Al-Baqarah ayat 137

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
July 23, 2011
1 Comment
4019 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 137

 

فَإِنْ آمَنُواْ بِمِثْلِ مَا آمَنتُم بِهِ فَقَدِ اهْتَدَواْ وَّإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

[Maka jika mereka beriman seperti cara kalian beriman kepada-Nya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kalian). Maka cukuplah Allah bagimu (sebagai pemelihara) dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.]

[If then they believe as you believe in Him, they are indeed on the right course, and if they turn back, then they are only in great opposition, so Allah will suffice you against them, and He is the Hearing, the Knowing.]

 

1). Di ayat 135, orang-orang Yahudi dan Nashrani berkata: “Hendaklah kalian menjadi penganut Yahudi atau Nashrani, niscaya kalian mendapat petunjuk”. Kemudian Allah menolak klaim sepihak seperti itu seraya menyebut-nyebut millah Ibrahim yang memiliki dua sokoguru utama: hanĭyf (lurus) dan tidak musyriq. Lalu bagaimana terapan praktis dari millah Ibrahim tersebut? Allah menjawabnya dengan sangat rinci di ayat 136 (yang penjelasan-penjelasannya telah kita paparkan). Di ayat 137 ini, Allah kemudian menyimpulkan: “Maka jika mereka beriman seperti cara kalian beriman kepada-Nya (yakni, seperti yang Allah sendiri uraikan di ayat 136), sungguh mereka telah mendapat petunjuk”. Artinya, petunjuk Allah bukan bersama dengan klaim Yahudi dan Nashrani sebelumnya, tapi bersama dengan keberimanan yang benar kepada-Nya. Logikanya, karena petunjuk yang diharapkan ialah Petunjuk Allah, maka seharusnya syarat dan kriteria Allah juga yang harus dipenuhi. Petunjuk akan datang manakala kehendak hamba sama dengan kehendak Tuhannya. Adalah sangat sulit rasanya menerima alur penalaran pihak-pihak yang mengharap Petunjuk dari Allah tetapi pada saat yang sama hanya mau memenuhi cara dan kriterianya sendiri. “Maka tatkala datang kepada mereka kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata: ‘Mengapakah tidak diberikan kepadanya (Muhammad) seperti yang telah diberikan kepada Musa dahulu?’. Padahal bukankah mereka itu telah ingkar (juga) kepada apa yang diberikan kepada Musa dahulu?; mereka dahulu telah berkata: ‘Musa dan Harun adalah dua ahli sihir yang bantu membantu’. Dan mereka (juga) berkata: ‘Sesungguhnya Kami tidak mempercayai masing-masing mereka itu’.” (28:48)

 

2). Apabila mereka tidak punya keinginan untuk beriman dengan cara yang benar, seperti yang tersebut di ayat 136, maka itu adalah pertanda yang jelas bahwa mereka memang tidak punya niat untuk berserah diri secara total kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam. Yang mereka tegaskan bukan kebenarannya tapi agamanya. Dan itu artinya—teranga-terangan atau sembunyi-sembunyi, kasar atau halus—mereka sedang mengibarkan bendera permusuhan kepada kebenaran itu sendiri: وَّإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ [wa in tawallaw fainnamā ɦum fĭy syiqāq, dan jika mereka berpaling (yakni, tidak mau beriman dengan cara yang benar seperti diuraikan di ayat 136), sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan]. Sehingga, terhadap orang seperti ini, lebih baik melapangkan dada untuk menerima perbedaan dengannya, menoleransi keyakinannya, menghormati pilihan-pilihan hidupnya, namun tetap bersikat waspada terhadap kemungkinan makar-makarnya. “Dan barangsiapa yang memusuhi Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (4:115)

 

3). Jika terhadap pihak yang memusuhi kebenaran, kita memiliki perasaan bahwa kitalah yang ‘diberi’ kewajiban untuk ‘menyelesaikan’-nya, maka pada saat yang sama kita pun telah terjatuh ke dalam suasana memperturutkan kehendak sendiri dengan menyelisihi kehendak Allah. Itu sebabnya agar keadaan ini tidak terjadi, Allah memberikan peringatan secepatnya: فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللّهُ [fa sayakfĭkaɦumullah, maka cukuplah Allah bagimu (sebagai pemelihara) dari mereka]. Ini penting, sebab setiap penyimpangan dari kehendak-Nya pada dasarnya adalah juga penyimpangan terhadap agama-Nya. Karena penyimpangan seperti itu pada dasarnya sudah merupakan cara beriman yang tidak sejalan dengan kriteria yang benar di ayat 136. Sehingga, pada akhirnya, kita pun sama saja dengan mereka yang kita waspadai. Kita wajib bersikap waspada dan berusaha menghindarkan diri dan masyarakat dari berbagai kemungkinan makar yang mereka jalankan, tetapi yang tidak kalah pentingnya ialah meyakini ayat ini: “Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Qur’an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.” (68:44-45)

 

4). Untuk meyakinkan kita betapa pentingnya ‘menyerahkan’ urusan mereka kepada Allah, ayat ini ditutup dengan pilihan Asma Allah yang paling tepat. Yaitu: وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (wa ɦuwas-samĭ’ul ‘alĭm, Dan Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui). Artinya, Allah tidak tuli dan masa bodoh terhadap apa yang mereka lakukan. Semua apa yang mereka bicara, baik yang terang-terangan maupun yang hanya menjadi pembicaraan rahasia di antara mereka, Allah mendengar dan mengetahuinya. Dan melalui itu, Allah membangun rencana-rencana-Nya sendiri, yang akan mengatasi rencana-rencana mereka. “Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari. Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui. Dan telah Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka itu selalu bertakwa.” (27:50-53)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Setiap orang tentu berharap mendapat petujuk dalam hidupnya. Karena tanpa petunjuk kehidupan menjadi gelap. Tetapi adalah jauh lebih gelap lagi kalau Anda meyakini bahwa petunjuk itu bisa Anda ciptakan sendiri. Justru itu adalah awal dari narsisme, yang mengantarkan Anda kepada sikap bermusuhan terhadap kebenaran. Dalam pandangan agama-agama, memusuhi kebenaran adalah memusuhi Tuhan itu sendiri. Padahal Tuhan itu Mahamendengar lagi Mahamengetahui.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply