Al-Baqarah ayat 128

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
May 8, 2011
0 Comments
4269 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 128

 

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

[Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu dan (jadikanlah juga) di antara anak keturunan kami satu umat yang berserah diri kepada-Mu, dan tunjukkanlah kepada kami manasik (cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji) kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.]

[Our Lord! and make us both submissive to Thee and (raise) from our offspring a nation submitting to Thee, and show us our ways of devotion and turn to us (mercifully), surely Thou art the Oft-returning (to mercy), the Merciful.]

 

1). Ini adalah doa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang kedua sewaktu menyelesaikan renovasi dan pemugaran Ka’bah. Ada tiga hal penting yang dikandung oleh doa kedua Nabi Besar tersebut: menjadi muslim, minta diajari manasik (tata cara ibadah haji), dan pertobatan. Coba perhatikan susunan ketiga kandungan doa ini. Berdasarkan yang selama ini kita fahami, bukankah justru pertobatan berada di urutan paling awal? Karena bagaimana mungkin seseorang menempuh dan menapaki Jalan Ilahi untuk kembali kepada-Nya kalau belum mengakui kekeliruannya selama ini alias bertobat. Hal yang sama dengan “menjadi muslim”. Bukankah apa yang selama ini Nabi Ibrahim lakukan sudah merupakan bukti ke-“muslim”-annya, bukti penyerahan dirinya kepada Rab-nya? Kenapa dia memanjatkan doa ini justru di akhir-akhir masa kenabiannya, di usianya yang sudah sangat senja, pada saat membangun kembali Ka’bah bersama anaknya di tempat yang tak berpenghuni—setelah tuntas sudah tugas kerasulannya secara pribadi menyampaikan risalah ilahi kepada masyarakatnya? Sekali lagi, ini pasti bukan sembarang doa. Ini pasti mengandung pesan yang teramat sangat penting untuk disimak oleh siapa saja yang ingin menjaga kemurnian agama ibrahimik. Dan karenanya kita tidak akan berhasil memetik hikmahnya manakala kita hanya memperlakukannya sebagai doa biasa, sebagaimana doa-doa kita selama ini. “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (Al-Qur’an itu) bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (12:111)

 

2). Kita mulai dari yang pertama: “menjadi muslim”. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail berdoa: رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ (rabbaā waj’alnā muslimayni laka wa min dzurriyyatinā ummatan muslimatan laka, Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu dan (jadikanlah juga) di antara anak keturunan kami satu umat yang berserah diri kepada-Mu). Inti permintaan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail di sini ada pada kata مُّسْلِم (muslim), yang dalam bahasa sehari-hari (Arab, Indonesia, dan Inggeris) diartikan sebagai “orang yang beragama Islam”. Pengertian yang dikandung oleh bahasa sehari-hari ini terlalu longgar dan dangkal, karena siapa saja yang sudah “mengaku” memeluk agama Islam, maka sudah berhak menyebut diri مُّسْلِم (muslim), terlepas apakah yang bersangkutan konsisten dengan pengakuannya atau tidak, melaksanakan dengan benar ajarannya atau tidak. Sehingga مُّسْلِم (muslim) di situ hanyalah label belaka saja. Padahal pasti bukan itu yang dikehendaki oleh doa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ini.

 Kata مُّسْلِم (muslim) ini berasal dari kata أَسْلَمَ (aslama) yang telah kita bahas maknanya di ayat 112. Allah menggunakan kata أَسْلَمَ (aslama) ini saat menyanggah klaim orang Yahudi dan Nashrani yang menyebut hanya mereka yang masuk surga. Artinya klaim mereka berdasarkan label atau merek, bukan berdasarkan alasan substansial—hujjah yang rasional. Mereka lupa bahwa klaim yang hanya berdasarkan label belaka, nama lainnya adalah “dogma”, Allah menyebutnya “angan-angan kosong”. Padahal agama bukanlah dogma. Agama adalah argumentasi, dalil yang harus bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. “Dan mereka (Yahudi dan Nashrani) berkata: ‘Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nashrani’. Demikian itu (hanya) angan-angan kosong belaka mereka. Katakanlah: ‘Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kalian adalah orang yang benar’.” Allah bertutur seraya menyanggah: “(Tidak demikian) bahkan (yang benar ialah) siapa saja yang أَسْلَمَ (aslama, menyerahkan) wajahnya kepada Allah, dan  ia berbuat baik, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. Dengan demikian, penceritaan Nabi Ibrahim paska penceritaan Bani Israil, adalah caranya Allah untuk menunjukkan bahwa mereka (Yahudi dan Nashrani) yang mengklaim diri sebagai agama ibrahimik, sebetulnya telah melenceng jauh dari ajaran substansial Nabi Ibrahim, moyang nabi-nabi mereka, moyang Nabi Musa dan Nabi Isa. Penolakan orang Yahudi terhadap Nabi Isa dan ajarannya bertentangan dengan makna yang terkandung dalam kata أَسْلَمَ (aslama, berserah diri) dan kata مُّسْلِم (muslim, orang yang berserah diri) seperti yang dipertunjukkan oleh Nabi Ibrahim dan kemudian dimintakan untuk anak keturuannya. Hal yang sama pada orang Nashrani saat menolak Nabi Muhammad serta ajaran yang dibawahnya. Mereka (Yahudi dan Nashrani) kini tidak lagi أَسْلَمَ (aslama, berserah diri) kepada Tuhannya, tapi أَسْلَمَ (aslama, berserah diri) kepada merek agamanya; dan artinya أَسْلَمَ (aslama, berserah diri) kepada ulama mereka yang memelihara merek agama tersebut. Dan dengan begitu, mereka tidak pantas lagi disebut مُّسْلِم (muslim, orang yang berserah diri), padahal inilah sebutan bagi mereka yang telah mencapai derajat maqam Ibrahim. Tentang pengikut Nabi Musa, “Berkata Musa as: ‘Hai kaumku, jika kalian beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kalian benar-benar مُّسْلِم (muslim, orang yang berserah diri)’.” (10:84) Tentang pengikut Nabi Isa as: “Dan (ingatlah), ketika Aku wahyukan kepada pengikut Isa yang setia: ‘Berimanlah kalian kepada-Ku dan kepada rasul-Ku’. Mereka menjawab: ‘Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah مُّسْلِم (muslim, orang yang berserah diri)’.” (5:111).

 

3). Doa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail untuk dijadikan muslim, tak lupa menyertakan dan menekankan kembali ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) keduanya: وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ [wa min dzurriyyatinā ummatan muslimatan laka, dan (jadikanlah juga) di antara anak keturunan kami satu umat yang berserah diri kepada-Mu]. Ini pertanda bahwa Nabi Ibrahim dan ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) bukan saja role model (model peran) bagi imamah (seperti diterangkan di ayat 124) tapi juga bagi siapa saja yang hendak menggapai predikat أَسْلَمَ (aslama, berserah diri) dan مُّسْلِم (muslim, orang yang berserah diri). Artinya siapa saja boleh mengaku مُّسْلِم (muslim), tetapi benar tidaknya pengakuan itu tergantung pada sesuai tidaknya dengan role model yang telah Allah tunjuk. Allah menunjuk role model ini dari ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) Nabi Ibrahim sebagai TALI yang membentang hingga Hari Kiamat agar manusia punya PEGANGAN. Tetap berpegang dan meniti TALI inilah yang senantiasa kita minta saat membaca Surat al-Fatihah: “Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” (1:6-7).

Yang menarik ialah, di belakang kata ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan), Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menyertakan kata أُمَّةً (ummatan, satu umat) sebelum kata مُّسْلِمَةً (muslimatan, yang berserah diri). Dalam kaidah bahasa, hubungan keduanya [أُمَّةً (ummatan, satu umat) dan مُّسْلِمَةً (muslimatan, yang berserah diri)] adalah hubungan shifat (sifat) dan maushuf (yang disifati), dimana مُّسْلِمَةً (muslimatan, yang berserah diri) adalah shifat-nya, sedang أُمَّةً (ummatan, satu umat) adalah maushuf-nya. Dengan demikian, yang bisa difahami di situ ialah bahwa ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail akan ‘membentuk’ atau ‘memimpin’ suatu umat yang disebut أُمَّةً مُّسْلِمَةً (ummatan muslimatan, UMAT MUSLIM). Artinya Umat Muslim ini teridentifikasi melalui kepemimpinan atau imamah ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Kata أُمَّةً (ummatan, satu umat) di sini berbentuk tunggal, sebagaimana kata أُمَّةً (ummatan, satu umat) yang ada di Surat Ali Imran (3) ayat 104: “Dan hendaklah ada di antara kalian satu umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. Hebatnya lagi, ayat ini (3:104) adalah kelanjutan dari ayat yang menganjurkan orang beriman untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa dan agar jangan mati sebelum benar-benar menjadi مُّسْلِم (muslim, orang yang berserah diri), dan ayat yang mengharuskan mereka semua berpegang teguh pada TALI agama Allah dan melarangnya berpecah-belah. “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan مُّسْلِم (muslim, orang yang berserah diri). Dan berpeganglah kalian semuanya kepada TALI (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kalian dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kalian berkat nikmat-Nya orang-orang yang bersaudara; dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kalian mendapat petunjuk” (3:102-103). Sehingga siapa saja yang mengidamkan dan mengusahakan terwujudnya kesatuan umat, harus mempelajari ayat-ayat ini dengan saksama.

 

4). Kandungan doa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail berkutnya ialah: minta diajari manasik (tata cara ibadah haji): وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا (wa arinā manāsikanā, dan tunjukkanlah kepada kami manasik—cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji—kami). Telah diterangkan sebelumnya bahwa manasik haji yang kita lakoni sekarang sebetulnya adalah menapaktilasi jejak-jekak Nabi Ibrahim dan Ahlul Bait-nya, sehingga berhaji bisa diartikan sebagai ‘menjadi’ Nabi Ibrahim. Berhaji adalah “ibadah gerak”, berputar-mengitari (tawaf) ‘jalan’ mi’raj ke ‘langit’ seraya menapaki jenjang-jenjang ruhani demi menjadi Insan Kamil (manusia sempurna). Berhaji adalah dalam rangka memenuhi panggilan Nabi Ibrahim (22:27) untuk menjadi dan menyatu ke dalam anggota Ahlul Bait Allah (Ahli Baitullah), yang dalam ilmu ruhani kadang disebut dengan ahlullah. Orang yang ‘pulang’ dari berhaji dalam pengertian seperti inilah yang akan menjadi agent of social change (agen perubahan sosial), membimbing dan menuntun masyarakatnya mengikuti pola perubahan sosial yang bersifat ilahiah menjadi أُمَّةً مُّسْلِمَةً (ummatan muslimatan, UMAT MUSLIM), yang berakhlak dengan Akhlak Allah, “takhalluq bi akhlāqillah.

 

5). Kandungan doa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail di ayat ini ialah tentang pertobatan: وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (wa tub ‘alaynā innaka antat-tawwābur-rahĭym, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang). Apakah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail telah melakukan dosa-dosa sebelumnya? Jawaban atas pertanyaan ini juga merupakan jawaban atas permohonan pertobatan Nabi Adam beberapa saat setelah ‘turun’ ke ‘bumi’. Kalau Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tidak pernah melakukan dosa sekecil apapun sebelumnya karena keduanya berstatus ma’shum (terjaga dari dosa), dan karena hal itu bertentangan dengan kata فَأَتَمَّهُنَّ (fa-atammaɦunna, lalu Ibrahim menunaikannya) di ayat 124, maka hal yang sama juga terjadi pada Nabi Adam as—doa pertobatannya kepada Allah tidak harus dimaknai bahwa Khalifah Ilahi pertama itu telah berdosa, karena apa jadinya kalau Khalifah Ilahi sebagai pembawa dan atau pelaksana Risalah Ilahi adalah mantan pendosa. “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat (lagi) Maha Penyayang.” (2:37) Perhatikan frase “beberapa kalimat” di ayat 37 ini, sama dengan kata بِكَلِمَاتٍ (bikalimātin, dengan beberapa kalimat) di ayat 124 (lihat poin 3), yang juga telah kita jelaskan makna-maknanya. Dan karena ayat 128 ini merupakan kelanjutan dari ayat 124, maka bisa dikatakan bahwa pertobatan Nabi Ibrahim ini sama dengan pertobatan Nabi Adam, yakni sama-sama mereka lakukan setelah menerima “beberapa kalimat”, jadi bukan karena telah melakukan dosa. Dan diantara “beberapa kalimat” itu ialah seperti disebutkan di ayat berikut ini: Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya (dengan melakukan dosa) datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat Maha Penyayang.” (4:64) Perhatikan penggalan akhir dari masing-masing ayat ini: 2:37, 2:128, dan 4:64. Sama-sama berakhir dengan klausa “Allah Maha Penerima tobat Maha Penyayang”.  Dari ketiga ayat itu kita menyaksikan adanya fungsi yang sama antara Nabi Adam as, Nabi Ibrahim as, dan Nabi Muhammad saw. Nabi Adam adalah nabi pertama, Nabi Ibrahim adalah nabi antara, dan Nabi Muhammad adalah nabi penutup. Di sinilah kita menyaksikan TALI itu turun dari ‘langit’ kemudian membentang dari Nabi Adam, melalui nabi Ibrahim, ke Nabi Muhammad hingga akhir zaman. TALI itu membentuk garis linear yang disebut Shirāthal Mustaqĭm (Jalan yang Lurus). “Beberapa kalimat” itu adalah para Khalifah Ilahi yang berpegang teguh pada TALI tersebut sebagai imam yang ditugasi menuntun dan membimbing أُمَّةً مُّسْلِمَةً (ummatan muslimatan, UMAT MUSLIM) di zamannya masing-masing.

 

6). Kesimpulan. Kenapa “menjadi muslim” yang mengisi pertama kali doa Nabi Ibrahim saat membangun kembali الْبَيْت (al-bayt) padahal sudah berada di ujung senja usianya? Karena melalui doanya itu dia memesankan kepada kita semua bahwa tujuan الْبَيْت (al-bayt) itu adalah agar menjadi simbol dan sekaligus pusat أَسْلَمَ (aslama, berserah diri) dan مُّسْلِم (muslim, orang yang berserah diri). Dan karena melalui doanya itu pula dia memesankan kepada kita bahwa mendidik dan mempersiapkan imam berikutnya demi kelestarian أُمَّةً مُّسْلِمَةً (ummatan muslimatan, UMAT MUSLIM) dari ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya menjadi skala prioritas pertama dan utamanya, persis seperti Nabi Musa mempersiapkan Nabi Harun. Maka penolakan Nabi Harun oleh Bani Israil adalah pada dasarnya penolakan terhadap مِّلَّة  (millah) Nabi Ibrahim—moyang mereka sendiri.

Kenapa “tobat” diletakkan di bagian terakhir? Karena melalui doa itu Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menyiratkan kepada generasi penganut agama ibrahimik yang datang kemudian bahwa tobat mereka hanya akan diterima apabila mereka datang kepada pelanjut pelaksana مِّلَّة  (millah) Ibrahim di zamannya masing-masing, dengan cara mengikuti manasik Nabi Ibrahim dan Ahlul Bait-nya.

 

 

AMALAN PRAKTIS

Kehidupan ini akan berlanjut terus. Generasi berikutnya akan datang menggantikan generasi yang sekarang. Apakah generasi berikutnya akan lebih baik? Sepenuhnya tergantung pada generasi sekarang. Nabi Ibrahim mengajarkan kita bagaimana mempersiapkan anaknya, Ismail, menggantikan dirinya. Keduanya bekerja bersama-sama, beribadah bersama-sama, berdoa bersama-sama, dan berserah diri bersama-sama kepada Allah. Kalau Anda hendak meninggalkan generasi yang lebih baik, lakukanlah seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim as…!!!

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply