Al-Baqarah ayat 131

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
May 12, 2011
0 Comments
1877 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 131

 

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

[Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “ Berserahdirilah!” Dia (Ibrahim) menjawab: “Aku berserah diri kepada Tuhan semesta alam”.]

[When his Lord said to him, Be a Muslim, he said: I submit myself to the Lord of the worlds.]

 

1). Ayat ini juga dimulai dengan kata إِذْ (idz, ketika), tapi karena tidak diawali dengan huruf wawu ‘athaf (wawu sambung) maka sepertinya tidak memiliki ciri seperti kata-kata إِذْ (idz, ketika) sebelumnya. Kata إِذْ (idz, ketika) di sini agaknya hanya menjelaskan pada sisi mana substansi kehidupan Nabi Ibrahim yang menyebabkan mereka yang membenci مِّلَّة (millah)-nya disebut sebagai “memperbodoh dirinya sendiri.” Di ayat ini Allah menguraikan, “ (Yaitu) ketika Tuhannya berfirman kepadanya: ‘Berserahdirilah! Dia (Ibrahim) menjawab: Aku berserah diri kepada Tuhan semesta alam’.” Ayat ini senafas dengan ayat 34 ketika Allah memrintahkan seluruh penghuni alam malakut bersujud kepada Adam, dan bersujudlah semuanya kecuali Iblis. Dengan begitu, melalui ayat ini, Allah hendak memperkenalkan jiwa malakuti Nabi Ibrahim yang telah kehilangan seluruh kehendak pribadinya sehingga yang tersisa hanya kehendak Allah, yang telah kehilangan dimensi cintanya kepada selain-Nya. Nabi Ibrahim, atas permintaan Tuhannya, telah menyerahkan seluruh totalitas dirinya, karena menyadari sepenuhnya bahwa yang wajib Adanya, yang wajib Akunya, hanya Dia. Segala sesuatu selain Dia hanya ayat-Nya, yang ‘bertugas’ mengantarkan seorang hamba untuk sampai kepada-Nya. Ini juga yang Allah sifatkan kepada kekasih-Nya, Rasulullah Muhammad saw.: “Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran), maka katakanlah: ‘Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku’. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Kitab Suci dan kepada orang-orang yang ummi: ‘Apakah kalian (juga mau) berserah diri?’ Jika mereka menyerahkan dirinya (kepada Allah), sungguh mereka telah mengikuti petunjuk, tapi  jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (3:20)

 

2). Dari ayat pendek ini bisa kita lihat bahwa gelar al-Musthafa (orang terpilih) yang disandang Nabi Ibrahim bukanlah tanpa mujahadah atau perjuangan. Buktinya, jawaban Nabi Ibrahim adalah respon terhadap PERINTAH Allah. Sebagai manusia, jiwa Nabi Ibrahim juga punya potensi untuk menolak perintah, tetapi dia tidak membiarkan potensi seperti itu bersemi di dalam jiwanya. Sehingga jawabannya terhadap perintah Allah bersifat spontan, tak berjedah. Apabila Allah tidak memberikan potensi seperti itu kepada Nabi Ibrahim, tentu dia tidak punya legitimasi moral untuk digugu. Karena bagaimana mungkin manusia dua potensi (baik dan buruk) diharuskan mengikuti manusia satu potensi (baik saja). Itu bertentangan dengan sifat adilnya Tuhan. “Dan Dialah yang menjadikan kalian silih berganti di muka bumi dan Dia meninggikan sebahagian kalian atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu pada apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (6:165)

 

3). Ketika Nabi Ibrahim menjawab seruan Tuhannya untuk berserah diri, dia berkata: أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (aslamtu lirabbil-‘ālamĭyn, aku berserah diri kepada Tuhan semesta alam). Nabi Ibrahim langsung memilih Rab (Tuhan) yang bertahta di puncak seluruh eksistensi, yang mengatasi seluruh lapis alam. Kesadaran Nabi Ibrahim ini mendahului dan sekaligus melampaui kesadaran Kausa Prima-nya Aristoteles. Aristoteles kesulitan dalam menjelaskan bagaimana alam akibat yang material ini muncul dari sebab yang bersifat nonmateri. Sehingga Aristoteles terperangkap oleh terma yang digunakannya sendiri, yakni kata “kausa” (sebab). Nabi Ibrahim menggunakan kata Rab (Tuhan) yang di dalamnya terkandung makna “mencipta, memelihara, mengatur, dan mendidik,” dalam pengertiannya yang sempurna, sehingga menampik semua pertanyaan seperti “bagaimana caranya”, “bagaimana mungkin”, dan sebagainya. Karena pertanyaan-pertanyaan semacam itu berkontradiksi dengan sifat kesempurnaan-Nya dalam “mencipta, memelihara, mengatur, dan mendidik.” Firman-Nya: “Musa berkata: ‘Rab (kalian ialah Tuhan) yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya, jika kalian mempergunakan akal’.” (26:28)  

 

4). Buntut ayat ini sama dengan buntut ayat 2 dari Surat al-Fatihah. Kesamaan itu menunjukkan bahwa Surat al-Fatihah merangkum seluruh ajaran tauhid dari para nabi dan rasul. Juga menunjukkan bahwa para nabi dan rasul tersebut mendapat penugasan dari Tuhan yang sama,  mengajak manusia untuk menyembah Tuhan yang sama, dan berserah diri secara total kepada Tuhan yang sama. Maka rasa-rasanya tidaklah mungkin nabi dan rasul tersebut membawa substansi ajaran yang berbeda. Sehingga bisa dipastikan bahwa pluralitas agama di suatu waktu yang sama akan memaksa kita untuk mencari satu yang orisinal. Karena kalau semua agama tersebut benar, maka pasti ada diantara nabi dan rasul tersebut yang melanggar janji penyerahan dirinya kepada Rab seluruh alam semesta. Agama juga, dengan begitu, menjadi tidak sejalan dengan fithrah manusia yang merindukan persatuan dan kesatuan. Karena agama Allah agama fithrah, maka sangat masuk akal bila Allah menyebut mereka yang menentang مِّلَّة (millah) Nabi Ibrahim sebagai memperbodoh dirinya sendiri. “Katakanlah (Muhammad): ‘Sesungguhnya aku dilarang menyembah sembahan yang kalian seru selain Allah setelah datang kepadaku keterangan-keterangan dari Tuhanku; dan aku diperintahkan supaya berserah diri kepada Tuhan semesta alam’.” (40:66)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Nama agama bisa berbeda-beda. Nama Kitab Sucinya juga berbeda-beda. Masa dan tempat berlakunya juga berbeda-beda. Tetapi selama agama tersebut benar-benar berasal dari Rabul Alamin, maka selama itu pula substansinya pasti sama: berserah diri kepada Tuhan seluruh alam. Dalam penyerahan diri itulah semua “klaim” menjadi sirna, karena yang ada hanya Allah.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply