) justru pada upaya ruhaniah untuk keluar dari sangkar mayapada yang sumpek menuju samudra jiwaraya yang nirbatas. “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (57:20)

 

2). Apabila kita bisa menghayati bahwa kehidupan dunia ini hanyalah bagai tanaman yang tumbuh, kemudian berbunga, berbuah, lalu kering dan hancur kembali, maka akan sangat mudah memahami bahwa berpaling ke Masjidil Haram (tempat sujud yang penuh dengan kemuliaan) adalah الْحَقُّ (al-haqq), suatu kebenaran. Karena berpaling ke sana berarti mengorientasikan wajah jiwa kita menuju ke keabadian dan kesempurnaan. Sekaligus menjadi tolok ukur pihak-pihak yang menyikapinya, termasuk mereka yang mengaku sebagai penguasa dan pelayan atasnya. Inilah diantara hal penting yang Allah inginkan dengan anak kalimat: وَإِنَّهُ لَلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ (wa innaɦu lalhaqqu min rabbika, dan sesungguhnya ketentuan itu benar-benar suatu kebenaran dari Tuhanmu). Maka siapa yang merusakkan kehormatan dan menistakan kemuliaan Masjidil Haram, sama dengan menentang kebenaran dan terjatuh ke dalam lembah kebatilan. “Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul melainkan sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah (rasul-rasul tersebut) dengan cara yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat Kami dan peringatan-peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokkan.” (18:56)

 

3). Setelah membantai (dengan cara mencincang tubuh dan memenggal kepala) Sayyidina Husain—cucunda Nabi yang sangat dicintainya—beserta pengikut dan keluarganya di Padang Karbala, Yazid bin Mu’awiyah bin Abu Sufyan lalu mengarahkan bala tentaranya yang terkenal kejam itu ke Madinah dan Mekah untuk mengejar Abdullah bin Zubair (cucu Abu Bakar ash-Shiddiq ra) yang tidak mau berbaiat kepadanya. Karena Abdullah bin Zubair berlindung di dalam Ka’bah, maka pasukan Yazid melontarkan panah-panah api ke arahnya sehingga membuat Ka’bah terbakar dan nyaris runtuh secara total—sayangnya sebahagian besar kaum Muslim mengakui Yazid bin Mu’awiyah sebagai Khalifah Islam dan bahkan juga memberinya gelar Amirul Mukminin (cerita yang lebih lengkap tentang perbuatan biadab Yazid ini, silahkan baca kembali komentar ayat 85 dan ayat 127, masing-masing di poin 5). Padahal, kalau Masjidil Haram saja oleh Allah disebut sebagai وَإِنَّهُ لَلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ (wa innaɦu lalhaqqu min rabbika, dan sesungguhnya ketentuan itu benar-benar suatu kebenaran dari Tuhanmu), lalau bagaimana pula dengan Ka’bah-nya, yang termasuk syi’ar Allah yang terbilang sangat penting? Coba timbang perbuatan Yazid dan penguasa-penguasa haus darah dan haus kekuasaan melalui ayat ini: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian melanggar syi`ar-syi`ar Allah, dan jangan (pula) melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kalian telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian (mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (5:2)

 

4). Buntut ayat وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (wa māllaɦu bighāfilin ‘ammā ta’malŭn, dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kalian kerjakan.) bisa dimaknai bahwa siapa saja yang merusakkan kehormatan Masjidil Haram atau sengaja memalingkan wajah jiwanya dari sana, niscaya Allah akan menghancurkannya, sebagaimana hancur dan hilangnya jejak-jejak keturunan Bani Umayyah baik di Syria ataupun di Spanyol. Karena Allah tidak pernah menutup mata terhadap seluruh perbuatan makhluk-Nya, apalagi terhadap kejahatan teologis seperti yang dilakukan Yazid itu. “Bahwasanya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, ialah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (5:33) Ayat inilah yang digunakan Nabi mengusir Marwan bin Hakam dari Madinah karena kejahatan-kejahatan yang dilakukannya—hebatnya lagi sepupu Utsman bin Affan ra ini belakangan justru menjadi Khalifah Dinasti Umayyah yang ke-4 yang juga bergelar Amirul Mukmini paska meninggalnya Mu’awiyah bin Yazid bin Mu’awiyah bin Abu Sofyan.

 

5). Telah mengabarkan kepada kami ‘Ali bin Hujr dia berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Mushir dari Al-A’masy dari Ibrahim dia berkata; “Aku pernah membaca Al-Qur’an di hadapan Bapakku di jalan, dan ketika aku membaca ayat Sajdah dia segera sujud. Aku berkata kepadanya, ‘Wahai ayahku, apakah engkau sujud di jalan?’ dia menjawab; Sesungguhnya aku mendengar Abu Dzarr berkata; ‘Aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw tentang masjid yang pertama kali dibangun, lalu beliau menjawab. ‘Masjidil Haram’. Aku katakan lagi, ‘Lantas masjid mana lagi?’ Beliau menjawab, ‘Masjidil Aqsha’. Aku berkata lagi, ‘Berapa lama jarak antara keduanya? ‘ Rasulullah menjawab, ‘Empat puluh tahun. Bumi bagimu adalah masjid, maka di mana saja kamu mendapatkan (waktu) shalat maka shalatlah’.” (HR. Nasa’i no.683, Shahih menurut Syaikh Albani)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Kematian ialah keluarnya seseorang dari tubuh duniawinya. Kemanakah mereka setelah itu? Kembali ke ‘Masjidil Haram’ (tempat sujud yang penuh kemuliaan, yaitu Allah swt). Maka apa pun status sosial Anda dan di tanah air manapun Anda berpijak, arahkanlah biduk kehidupan Anda ke Masjidil Haram. Itulah kebenaran. Dan Allah tidak pernah lalai dari apapun yang Anda lakukan, tertutup ataupun terbuka.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

3 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply