Al-Baqarah ayat 129

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
May 12, 2011
0 Comments
2457 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 129

 

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنتَ العَزِيزُ الحَكِيمُ

[Ya Tuhan kami, dan bangkitkanlah di tengah-tengah mereka seorang Rasul dari kalangan mereka (sendiri), yang akan menelaahkan kepada mereka ayat-ayat-Mu, dan mengajarkan kepada mereka Kitab Suci dan Hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa, Maha Bijaksana.]

[Our Lord! and raise up in them a Messenger from among them who shall recite to them Thy communications and teach them the Book and the wisdom, and purify them; surely Thou art the Mighty, the Wise.]

 

1). Ini adalah doa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang ketiga dan yang terakhir di sela-sela kesibukannya menyelesaikan renovasi dan pemugaran Ka’bah. Kandungan doa ini hanya satu macam, tapi agaknya ke sinilah semua doa sebelumnya bermuara. Yaitu, kedua nabi besar ini meminta agar di tengah-tengah masyarakat baru yang dibentuknya suatu saat di-bi’tsa (dibangkitkan) seorang rasul dari kalangan mereka sendiri; maksudnya, dari kalangan ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya yang bermukim di tempat itu. Doa ini mengisyaratkan bahwa dari rumpun ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya akan ada satu garis yang terjaga kesuciannya, yang tidak melakukan kezaliman, yang kelak akan melahirkan buah kerasulan, yang akan menghidupkan kembali مِّلَّة (millah) Ibrahim, memurnikan manasik-nya, dan mengimami أُمَّةً مُّسْلِمَةً (ummatan muslimatan, UMAT MUSLIM). Di sinilah kita bisa dengan mudah memahami kenapa ada doa pertobatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail di ujung doanya di ayat sebelumnya (128). Rupanya, doa itu adalah pagar terhadap generasi demi generasi agar garis tersebut benar-benar terjaga. Metoda penjagaan dan keterjagaan inilah yang Allah hendak sampaikan saat menceritakan prosesi kelahiran Nabi Isa dari seorang wanita suci bernama Maryam yang juga merupakan ‘hasil’ penjagaan dari generasi sebelumnya, yakni Keluarga Imran. “(Ingatlah), ketika isteri Imran berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku (ini) menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Maka terimalah (nazar) itu dariku. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui’. Maka tatkala isteri Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah melahirkan seorang anak perempuan’; dan Allah lebih mengetahui yang dilahirkannya itu, dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. ‘Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya kepada (pemeliharaan)-Mu dari (gangguan) syaitan yang terkutuk.’ Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: ‘Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?’ Maryam menjawab: ‘Makanan itu dari sisi Allah’. Sesungguhnya Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab….(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakanmu dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya (kalimat itu) al-Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).” (3:35-37 dan 45)

 

2). Doanya singkat. Namun yang agak panjang disebutkan di dalamnya ialah tugas dari rasul tersebut. Ada tiga tugas pokok seorang rasul: menelaahkan kepada manusia ayat-ayat Allah, mengajarkan kepada mereka Kitab Suci dan Hikmah, dan mensucikan mereka. Di beberapa ayat (2:151, 3:164, dan 62:2) susunan ini dibalik, dengan menempatkan “mensucikan mereka” pada urutan kedua setelah “menelaahkan kepada manusia ayat-ayat Allah”. Susunan ini sekaligus semacam kurikulum yang memuat tema-tema pokok yang harus dilakukan oleh seorang rasul (atau pengganti pelaksana rasul, termasuk para ustad dan muballigh) karena sejalan dengan tuntutan fithrah manusia, sejalan dengan alur pertanyaan intelektual, sejalan dengan hasrat kerinduan spiritual. Kurikulum ini sama untuk semua agama ibrahimik. Karena inilah substansi agama yang datang dari ‘langit’ dan bermaksud menyelamatkan manusia dari ‘penjara’ bumi. Apabila sebuah agama tidak lagi menawarkan ini, maka agama tersebut tinggal ‘baju’ dan mereknya saja. Agama seperti itu tidak lagi menjadi solusi bagi kemanusiaan, sebaliknya, bahkan menjadi beban baginya. Agama seperti itu niscaya hanya akan menciptakan sentimen-sentimen emosional belaka, yang di saat-saat tertentu penganutnya bisa diradikalisasi menjadi variabel perpecahan dan perusak tatanan sosial. Bisa dijadikan komoditas dalam tawar-menawar kekuasaan politik. Bisa diperalat sebagai opinion maker (pembentuk opini) baik untuk mengangkat citra tokoh-tokoh politik tertentu atau untuk menyembunyikan kebobrokan mereka. Agama seperti itulah yang senang dipelihara oleh Khalifah Duniawi, karena dengan terkotak-kotaknya warga, kesadaran bersama menjadi redup, gerakan massa bisa dihindari, dan kezaliman mereka bisa berjalan langgeng. “Sesungguhnya syaitan itu bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian….” (5:91)

 

3). Sekarang mari kita urai satu persatu tugas-tugas tersebut. Pertama, يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ (yatlŭw ‘alayɦim āyātika, menelaahkan kepada mereka ayat-ayat-Mu). Kata يَتْلُو (yatlŭw, menelaahkan) bermakna menguraikan sedemikian rupa sehingga penerima bisa memahaminya dengan benar, jadi bukan sekedar membacakan atau menyampaikan. Di Surat Yusuf ayat 108 dikatakan عَلَى بَصِيرَةٍ (‘alā bashĭyratin), dengan argumen yang bisa diterima oleh bashĭrah, oleh cernaan nalar insani atau akal budi (baik melalui telaah intelektual ataupun melalui cerapan spiritual), sehingga penerima tidak punya celah untuk ‘lari’. Sehingga yang menolak, benar-benar hanyalah mereka yang tertutup pintu hati dan pikirannya; dan karenanya pantas disebut “kafir” (sengaja ingkar). Lalu apa gerangan yang ditelaahkan? Jawabannya: آيَاتِكَ (āyātika), ayat-ayat, tanda-tanda, petunjuk-petunjuk, atau alamat-alamat yang mengantarkan penerima mengenal dan memahami hakikat “ayat” tersebut dan hubungan singkronitasnya dengan Pemilik “ayat” alias Penciptanya. Dari sini diharapkan muncul kesadaran bertingkat, sesuai dengan kadar mujahadah dan martabat ruhani yang telah dicapainya. Untuk kalangan pemula (al-mubtadi), timbul pemahaman bahwa betul-betul لامعبودالاالله (lā ma’bŭwda illallaɦ, tidak ada yang pantas diibadahi selain Allah). Sementara untuk kalangan menengah (al-mutawassith), mereka sudah sampai pada faham bahwa bukan saja tidak ada yang pantas diibadahi selain Allah, tapi juga لامقصودالاالله (lā maqshŭwda illallaɦ, tidak ada yang pantas dituju selain Allah). Dan kalangan pemilik martabat paling tinggi (al-muntaɦā) sudah meyakini bahwa الاالله لامحبوب (lā mahbŭwba illallaɦ, tidak ada yang pantas dicintai selain Allah). Nabi Ibrahim dan Ahlul Bait-nya adalah teladan di level yang paling tinggi ini, dicontohkan dengan kerelaannya menyembelih putra kesayangannya, Nabi Ismail, karena cintanya kepada selain-Nya telah sirna dan yang tersisa tinggal cintanya kepada Rab-nya. Seluruh ruang kesadarannya telah diisi oleh Allah, bahkan dirinya sekalipun telah meniada, fana’. Yang ada hanya Allah. Yang tunggal Wujud-Nya. Yang tunggal Zat-Nya. Semua selain-Nya hanyalah “ayat”.  “Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan kalian dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini. Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkanNya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.” (45:3-5)

 

4). Kedua, وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ (wa yu’allimuɦumul-kitāba wal-hikmah, dan mengajarkan kepada mereka Kitab Suci dan Hikmah). Beranjak dari kesadaran teologis setelah ‘menyaksikan’ tanda-tanda kebesaran Allah, setelah meyakini keberadaan-Nya, dan merasakan sentuhan-Nya, Rasul kemudian mengajari mereka Kitab Suci. Ini penting. Karena bagaimana mungkin seseorang meyakini Kitab Suci sebagai ‘wejangan’ Tuhan kalau pada saat yang sama yang bersangkutan tidak meyakini adanya Tuhan. Bisa diformulasikan begini: “Daya cerap seseorang terhadap Kitab Suci berbanding lurus dengan kesadaran teologis orang itu.” Semakin sempurna kesadaran teologis seseorang semakin sempurna pula fahamannya terhadap Kitab Suci. Begitu juga sebaliknya. Sehingga apabila seseorang hendak meningkatkan pemahamannya terhadap Kitab Suci, mau tidak mau harus juga menapaki jenjang-jenjang  “mi’raj” ruhani seperti yang telah diterangkan di poin sebelumnya (poin 2). Gradasinya di dalam jenjang itu akan tercermin pada gradasinya pada cerapannya terhadap Kitab Suci. Kalau gradasi “mi’raj” ruhani kita bikinkan satu bar (batangan) dan gradasi fahaman Kitab Suci juga satu bar, maka dalam diagram data tersebut akan kelihatan dengan jelas bahwa naik turunnya kedua bar itu selalu seirama, dimana variabel penentu gerakan itu ada pada bar yang pertama (bar gradasi mi’raj ruhani). Inilah yang menerangkan kenapa wahyu datang kepada nabi ketika berada di puncak kesadaran teologisnya—Nabi Musa di Gunung Tursina, Nabi Muhammad saw di Gunung Cahaya (Jabal Nur), dan Allah meniupkan Ruh-Nya ke dalam rahim Maryam saat putri Imran ini sedang ‘tenggelam’ dalam khalwat-nya di mihrab. Ini jugalah yang menerangkan kenapa di komunitas-komunitas keagamaan yang bersikap sinis terhadap masalah-masalah teologi (kalam dan irfan), cenderung literal dan sangar, tidak bersahabat, mudah membid’ahkan pihak lain, dan lebih mendahulukan klaim emosional ketimbang argumen rasional, kendati amat ‘fasih’ dan ‘hafal’ banyak isi Kitab Suci.

Karena rasul sendiri yang menerima langsung Kitab Suci, maka tentu tidak ada selisih—sekecil apapun—antara dirinya dan Kitab Suci tersebut. Kitab Suci tersebut memenuhi jiwanya, menghampari seluruh ruang kesadarannya, membasahi ‘kepala’ dan ‘dada’-nya. Sehingga praktis tidak ada tempat lagi buat hawa nafsunya. “Kawanmu (Muhammad) tidaklah sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Tiadalah (yang diucapkannya itu) kecuali wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (53:2-4) Hasilnya, semua yang tereksternalisasi dari dirinya—yang meliputi sikap diamnya, perkataannya, dan perbuatannya—adalah refleksi dari seluruh kandungan Kitab Suci tersebut. Inilah yang disebut الْحِكْمَةَ (al-hikmah); yang dalam Maktoob Dictionary diartikan dengan “wisdom, sapience, sagacity, prudence, foresight, discreetness, policy, sobering, wholesomeness, aphorism”. Dalam Bahasa Indonesia, sepertinya kata الْحِكْمَةَ (al-hikmah) ini cocok dipadankan dengan  sikap “arif, bijak, budiman, cendekia, waskita, luhur, dewasa, matang, awas, manggala, intelek, suhu, master, bakti”. Dalam Bahasa Arab, kata yang seasal dengan kata “hukum” dan “hakim” ini juga digunakan untuk menyebut ilmu “filsafat”, mungkin karena filsafat artinya cinta kepada kebijaksanaan. “Allah menganugrahkan al-hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan siapa saja yang dianugrahi al-hikmah itu, maka sungguh ia telah dianugrahi kebaikan yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari Kitab Suci).” (2:269)

Di sini Allah menggunakan kata يُعَلِّمُهُم (yu’allimuɦum), yang artinya “mengajarkan kepada mereka”. Yang perlu kita garisbawahi di sini ialah kata يُعَلِّم (yu’allimu)-nya. Karena ini menunjukkan bahwa, dalam kaitannya dengan Kitab Suci, ‘profesi’ rasul ialah sebagai guru dalam seluruh pengertiannya (mengajarkan, mencontohkan, menuntunkan cara penerapannya), persis ‘profesi’ Allah saat pertama kali mengangkat Nabi Adam sebagai Khalifah Ilahi pertama (lihat ayat 30). Karena rasul adalah pemangku puncak piramida struktur sosial, maka berarti ayat ini juga mengajarkan bahwa gurulah yang seharusnya menempati posisi tertinggi dalam hirarki sosial masyarakatnya masing-masing seperti yang telah kita bahas di ayat 30 dan 31 yang menyebabkan seluruh penghuni alam malakut harus bersujud kepada Adam sebagai Khalifah Ilahi. Kalau tidak, pertanda sistem sosial itu tidak sehat, dan akan bergerak menuju ke kehancurannya. Dan di puncak para guru itu adalah Khalifah Ilahi. Karena apa yang diajarkan harus sama dengan yang diterima atau diwarisi dari Allah (Kitab Suci). Dia pulalah yang bertugas menilai, mengevaluasi, meng-assess, apakah yang diajarkan oleh para guru itu sejalan dengan Kitab Suci atau tidak. Manakala sosok yang mengajarkan Kitab Suci tidak sempurna pengetahuannya, bisa dipastikan akan terjadi senjang antara Kitab Suci dan apa yang diajarkan. Pertanyaannya, lalu apakah yang mengisi kesenjangan itu? Jawabannya cuma satu: hawa nafsu. Dapat kita bayangkan kalau sekian ribu guru mengajar dengan tidak benar, maka yang terjadi adalah pengrusakan agama secara sistematis, tanpa disadari, dan akan terus berlangsung dari generasi ke generasi. Inilah yang menjelaskan kenapa bemunculan banyak kelompok, mazhab, dan firqah setelah Khalifah Ilahi ditolak. Dan menolak artinya “tidak mau bersujud”. “Dan (ingatlah) tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kalian kepada Adam,’ maka mereka pun bersujud kecuali Iblis; ia enggan dan istikbar (arogan) dan ia (pun) menjadi kafir” (2:34)

Apabila seorang Khalifah tidak sekaligus seorang guru atau ulama, maka mau tidak mau akan terjadi pembagian kekuasaan antara ulama dan umara (pemerintah), dan sekularisme pun menjadi tak terhindarkan. Inilah jalan yang ditempuh agama Nashrani paska Konsili Necea 325, dimana ulama hanya diposisikan sebagai “Tukang Fatwa” (Mufti) dan Tukang Hukum terhadap lawan-lawan politik raja. Ini pulalah jalan yang mengantarkan agama-agama samawi menuju ke altar dekadensinya. Agama yang seharusnya menjadi subjek kehidupan, sontak berubah menjadi objek permainan para penguasa. Apa yang diajarkan ulama harus diseleksi, diedit, dan disortir sebelumnya oleh pihak penguasa. Ulama dituntut untuk selalu sejalan dengan penguasa. Agama samawi, di titik ini, berubah menjadi agama penguasa. Doktrin ‘langit’ berubah menjadi doktrin ‘bumi’. Setelah ‘sistem’ itu berjalan ‘sempurna’, maka yang dihindari oleh agama atau ulama adalah tema-tema rasionalitas dan keadilan. Karena membahas keduanya sama dengan membongkar aib perselingkuhan agama dan kekuasaan, ‘ulama’ dan umara. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil jadi pemimpinmu orang yang mengambil agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab Suci sebelummu, dan orang kafir. Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” (5:57)

                                                                                                                                           

5). Tugas rasul yang ketiga ialah وَيُزَكِّيهِمْ (wa yuzakĭyɦim, serta mensucikan mereka). Karena kata ini ditempatkan pada urutan ketiga atau terakhir di ayat ini—beda dengan ayat yang lain (2:151, 3:164, dan 62:2) yang menempatkannya di urutan kedua—maka dapat dimaknai bahwa setelah rasul mengenalkan kepada masyarakatnya ayat-ayat kebesaran Allah, kemudian mengajarkan kepada mereka Kitab Suci dan sekaligus menerapkan Kitab Suci tersebut menjadi sistem dan tatanan masyarakat, berbangsa dan bernegara, maka tugas selanjutnya ialah وَيُزَكِّيهِمْ (wa yuzakĭyɦim, serta mensucikan mereka), menjaga, mengontrol, dan mengawasi kelangsungan sistem dan tatanan itu demi kesucian manusia, terutama anggota masyarakat tersebut. Secara harafiah, kata يُزَكِّي (yuzakĭy, mensucikan) yang seasal kata dengan “zakat” sebetulnya berarti “menyuburkan”. Disebut demikian karena “zakat” adalah lawan dari “riba” (bunga). Kalau “zakat” menyuburkan, maka “riba” membinasakan (2:276). Artinya, tugas rasul yang ketiga ini ialah menjaga kesucian mereka melalui sistem dan tatanan sosial yang mengkondisikan tiap individu untuk menumbuhsuburkan sifat-sifat baiknya dan menyurutkan sifat-sifat buruknya. Dan sejatinya memang inilah tugas negara. Kalau pemerintah tidak melakukannya, maka negara telah mengkhianati “kontrak sosial”-nya dengan rakyatnya. Jadi apa yang dilakukan rasul ialah memfasilitasi terejawantahnya ayat berikut: “Demi nafs (jiwa) dan apa-apa yang  menyempurnakan (kejadian)-nya. Maka Allah mengilhamkan kepada nafs itu (dua potensi), (yaitu potensi yang akan membawanya kepada) kerusakannya dan (potensi yang akan membawanya kepada) ketakwaannya. Sungguh beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.” (91:7-10)

 

6). Ayat ini ditutup dengan klausa: إِنَّكَ أَنتَ العَزِيزُ الحَكِيمُ (innaka antal-‘azĭyzil-hakĭym, Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa, Maha Bijaksana). Allah menyebut dirinya العَزِيزُ الحَكِيمُ (al-‘azĭyz al-hakĭym, Maha Perkasa, Maha Bijaksana) di ayat ini tentu karena kaitannya dengan pelaksanaan ketiga tugas rasul tersebut. Allah menggunakan kedua nama ini untuk memberikan basis teologis dan payung yuridis atasnya. Artinya, apabila di dalam pelaksanaan tersebut ada pihak-pihak yang menghalang-halangi, maka ketahuilah bahwa Allah itu adalah العَزِيزُ (al-‘azĭyz, Maha Perkasa), akan mengalahkan semuanya. Dan sekaligus memberi pesan bahwa hanya dengan melaksanakan isi tugas rasul itu manusia akan menemukan jatidiri, kemuliaan, serta harkat dan martabatnya. Lihatlah dinasti, kerajaan, kekuasaan, dan pemerintahan di sepanjang sejarah yang menghalang-halangi pelaksanaan tugas-tugas tersebut, semuanya berakhir dengan cara mengenaskan dan memalukan, setelah mereka berkuasa sekian puluh atau sekian ratus tahun. Sayangnya kita tidak pernah terhantarkan kepada kebenaran karena kita berhenti pada sekedar membanggakan ‘kejayaan’-nya dan tak pernah menyoal kenapa mereka runtuh dan tersungkur. Sehingga waktu kita habis dalam romantisisme masa lalu, dan tak lagi punya kesempatan merenungi ayat-ayat seperti ini: “Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum (Kitab Suci) itu (diturunkan), tentulah mereka berkata: ‘Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang rasul kepada kami agar kami mengikuti ayat-ayat-Mu sebelum kami menjadi hina dan rendah?’.” (20:134)

Sedangkan penggunaan kata الحَكِيمُ (al-hakĭym, Maha Bijaksana) terkait dengan dua hal. Pertama, berhubungan dengan kata الْحِكْمَةَ (al-hikmah). Jadi melalui kata الحَكِيمُ (al-hakĭym, Maha Bijaksana) ini Allah hendak menegaskan bahwa bukanlah disebut الْحِكْمَةَ (al-hikmah) apabila seseorang atau sekelompok orang yang mengaku ‘faham’ dan ‘hafal’ Kitab Suci tetapi pada saat yang sama hanya menjadi penonton pasif terhadap imperialisme, neoimperialisme, despotisme, tiranisme, zionisme, apartheidisme, fir’aunisme, dan bentuk-bentuk kezaliman lainnya. Yang disebut الْحِكْمَةَ (al-hikmah) ialah perperan aktif menjadi “hakim” terhadap arogansi kekuasaan. Kedua, Allah menyebut diri-Nya الحَكِيمُ (al-hakĭym, Maha Bijaksana) karena di dalam kata itu terkandung pesan bahwa dunia ini diatur oleh hukum-hukum (sebab-akibat) yang akan berlaku pada siapa saja yang melanggar hukum tersebut. Maka runtuh dan tersungkurnya pemerintahan-pemerintahan, kekuasaan-kekuasaan, peradaban-peradaban, dinasti-dinasti, dan monarki-monarki selama ini adalah ‘perbuatan’ Allah melalui perannya sebagai الحَكِيمُ (al-hakĭym, Maha Bijaksana). Kalau bukan, berarti ada sumber hukum lain selain Allah. “Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya peradaban yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (peradaban itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, (tetapi) kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan kami adakan sesudah mereka peradaban yang lain…. Dan (penduduk) negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka.” (6:6 dan 18:59)

 

7). Yang tak kalah pentingnya untuk diamati dari ayat ini ialah bahwa semua kata kerja yang Allah gunakan dalam menyebutkan tugas-tugas rasul tadi berbentuk fi’il mudhāri’ (kata kerja present continuous, sekarang dan akan datang). Ini adalah pesan yang tak boleh kita lewatkan bahwasanya tugas rasul tersebut tidak boleh berhenti dengan meninggalnya rasul tersebut. Tugas tersebut harus berlanjut sampai Hari Kiamat. Istilah “rasul” memberi tekanan pada fungsinya dan bukan pada personnya. Sehingga apabila personnya wafat tidak berarti tugasnya pun terhenti. Person boleh mangkat tapi tugas ke-rasul-an tetap harus berlangsung. Pertanyaannya, siapakah yang pantas mengambil alih tugas tersebut? Kalau rasul mutlak medapatkan justifikasi dan legitimasi dari Allah yang mengutus dan menugaskannya, maka alangkah ganjilnya apabila pelanjut risalah ke-rasul-an justru dijustifikasi dan dilegitimasi oleh manusia berdasarkan musyawarah. Yang masuk akal ialah pelanjut rasul dijustifikasi dan dilegitimasi oleh rasul yang bersangkutan. Pilihan rasul sama dengan pilihan Allah. Karena rasul sendiri tidak lagi berkata-kata, berbuat, dan memilih menurut hawa nafsunya kecuali wahyu yang diwahyukan (53:3-4). Kalau seperti ini postur suksesi pelaksana fungsi ke-rasul-an, barulah penggunaan fi’il mudhāri’ di ayat 129 ini menemukan signifikansinya. “Orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul), maka datanglah kepada mereka azab dari arah yang tidak mereka sangka. Maka Allah merasakan kepada mereka kehinaan pada kehidupan dunia. Dan sesungguhnya azab pada hari akhirat lebih besar kalau mereka mengetahui. Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Qur’an ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat mengambil pelajaran.” (39:25-27)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Hidup ini akan berjalan terus, mengikuti hukum-hukum yang pasti—yaitu mengantarkan manusia kepada kesempurnaan. Siapa saja yang melanggar hukum itu niscaya akan binasa. Allah mengutus rasul dalam rangka memperkenalkan rahasia hukum-hukum itu, menunjukkan singkronitasnya dengan Kitab Suci, agar manusia meniti perjalanan hidup ini dengan cara-cara yang suci. Maka mengikuti jalan rasul adalah musti bagi yang ingin merasakan kebahagiaan sejati.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

2 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

Leave a Reply