Al-Baqarah ayat 133

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
June 1, 2011
0 Comments
1914 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 133

 

أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاء إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُواْ نَعْبُدُ إِلَـهَكَ وَإِلَـهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَـهاً وَاحِداً وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

[Adakah kamu hadir ketika Yaqub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kalian sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Esa, dan kepada-Nya-lah kami berserah diri.

[Nay! were you witnesses when death visited Yaqoub, when he said to his sons: What will you serve after me? They said: We will serve your god and the god of your fathers, Ibrahim and Ismail and Ishaq, one Allah only, and to Him do we submit.]

 

1). Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa para nabi dan rasul betul-betul menunaikan tugas ilahiahnya dalam keadaan tak berjedah hingga titik darah penghabisan. Bahkan pengecekan silang masih mereka lakukan sesaat sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Nabi Ya’qub—Bapak Bani Israil—hendak memastikan apakah wasiatnya diterima dengan penuh amanah oleh anak-anaknya atau tidak. (Sekedar diingat, bahwa diantara 10 orang anak Nabi Ya’qub pernah berkomplot membuang Yusuf ke dalam sumur, kemudian membohongi ayah mereka bahwa adiknya tersebut telah mati dimakan serigala). Pertanyaan penting cucu Nabi Ibrahim dari pihak Ishaq ini kepada anak-anaknya ialah: مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي (mā ta’budŭwna mim ba’dĭy, apa yang kalian sembah sepeninggalku?). Pertanyaan Nabi Ya’qub ini hendak memastikan bahwa ke 12 orang anak-anaknya—yang di kemudian hari menjadi marga-marga di dalam wangsa Bani Israil—benar-benar hanya menyembah إِلَـه  (ilāɦ, tuhan) yang juga disembah oleh ayah dan datuk mereka; yaitu Allah Rabbul ‘Alamin. Dan sekaligus ingin memastikan bahwa ke-12 anak-anaknya tersebut turut bertanggung jawab terhadap kontinyuitas risalah dan مِّلَّة (millah) datuk mereka, Nabi Ibrahim as. Harapannya, agar Bani Israil menjadi wangsa besar yang berserah diri kepada Allah swt, dan bukan kepada paganisme materialistik. Sehingga penyembahan mereka belakangan kepada الْعِجْل (al-‘ijl, patung anak lembu yang terbuat dari emas dan mengeluarkan suara melalui teknik pembuatannya)—seperti terceritakan di ayat 51 dan 54, 92 dan 93—adalah sunggunh-sungguh suatu pelanggaran yang besar. “Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Tuhan mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kebohongan.” (7:152)

 

2). Perhatikan, yang dirisaukan oleh Nabi Ya’qub terhadap anak-anaknya sepeninggalnya bukan soal makanan, bukan soal pakaian, juga bukan soal tempat tinggal. Apakah makanan, pakaian, dan tempat tinggal tidak penting? Penting. Bahkan sangat penting. Tetapi kepentingannya menjadi murni bersifat materialistik apabila tidak mengandung nilai ibadah kepada Sang Khaliq, Pencipta alam semesta. Dan kalau murni materialistik, maka bobot dari semuanya tidak lebih tinggi dari bobot hewani. Alasannya? Paradigma. Pijakan. Tujuan hidup. Inilah semua yang menjadi pembeda antara sifat manusiawi dan sifat hewani. Hewan-hewan tidak mengenal istilah paradigma dan tujuan hidup. Yang mereka kenal hanyalah makan, minum, sarang, kawin, dan bersenang-senang. Tidak lebih. Sementara tentang manusia, Allah mewartakan sejak awal: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (51:56) Artinya, seluruh aktivitas material dan fisikal manusia harus tersifati oleh penyembahan kepada-Nya. Ibadah adalah tujuan dari bangunan sosial. Dan, pada saat yang sama, ibadah juga adalah pondasi dan struktur utamanya. Aktivitas lain hanyalah ornamen yang eksistensinya bergantung sepenuhnya pada pondasi dan struktur utama tersebut. Lukisan hanya menjadi indah bila digantung di dinding. Sementara dinding hanya bisa berfungsi sebagai pelindung dan penyekat ruang apabila menempel di struktur utama. Dan struktur utama hanya bisa bertahan dari hempasan badai dan gempa manakala berdiri di atas pondasi yang kuat. Apabila pondasi dan struktur utama tersebut lemah, tidak punya ruh dan kekuatan, maka bangunan tersebut akan cepat runtuh. Inilah yang menerangkan mengapa bangunan peradaban materialistik terbangun dan runtuh silih berganti begitu cepatnya. Sekularisme bukan tidak menghargai agama dan bentuk-bentuk peribadatan yang menyertainya. Hanyasaja paradigmanya terbalik; yang menjadi pondasi dan struktur utamanya adalah materi, sementara agama hanya dihargai sebagai ornamen belaka saja. Maka bangunan sosial yang bersifat skularistik memang kelihatan tumbuh semarak (secara materialistik), tetapi hanya untuk memenuhi takdir kehancurannya. “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut (orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya) itu, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kalian di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (16:36)

 

3). Jadi pertanyaan Nabi Ya’qub kepada anak-anaknya yang 12 orang—pada saat Malaikat Maut menjemputnya—tidak bisa dimaknai sebagai bersifat individual. Pertanyaan itu hendak memberikan visi dan misi kepada bangunan sosial wangsa Bani Israil yang kelak akan terbangun di atas pondasi dan struktur utama ke-12 orang anak-anaknya tersebut. Itu sebabnya Bani Israil dikenal juga sebagai Bani Ya’qub. Nabi-nabi yang datang kemudian, yang bernasab hingga ke Nabi Ya’qub, juga membawa visi dan misi yang sama. Yaitu mengembalikan bangunan sosial wangsa Bani Israil ke asasnya semula sepertimana yang digagaskan dulu oleh datuk mereka, Nabi Ya’qub as. Cermatilah kerisauan Nabi Zakaria berikut ini: “(Surat yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhanmu (Muhammad) kepada hamba-Nya, Zakaria. Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan seruan yang penuh rasa takut. Ia berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, namun aku tidak pernah berputus asa dalam berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku. Dan sesungguhnya yang aku risaukan adalah wali (pelanjut risalah) sepeninggalku, sementara isteriku mandul, maka anugerahilah aku dari sisi-Mu seorang putera. Yang akan mewarisi aku dan mewarisi keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, wahai Tuhanku, seorang yang diridhai’.” (19:2-6). (Catatan: Nabi Zakaria ini kemudian dikarunia anak yang bernama Nabi Yahya yang hanya lebih tua beberapa tahun dari Nabi Isa as. Artinya, kenabiaannya sudah menjelang akhir dari seluruh rangkaian nabi-nabi dari Bani Ya’qub yang disudahi oleh nabi Isa as. Setelah itu dipindahkan ke Bani Ismail, yaitu Nabi Muhammad saw, yang sekaligus menutup seluruh mata rantai kenabian). Apa yang ditegaskan oleh Nabi Ya’qub dan dirisaukan oleh Nabi Zakaria itu menjadi parameter untuk menilai apakah bangunan sosial wangsa Bani Israil sekarang berada pada rel yang benar atau tidak. Karena, bisa dikatakan, tulang punggung dari peradaban materialisme-sekularisme di zaman ini adalah kebanyakan dari kalangan wangsa anak-anak Nabi Ya’qub ini, yang kemudian menggunakan seluruh ‘hasil’ usahanya itu untuk mengusir Bangsa Palestina dari Tanah Airnya, lalu mendirikan Negara Israil di atasnya.

 

4). Lalu apa jawaban anak-anak Nabi Ya’qub setelah mendengar pertanyaan ayahandanya di gerbang kematiannya? Mereka semua serempak menjawab: نَعْبُدُ إِلَـهَكَ وَإِلَـهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَـهاً وَاحِداً (na’budu ilāɦaka wa ilāɦa ābāika ibrāɦima wa ismā’ila wa ishāqa ilāɦan wāhida, kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq; Tuhan Yang Esa). Perhatikan rangkaian jawaban mereka. Selain menyebut ayah mereka sendiri, yaitu nabi Ya’qub, mereka juga menyebut tiga nama dari dua generasi di atasnya: Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Nabi Ishaq. Dua yang terakhir ini adalah anak kandung dari Nabi Ibrahim. Penyebutan Nabi Ismail menunjukkan “pengakuan” akan eksistensi dan legalitas  atas dirinya dan ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya beserta agama yang menyertainya. Maka, lagi-lagi, penolakan mereka terhadap Nabi Muhammad dan Islam yang dibawanya (lihat kembali ayat 101), adalah sekaligus pengingkaran terhadap “pengakuan” mereka sendiri—bahwa visi dan misi yang telah digagaskan moyang mereka, Nabi Ya’qub as, itu juga yang digunakan oleh Nabi Ismail dan keturunanya, yaitu agama tauhid, penyembahan kepada Tuhan Yang Esa.

 

5). Setelah mengaku hanya akan menyembah Tuhan moyang mereka, Tuhan Yang Esa, jawaban mereka selanjutnya: وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (wa nahnu laɦu muslimŭwn, dan kepada-Nya-lah kami berserah diri). Ada dua alasan kenapa jawaban ini muncul. Pertama, memberikan arah dan kejelasan terhadap jawaban sebelumnya. Yakni bahwa orientasi dari ibadah adalah “penyerahan diri”. Apabila ibadah belum mengantarkan seseorang kepada “penyerahan diri” secara total kepada Allah, maka ibadah yang dilakukannya belum menghasilkan buah. Yang bersangkutan harus memeriksa kembali niat dan kesungguhannya dalam beribadah.  Jawaban anak-anak Nabi Ya’qub tersebut menegaskan komitmen mereka kepada ayahandanya bahwa kelak bangunan sosial yang akan digagaskannya tidak akan berserah diri kepada materi dan kepada ego rasial mereka. Tetapi semata-mata hanya berserah diri kepada Allah, Tuhan Yang Esa. Maka kataنَحْنُ  (nahnu, kami) di sana selayaknya tidak dibatasi pada 12 orang anak-anak Nabi Ya’qub tersebut, tetapi juga kepada seluruh keturunannya, yaitu wangsa Bani Israil. Kedua, sebagai penegasan atas ayat 128 dan ayat 131-132. Bahwa hakikat agama-agama ibrahimik, baik yang melalui jalur Nabi Ismail (128) ataupun yang melalui jalur Nabi Ya’qub (131-132), adalah memfasilitasi manusia untuk menggerakkan secara konvergen seluruh aktivitas hidupnya menuju ke titik tunggal: “berserah diri kepada Allah Rabbul Alamin”.  “Dan janganlah kalian berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: ‘Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan hanya kepada-Nya kami berserah diri’.” (29:46)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Di saat sakratul mautnya, Nabi Ya’qub masih sempat bertanya kepada anak-anaknya: “Apa yang kalian sembah sepeninggalku?” Mampukah kita bertanya seperti itu di akhir hayat kita? Ketahuilah bahwa apa yang menghiasi lisan di akhir hayat kita tergantung sepenuhnya pada apa yang setiap hari mengisi pikiran kita. Maka tidak mungkin kita bertanya seperti itu kalau yang setiap hari kita pikirkan hanyalah soal makan, minum, kawin, dan tempat tinggal anak-anak kita. Bisa-bisa pertanyaanya berbunyi begini: “Apa yang kalian makan sepeninggalku?Na’udzubillah.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

3 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply