Al-Baqarah ayat 140

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
August 1, 2011
0 Comments
2575 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 140

 

أَمْ تَقُولُونَ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطَ كَانُواْ هُوداً أَوْ نَصَارَى قُلْ أَأَنتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللّهُ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن كَتَمَ شَهَادَةً عِندَهُ مِنَ اللّهِ وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

[Ataukah kalian (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah: “Apakah kalian yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?” Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kalian kerjakan.]

[Nay! do you say that Ibrahim and Ismail and Yaqoub and the tribes were Jews or Christians? Say: Are you better knowing or Allah? And who is more unjust than he who conceals a testimony that he has from Allah? And Allah is not at all heedless of what you do.]

 

1). Ada dua titik krusial yang dibawa orang Yahudi dan Nashrani ke hadapan Nabi Islam, Nabi Muhammad saw. Pertama, tentang ketuhanan, yang diklaimnya sebagai milik ekslusif mereka. Kedua, tentang kenabian. Yang pertama telah dijawab oleh Allah di ayat 139. Di ayat 140 ini, Allah menjawab yang kedua, dengan pendekatan—seperti saat menjawab poin pertama—serasional mungkin. Yaitu, bahwa kalau kalian berdua (Yahudi dan Nashrani) sama-sama benar, maka kesimpulannya ialah Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya tentu penganut agama Yahudi dan Nashrani sekaligus. Bagaimana mungkin ini bisa diterima sementara sebelumnya (di ayat 111, 113 dan 135) kalian saling mengkalaim bahwa hanya (salah satu dari) agama Yahudi atau Nashrani saja yang benar, yang akan masuk surga. Jikalau nabi-nabi suci itu BENAR beragama Yahudi dan Nashrani sekaligus, berarti pernyataan kalian sebelumnya SALAH. Dan jikalau pernyataan kalian yang belakangan ini BENAR (bahwa para nabi itu beragama Yahudi dan Nashrani sekaligus) berarti pernyataan kalian yang terdahulu SALAH. Jadi dari sisi logika, pernyataan tersebut sudah salah. Belum lagi dari sisi urutan waktu. Bagaimana mungkin Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya beragama Yahudi atau Nashrani sementara kedua agama tersebut nanti muncul jauh belakangan—yaitu (berturut-turut)—di zaman Nabi Musa dan Nabi Isa? Inilah kesimpulan al-Qur’an: “Hai Ahli Kitab, mengapa kalian bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kalian tidak mempergunakan akal?” (3:65)

 

2). Kalau Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya tidak beragama Yahudi dan atau Nashrani, lalu apa makna dari agama-agama tersebut? Maknanya, nama-nama agama merupakan identitas partikular untuk membedakan masa berlakunya masing-masing. Setiap manusia berkomunikasi dan berinteraksi dalam kesehariannya secara ril dengan menggunakan bahasa-bahasa partikular atau terma-terma empirik. Kalau mereka menggunakan bahasa universal, nisaya pembicaraan tidak akan bisa mengalir mencapai tujuan. Tetapi bahasa universal penting, karena setiap bahasa partikular hanya bermakna manakala memiliki ikatan dengan bahasa universal tersebut. Hewan-hewan tidak bisa menciptakan dan mengembangkan bahasanya karena mereka idak memiliki kemampuan untuk mengabstraksi (tajrid) dan menggeneralisasi (takmim) wujud-wujud partikular yang dijumpainya menjadi bahasa universal yang bisa digunakan bersama dan diwariskan dari generasi ke generasi. Jadi Yahudi adalah bahasa partikular untuk menggambarkan agama yang diajarkan oleh Nabi Musa dan berlaku selama belum adanya ajaran baru yang me-nasakh-kan atau membatlkannya. Nashrani adalah bahasa partikular untuk menggambarkan ajaran yang diajarkan Nabi Isa dan sekaligus me-nasakh-kan ajaran Yahudi sebelumnya. Agama Nashrani ini berlaku dan valid untuk dianut hingga datangnya nabi Muhammad mengajarkan Islam. Agama Islam adalah nama partikular—karena mengacu kepada agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad yang berlaku hingga akhir zaman. Tetapi nama partikular ini sejalan dengan nama universalnya. Semua agama, secara universal, mengajarkan penyerahan diri secara total kepada Tuhan semesta alam, karena hanya dengan cara begitulah manusia mencapai kedamaian sejati. Dan penyerahan diri secara total inilah yang disebut: ISLAM. Di dalam maknanya yang universal inilah agama menjadi CAHAYA bagi jiwa dan kehidupan manusia. “Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (39:22)

 

3). Maka beragama, karena menyangkut kebenaran, haruslah berdasarkan ilmu. Penalarannya harus lurus dan tidak boleh bercanggah, apalagi saling menyalahi satu sama lain.  Bagi Allah, jika ada penalaran agama yang bercanggah, maka pasti ada kebenaran—kesaksian pikiran—yang disembunyikan. Ada ketidakjujuran di sana. Fatalnya lagi karena ketidakjujuran itu justru terhadap diri sendiri. قُلْ أَأَنتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللّهُ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن كَتَمَ شَهَادَةً عِندَهُ مِنَ اللّهِ (qul a-antum a’lamu amillaɦu wa man azhlamu mimman katama syaɦādatan ‘indaɦu minallaɦ, Apakah kalian yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?). Itu sebabnya, berdasarkan penggalan ayat ini, menyembunyikan kesaksian termasuk kezaliman yang besar. Ada tiga makna yang mungkin bagi kata شَهَادَةً (syaɦādatan, syahadah/kesaksian) di dalam ayat ini. Pertama, kesaksian yang mereka peroleh dari Kitab Suci mereka bahwa agama atau syari’at datang secara berurutan silih berganti, dalam hal mana yang belakangan selalu membatalkan, melanjutkan dan sekaligus menyempurnakan ajaran sebelumnya; karena toh semuanya mengacu dan merujuk kepada Tuhan yang sama. “Adakah kalian hadir (sebagai saksi) ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Apa yang kalian sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab: ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Esa, dan kepada-Nya-lah kami berserah diri’ (2:133) Kedua, kesaksian akal pikiran mereka bahwa tidak mungkin Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya beragama Yahudi atau Nashrani sementara kedua agama tersebut muncul belakangan. Ketiga, kesaksian fithrawi, yang sama pada semua manusia, yang mereka peroleh ketika masih berada di alam malakuti (ruhani), sebelum masuk ke alam mulki (duniawi). “Katakanlah: ‘Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?’ Katakanlah: ‘Allah. Dia menjadi saksi antara aku dan kalian. Dan al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai al-Qur’an (kepadanya). Apakah kalian berani bersaksi bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah?’ Katakanlah: ‘Aku tidak (berani) bersaksi’. Katakanlah: ‘Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)’.” (6:19) Keberanian mereka menyembunyikan syahadatnya menunjukkan betapa mereka telah bertindak ‘melampaui’ ilmu Allah. Seakan mereka lebih tahu ketimbang Allah. “Beginilah kalian, kalian ini (sewajarnya) berdiskusi tentang hal yang kalian ketahui, lalu kenapa kamu berdiskusi tentang hal yang tidak kalian ketahui?; Allah mengetahui sedang kalian tidak mengetahui.” (3:66)

 

4). Mereka lupa bahwa mereka bisa dengan lihai menyembunyikan sesuatu dari mata dan telinga manusia, tetapi mereka tidak akan bisa melakukannya terhadap Allah. وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (wa māllaɦu bighāfilin ‘ammā ta’malŭn, dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kalian kerjakan). Anak kalimat ini sudah muncul tiga kali di sepanjang Surat al-Baqarah: ayat 74, ayat 85, dan ayat 140 ini. Dan nanti akan berulang lagi di ayat 144 dan 149. Artinya, Allah memberi penekanan bahwa Dia selalu mengetahui apa yang mereka perbuat (lahir ataupun batin). Sehingga tidak ada yang bisa luput dari catatan-Nya. Dan pengetahuan Allah itu tidak Dia simpan untuk Diri-Nya saja. Allah kemudian menginformasikannya kepada nabi yang datang belakanangan. Allah melakukan itu agar kontinyuitas risalah-Nya tetap terjaga, dan agar tidak muncul praduga yang tidak-tidak terhadap pembawa ajaran yang ‘baru’. Itulah sebabnya kenapa seluruh bentuk penyimpangan pada agama-agama samawi sebelumnya terungkap kembali di dalam al-Qur’an. “Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, mengapa kalian menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kalian menghendakinya menjadi bengkok, padahal kalian menyaksikan?’ Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kalian kerjakan.” (3:99)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Telah disampaikan sebelumnya bahwa agama adalah samudra tempat kita mencelupkan diri ke dalamnya. Kalau dia batil, maka sama saja dengan mencelupkan diri ke dalam kebatilan. Untuk itu agama haruslah berdasarkan ILMU. Dan untuk yang satu ini, ilmu Allah adalah puncaknya. Syarat untuk mencapainya: JUJUR pada kesaksian akal pikiran sendiri, tanpa dipengaruhi oleh siapapun dan apapun.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply