Al-Baqarah ayat 142

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
September 9, 2011
0 Comments
1333 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 142

 

سَيَقُولُ السُّفَهَاء مِنَ النَّاسِ مَا وَلاَّهُمْ عَن قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُواْ عَلَيْهَا قُل لِّلّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

[Orang-orang bodoh di antara manusia berkata: “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.”]

[The fools among the people will say: What has turned them from their qiblah which they had? Say: The East and the West belong only to Allah; He es whom He likes to the right path.]

 

1). Di ayat-ayat sebelumnya kita telah melihat bagaimana konsep imamah (124) menjadi tak terpisahkan dari konsep kenabian dan kerasulan. Dan bagaimana konsep (imamah, kenabian dan kerasulan) itu mengalir dari waktu ke waktu, dari generasi ke genarasi, melalui ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) Nabi Ibrahim as yang suci, serta menjadikan alur keagamaan di sepanjang garis keturunan suci itu sebagai مِّلَّة (millah) yang hanĭyf (lurus), yang terbebas dari sifat-sifat syiriq (135). Hanya ajaran yang sejalan dengan مِّلَّة (millah) yang hanĭyf (lurus) itulah yang disebut صِبْغَةَ اللّهِ (shibghah Allah), (138). Selainnya bukan. Dari situ bisa kita fahami bahwa مِّلَّة (millah) yang hanĭyf (lurus) selalu meniscayakan adanya PUSAT, yang merupakan jelmaan dari ajaran TAUHID—substansi dari مِّلَّة (millah) yang hanĭyf (lurus). Artinya, dalam مِّلَّة (millah) yang hanĭyf (lurus) itu, segala sesuatunya harus bergerak menunju ke yang SATU, mulai dari penyembahan (kepada Allah), keberpedomanan (kepada Kitab Suci yang sedang berlaku), ketaatan (kepada nabi, rasul, dan imam yg sedang bertugas), sampai kepada arah peribadatan (kepada kiblat yang ditunjuk). Untuk apa? Agar terwujud yang namanya order (tatanan). Dalam al-Qur’an, tatanan inilah yang disebut SALAM. Dan, Islam, artinya agama yang menciptakan tatanan, SALAM. Karenanya hanya yang mengikuti petunjuk Allah-lah yang akan mendapat asSalam (20:47), mampu menciptakan tatanan, SALAM. Sebab Allah sendiri adalah as-Salam (59:23). Hadis Nabi: “Abdullah berkata, ‘Pernah kami shalat di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan kami mengucapkan, ‘ASSALAMU ALALLAHI (Semoga keselamatan atas Allah) ‘, maka beliau berkata (dengan maksud tdk perlu mengucapkan salam kepada Allah, karena): ‘Sesungguhnya Allah adalah as-Salam‘.…” (HR. Bukhari no. 6833)

 

2). Hingga beberapa ayat berikut, Allah membincang soal pemindahan kiblat dari Masjidil Aqsha (di Yerussalem, Palestina) ke Masjidil Haram (di Mekah). Berdasarkan pembahasan di atas (poin 1), substansi kiblat dalam peribadatan sebetulnya bukan pada bendanya, tapi pada ke-SATU-an orientasinya. Yang ke-SATU-an itu sendiri haruslah menunjukkan ketaatan kepada pemegang otoritas pelaksana dan penanggungjawab risalah, yang juga merupakan pengejawantahan kehendak-kehendak Allah di tengah-tengah manusia. Maka menentang penunjukan kiblat sama dengan menentang otoritas pelaksana dan penanggung jawab risalah. Dan menentang pemilik otoritas pelaksana dan penangungjawab risalah sama dengan menentang kehendak Allah. Menentang kehendak Allah sama dengan menentang Allah itu sendiri. Untuk itu, orang atau ajaran yang seperti itu tidak pantas lagi disebut mengikuti مِّلَّة (millah) yang hanĭyf (lurus). Mereka jelas-jelas telah menodai صِبْغَةَ اللّهِ (shibghah Allah). Pantas kalau Allah menyebut mereka sebagai السُّفَهَاء (as-sufaɦāu, orang bodoh). Sebutan ini konsisten saat Allah juga menyebut orang-orang yang menentang مِّلَّة (millah) Ibrahim yang hanĭyf (lurus) sebagai orang yang membodohi dirinya sendiri: “Dan tiada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, karena benar-benar Kami telah memilihnya di dunia, dan di akhirat dia sungguh termasuk orang-orang yang saleh.” (2:130). Kata ini juga Allah gunakan untuk orang-orang munafik (baca kembali pembahasan soal ini di Surat al-Baqarah/2 ayat 13): “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Berimanlah kalian sebagaimana manusia (lain) beriman’, mereka menjawab: ‘Pantaskah kami beriman sebagaimana السُّفَهَاء (as-sufaɦāu, orang-orang bodoh) itu beriman?” Ketahuilah, sungguh merekalah السُّفَهَاء (as-sufaɦāu, orang-orang bodoh), tetapi mereka tidak mengetahui”.

Sebutan ini juga digunakan oleh Nabi Musa terhadap mereka yang menolak tugas imamah Nabi Harun yang dipersiapkan dan dipilih Musa sebelumnya, sehingga begitu besarnya dosa mereka sampai-sampai Nabi Musa memilih 70 orang (sebagai wakil-wakil dari mereka) untuk melakukan pertobatan. “Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk menjumpai Kami. Maka ketika mereka digoncang gempa, Musa berkata: ‘Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan السُّفَهَاء (as-sufaɦāu, orang-orang bodoh) di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya’.” (7:155)

 

3). Pembahasan sperti itulah (di poin 1 dan 2) yang tidak dimengerti oleh kalangan السُّفَهَاء (as-sufaɦāu, orang-orang bodoh) sehingga mereka berkotek saat Allah menyuruh Nabi-Nya untuk memindahkan kiblat dari Baitulmaqdis ke Baitullah: ‘Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?’ Pertanyaan ini jelas bersifat sinistik, sangat negatif terhadap orang Islam. Mereka menilai Nabi Muhammad itu tidak bisa dipegang kata-katanya karena mudah berubah, tidak konsisten. Mereka lupa bahwa perbuatan nabi adalah perbuatan Allah juga. Dan setiap perbuatan Allah pasti bertujuan. Pertanyaan sinistik mereka mengindikasikan bahwa mereka menuduh Nabi berbuat tanpa tujuan, berbuat hanya menurut hawa nafsunya. Mereka tidak faham gagasan besar agama Ibrahimik, yang diasaskan oleh Nabi Ibrahim dengan memulai perjalanan ilahiahnya dari Babilonia, Irak, menuju ke Palestina, dan berakhir di Ka’bah, di Mekah. Artinya, Baitullah yang di Mekah itulah yang menjadi puncak perjalanan panjang Nabi Ibrahim, karena Allah bermaksud menjadikan tempat itu sebagai مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْناً (matsābatan linnāsi wa amnā, tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman)—(2:125). Karena memang Baitullah yang di Mekah itulah rumah ibadah pertama yang dibangun: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia” (3:96). Sehingga kalau Allah belum memindahkan kiblat ke Baitullah, berarti tujuan Allah belum tercapai sementara Nabi Muhammad sudah merupakan Nabi terakhir yang membawa risalah dan syari’at terakhir. Padahal Allah sungguh tidak mungkin gagal mewujudkan tujuan-Nya. Kesimpulannya, dari sisi kiblat, orientasi ibadah, tujuan Allah sudah tercapai dengan turunnya ayat 142 ini; salah satu tujuan dari gagasan besar yang terkandung dalam agama-agama Ibrahimik sudah terwujud. Ayat berikut menunjukkan Baitullah bukan saja pusat kemuliaan manusia tapi juga pusat kemulian segala makhluk: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian melanggar syi`ar-syi`ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kalian telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian (mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kalian dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (5:2)

 

4). Tentang pandangan yang menilai Allah bertahta di kiblat-kiblat itu, atau identik dengannya, Dia sendiri yang menjawab: لِّلّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ (lillaɦil-masyriqu wal-maghribu, dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat). Dia ayat 115, bunyi ayat ini dilanjutkan dengan: فَأَيْنَمَا تُوَلُّواْ فَثَمَّ وَجْهُ اللّهِ (fa-aynamā tuwallŭw fa-tsamma wajɦullaɦ, maka ke manapun kalian menghadap di situlah wajah Allah). Ya, ke manapun kalian menghadap di situlah wajah Allah, karena Dialah Pencipta dan Pemilik semua arah angin, semua orientasi dan kiblat, sehingga tidak mungkin kita meletakkan-Nya di salah satu kiblat tersebut. Dengan demikian, tertolak semua anggapan—baik dari kalangan السُّفَهَاء (as-sufaɦāu, orang-orang bodoh) ataupun yang beribadah menghadap ke sana—bahwa yang dihadapi saat berkiblat ke sana adalah Allah. Bahkan agar kesalahfahaman seperti itu tidak terjadi, terutama pada waktu salat dan tawaf, Allah mempertegas: “Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik Rumah ini (Ka`bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (106:3-4) Sehingga salat menghadap ke Baitullah atau tawaf mengelilinya sama sekali tidak ada hubungannya dengan menyembah susunan batu-batu itu. Ini benar-benar soal ke-SATU-an dan per-SATU-an saja. Maka siapa saja yang merusakkan ke-SATU-an dan per-SATU-an tersebut, walaupun yang bersangkutan kapalan lututnya saking rajinnya salat menghadap ke Baitullah, atau tiap tahun berhaji ke Baitullah, pada hakikatnya tetap tidak berkiblat ke Baitullah. “Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas (Kitab Suci) kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (3:105)

 

5). Kalau di ayat 115, anak kalimat : لِّلّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ (lillaɦil-masyriqu wal-maghribu, dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat) disambung dengan penggalan ayat: فَأَيْنَمَا تُوَلُّواْ فَثَمَّ وَجْهُ اللّهِ (fa-aynamā tuwallŭw fa-tsamma wajɦullaɦ, maka ke manapun kalian menghadap di situlah wajah Allah). Maka di ayat 142 ini, disambung dengan: يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ (yaɦdĭ man yasyāu ilā shirāthin mustaqĭm, Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus). Kalau kita gabungkan keduanya, kita akan sampai pada pemahaman bahwa, semua realitas (yang empirik dan rasional) bisa menjadi ALAMAT untuk sampai kepada Allah karena semua adalah milik-Nya. Allah berkehendak memberi ɦidayah kepada siapa saja yang juga menghidupkan kehendak itu pada dirinya, kapanpun, dimanapun, dan menghadap kemanapun. Karena kehadira-Nya melintasi ruang-waktu dan mengatasi arah angin, tidak terikat pada kiblat tertentu. Dengan demikian, untuk mendapatkan ɦidayah bukanlah dengan menghadapkan diri ke (atau bahkan tinggal di sekitar) Baitullah. Tetapi dengan cara menghidupkan kehendak untuk (mendapatkan ɦidayah) itu. Salat menghadap ke Baitullah atau berhaji ke sana adalah tanda mendapatkan ɦidayah. Namun, tidak semua orang yang menghadap ke sana mendapat ɦidayah. Sebab ɦidayah-Nya adalah صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ  (shirāthin mustaqĭm,jalan yang lurus), jalan yang tidak mencerai-beraikan manusia dari ke-SATU-an dan per-SATU-an. “Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat yang menjelaskan. Dan Allah menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (24:45-46)

 

6). Penggunaan kata سَيَقُولُ (sayaqŭlu, akan berkata) menunjukkan bahwa kasus السُّفَهَاء (as-sufaɦāu, orang-orang bodoh) ini tidak dibatasi pada kalangan السُّفَهَاء (as-sufaɦāu, orang-orang bodoh) yang hidup di zaman Nabi seperti orang-orang Yahudi, otang-orang Nashrani, orang-orang Musyrik, dan orang-orang Munafik. Karena ada dua bentuk peng-umuman (generalisasi) di sana: kata سَيَقُولُ (sayaqŭlu, akan berkata) dan kata النَّاسِ (an-nās, manusia). Menurut ahli bahasa, huruf س (sĭn) di dalam kata سَيَقُولُ (sayaqŭlu, berkata) ini bukanlah istiqbāl (akan datang, di suatu waktu tertentu), tetapi istimrār (tetap berulang, berkelanjutan). Begitu juga dari kata النَّاسِ (an-nās, manusia), tidak menunjukkan adanya batasan, baik tempat atau waktu, sehingga berlaku pada manusia manapun dan diwaktu kapanpun. Dengan begitu, السُّفَهَاء (as-sufaɦāu, orang-orang bodoh) ini selalu ada, berhadap-hadapan dengan PUSAT pengendalian risalah, untuk mencegah tegaknya tatanan yang SALAM. Maka hadits Nabi yang berkenaan dengan pemindahan kiblat ini, hanyalah permulaan dari sebuah peristiwa yang akan berkelanjutan. “Al Bara’ bin ‘Azib ra berkata, ‘Rasulullah saw shalat mengahdap Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan, dan Rasulullah saw menginginkan kiblat tersebut dialihkan ke arah Ka’bah. Maka Allah menurunkan ayat: [‘Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit ‘ (2: 144)]. Maka kemudian Nabi saw menghadap ke Ka’bah. Lalu berkatalah السُّفَهَاء مِنَ النَّاسِ (orang-orang bodoh di antara manusia), yaitu orang-orang Yahudi: ‘(Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?’ Katakanlah: ‘Kepunyaan Allah-lah timur dan barat. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus’ (2: 144)….” (HR. Bukhari no.384)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Agama yang benar adalah logika Tuhan. Sehingga, orang yang tidak beragama dengan benar, pada dasarnya menentang logika Tuhan. Karena Tuhan adalah parameter segala-galanya, maka orang yang logikanya bertentangan dengan logika Tuhan, pasti salah. Itu sebabnya, mereka yang menentang pemindahan dan penyatuan kiblat ke Baitullah, mohon maaf, Allah menyebutnya as-sufaɦāu (orang-orang bodoh). Alasannya: mengikuti perintah Tuhan sama dengan mengikuti logika yang benar.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

2 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

Leave a Reply