Al-Baqarah ayat 135

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
June 7, 2011
0 Comments
1655 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 135

 

وَقَالُواْ كُونُواْ هُوداً أَوْ نَصَارَى تَهْتَدُواْ قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

[Dan mereka berkata: “Hendaklah kalian menjadi penganut Yahudi atau Nasrani, niscaya kalian mendapat petunjuk”. Katakanlah: “Tidak, bahkan (yang benar ialah bahwa) millah Ibrahim itu hanĭyf (lurus). Dan dia (Ibrahim) bukan dari golongan orang musyrik”.]

[And they say: Be Jews or Christians, you will be on the right course. Say: Nay! (we follow) the religion of Ibrahim, the Hanif, and he was not one of the polytheists.]

 

1). Ayat ini mengingatkan kita kembali kepada cerita Bani Israil bersama Nabi Musa as yang dibeber panjang lebar dari ayat 40 sampai 123. Secara khusus, yang mirip ayat ini bisa kita temukan di ayat 80, 94, 111, 113, dan 120. Di ayat 80, karena merasa mendapat perlakuan istimewa dari Tuhan, Bani Israil berpikir bahwa kendati mereka melakukan banyak kejahatan, toh “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja”. Sedangkan di ayat 94, mereka berpendapat bahwa kejayaan dan kebahagiaan negeri akhirat hanya untuk mereka saja. Belakangan, bukan hanya Yahudi yang berpandangan seperti itu, tapi juga Nashrani. Di ayat 111, mereka berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nashrani”. Lucunya, keduanya (Yahudi dan Nashrani), pada saat yang sama, antara satu dengan yang lain, saling menegasikan, “Dan orang-orang Yahudi berkata: ‘Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai sesuatu (dalam kebenaran)’, dan orang-orang Nasrani berkata: ‘Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu (dalam kebenaran),’ padahal mereka (sama-sama) membaca Kitab Suci.” (ayat 113). Dalam kondisi saling mengklaim seperti itu, mereka mengerahkan seluruh energi dan waktunya untuk mendeviasi orang-orang Islam dari agamanya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah senang kepadamu (Muhammad) hingga kamu mengikuti millah (pola hidup atau agama) mereka”. Di ayat 135 ini bahkan mereka semakin vulgar menyatakan bahwa hidayah (Petunjuk Allah) hanya datang apabila bersama mereka: “Hendaklah kalian menjadi penganut Yahudi atau Nasrani, niscaya kalian mendapat petunjuk”.

 

2). Di ayat 130 telah kita terangkan bahwaمِّلَّة  (millah) Ibrahim merupakan falsumeter untuk menentukan benar-tidaknya penalaran seseorang. Sehingga “tiada yang benci millah Ibrahim melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri”. مِّلَّة (millah) Ibrahim sebagai neraca Kebenaran dan Kebatilan inilah agaknya yang hendak di terapkan di ayat 135 sampai ayat 141—yang merupakan serangkaian pembahasan penting tentang hakikat agama tauhid—sehingga Allah mengangkat kembali salah satu lagi klaim sepihak mereka, bahwa hanya penganut Yahudi atau Nashrani saja yang akan mendapat petunjuk. Perhatikan kata أَوْ (aw, atau) di antara kata Yahudi dan Nashrani, menunjukkan bahwa hanya salah satunya. Artinya, orang Yahudi mengklaim bahwa hanya mereka sajalah yang akan dapat petunjuk. Begitu juga dengan Nashrani, “padahal mereka (sama-sama) membaca Kitab Suci,” (lihat buntut ayat 113). Allah ingin menekankan bahwa manakala di masing-masing Kitab Suci mereka (Taurat dan Injil) tertera klaim bahwa kedua agama dan Kitab Suci-nya tersebut masih dianggap valid, maka pertanyaannya: Mana yang benar? Kalau klaim Yahudi benar, berarti klaim Nashrani salah; begitu juga sebaliknya. Nah, dengan penalaran sederhana, kalau salah satunya harus ada yang salah, maka bagaimana mungkin menerima pernyataan ini: “Hendaklah kalian menjadi penganut Yahudi atau Nasrani, niscaya kalian mendapat petunjuk”. Apabila kebenaran yang satu harus menegasikan yang lain, maka keduanya tentu bertentangan. Apabila ada dua hal yang bertentangan, maka dalam ilmu logika, tidak mungkin kedua-duanya benar. Kemungkinannya hanya dua: dua-duanya salah atau salah satunya benar. “Maka apakah mereka tidak mencermati al-Qur’an? (Bahwa) kalau sekiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (4:82)

 

3). Mari kita mengasumsikan Yahudi yang benar. Pertanyaannya, apa yang mendasari sehingga mereka mengkalim Nashrani salah? Jawaban yang paling mungkin ialah, karena Kitab Suci dan Nabi yang membawanya palsu alias tidak berasal dari ‘langit’, sehingga mereka (para penganutnya) tidak mungkin mendapat petunjuk dari ‘langit’. Sekarang mari kita balik, kita asumsikan Nashrani yang benar. Apa kira-kira yang menjadi alasan mereka menilai agama Yahudi itu salah? Sepertinya jawaban yang akan mereka kemukakan ialah, bahwa agama Yahudi itu telah kadaluarsa begitu agama Nashrani datang, masa berlaku nabi sebelumnya selesai begitu Nabi Isa datang sebagai pelanjut mereka. Karena agama Yahudi sudah tidak berlaku lagi maka secara otomatis tidak sah lagi untuk dianut, sehingga penganutnya tidaklah mungkin mendapat petunjuk. Lalu bagaimana al-Qur’an ‘mengadili’ keduanya—apakah keduanya salah atau salah satunya benar? قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً [qul bal millata ibrāɦima hanĭyfa, Katakanlah: “Tidak, bahkan (yang benar ialah bahwa) millah Ibrahim itu hanĭyf (lurus).”] Dalam Kamus al-Mawrid, kata حَنِيفً (hanĭyf) ini diartikan dengan “orthodox” (ortodoks) atau “true” (benar). Mungkin disebut “ortodoks” karena tidak mengalami perubahan, sebab kalau berubah berarti sifatnya relatif terhadap ruang dan waktu, dan tak pantas lagi disebut “benar”. Karena sesuatu yang “benar” secara hakiki, tidak pernah dan tidak akan pernah menyandang kata “tidak”—artinya selamanya “benar”. مِّلَّة (millah) yang “benar’ adalah مِّلَّة (millah) yang mengalir menyusuri dan menembus sekat-sekat ruang dan waktu tanpa terpengaruh sedikitpun oleh kejadian-kejadian di dalam ruang dan waktu tersebut. Nabi dan rasul yang membawanya bisa berganti, tetapi مِّلَّة (millah) itu sendiri tidak akan pernah berganti. مِّلَّة (millah) yang “benar” adalah مِّلَّة (millah) yang tak terbagi, karena ia tunggal pada awalnya dan tunggal pada akhirnya. Tunggal pada dzahirnya dan tunggal pada batinnya. Tunggal kebenarannya, tunggal penalarannya. Itulah حَنِيفً (hanĭyf). Yang kebenarannya tidak membutuhkan klaim dan atau topangan argumentasi. Klaim dan argumentasilah yang butuh kepadanya. Kondisi حَنِيفً (hanĭyf) ini terjadi saat penyerahan diri secara total juga sudah tercapai. Hebatnya, kata حَنِيفً (hanĭyf) beserta derivatnya dalam al-Qur’an jumlahnya persis 12 kata dan terletak di 12 ayat (2:135, 3:67, 3:95, 4:125, 6:79, 6:161, 10:105, 16:120, 16:123, 30:30, 22:31, 98:5)—sama dengan jumlah mata air Bani Israil (2:60), sama dengan 12 Pemimpin Bani Israil (5:12), sama dengan 12 bulan dalam setahun (9:36), sama dengan 12 Kalifah Penegak Islam sepeninggal Nabi. “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi; di antaranya (ada) empat bulan haram. Itulah  agama yang lurus, maka janganlah kalian menganiaya diri sendiri di bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kalian semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (9:36)

 

4). Orang yang sudah mencapai tahap حَنِيفً (hanĭyf) maka tidak mungkin lagi mensyarikatkan Allah dengan apapun juga, seperti Nabi Ibrahim as.: وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ [wa mā kāna minal-musyrikĭyn, dan dia (Ibrahim) bukan dari kalangan orang musyrik]. Sebetulnya buntut ayat 135 ini hanyalah peringatan belaka buat manusia, terutama kepada kalangan Yahudi dan Nashtani, sebab sedari awal tidak mungkin Allah mengangkat seorang nabi atau rasul kalau di dalam dirinya masih ada sifat syiriq (mensekutukan Tuhan) sekecil zarah sekalipun. Ada syiriq karena menyembah berhala. Ada syiriq karena menyembah syaitan (dari kalangan jin dan manusia). Ada syiriq karena menyembah hawa nafsu. Ada syiriq karena menyembah “aku” atau ego. Syiriq yang terakhir inilah yang paling halus; melalui agama yang dianutnya, manusia bisa saling mengklaim, seperti Yahudi dan Nashrani yang dideklarasikan Allah di ayat 135 ini. Sehingga bukan agama sebetulnya yang mereka banggakan di sana, tapi ego mereka masing-masing. (Ingat, ego bisa muncul dengan baju yang berwarna-warni: bisa agama, bisa suku, bisa turunan, bisa pendidikan, bisa harta, bisa jabatan, bahkan kesalehan, dan sebagainya). Dan Nabi Ibrahim telah terbebas dari  syiriq ego sekalipun, dan berharap agar anak-anaknya begitu juga adanya. “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.” (14:35)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Apabila ada pihak yang saling adu “klaim”, dimana yang satu menegasikan yang lain. Maka yakinlah, hanya ada dua kemungkinan dari keduanya: salah satunya benar atau kedua-duanya salah. Mengingat “kebenaran” memiliki penalaran yang mandiri, dan tak butuh sandaran apapun, dan karenanya juga tak butuh kepada apapun, maka hampir bisa dipastikan kedua-duanya salah. Maka agar selalu bersama dengan kebenaran, bersikap hanif-lah dalam beragama.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply