Al-Baqarah ayat 145

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
November 21, 2011
0 Comments
1475 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 145

 

وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوْتُواْ الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَّا تَبِعُواْ قِبْلَتَكَ وَمَا أَنتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ وَمَا بَعْضُهُم بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم مِّن بَعْدِ مَا جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّكَ إِذَاً لَّمِنَ الظَّالِمِينَ

[Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim.]

[And even if you bring to those who have been given the Book every sign they would not follow your qiblah, nor can you be a follower of their qiblah, neither are they the followers of each other’s qiblah, and if you follow their desires after the knowledge that has come to you, then you shall most surely be among the unjust.]

 

1). Andaikata kiblat yang dimaksud di ayat sebelumnya hanyalah kiblat fisik, maka tentu ayat ini kehilangan signifikansinya. Karena apa susahnya—secara fisik—setiap orang atau setiap kelompok mengarahkan kiblatnya ke Masjidil Haram. Buktiya, olah raga sesulit apa pun, tubuh manusia selalu bisa melakukannya. Sedangkan ayat ini menjelaskan bahwa apapun yang Nabi lakukan niscaya orang Yahudi dan Nasrani tidak akan mengikuti kiblatnya. وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوْتُواْ الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَّا تَبِعُواْ قِبْلَتَكَ [wa lain-ataytal ladzĭna ŭtŭl kitāba bikulli āyatin mātabi’ŭ qiblataka, Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu]. Bayangkan, andaikata semua mukjizat, semua tanda kebesaran Allah, diperlihatkan kepadanya, mereka toh tidak akan berkiblat kepada kiblat Nabi Muhammad saw. Ini menunjukkan bahwa yang paling berat ialah menjadikan Masjidil Haram sebagai kiblat jiwa, kiblat pikiran, kiblat ideologi. Kenapa? Karena ini menyangkut “temuan” di dalam pencarian masin-masing orang. Seseorang tidak mungkin mengetahui sesuatu manakala pikirannya belum “menemukan” sesuatu itu. Dan tidak mungkin bisa seseorang melakukan sesuatu dengan sabar apabila orang tersebut belum “mengethui” sesuatu tersebut. “Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” (18:68).

 

2). Itu sebabnya Allah dengan segera melanjutkan: وَمَا أَنتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ (wa mā anta bitābi’in qiblataɦum, dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka). Artinya, itu tidak saja berlaku bagi orang Yahudi dan Nasrani, tapi juga berlaku bagi orang Islam, berlaku bagi siapa saja.   Contoh lain: Abu Jahal, Abu Lahab dan Abu Sofyan adalah tiga tokoh besar kafir Quraisy yang tiap hari menghadap ke Ka’bah dan bertawaf padanya, tetapi jiwa dan pikirannya tidak pernah menghadap ke sana. Ketiganya bahkan berhasil membukukan dirinya sebagai Tiga Serangkai tokoh terkemuka dalam memusuhi Nabi dan pengikutnya sejak di Mekah hingga di Madinah. Putra Abu Sofyan, Mu’awiyah, melestarikan kebencian ayahnya kepada Islam dengan mengangkat senjata, memerangi Khalifah Rasyidin yang sah, Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib kwh, mengorbankan ribuan sahabat dan penghafal al-Qur’an, kemudian merubah Pemerintahan Nabawi (yang bersusah-susah dibangun Nabi) menjadi Pemerintahan Dinasti—yang dikenal sebagai Dinati Umayyah. Dia berdalih bahwa Islam tidak mnsyaratkan Nabi memilih pengganti sepeninggalnya, tetapi dia sendiri memilih Yazid, putranya yang terkenal kejam itu, sebagai pengganti sepeninggalnya. Sayangnya, dalam hal ini, kebanyakan kita lebih sependapat dengan Mu’awiyah ketimbang dengan Nabi. Sehingga raja-raja Dinasti Umayyah kita terima secara legal sebagai Kalifah Islam. Padahal, selaku orang Islam, pedomannya sangat jelas: “…Tidak sama (derajatnya) di antara kalian orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka (yang menafkahkan harta dan berperang sebelum penaklukan Mekah) lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu….” (57:10) Dari Zaid bin Wahb dari ‘Abdurrahman bin Abdu Rabbil Ka’bah dari Abdullah bin Amru, Nabi saw bersabda: “Barangsiapa membaiat seorang imam, ia jabat tangannya dan menyerahkan keikhlasan hatinya (untuk setia), maka hendaklah ia berikan hak ketaatan padanya semampu mungkin. Jika ada pihak lain yang ingin mengambil kekuasaannya hendaklah ia penggal lehernya.” (HR. Abu Daud No. 3707, disahihkan oleh Syaikh Albani).

 

3). Jadi sangat mungkin diantara kaum Muslim sendiri masih banyak yang belum menghadapkan wajahnya secara benar ke Masjidil Haram. Sesuai dengan sifat keumuman ayat ini: وَمَا بَعْضُهُم بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ (wa mā ba’dluɦum bitābi’i qiblata ba’dlin, dan sebahagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain.). Memang, dlamir (kata ganti)  هُمْ(ɦum, mereka) di penggalan ayat ini bisa merujuk ke penggalan ayat sebelumnya: الَّذِينَ أُوْتُواْ الْكِتَابَ [ladzĭna ŭtŭl kitāba, orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil)]. Tetapi bisa juga merujuk ke semua manusia, karena hukum yang dikandung ayat ini bersifat umum, berlaku kepada siapa saja. Apalagi kata أَنتَ (anta, kamu) pada: وَمَا أَنتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ (wa mā anta bitābi’in qiblataɦum, dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka) hanya ditujukan secara spesifik kepada Nabi. Coba renungkan kandungan ayat berikut ini: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pelindung bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kalian mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (5:51)

 

4). Setiap orang hanya akan berkiblat kepada pilihan jiwanya; dan pilihan jiwa seseorang hanya mengikuti ilmunya. Bisa dikatakan, kedudukan spiritual dan intelektual seseorang menunjukkan kapasitas dan kualitas keilmuannya. Ungkapan awamnya: “Jenis buku yang Anda baca menunjukkan siapa Anda.” Kepada Nabi Muhammad saw, Allah berfirman: وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم مِّن بَعْدِ مَا جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّكَ إِذَاً لَّمِنَ الظَّالِمِينَ (wa lainittaba’ta aɦwā-aɦum min ba’di mā jā-aka minal’ilmi innaka laminazhālimĭn, dan sungguh jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim). Perhatikan kata الْعِلْمِ (ilmu) di sana, menunjukkan bahwa kiblat seseorang mewakili ilmunya. Di sinilah urgensi Firman Allah berikut ini: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir. Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” (5:57)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Apabila jiwa seseorang telah memilih kiblat hidupnya berdasarkan ilmu yang ada padanya, maka tidak ada manusia manapun yang bisa mengalihkannya ke kiblat yang lain. Kecuali kalau bisa membuktikan bahwa ilmu yang dimilikinya itu tidak valid. Disinilah Islam memandang pentingnya argumentasi, pentingnya logika. Maka sangat disayangkan kalau manusia mengaku berakal tapi mengharamkan belajar hukum akal (logika).

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

2 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

Leave a Reply