Al-Baqarah ayat 141

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
August 2, 2011
1 Comment
1433 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 141

 

تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُم مَّا كَسَبْتُمْ وَلاَ تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

[Itu adalah umat yang telah berlalu (masanya); baginya apa yang telah diusahakannya dan bagi kalian apa yang sudah kalian usahakan, dan kalian tidak akan diminta (bertanggung jawab) atas apa yang telah mereka kerjakan.]

[This is a people that have passed away; they shall have what they earned and you shall have what you earn, and you shall not be called upon to answer for what they did.]

 

1). Ini adalah pengulangan sempurna dari ayat 134. Pertanyaannya: Kenapa kandungan ayat ini berulang? Untuk menjawabnya, coba perhatikan kembali susunan ayat dari 124 sampai 141 ini. Rangkaian ayat-ayat ini terbagi dua topiknya. Dari 124 sampai 133, membahas secara rinci tentang Nabi Ibrahim dan مِّلَّة (millah) yang dibawanya dan sekaligus diwarisi oleh nabi-nabi sesudahnya yang tak lain adalah ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya juga.  Setelah membicarakan seluk-beluk tentangnya, Allah kemudian menyimpulkannya: “Itu adalah umat yang telah berlalu (masanya); baginya apa yang telah diusahakannya dan bagi kalian apa yang sudah kalian usahakan, dan kalian tidak akan diminta (bertanggung jawab) atas apa yang telah mereka kerjakan” (ayat 134). Dari 135 sampai 140, topik pembicaraan kemudian berpindah ke klaim-klaim sepihak dari kaum Yahudi dan Nashrani. Padahal kedua agama besar itu, sejatinya, adalah kelanjutan dari مِّلَّة (millah) Nabi Ibrahim. Nabi yang membawanya pun adalah ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) Nabi Ibrahim. Setelah Allah menguraikan secara rinci kekeliruan cara penalaran mereka, yang menjatuhkan mereka juga ke kesimpulan yang keliru, di ayat 141 ini Dia kemudian mengingatkan mereka kembali: : “Itu adalah umat yang telah berlalu (masanya); baginya apa yang telah diusahakannya dan bagi kalian apa yang sudah kalian usahakan, dan kalian tidak akan diminta (bertanggung jawab) atas apa yang telah mereka kerjakan”. Dengan begitu melalui pengulangan ini Allah seakan hendak memesankan bahwa para nabi dan pengikutnya saling mewarisi ajaran atau مِّلَّة (millah), tetapi pada tingkat “perbuatan” atau “amalan”, masing-masing orang di masing-masing generasi bertanggungjawab sendiri-sendiri di hadapan Allah swt. Sehingga tidak cukup hanya dengan ‘menjual’ para pendahulunya. “Katakanlah: ‘Kalian tidak akan ditanya (bertanggung jawab) tentang kejahatan yang kami perbuat dan kami (pun) tidak akan ditanya tentang apa yang kalian perbuat’. Katakanlah: ‘Tuhan akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan di antara kita dengan benar. Dan Dia-lah Yang Maha Pemberi keputusan, Maha Mengetahui’.” (34:25-26)

 

2). Disinilah urgensi kemandirian dalam memilih suatu agama atau ajaran. Kita memang boleh, bahkan wajib, belajar dari sumber-sumber manapun, tetapi kesimpulan akhirnya dianggap sebagai pilihan sadar kita masing-masing. Dan karenanya juga mempertanggungjawabkannya masing-masing. Dengan demikian ada dua unsur penting di sini. Pertama, adalah “sumber”; semakin banyak sumber dan semakin jernih sumber maka akan semakin mempeluangi seseorang untuk sampai pada pilihan yang tepat. Kalau ada kelompok yang menghalang-halangi atau menakut-takuti anggotanya bersentuhan dengan sumber-sumber tertentu, orisinalitas kelompok tersebut patut dipertanyakan. Kedua, adalah “kesimpulan”. Boleh jadi segala sumber sudah ada dan lengkap tetapi kalau cara pengambilan kesimpulannya salah, hasilnya tetap salah. Untuk yang satu ini ilmu logika (manthiq) menjadi tak terelakkan. “(Orang-orang) yang mendengarkan (berbagai) perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (39:18)

 

3). Dengan merujukkan dirinya kepada Nabi Musa, kaum Yahudi sudah benar. Dengan mengaitkan ajaran agamanya dengan Nabi Isa, kaum Nashrani pun sudah benar. Tetapi keduanya salah saat menganggap Musa dan Isa mengajarkan agama Yahudi dan agama Nashrani. Yang benar, keduanya (Musa dan Isa) sama-sama mengajarkan KEBENARAN. Agama Yahudi punya masanya, agama Nashrani juga punya masanya. Ketika keduanya melampaui masanya masing, KEBENARAN menjadi tidak berlaku lagi baginya. Karena “melampaui” artinya memasuki wilayang ‘orang’ lain, mengambil sesuatu yang bukan haknya. Sementara tidak mungkin KEBENARAN melakukan pekerjaan yang tidak benar. Andai yang mereka fahami adalah ajaran KEBENARAN-nya, niscaya mereka tidak melekat pada Nabi Musa dan Nabi Isanya, juga tidak teradiksi pada Yahudi dan Nashraninya. Tetapi kepada KEBENARAN-nya. Nabi Musa dan Yahudinya telah berlalu; Nabi Isa dan Nashraninya pun sudah berlalu. Adalah tanggung jawab mereka atas apa yang telah mereka goreskan dalam kehidupannya masing-masing. Kini adalah zamannya kita. Dan kita pun akan bertanggung jawab atas apa yang kita putuskan dan laksanakan sekarang, di zaman kita. “Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus’.” (5:77)

 

4). Untuk sampai kepada sikap yang BENAR dalam beragama, ada tiga penggalan ayat yang berulang sejauh ini, yang bisa menjadi acuan. Pertama (ayat 133 dn 136): وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (wa nahnu laɦu muslimŭn, dan kepada-Nya-lah kami berserah diri). Kedua (ayat 138): وَنَحْنُ لَهُ عَابِدونَ (wa nahnu laɦu ‘ābidŭn, dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah). Dan Ketiga (ayat 139): وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ (wa nahnu laɦu mukhlishŭn, dan kami ikhlas kepada-Nya). Perhatikan, ketiga penggalan ayat ini dipersatukan oleh frase: وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (wa nahnu laɦu, dan kepada-Nya-lah kami…). Di situ ada kata نَحْنُ (nahnu, kami), yang bermakna bahwa setiap orang beragama hendaknya mempunyai sikap yang sama—terikat oleh kata “kami”—dalam memperlakukan agamanya. Bersikap terhadap siapa? Bukan terhadap nabinya, bukan terhadap agamanya. Tapi terhadap Tuhannya: لَهُ (laɦu, kepada-Nya, kepada Tuhan, kepada Allah). Menjunjung tinggi agama dan nabi yang membawanya perlu, tetapi hanya sebagai konsekuensi logis dari menjunjung tinggi Tuhan yang mengutusnya. Artinya, kepercayaan kita kepada suatu ajaran bertumpu pada kepercayaan kita kepada nabi yang membawanya. Dan kepercayaan kita kepada nabi yang membawanya bertumpu pada kepercayaan kita kepada Tuhan yang mengutusnya. Itu sebabnya dikatakan, awal dari agama ialah “ma’rifatullah” (mengenal Allah). “Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (24:52)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Pertangungjawaban di hadapan Allah adalah bersifat mandiri. Menunjuk generasi atau tokoh terdahulu sama sekali tidak menolong. Kebenaran kita di pengadilan ilahi tergantung pada BENAR-nya kita mewarisi ke-BENARA-an ajaran mereka. Maka yang pertama harus kita selidiki ialah ke-BENARA-an ajaran mereka, kemudian BENAR-nya cara kita mewarisi mereka.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

2 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

Leave a Reply