Al-Baqarah ayat 124

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
April 27, 2011
0 Comments
3058 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 124

 

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَاماً قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِي قَالَ لاَ يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

[Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah (setelah itu) berfirman: “Sesungguhnya Aku menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak berlaku untuk orang-orang zalim”.]

[And when his Lord tried Ibrahim with certain words, he fulfilled them. He said: Surely I will make you an Imam of men. Ibrahim said: And of my offspring? My covenant does not include the unjust, said He.]

 

1). Perhatikan, dalam perpindahan tema (dari kisah Bani Israil ke Nabi Ibrahim dengan perjuangan monoteistiknya), ayat dimulai lagi dengan kata إِذْ (idz, ketika). Dan adanya huruf و ‘athaf (wāwu sambung, artinya “dan”) di awal ayat menunjukkan bahwa tema baru ini tidak terlepas dari tema sebelumnya. Dengan demikian, kini kita berjumpa dengan kata إِذْ (idz, ketika) yang keenambelas. Di balik kata إِذْ (idz, ketika) yang sekarang, Allah mengarahkan kita secara khusus kepada ‘kasus’ pengujian Nabi Ibrahim yang—karena melulusinya secara sempurna—menyebabkannya pantas menempati posisi “Imam untuk seluruh manusia” atau terkadang disebut “Sayyidut Tauhid” (Sayyidnya orang-orang yang hendak mentauhidkan Allah dengan benar). Bukan berarti nabi dan rasul yang lain, yang hidup sebelumnya, tidak mengajarkan tauhid. Bukan. Ini semata karena kepada Ibrahimlah paling sering disematkan cerita heroik berkenaan dengan penegakan tauhid sejati. Dan, lagi, paska Nabi Ibrahim, semua nabi dan rasul muncul dari keturunannya. Sehingga, Nabi Ibrahim bukan saja berstatus sebagai ayah biologis para nabi dan rasul, tapi juga ayah teologisnya. Nabi Ibrahim adalah parameter benar tidaknya tauhid seseorang. Artinya, semua orang yang mengklaim diri sebagai ahli tauhid dan anti syirik, validitasnya harus diukur berdasarkan parameter Ibrahim: kalau sejalan, berarti “benar”, dan kalau tidak sejalan, bebarti “salah”.

Betapa tidak, Nabi Ibrahimlah yang dianggap pertama kali melakukan semua cara untuk menegakkan sistem masyarakat tauhid, termasuk berhadapan langsung dengan Raja, Tiran, dan Penguasa Diktator di zamannya, Namrut, yang kekuasaannya meliputi seluruh wilayah Mesopotamia. Alih-alih mendapat sambutan positif, Nabi Ibrahim bahkan ditangkap, dipenjarakan, disisksa, kemudian dilemparkan ke dalam api unggun raksasa. Setelah selamat dan keluar dari kepungan api (21:69), Nabi Ibrahim memenuhi seruan Tuhannya untuk meninggalkan Babilonia (ibu kota kerajaan, yang masuk wilayah Irak sekarang), membawa keluarganya (termasuk sepupunya, Nabi Luth) menempuh perjalanan panjang dan melelahkan menuju ke pusat geopolitik tauhid yang terletak di tengah-tengah Padang Pasir di sebuah lembah berbatu cadas di balik gunung-gunung batu hitam terjal, yang bernama Mekah, yang tak berpenghuni, yang tak punya tanda kehidupan, yang tak pernah dilintasi musafir manapun. “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, agar mereka bersyukur.” (14:37) Pertanyaan krusialnya ialah, bagaimana gerangan cara Nabi Ibrahim menemukan tempat terisolasi itu, yang kejadiannya kurang lebih 4000 (empat ribu) tahun yang lalu, di masa ketika belum ada alat-alat pemandu seperti peta dan semacamnya? Jawaban yang paling mungkin ialah, karena safari ini atas perintah Tuhan maka pasti perjalanannya juga atas panduan Tuhan. “Dan Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya aku pergi untuk (memenuhi panggilan) Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (37:99)

Dalam perjalanannya, Nabi Ibrahim melewati negeri Kanaan (sekarang lebih dikenal dengan Palestina). Di sana dia menempatkan istri pertamanya, Sarah, bersama keluarganya yang lain. (Catatan: Dari sinilah nantinya lahir wangsa Bani Isail). Sementara Nabi Luth dia tugaskan ke sebuah tempat di sekitar Laut Mati, Sodom dan Gomorah, untuk mengajak penduduknya kembali ke jalan yang benar karena mereka telah mengidap penyakit sosial yang teramat akut, homoseksual. Praktis hanya dia dan istri keduanya, Hajar, beserta bayi pertamanya, Ismail, yang melanjutkan perjalanan menuju Mekah. Di sana dia, istri dan anaknya membangun kembali Ka’bah, tempat ibadah pertama yang dibangun di muka bumi. Dari sinilah lahir keturunan Nabi Ibrahim yang lain, Bani Ismail, wangsa Arab, yang daripadanya lahir Nabi Muhammad saw. “Maka Luth mengimani (kenabian) nya. Dan berkatalah Ibrahim: ‘Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku (kepadaku); sesungguhnya Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan Kami anugrahkan kepada Ibrahim, Ishak dan Ya’qub, dan Kami jadikan kenabian dan Kitab Suci pada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasannya di dunia; dan sesungguhnya dia di akhirat, benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (29:26-27)

 

2). Penggunaan kata ابْتَلَى (ibtalā) bermakna “memberikan ujian atau cobaan”. Untuk apa? Tentu bukan agar Tuhan mengetahui. Karena tanpa ujian itu Tuhan sudah pasti mengetahuinya, sebab Dia-lah yang Maha Mengethui. Ujian itu adalah untuk yang bersangkutan, untuk kita, dan untuk seluruh manusia, agar kita saling mengenal satu sama lain, terutama dalam hal kapasitas kemampuannya. Sehingga, dengan begitu, masing-masing dari kita mengenal siapa yang paling cocok memikul (tangung jawab) apa. Cara menghadapi dan menyikapi ujian inilah yang kemudian menjadikan jenjang kualifikasi manusia bergradasi, dari yang paling buruk hingga yang paling baik. “(Dialah Allah) Yang menciptakan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (67:2) “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (18:7) “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.” (21:35) “Dan sungguh Kami akan menguji kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (2:155) Hukum “ujian atau cobaan” ini bersifat umum, tanpa mengecualikan siapapun, termasuk para nabi dan rasul, temasuk Nabi Ibrahim. Karena kalau tidak, maka nabi dan rasul tersebut tidak memiliki kelebihan apapun, dan urgensinya untuk digugu dan ditiru menjadi hilang. Campur tangan Tuhan pada setiap nabi dan rasul hanyalah unsur kedua. Unsur pertama tetap ada pada kerja keras nabi dan rasul tersebut. Dengan membaca kenyataan ini, setiap orang tidak punya alasan untuk berputus asa. Setiap orang diberi potensi dan kemampuan yang sama. Allah tidak mungkin membeda-bedakan hamba-Nya. Kalau Nabi Ibrahim berhasil mencapai “puncak” tauhid sejati, maka itu tidak lepas dari hasil usaha dan perjuangannya yang memang hanya diarahkan sepenuhnya ke sana. Dan kalau kita tidak mencapainya, itu juga karena usaha dan perjuangan kita memang tidak diarahkan secara maksimal ke sana. Mayoritas dari kita cuma memfokuskan usaha dan perjuangannya kepada hal-hal yang bersifat duniawi, material dan temporal; dan hasilnya juga terbukti sungguh luar biasa—kemajuan peradaban material kita benar-benar mencengangkan. Alhasil, ujian kitapun hanya di seputar hal-hal yang berkaitan dengan duniawi beserta kandungan materialnya: “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya dengan memuliakan-Nya dan memberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku’. Adapun bila Tuhannya mengujinya dengan membatasi rezkinya maka dia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku’.  Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kalian tidak memuliakan anak yatim. Dan kalian tidak saling mengajak memberi makan orang miskin. Dan kalian memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil). Dan kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (89:15-20)

 

3). Lalu dengan apakah Nabi Ibrahim diuji oleh Allah? Karena ujian atau cobaan membuat manusia menapaki jenjang-jenjang gradasi yang lebih tinggi, maka bisa dipastikan, jenis ujian atau cobaan pun bersifat progressif. Artinya, makin tinggi jenjang gradasi seseorang makin berat juga ujian atau cobaannya. Di ayat ini, untuk Nabi Ibrahim—beda dengan ujian yang diberikan kepada manusia yang bergradasi rata-rata seperti disebutkan di poin 2)—Allah menyebut ujian untuknya بِكَلِمَاتٍ (bikalimātin, dengan beberapa kalimat). Lalu apa yang dimaksud dengan بِكَلِمَاتٍ (bikalimātin, dengan beberapa kalimat) itu? Pertama, sebahagian besar ahli tafsir mengartikannya dengan “beberapa perintah dan larangan”. Ini bisa difahami sebab kata بِكَلِمَاتٍ (bikalimātin) adalah bentuk jamak, sehingga bisa berarti sekumpulan perintah dan larangan, atau sejumlah tugas-tugas. Dan yang namanya pendidikan, pengajaran, dan pengarahan, memang selalu terdiri dari perintah-perintah dan larangan-larangan. Perintah dimaksudkan untuk melaksanakan hal-hal yang bisa merangsang tumbuh-suburnya potensi positif; larangan dimaksudkan untuk meninggalkan hal-hal yang bisa memicu aktualnya potensi negatif. “Demi NAFS (jiwa) dan apa-apa yang  menyempurnakan (kejadian)-nya. Maka Allah mengilhamkan kepada NAFS itu (dua potensi), (yaitu potensi yang akan membawanya kepada) kerusakannya dan (potensi yang akan membawanya kepada) ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (91:7-10) Nabi Ibrahim telah melaksanakan semua perintah dan meninggalkan semua larangan, secara sempurna, tanpa cacat sedikitpun. Dapat kita bayangkan, istri dan anak yang telah lama dinanti kelahirannya, tiba-tiba diperintah untuk dibawa dan ditinggalkan di sebuah lembah bebatuan tak bertuan di tengah-tengah rimbunan gunung-gunung cadas. Setelah datang untuk kali berikutnya, setelah anaknya tumbuh dewasa, setelah menyambutnya dengan rasa rindu yang membuncah, setelah membantunya membangun Ka’bah, tiba-tiba datang perintah untuk menyembelihnya dengan tangannya sendiri. Bagaimana pula dengan perasaan Hajar yang membesarkan anaknya seorang diri. Semua itu tidak bisa kita sebut perkara kecil. “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersamanya, (Ibrahim pun) berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam tidurku bahwa aku (diperintah untuk) menyembelihmu. Maka fikirkanlah, apa pendapatmu!’ Ia (Ismail) menjawab: ‘Hai ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’.” (37:102)

Kedua, pengertian بِكَلِمَاتٍ (bikalimātin) berikutnya ialah seperti yang telah kita bahas di ayat 37, berkenaan dengan كَلِمَات (kalimāt) yang diterima Adam sebagai persyaratan taubatnya. Yaitu bahwa كَلِمَات (kalimāt) di situ ialah beberapa sosok ilahi yang akan menempati posisi sebagai Khalifah Ilahi yang bertugas menghindarkan manusia dari permusuhan, pertumpahan darah, dan pengrusakan di muka bumi, yang akan menegakkan keadilan dan menghindarkan manusia dari kezaliman. Kalau kita menganut pengertian ini, berarti kata kuncinya ada pada prosesi penyembelihan Ismail oleh ayahnya sendiri, Nabi Ibrahim. Jadilah anak kalimat وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ (wa idzibtalā ibrāɦima rabbuɦu bikalimātin) bermakna: “Dan ingatlah tatkala Nabi Ibrahim diuji Tuhannya dengan meminta kesanggupannya untuk menjadikan anak-anak keturunannya yang menjadi sosok-sosok ilahi sebagai ‘tumbal’ risalah tauhid sejati.” Sebagai bukti kesanggupannya, Nabi Ibrahim menunjukkan kesediaannya untuk menyembelih Ismail. Itulah sebabnya, pada saat penyembelihan itu sudah sedang akan berlangsung, Allah dengan serta-merta ‘datang’ seraya berseru: “….’Hai Ibrahim! Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu’. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang agung.  Kami abadikan Ibrahim itu (pujian yang baik) untuk orang-orang yang datang kemudian. (Yaitu) ‘Selamat atas Ibrahim’.” (37:104-109) Coba cermati tiap kata atau kalimat yang ditebalkan dan digarisbawahi. Frase benar-benar ujian yang nyata menunjukkan bahwa ujian yang dimaksud di ayat tadi (37:105) dan ayat 124 adalah kesediaan Nabi Ibrahim menyembelih atau mengorbankan anak keturunannya demi tegaknya risalah tauhid paska Nabi Ibrahim. Frase sembelihan yang agung menunjukkan bahwa pengganti Nabi Ismail bukan sembarang pengganti. Tidak ada satu indikasi bahwa pengganti di situ adalah jenis hewan ternak. Bagaimana mungkin sembelihan yang agung dimaknai sebagai sekor kibas atau seekor domba. Frase untuk orang-orang yang datang kemudian menunjukkan bahwa momentum kejadian ini akan berlangsung hingga manusia terakhir, hingga Hari Kiamat. Yaitu bahwa pelaksana risalah tauhid untuk selamanya selalu datang dari sulbi Nabi Ibrahim. Dengan kata lain, Nabi Ibrahim adalah Bapak Biologis dan Teologis para penegak risalah tauhid yang datang kemudian. Ini penting, demi menghindari masuknya ‘sopir-tembak’ di sepanjang sejarah agama-agama ibrahimik. Sekaligus, sebaliknya, sebagai tolok ukur apakah Khalifah tersebut benar atau tidak, ilahi atau duniawi. Frase Selamat atas Ibrahim’ menunjukkan bahwa di ujung sejarah, the end of history, di puncak peradaban manusia, kemenangan ada pada risalah tauhid, risalah ilahi, risalah ibrahimik, seperti gagasan Tuhan ketika mengangkat Adam sebagai Khalifah Ilahi pertama (ayat 30). “Sesungguhnya Ibrahim adalah (seorang imam untuk) satu umat yang dapat dijadikan teladan, patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Allah). (Lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah; Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (16:120-122)

 

4). Lalu apa yang terjadi dengan ujian itu? Ternyata: فَأَتَمَّهُنَّ (fa-atammaɦunna, lalu Ibrahim menunaikannya). Kalau kita memaknai بِكَلِمَاتٍ (bikalimātin, dengan beberapa kalimat) dengan pengertian pertama, berarti tak satupun—dari sekian banyak—kehendak Tuhan yang didurhakai oleh Nabi Ibrahim. Kalau kepada orang tua saja kita dilarang mengucapkan kata keluhan “uff atau ahh” (17:23), apalagi kepada Allah. Dan Ibrahim tidak pernah memperlihatkan keluhan seperti itu, seberat apapun ujian atau cobaannya. Dia telah berhasil menaklukkan hawa nafsunya. Ego-nya telah fana’ dan yang ada hanya Ego Tuhannya. Dia tidak punya lagi “aku” untuk meng-“aku”. Isteri dan anaknya tidak pernah dia “aku”. Ibrahim telah kehilangan kehendaknya. Kehendak Ibrahim adalah kehendak Tuhannya. Perbuatannya adalah perbuatan Tuhannya (tauhid af’al); yang dia saksikan di seluruh penjuru, termasuk dirinya yang menyaksikan, adalah asma’-Nya (tauhid asma’); yang dia sifati adalah sifat-Nya (tauhid sifat); seluruh keberadaannya lebur ke dalam Wujud Zat-Nya yang tunggal dan sederhana (tauhid Zat). Yang menyaksikan dan Yang disaksikan telah menyatu. Dialah teladan murni dari ayat مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلّهِ [man aslama wajɦaɦu lillaɦi, siapa saja yang menyerahkan wajahnya kepada Allah—(ayat 112)]. Dialah “Sayyidut Tauhid” itu. “Dan Ibrahim yang menyempurnakan janji.” (53:37) “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan wajahnya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kekasihNya.” (4:125)

Kalau kita memaknai بِكَلِمَاتٍ (bikalimātin, dengan beberapa kalimat) dengan pengertian kedua, berarti setelah diperlihatkan oleh Allah sosok-sosok ilahi dari ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya dengan segala macam lika-liku pengorbanannya, dengan segala rupa pahit-getir perjuangannya, hingga kesyahidannya yang memilukan, Nabi Ibrahim kemudian merestuinya. Nabi Ibrahim ikhlas mengorbankan semuanya sbagaimana ia telah mengorbankan Ismail. Dan semuanya juga menyahuti dengan ikhlas dan sabar keredhaan datuknya sebagaimana Ismail berkata kepada ayahandanya: “…. Hai ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’.” (37:102) Ketika ‘menyaksikan’ pengorbanan jiwa-raga  ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya yang suci itu, Nabi Ibrahim sama sekali tidak mengeluh, apalagi menyesal. Nabi Ibrahim bahkan bahagia ‘menyaksikan’ penyerahan diri secara total mereka semua. Nabi Ibrahim benar-benar berhasil mempersembahkan mereka semua. Sehingga yang kita saksikan adalah adanya dua pihak—Nabi Ibrahim dan  ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya yang suci—yang sama-sama melakukan penyerahan diri, menghadapkan wajahnya, dan menunjukkan keikhlasan dan kesabarannya secara sempurna kepada Rab-nya. “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (maka nyatalah kesabaran keduanya).” (37:102)

 

5). Demi menyaksikan fenomena yang menakjubkan itu, Allah menunjukkan apresiasi-Nya kepada kekasih-Nya, kepada Nabi Ibrahim. قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَاماً (qāla innĭy jāiluka linnāsi imāma, Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”). Perhatikan kata جَاعِل (jāil, menjadikan) di penggalan ayat ini. Itu persis ketika Allah mewartakan kepada para malaikat: إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً (innĭy jāilun fĭyl-ardhi khalĭyfah, sungguh Aku akan menjadikan di bumi khalifah). Kata “di bumi” sama maknanya dengan “bagi seluruh manusia”, karena manusia yang dimaksud di situ adalah manusia yang berdiam di bumi Sehingga setiap manusia atau kelompok orang akan dibangkitkan nanti di akhirat berdasarkan Imam-nya masing-masing: .”Pada hari itu Kami panggil tiap umat dengan imam-nya (masing-masing); dan barang siapa yang diberikan kitab amalnya di tangan kanannya maka merekalah (yang) akan membaca kitabnya (tersebut), dan mereka tidak dianiaya sedikit pun. Dan siapa yang buta (hatinya) di dunia ini (sehingga tidak mengenal imamnya yang benar), niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang lurus).” (17:71-72) Siapa yang dimaksud buta di ayat tadi? Tentu kata itu tidak bisa dimaknai secara lahiriah. Al-Qur’an yang suci tidak mungkin mendiskreditkan mereka yang mengalami cacat fisik. Yang dimaksud “yang buta” di situ pastilah “yang buta mata hatinya”, “yang buntu akal budinya”, sehingga tidak mengenal Imam-nya yang benar. Ya, yang benar. Karena ada Imam yang tidak benar alias palsu. Imam yang benar adalah Imam yang dipilih dan diangkat oleh Allah dan Rasul-Nya; contoh redaksi kalimat pengangkatannya: إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَاماً (innĭy jāiluka linnāsi imāma, “Sesungguhnya Aku (Allah) menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”). Sedangkan Imam yang palsu adalah Imam yang dipilih dan diangkat oleh sesamanya manusia. Maka di dalam pelaksanaan tugasnya, mereka ini hanya menjalankan agenda-agenda manusia yang memilihnya. Jubah agama hanyalah pemanis belaka. Mereka inilah yang—jengkal demi jengkal, langkah demi langkah, masa demi masa—mendeviasi manusia dari Jalan-Nya yang lurus: “Dan Kami jadikan mereka (tokoh fir’aunis sebagai) imam-imam yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka (imam yang palsu beserta para pengikutnya) tidak akan ditolong.” (28:41)

 

6). Dengan munculnya kata “imam” di ayat ini, berarti Allah memperkenalkan kepada kita bahwa ada 3 (tiga) macam gelar pelaksana Khalifah Ilahi: Nabi, Rasul, dan Imam. Ciri utama seorang “Nabi” ialah menerima wahyu dari Allah seperti dalam ayat: “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” (4:163) Yang dimaksud wahyu di sini tidak selamanya dalam bentuk Kitab Suci. Bisa saja dalam bentuk bimbingan dan arahan untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu. Contohnya: “Lalu Kami wahyukan kepada Musa: ‘Pukullah lautan itu dengan tongkatmu’. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.” (26:63) Tetapi tidak semua yang menerima wahyu disebut nabi, karena Ibu Musa juga menerima wahyu (28:7), padahal sudah dikunci oleh Allah bahwa nabi itu dari kalangan laki-laki (12:109, 16:43, 21:7). Jadi disebut nabi bukan karena menerima wahyu. Disebut nabi karena yang bersangkutan memang ditunjuk dan diangkat oleh Allah sebagai nabi. Di sini kita lihat betapa urgennya yang namanya “penunjukan” dan “pengangkatan”. “Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishaq, dan Ya`qub. Dan masing-masingnya (Ishaq dan Ya’qub) Kami angkat menjadi nabi.” (19:49)

Sedangkan “Rasul”, selain seorang nabi, dia juga menerima atau ditugaskan sebagai pembawa dan atau pelaksana risalah ilahi yang berisi aturan atau konstitusi kehidupan (individu dan masyarakat, ritual dan sosial, keluarga dan pemerintahan). Para rasul ini bertugas menerapkan risalah ilahi tersebut, sehingga terbukti mengalahkan (dari sisi kesempurnaan dan keindahannya) aturan atau konstitusi manapun. Termasuk di dalamnya tata cara suksesi pelaksana risalah ilahi selanjutnya, agar jangan sampai usaha keras dan penuh pengorbanan yang luar biasa itu jatuh ke tangan pihak-pihak yang tidak berhak. “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Kitab Suci) dan agama (aturan hidup) yang benar untuk dimenangkan atas semua agama (aturan hidup). Dan cukuplah Allah sebagai saksi.”(48:28, lihat juga 9:33 dan 61:9).

Lalu “Imam”. Kalau melihat konteks ayat, ini adalah bentuk advanced (dalam pengertian kualias dan atau kontinuitas) dari Nabi dan rasul. Karena Nabi Ibrahim sendiri diangkat jadi Imam justru setelah seluruh tugas-tugas kenabian dan kerasulannya hampir selesai. Sekaligus menjelaskan bahwa yang namanya Imam bisa menyandang gelar nabi dan rasul sekaligus, tapi bisa juga tidak. Imam yang menyandang gelar nabi dan rasul inilah yang kita sebut advanced dalam pengertian kualitas dan kontinuitas. Contohnya: “Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishaq dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masing Kami jadikan mereka orang-orang yang saleh. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai imam-imam (pemimpin-pemimpin ilahi) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka (untuk) mengerjakan kebajikan, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.” (21:71-73) Tetapi karena kenabian dideklarasikan secara terbuka oleh Allah sebagai telah tertutup (33:40), sementara imamah menurut ayat 124 ini akan terus berlanjut seiring dengan berlanjutnya kehidupan umat manusia, maka lahirlah Imam yang advanced dalam pengertian kontinuitas saja dari pelaksanaan tugas nabi dan rasul. Artinya Imam paska berakhirnya kenabian adalah Imam yang sudah pasti tidak lagi menyandang gelar nabi dan rasul. Contoh Imam yang bukan Nabi dan Rasul: ”Dan Kami jadikan di antara mereka itu imam-imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (32:24)

 

7). Demi menghindarkan manusia dari salah memilih Imam inilah sehingga Nabi Ibrahim mengajukan permintaan penting kepada Allah berkenaan dengan pelantikannya sebagai Imam bagi seluruh manusia. قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِي [qāla wa min dzurriyyatĭy, Dia (Ibrahim) berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”]. Benar, Imam itu adalah jabatan teologis, dan biologis. Tapi tanpa mengkanalisasinya secara biologis, masalahnya menjadi mengambang dan rentan diklaim oleh siapapun juga. Maka permintaan Nabi Ibrahim ini adalah untuk ‘mengunci’ alur biologis para Imam demi menghindari penyalahgunaan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Karena di penyalahgunaan inilah letaknya seluruh ihwal kezaliman, kerusakan, merebaknya fitnah, dan bentuk-bentuk ketidakadilan lainnya. Korbannya adalah manusia dan kemanusiaan. Korbannya adalah orang-orang kecil dan tak berdaya. Kalo Ibrahim sudah ‘mengunci’ seperti ini baru terjadi semua kerusakan itu, maka Allah dan Ibrahim sudah punya hujjah, sudah punya argumentasi nanti di akhirat untuk ‘melawan’ mereka yang keberatan atas hukuman-Nya. “Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (6:83) “Dan orang-orang yang ber-hujjah (dengan membantah agama) Allah sesudah agama itu diterima (akal sehat) maka hujjah mereka itu sia-sia belaka di sisi Tuhan mereka. Mereka mendapat kemurkaan (Allah) dan bagi mereka azab yang sangat keras.” (42:16)

Selain ‘mengunci’ alur biologis para Imam tadi, melalui permintaan Nabi Ibrahim ini, gagasan Tuhan untuk menjadikan Khalifah Ilahi di bumi, untuk seluruh manusia, juga akan terwujud secara sempurna di tangan Nabi Ibrahim dan ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya yang suci. Akibatnya, setiap suatu periode tertentu, akan ada Imam yang bertugas sebagai pasangan hidup dari risalah ilahi. Di samping Kitab Suci yang tertulis selalu ada Kitab Suci yang berjalan. Maka sosok-sosok ilahi dari ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) Ibrahim itulah yang akan menjamin keberlangsungan dan keterjagaan risalah ilahi agar tidak terdistorsi, terdeviasi, dan terbiaskan. Sebaliknya, siapapun selain mereka, di tangannya risalah pasti mengalami dekadensi dan berbagai bentuk kerusakan, kendatipun menggunakan jubah ilahi. Dan sebetulnya, risalah yang rusak seperti itu tidak pantas lagi disebut risalah ilahi. Karena yang namanya risalah ilahi tidak mungkin tercemari sedikitpun oleh jamahan manusia. Mari kita kutipkan kembali hadits yang pernah kita ulas saat membahas ayat 60: “Jika dunia ini tinggal sehari saja, niscaya Allah akan (memperpanjangnya lalu) membangkitkan seorang lelaki dari Ahli Bayt-ku; yang akan memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kejahatan.” (HR. Abu Daud) Siapakah lelaki itu? Abu Daud mengutip Ummu Salamah ra berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: ‘Al-Mahdi adalah dari ‘Itrah-ku, anak (keturunan) Fathimah’.” Kalau Imam Mahdi adalah anak (keturunan) Fathimah, bukankah itu berarti ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) Nabi Ibrahim juga? Dalam kaitan inilah perlunya kita merenungi kembali doa Rasul—yang sering juga kita baca—berikut ini: “….Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami, (agar) pasangan-pasangan kami dan ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (25:74) Karena Nabi Muhammad, Fathimah dan anak-anaknya adalah ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) Nabi Ibrahim juga, maka doa Rasul ini adalah tongkat estafeta dari permintaan Nabi Ibrahim, agar alur biologis tadi tetap terjaga hingga Hari Kiamat.

 

8). Apakah Allah menerima permintaan Nabi Ibrahim tadi? Ya, dengan catatan: قَالَ لاَ يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ (qāla lā yanālu ‘aɦdĭyzh-zhālimĭyn, Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak berlaku untuk orang-orang zalim”). Jadi Allah mengabulkan permintaan Nabi Ibrahim dengan syarat. Dan syarat Allah ini adalah syarat kita juga dalam menilai orisinal tidaknya seorang Imam. Yaitu bahwa Imam yang datang setelah Nabi Ibrahim adalah ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) Nabi Ibrahim “yang tidak melakukan kezaliman”, yang hati, lisan, dan perbuatannya tidak lagi terjamah oleh hawa nafsunya, yang terjaga dari dosa, yang ma’shum, yang jiwanya hanya diisi oleh hikmah dan cahaya ilahi. Karena kata ظَّالِم (zhālim) dalam al-Qur’an selalu mengacu kepada perbuatan dosa yang rentan terhadap pengrusakan agama dan kemanusiaan. Misal: mendekati ‘pohon’ kekuasaan duniawi (2:35), menyembah berhala (2:51 dan 92, 35:40), melanggar hukum-hukum Allah (2:229), menolak berinfak di jalan Allah (2:254),  mengada-adakan dusta atas nama Allah (3:94) atau menentang ayat-ayat-Nya (6:21), tidak menerapkan hukum berdasar apa yang Allah turunkan (5:45), menjadikan wali atau pelindung orang-orang yang mendahulukan perbuatan kufur daripada iman (9:23), berkhianat (12:23), mendustakan rasul (6:113) dan menuduhnya terkena sihir (17:47, 25:8), menolak ketetapan Rasul pada urusan yang tidak mendatangkan kemaslahatan baginya (24:48-50), tidak memahami rahasia “penunjukan” dan “pengangkatan” sosok ilahi yang pantas menjadi pendamping al-ɦudā atau Kitab Suci (28:37, 29:49) dan memilih tidak masuk ke dalam wilayahnya (42:7-8), orang yang tersesat karena tidak menemukan kebenaran (31:11), tidak mengimani Kitab Suci (34:31), senang memperolok-olok kelompok lain dan mudah memvonisnya fasik: bid’ah atau sesat (49:11), berkawan dengan pihak yang jelas-jelas memusuhi dan mengusir kaum Muslim dari kampung-kampung halaman mereka dan pihak manapun yang membantu pengusiran itu (60:9).

Kalau penetapan ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) Nabi Ibrahim adalah caranya Allah ‘mengunci’ alur biologis para Imam, maka melalui klausa “yang tidak melakukan kezaliman” Dia ‘mengunci’ alur teologisnya. Sehingga bukanlah ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) yang mutlak. Yang mutlak adalah klausa “yang tidak melakukan kezaliman”, yang mengalir bersama, dan di dalam,  ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) Nabi Ibrahim. Apakah ada dari ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) Nabi Ibrahim yang melakukan kezaliman? Banyak. Bahkan sangat banyak. “Dan Kami beri dia (Ibrahim) kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.” (37:112-113). Bani Israil yang telah kita bahas sejauh ini (ayat 40-123), yang mendustakan dan membunuh nabi-nabinya adalah ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) Nabi Ibrahim dari pihak Ishaq. Dan yang menjadi tokoh-tokoh kunci yang menentang, mengusir, dan memerangi Rasul dari Mekah adalah ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) Nabi Ibrahim dari pihak Ismail. Penegasan Allah bahwa “Janji-Ku (ini) tidak berlaku untuk orang-orang zalim” adalah bentuk cegah-tangkal agar imamah dan jabatan Khalifah Ilahi jangan sampai jatuh ke tangan mereka; dan kalau toh mereka ‘berhasil’ mengambilnya dengan cara yang licik, maka penggalan ayat ini adalah “Pengumuman Terbuka” ke seluruh dunia bahwa itu adalah TIDAK SAH. “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya…. dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasai (Masjidil Haram). Orang-orang yang berhak menguasai (nya), hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Salat mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepukan tangan (belaka). (Kepada mereka dikatakan) maka rasakanlah (kelak) azab disebabkan kekafiranmu itu.” (8:30, 34-35)

 

9). Kejelasan dan kepastian alur biologis dan teologis itulah yang Allah ungkapkan dalam bentuk عَهْدِي (’aɦdĭy, janji-Ku). Kata ini persis yang Allah gunakan saat pertama kali menyapa Bani Israil di ayat 40: “Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janji-mu kepada-Ku niscaya Aku (pun) penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kalian harus takut (tunduk)”. Perhatikan baik-baik penggalan ayat 40 ini: وَأَوْفُواْ بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ [wa awfŭw bi’aɦdĭy ŭwfi bi’aɦdikum, dan penuhilah ‘aɦd/janji(-mu kepada)-Ku niscaya Kupenuhi juga ‘aɦd/janji-Ku kepadamu]. Lalu apakah Bani Israil memenuhi ‘aɦd/janji tersebut? Ayat 100 menjawabnya: “Apakah (patut mereka beriman kepada ayat-ayat Allah)! Bukankah setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka mencapakkannya? Bahkan (sebenarnya) sebahagian besar mereka tidak beriman.” Cerita panjang Bani Israil di Surah al-Baqarah ini adalah narasi panjang pengkhianatan terhadap ‘aɦd/janji Allah swt. Tetapi selain fakta, narasi itu juga ibrah (pelajaran berharga) bagi siapa saja yang berwilayah kepada seorang nabi, rasul, atau imam. Ibrah (pelajaran berharga) itu muncul saat Allah menjelaskan secara jeneral—lepas dari konteks Bani Israil atau kelompok manapun—diantara ciri-ciri orang kafir dan orang fasik di ayat 27: “(Yaitu) orang-orang yang melanggar janji Allah sesudah berikrar (untuk melaksanakan janji itu)….” Sehingga murka Allah (20:86) tidak saja ditimpakan kepada Bani Israil yang melanggar ‘aɦd/janji-nya, tapi siapa saja dan dari kalangan mana saja. Ahli neraka nanti adalah orang-orang yang tidak mendapatkan syafa’at karena memilih untuk tidak mau terikat dengan ‘aɦd/janji Allah: “Dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam keadaan dahaga. (Karena) mereka tidak berhak mendapat syafa’at kecuali orang yang telah mengambil ‘aɦd/janji di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah.” (19:86-87) Kalau toh mereka meneima ‘aɦd/janji Allah tersebut, mereka sengaja untuk tidak mematuhinya atau meninggalkannya karena lebih mengejar hal-hal yang menguntungkan secara material (16:95); mereka lupa bahwa ‘aɦd/janji itu wajib dipenuhi karena kelak Allah akan meminta pertanggungjaban atasnya: “… dan penuhilah ‘aɦd/janji; (karena) sesungguhnya ‘aɦd/janji itu pasti diminta pertanggungjawabnya.” (17:34)

 

10). Kesalahan kaum Nashrani adalah karena Nabi Isa tiba-tiba dikeluarkan dari alur biologisnya dengan mengangkatnya jadi Anak Tuhan. Ini adalah keluar dari prinsip kenabian yang sudah mengalir selama ini bahwa yang namanya Nabi dan Rasul hanyalah manusia biologis biasa, ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) dari nabi dan rasul sebelumnya. Dan secara tidak langsung mereka sebetulnya menerima ‘aɦd/janji Allah tersebut karena mereka pun mengakui bahwa tidak ada Nabi dan rasul manapun sebelum Nabi Isa yang bergelar Anak Tuhan, Nabi Adam (yang tidak punya ayah dan ibu) sekalipun. Kesalahan selanjutnya—yang dilakukan bersama dengan kaum Yahudi—ialah dengan menolak kenabian Nabi Muhammad padahal sangat jelas bahwa dia adalah ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) dari Nabi dan rasul sebelumnya. Inilah ungkapan Perjanjian Lama tentang Nabi Ibrahim: “Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka Tuhan menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: ’Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau menjadi sangat banyak. Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa... Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, serta keturunanmu turun-temurun, menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.” (Kejadian 17:1-5, dan7) Bentuk perjanjian yang bahkan tidak bisa hilang jejaknya itu ialah “sirkumsisi” alias “sunat” atau “khitan”. “Lagi Allah berfirman kepada Abraham: ‘Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun. Inilah perjanjian-Ku, yang kamu harus pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu haruslah disunat; haruslah dikerat kulit khatanmu, dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu’.” (Kejadian 17:9-11)

Maka mengeluarkan pemangku Khalifah Ilahi dari ‘aɦd/janji Allah ini—dengan mengeluarkan pelanjut risalah ilahi dari alur biologis dan atau teologis dari  ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) nabi dan rasul sebelumnya—berarti melakuka kesalahan fatal sebagaimana kaum Nashrani lakukan saat mengeluarkan Nabi Isa dari alur biologis kenabian. Bahkan mungkin lebih fatal lagi, sebab kaum Nashrani sendiri tidak mengeluarkan Nabi Isa dari alur teologisnya. Apabila kita sudah berprinsip bahwa pelanjut pelaksana risalah ilahi tidak perlu lagi berkualifikasi “terjaga” dari dosa, berarti kita telah mengeluarkannya dari alur teologisnya. Karena musykilah (kesulitan) yang muncul ialah bagaimana nanti membedakan bahwa yang dia laksanakan itu risalah ilahi atau hawa nafsunya!? Sementara Allah sudah mendeklarasikan bahwa: “Sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia. (Tersimpan) pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh). Tidak akan menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.” (56:77-79)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Tidak ada manusia manapun yang sanggup melepaskan diri dari ujian hidup. Ujian adalah suatu kemestian agar masing-masing diri mengetahui di tingkatan mana dia berada. Dengan mengetahui tingkatannya, dia bisa ‘membuat’ perhitungan tentang apa dan berapa ‘amunisi’ yang harus disiapkan untuk mencapai tingkatan Insan kamil (Manusia Sempurna). Nabi Ibrahim adalah contoh Insan Kamil, dan karenanya berhak menempati posisi IMAM bagi seluruh manusia.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

5 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply