Al-Baqarah ayat 127

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
May 5, 2011
2 Comments
4002 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 127

 

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

[Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.]

[And when Ibrahim and Ismail raised the foundations of the House: Our Lord! accept from us; surely Thou art the Hearing, the Knowing.]

 

1). Ini adalah kata إِذْ (idz, ketika) yang kesembilanbelas. Dan yang keempat dalam rangkaian ayat tentang Nabi Ibrahim dan ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya. Dan isinya hanya satu macam. Yaitu mengingatkan kita ketika Nabi Ibrahim bersama putranya, Ismail, meninggikan dinding-dinding الْبَيْت (al-bayt). Seperti telah diuraikan sebelumnya (ayat 125) bahwa الْبَيْت (al-bayt) yang ada di Masjidil Haram, Mekah, merupakan Rumah Ibadah pertama yang didirikan di muka bumi oleh Nabi Adam as. Tetapi kemungkinan besar pada saat banjir bandang di zaman Nabi Nuh mengalami kerusakan parah, dan sejak itu terlantar tak terawat sampai kemudian Nabi Ibrahim diperintah membawa anak dan istrinya ke sana untuk menghidupkannya kembali. Ayat 127 ini menjelaskan tentang prihal berlangsungnya ‘proyek’ renovasi dan pemugaran itu, yang meski dilakukan oleh hanya dua orang tetapi keduanya adalah Nabi Besar dan sekaligus Bapak dari nabi-nabi dan imam-imam yang datang sesudahnya: Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Pekerjaan ini kelihatannya bukan pekerjaan biasa, sebab aktivitas ketiganya (Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Hajar) kemudian dilestarikan menjadi ritual ibadah yang disebut Manasik Haji dan Umrah. Kalau kita menunaikan ibadah haji atau umrah, yang kita tunaikan sesungguhnya adalah melakoni kembali atau menapaktilasi aktivitas mereka selama dan sesudah berlangsungnya ‘proyek’ renovasi dan pemugaran tersebut. Tawaf adalah ‘pekerjaan’ Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang berputar-putar di sekeliling الْبَيْت (al-bayt)  atau Ka’bah saat meletakkan batu demi batu hingga mencapai ketinggian tertentu seperti yang diperintahkan oleh Allah. I’tikaf adalah masa-masa ‘istirahat’ mereka seraya merenungkan kembali ‘pekerjaan’ monumental mereka. Salat adalah ritual rukuk dan sujud yang mereka lakukan secara rutin di setiap selesai masa ‘pekerjaan’ dalam satu hari.  “Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: ‘Sucikanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaaf, dan yang rukuk- sujud’.” (ayat 125) Sedangkan sa’i (berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah) adalah ‘perbuatan’ Hajar untuk menyiapkan makan-minum buat anak dan suaminya yang sibuk bekerja.

Inilah satu paket pembanguan fisik dan ruhani sekaligus. Inilah contoh dimana seluruh amal perbuatan manusia bernilai ibadah, menjadi bagian dari persembahan kepada Allah. Inilah ibadah yang memberi pesan yang teramat sangat kuat bahwa dikotomi, dualisme dan pemisahan hidup (antara dunia dan akhirat, fisik dan ruhani, material dan spiritual, yang profan dan yang transenden) tidak ada tempatnya dalam agama Ibrahim, tidak bernilai di dalam Islam. Bahwa مِّلَّة إِبْرَاهِيمَ (millah ibrāɦim) tidak mengenal sekularisme dan pemengggalan-pemenggalan hidup seperti itu. Bahwa مِّلَّة إِبْرَاهِيمَ (millah ibrāɦim) menghimpun seluruh komponen-komponen kehidupan menjadi satu kesatuan yang utuh, integral dan holistik. Dan الْبَيْت (al-bayt) yang suci harus menjadi pusat pelaksanaan peran-peran integral dan holistik seperti itu. Dan hanya Nabi Ibrahim beserta ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya yang suci yang pantas dan berhak memimpin pelaksanaan peran-peran itu. “Dan berjihadlah kalian pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kalian dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) مِّلَّة  (millah) orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kalian muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kalian semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kalian pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (22:78)

 

2). Yang menarik ialah penggunaan kata يَرْفَعُ (yarfa’u) dan الْقَوَاعِدَ (al-qawā’id). Di terjemahan, kata يَرْفَعُ (yarfa’u) diartikan “meninggikan” dalam pengertian membina atau membangun. Tapi bisa juga berarti “memuliakan” atau “mengutamakan” dalam pengertian menaikkan derajat. Di dalam al-Qur’an kata ini hanya 3 (tiga) kali muncul (2:127, 35:10, 58:11). Dua ayat terakhir sama-sama bermakna “memuliakan” atau “mengutamakan”: “Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik, dan Dia mengangkat amal yang saleh (ke tempat yang mulia). Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur” (35:10). “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis’, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (58:11). Ketika Nabi Ibrahim telah membuktikan imannya yang tak bercampur lagi dengan kezaliman walau hanya sedikit kepada kaumnya (6:80-83), Allah kemudian memujinya degan menggunakan kata yang sama, نَرْفَعُ (narfa’u): “Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (6:83) Sedangkan kata الْقَوَاعِد (al-qawā’id) adalah bentuk jamak dari kata القاعدة (al-qā’idah) yang secara harafiah—menurut Kamus al-Mawrid al-Qareeb—bermakna “rule, precept, maxim; base, basis, foundation; grammar”. Kata الْقَوَاعِد (al-qawā’id) juga digunakan 3 (tiga) kali (2:127, 16:26, 24:60). Di 16:26 الْقَوَاعِد (al-qawā’id) diartikan dengan “pondasi”, sedangkan di 24:60  diartikan dengan “wanita menopause” (wanita yang tidak bisa lagi haid dan mengandung, alias tidak produktif).

Dengan demikian, kalimat يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ (yarfa’u ibrāɦimul-qawā’ida minal-bayti wa ismā’ilu, Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail),   selain bisa diartikan secara fisik—yaitu renovasi dan pemugaran Kakbah—juga bisa diartikan secara simbolik. Yaitu bahwa الْبَيْت (al-bayt) yang selama ini terbengkalai dan tidak produktif lagi (bagai wanita menopause) secara spiritual dan soial, secara teologis dan humanis, kini diangkat dan ditinggikan kembali derajat kemuliaannya di mata manusia oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. “Allah telah menjadikan Kakbah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, hadya, qalaid. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamlian tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (5:97).

 

3). Setelah itu, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail berdoa. Ini menunjukkan begitu pentingnya mengiringi suatu kegiatan (ibadah dan muamalah) dengan doa. Dan doa ini dipanjatkan bersama-sama atau berjamaah oleh keduanya. Hal itu bisa dilihat dari penggunaan kata “kami” di dalam doanya: رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (rabbanā taqabbal minnā innaka antas-samĭy’ul-‘alĭym, Ya Tuhan kami terimalah dari kami (amalan kami ini), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui). Yang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail minta ialah agar Allah berkenan menerima amalan keluarganya dalam ‘membangun’ dan ‘menghidupkan’ kembali الْبَيْت (al-bayt). Begitu pentingnya sampai-sampai doa Nabi Ibrahim dan Ismail ini ditempatkan oleh Allah di beberapa ayat yang berbeda (ayat 127, 128 dan 129). Dan tentu saja ini bukan sekedar doa. Ini juga pasti mengandung pesan; bahwa kalau Allah saja diminta berkenan menerimanya, apatah lagi generasi-generasi agama ibrahimik yang datang kemudian. Maka siapa saja yang merendahkan nilai dari الْبَيْت (al-bayt) ini dengan cara ‘mengubur’-nya dengan timbunan bangunan-bangunan kapitalistik-komersialistik, sama saja dengan menolak doa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tersebut, dan cepat atau lambat niscaya mereka akan mendapatkan tulanya. “Di antara orang-orang Arab Badwi itu, ada yang memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) sebagai suatu kerugian dan dia menanti-nanti marabahaya menimpamu (Muhammad); merekalah yang akan ditimpa marabahaya. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (9:98)

 

3). Kalau kita memahami kata يَرْفَعُ (yarfa’u) dalam pengertian simboliknya, yang berarti “menaikkan derajat kemuliaannya”, dan kata الْقَوَاعِدَ (al-qawā’id) berarti “basis” atau “pondasi”; maka pekerjaan renovasi dan pemugaran tersebut harus juga bisa dilihat sebagai aktivitas yang berangkat dari basis kemanusiaan kita yang paling asasi, fithrah, untuk mencapai derajat kesempurnaan. Dan tawaf, yang disimbolkan dengannya, adalah ‘gerak’ atau mujahadah tanpa henti untuk menuju ke derajat kesempurnaan tersebut, yakni derajat Insan kamil, seperti yang telah dicapai oleh Nabi Ibrahim dan Ahlul Bait-nya. “Dan tidak ada yang benci kepada millah Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh” (2:130).

 

4). Demikian mulianya nilai dari الْبَيْت (al-bayt) tersebut. Sayangnya الْبَيْت (al-bayt) ini pernah mendapat serangan membabibuta hingga rusak berat dan terbakar pada zaman Yazid bin Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Mari kita simak nukilan Imam as-Suyuthi di dalam Tarikh Khulafa’-nya: “Adz-Dzahabi berkata: Tatkala Yazid melakukan kekejian terhadap penduduk Madinah—dengan sambil meminum minuman keras dan melakukan kemungkaran—banyak orang yang semakin benci kepadanya dan banyak yang memberontak. Dan Allah sama sekali tidak memberkahi umurnya. Kemudian  pasukan Harrah (bentukan Yazid, pen) berangkat menuju Mekah untuk memerangi Abdullah bin Zubair…. Tentara itu datang ke Mekah. Mereka memerangi Andullah bin Zubair dan melemparinya dengan manjaniq (panah berapi, pen). Peristiwa ini terjadi pada bulan Shafar tahun 64H. Karena lemparan manjaniq yang mengandung api mengakibatkan sebagian penutup Kakbah terbakar, atap-atap Kakbah dan dua tanduk domba yang merupakan tanduk domba kurban Nabi Ibrahim juga ikut terlalap api. Kedua tanduk tersebut saat itu berada di atap Kakbah. “ (Tarikh Khulafa’, Imam as-Suyuthi, Penerjemah: Samson Rahman, MA, Penerbit: Pustaka al-Kautsar, Jakarta, Cetakan ketujuh, 2010, hal.248) Pasukan Yazid bin Mu’awiyah bin Abu Sufyan ini pulalah yang membantai dan memenggal kepala ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) Rasulullah, al-Husain, sebelumnya di Karbala. Hebatnya lagi, sebagian kalangan melegitimasi Yazid sebagai salah satu Khalifah Islam dan menggelarinya Amirul Mu’minin. Padahal Allah telah berfirman dengan teramat sangat jelas: “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (4:93)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Islam tidak mengenal dualitas dikotomis antara dunia dan akhirat, antara material dan spiritual. Apalagi sekularisme. Aktivitas fisik seorang mukmin adalah bagian integral dari aktivitas ruhaniahnya untuk mencapai derajat kesempurnaan. Itu sebabnya, tak ada aktivitasnya yang tak bermula dengan doa dan berakhir dengan doa. Karena dengan doa, dia berharap Allah menerimanya sebagai persembahan dan penyerahan diri kepada-Nya.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply