Al-Baqarah ayat 134

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
June 2, 2011
0 Comments
1810 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 134

 

تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُم مَّا كَسَبْتُمْ وَلاَ تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

[Itu adalah umat yang telah berlalu (masanya); baginya apa yang telah diusahakannya dan bagi kalian apa yang sudah kalian usahakan, dan kalian tidak akan diminta (bertanggung jawab) atas apa yang telah mereka kerjakan.]

[This is a people that have passed away; they shall have what they earned and you shall have what you earn, and you shall not be called upon to answer for what they did.]

 

1). Setelah berbicara tentang Nabi Ibrahim, dua anaknya (Ismail dan Ishaq), dan cucunya (Ya’qub), al-Qur’an lalu menunjuk mereka itu sebagai satu umat. Jadi yang ditunjuk—dengan kata tunjuk تِلْكَ (tilka, itu)—di sini bukanlah mereka (Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Ishaq, dan Nabi Ya’qub beserta anak-anaknya), tetapi “umat”-nya. Makna sosiologisnya: kolektivitas, komunalitas, kebangsaan, dan kemanusiaan, dibentuk dan diwarnai oleh sosok-sosok personal. Maka bentuk dan warna tiap komunitas sangat tergantung pada bentuk dan warna “pandangan hidup” (worl view) dari sosok tersebut. Suatu kumunitas atau masyarakat bisa mengalami perubahan drastis dan revolusioner manakala sosok yang muncul dan menempati singgasana otoritas adalah sosok yang benar-benar berbeda secara diametral dengan pendahulunya. Masyarakat kapitalisme-liberalisme tak bisa dipisahkan dari sosok-sosok seperti Adam Smith dan Ricardo. Masyarakat komunisme-sosialisme tak bisa dilepaskan keterkaitannya dengan sosok-sosok seperti Marx dan Engels. Negara dan bangsa Indonesia tak bisa melupakan sosok-sosok seperti Sukarno, Hatta, Syahrir, dan Tan Malaka. Berbicara tentang India adalah berbicara tentang Mahatma Gandhi. Berbicara tentang Republik Islam Iran adalah berbicara tentang Imam Khomeini dan Murtadha Muthahhari. Dan seterusnya. Dengan demikian, disini nampaknya kita tidak lagi mendesak berbicara tentang urgensi sosok, tapi yang terpenting ialah “pandangan hidup” (world view) dari sosok tersebut. Di titik inilah kita dipaksa menyadari betapa pentingnya campur tangan Tuhan—sebagai bukti Rahman dan Rahim-Nya—dalam memilihkan manusia sosok-sosok ilahiah yang benar-benar bebas interes, dengan “pandangan hidup” (world view) yang holistik-spiritualistik, demi menghindarkan manusia itu sendiri dari kecelakan demi kecelakaan historisnya. [Bandingkan dengan sosok yang “pandangan hidup” (world view)-nya bersifat parsialistik-materialistik—di tangan mereka inilah kejahatan terhadap kemanusiaan paling sering dilegalisasi atas nama ‘kepentingan negara’. Hari ini (saat ‘tafsir’ ini sedang ditulis) kita tengah menyaksikan bagaimana sosok-sosok parsialistik-matrialistik seperti ini membunhuh warganya sendiri, membuat kekacauan dengan menjerumuskan rakyatnya ke dalam perang saudara, demi mempertahankan kepentingannya dan kepentingan majikan-majikan mereka dari negara-negara besar yang amat fasih menyebut diri sebagai pembela kemanusiaan]. “Pemuka-pemuka dari kaum Syuaib seraya menyombongkan diri berkata: ‘Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syuaib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami’. Syuaib menjawab: ‘Dan apakah (kalian akan mengusir kami), kendati kami tidak menyukainya?’.” (7:88)

 

2). Sosok-sosok ilahi (Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Ishaq, dan Nabi Ya’qub) yang boleh disebut sebagai Founding Fathers dari agama-agama ibrahimik, telah melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Ayat 124 hingga ayat 133 berbicara banyak soal itu. Mereka telah membangun sebuah umat yang menjadi cikal-bakal—yang sejatinya menjadi pondasi dan kerangka utama—bagi terbentuknya umat-umat berikutnya yang lebih besar, lebih komprehensif, lebih luas cakupannya, bahkan pada akhirnya akan melingkupi seluruh manusia di muka bumi ini. Karena itu pasti akan terjadi. Karena itulah yang menjadi gagasan penciptaan (ayat 30), yang kemudian diaksentuasi kembali pada era Nabi Ibrahim (ayat 124). Manusia, personal atau komunal—pada setiap generasi hanya diberi kesempatan untuk ikut berpartisipasi atau tidak. Gagasan keumatan itu ibarat Perahu Keselamatan atau Safinatun Najah: yang naik akan selamat, yang tidak naik akan tenggelam. Ketika wangsa Bani Israil gagal mengejawantahkan gagasan itu, wangsa Bani Ismail yang melanjutkan estafetnya. Begitulah seterusnya, hingga akhir masa, ketika bangunan umat itu berdiri gagah mengangkangi seluruh wangsa manusia di seantero muka bumi ini. Tongkat estafet keumatan ini sama dengan tongkat estafet sains; dimana suatu bangsa pengemban sains boleh runtuh dan hancur tapi sains itu sendiri tidak akan pernah musnah; begitu pengembannya runtuh, maka sains pun dengan serta-merta akan pindah dan diambil alih oleh bangsa lain. “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang buruk) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (19:59)

 

3). Kalau suatu bangsa gagal mengemban tongkat estafet itu, maka kegagalan itu tidak secara otomatis harus dilimpahkan kepada generasi-generasi sebelumnya. لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُم مَّا كَسَبْتُمْ (laɦā mā kasabat wa lakum mā kasabtum, baginya apa yang telah diusahakannya dan bagi kalian apa yang sudah kalian usahakan). Setiap orang, setiap generasi, harus bertanggungjawab terhadap masanya masing-masing. Diantara tanggung jawab itu ialah mempersiapkan calon-calon penggantinya. Kalau para pengganti itu gagal melanjutkan estafet yang diamanahkan pendahulunya, maka tanggung jawabnya mereka pikul sendiri, dan tidak patut mengalamatkan dosanya kepada pendahulunya. Artinya, setiap orang, setiap generasi, harus berusaha semaksimal mungkin menuliskan tinta emasnya masing-masing. Tujuannya: agar setiap orang, setiap generasi, mengoptimalkan aktualisasi potensi yang dimilikinya. Dari aktualisasi potensi diri itulah penilaian dan gradasi ketakwaan muncul. Disinilah urgennya al-Qur’an berbicara tentang orang atau kelompok munafik; sebab mereka ini selalu ada pada setiap generasi, yang bertujuan mendeviasi generasi tersebut dari gagasan keumatan yang telah dirintis oleh sosok-sosk ilahi. Bahkan orang atau kelompok munafik ini selalu membidik sosok ilahinya, dengan merusak citranya, membentuk opini publik yang negatif tentangnya, mencederai kesuciannya, mempersempit ruang geraknya, agar masyarakat tidak berhubungan dengannya. Inilah yang dilakukan Samiri terhadap Musa dan Harun. Inilah yang dilakukan Kalifah Duniawi terhadap Khalifah Ilahi, dengan mengerahkan ‘intelektual’ bayaran dan ‘ulama’ piaraan mereka. “Orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair itu putera Allah’ dan orang Nasrani berkata: ‘al-Masih itu putera Allah’. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka (hanya) meniru perkataan orang-orang kafir terdahulu. Allah murka kepada mereka; (maka) bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan agamawannya, dan rahib-rahib mereka sebagai junjungan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, sementara Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir murka.

 

4). Sebaliknya, seandainya kita mewarisi suatu gagasan keumatan dan keagamaan yang salah, maka dosa dan tanggungjawab atas kesalahan itu tidak akan dipikulkan kepada kita atau kepada generasi yang datang belakangan. Bahasa al-Qur’an sangat mudah difahami: وَلاَ تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ [wa lā tus-alŭwna ‘ammā kānŭw ya’malŭwn, dan kalian tidak akan diminta (bertanggung jawab) atas apa yang telah mereka kerjakan]. Tetapi, kendati demikian, adalah tanggung jawab kita untuk mencari tahu, untuk belajar, untuk menguji dengan hukum-hukum akal sehat, apakah yang kita warisi itu benar adanya atau tidak. Maka kalau kita mewarisi sesuatu yang salah dan meneruskan kesalahan itu, kita tentu bertanggung jawab terhadap perbuatan “mengamalkan” dan “meneruskan” sesuatu itu. Kenapa? Karena hakikat kemanusiaan manusia ialah pada akal pikirannya. Asumsinya, mereka yang meneruskan sesuatu yang salah, berarti tidak menggunakan akal pikirannya, mereka tidak membuktikan kemanusiaannya: mereka  mewarisi sesuatu secara dogmatis. “Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul’. Mereka menjawab: ‘Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati nenek-moyang kami mengerjakannya’. Dan apakah mereka juga akan ikut, walaupun nenek-moyangnya mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (5:104, lihat juga 2:170)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Setiap orang bertanggung jawab terhadap diri dan zamannya. Generasi yang lalu telah berlalu, dan mendapatkan sesuai dengan apa yang telah mereka usahakan. Maka bagi kita yang generasinya sedang berlangsung, haruslah melakukan yang terbaik, seoptimal dan semaksimal mungkin, karena kita pun akan mendapatkan sesuai dengan apa yang kita usahakan. Kalau tidak, maka generasi yang akan datang akan mengumpat dan mencaci kita sebagai generasi yang tidak becus.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

3 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply