Al-Baqarah ayat 123

By Muhammad Rusli Malik
In Tafsir Al-Baqarah
April 19, 2011
0 Comments
1715 Views

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 123

 

وَاتَّقُواْ يَوْماً لاَّ تَجْزِي نَفْسٌ عَن نَّفْسٍ شَيْئاً وَلاَ يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلاَ تَنفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَلاَ هُمْ يُنصَرُونَ

[Dan takutlah kalian kepada suatu hari (akhirat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membantu orang lain sedikitpun, tidak akan diterima keberatan daripadanya, dan tidak akan bermanfaat (lagi) baginya syafaat, serta mereka tidak akan ditolong.]

[And be on your guard against a day when no soul shall avail another in the least neither shall any compensation be accepted from it, nor shall intercession profit it, nor shall they be helped.]

 

1). Ayat ini sangat mirip dengan ayat 48, iringan ayat 47 yang sama dengan ayat di atas (122). Jadi bisa dikatakan bahwa ayat yang bunyinya seperti ini, sejauh ini, selalu bergandengan dengan ayat yang berkenaan dengan peringatan kepada Bani Israil yang telah Allah berikan kepadanya nikmat risalah dan kenabian—nikmat yang tak tertara bandaingannya—yang menyebabkan mereka disebut wangsa utama di seluruh alam. Pengiringan ini menunjukkan bahwa pengutamaan suatu kaum—melalui nikmat risalah dan kenabian yang Allah karuniakan kepadanya—sejalan dengan besarnya hukuman yang harus mereka terima nanti di akhirat. Maksudnya, semakin utama suatu kaum berkat risalah dan kenabian tersebut kalau mereka mengembannya dengan penuh amanah dan tanggung jawab, semakin keras siksaan yang mereka harus terima nanti di akhirat manakala mereka menerlantarkan dan mengkhianatinya. Bahkan keadaan dunianya pun tak jauh beda dengan keadaan akhirat yang digambarkan tersebut. Inilah yang menjelaskan kenapa begitu banyak kaum yang pernah menerima nikmat risalah dan kenabian tetapi kemudian hilang begitu saja kecuali jejak-jejak arsitektur peninggalan mereka saja. Inilah juga diatara tujuan sehingga amat sering Allah dalam al-Qur’an menyuruh kita bepergian di muka bumi guna memperhatikan apa yang terjadi pada mereka semua. Tentu saja maksudnya, agar kita tidak mengulangi kesalahan mereka. “Sesungguhnya telah berlalu sebelum kalian sunnah-sunnah Allah; karena itu berjalanlah kalian di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (Al Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (3:137-138)

 

2). Perbedaan antara ayat ini dengan ayat 48 terletak pada dua hal. Pertama, di ayat ini kata عَدْلٌ (’adl)  mendahului kata شَفَاعَةٌ (syafa’at), sementara di ayat 48 sebaliknya. Kedua, pengunaan kata kerja yang menerangkan kata عَدْلٌ (’adl, keberatan) dan kata شَفَاعَةٌ (syafa’at, syafaat). Kata عَدْلٌ (’adl) di ayat ini menggunakan kata kerja يُقْبَلُ (yuqbalu, dikabulkan) dalam frase لاَ يُقْبَلُ مِنْهَا (yuqbalu minɦā, tidak dikabulkan daripadanya), sementara di ayat 48 menggunakan kata kerja يُؤْخَذُ (yu’khadzu, diterima) dalam frase لاَ يُؤْخَذُ مِنْهَا (yu’khadzu minɦā, tidak diterima daripadanya). Kesimpulan yang bisa kita ambil dari perbedaan ini ialah bahwa keberatan, gugatan, tebusan, dan semacamnya nanti di akhirat tidak akan dikabulkan, siapapun yang mengajukannya, termasuk oleh “wangsa pilihan” atau kaum yang kepadanya pernah menerima risalah dan kenabian. Dan karena tidak dikabulkan, maka apapun yang mereka persembahkan—seandainya masih bisa—Allah tidak akan menerimanya. “Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda-gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan al-Qur’an itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak (pula) pemberi syafa’at selain daripada Allah. Dan jika ia menebus dengan segala macam tebusanpun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka, disebabkan perbuatan mereka sendiri. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu.” (6:70)

Hal yang sama terjadi pada kata شَفَاعَةٌ (syafa’at). Di ayat ini, kata kerja yang mendahuluinya ialah لاَ تَنفَعُهَا (lā tanfa’uɦā, tidak bermanfaat baginya), sedangkan di ayat 48 ialah justru لاَ يُقْبَلُ مِنْهَا (yuqbalu minɦā, tidak dikabulkan daripadanya) persis sama dengan frase yang mendahului kata عَدْلٌ (’adl) di ayat ini. Sehingga bisa kita fahami bahwa kata شَفَاعَةٌ (syafa’at) dan kata عَدْلٌ (’adl) sesungguhnya mempunyai makna yang sama, begitu juga kelak penerimaannya di sisi Allah. Bisa dikatakan شَفَاعَةٌ (syafa’at) adalah عَدْلٌ (’adl) itu sendiri; dan عَدْلٌ (’adl) adalah شَفَاعَةٌ (syafa’at) itu sendiri. Tidak ada syafa’at tanpa keadilan sebagaimana tidak ada keadilan tanpa syafa’at. Keduanya adalah dua sisi dari satu mata uang yang sama. Dan karena Allah itu Maha Adil, maka secara otomatis Dia pasti akan memberikan syafa’at kepada siapa yang dikehendakinya (yaitu yang memenuhi syarat) melalui manusia-manusia pilihannya (dari kalangan para nabi dan orang suci). Penggunaan kata لاَ تَنفَعُهَا (lā tanfa’uɦā, tidak bermanfaat baginya) menunjukkan bahwa ada yang nanti menyadari pentingnya syafa’at setelah di akhirat, setelah melihat betapa tipisnya harapan untuk lolos dari azab Allah. Pada saat itu mereka baru datang mengajukan perintaan syafa’at, tetapi sayangnya, permintaan seperti itu tidak bermanfaat lagi. Permintaan syafa’at hanya berguna saat masih di dunia. Maka adalah kewajiban manusialah di dunia ini mencari manusia-manusia pilihan penerima mandat-memberi syafa’at seperti itu, sebelum terlambat. “Dan Maha Suci Tuhan Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan apa yang ada di antara keduanya; dan di sisi-Nyalah pengetahuan tentang hari kiamat dan hanya kepada-Nyalah kalian dikembalikan. Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini (nya).” (43:85-86)

 

3). Pesan yang seakan Allah hendak sampaikan dengan menutup seluruh rangkain cerita Bani Israil (ayat 40 sampai ayat 123) melalu ayat ini ialah bahwa manusia-manusia yang telah mendapat mandat dari-Nya untuk memberi syafa’at, yang paling utama yaitu para Khalifah Ilahi, yang menjadi pengemban gagasan penciptaan yang Allah sebutkan di ayat 30 sampai ayat 39. Siapa saja yang menyelisihi, atau menentang, atau mengkhianati mereka, maka لاَ يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلاَ تَنفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَلاَ هُمْ يُنصَرُونَ (lā yuqbalu minɦā ’adlun wa lā tanfa’uɦā syafa’atun wa lā ɦum yunsharŭwn, tidak akan diterima keberatan daripadanya, dan tidak akan bermanfaat baginya syafa’at, serta mereka tidak akan ditolong).  Tanpa pengakuan dan kepatuhan kepada mereka, maka klaim-klaim ‘kebenaran’ dan harapan perlakuan ekslusif menjadi runtuh. Klaim-klaim dan harapan-harapan seperti itu tiada lain kecuali angan-angan kosong belaka saja. “(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Sesiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan atas kejahatannya itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah. Siapa saja yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (4:123-124) Ayat-ayat berikut (124 sampai 141) mengajarkan kita bagaimana mendefenisikan “pengakuan” dan “kepatuhan” yang benar.

 

4). Kenapa Allah menggunakan kata وَلاَ هُمْ يُنصَرُونَ (wa lā ɦum yunsharŭwn, serta mereka tidak akan ditolong)? Dan ini adalah penggunaan yang ketiga di sepanjang cerita Bani Israil (ayat 48, 86, dan 123). Jawabannya sederhana. Yaitu karena mereka juga (waktu di dunia) tidak pernah mau menolong risalah (agama) Allah dengan cara menolong para Khalifah Ilahi-Nya. Terlalu banyak orang yang mengaku dan mengklaim diri menolong agama Allah, tapi pada hakikatnya mereka hanya menolong golongan, mazhab, organisasi dan partainya saja. Karena dengan menolong golongan, mazhab, organisasi dan partainya, mereka sebetulnya menolong diri mereka sendiri untuk menapaki jenjang-jenjang hirarki sosial yang lebih tinggi dan lebih bergengsi. Klausa “menolong agama Allah” hanyalah jubah instrumental demi perjalanan karir dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Setelah semuanya tercapai, agama dicampakkan bagai barang bekas. “Dan kembalilah kalian kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kalian tidak dapat ditolong (lagi). Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kalian tidak menyadarinya.” (39:54-55)

 

 

AMALAN PRAKTIS

Kematian adalah aksioma. Kebangkitan paska kematian adalah keyakinan agama-agama. Apa yang terjadi di sana adalah cerminan dari apa yang kita lakoni di dunia. Meninggalkan, menetang, mengkhianati Khalifatullah sebagai pelaksana risalah Allah, berakibat pada tidak diterimanya gugatan dan permintaan syafa’at dari yang bersangkutan. Bahkan mereka tidak akan mendapatkan pertolongan sama sekali.

About Has 241 Posts

Do not criticize too much, too much criticism leads to hate and bad behaviour. -Imam Ali (AS)

3 Responses to “Al-Baqarah ayat 206”

  1. Deacon says:

    “The month of Ramadan is the one in which the Quran was sent down, a guidance for mankind, clear proofs for the guidance, the Criterion; so whoever amongst you witnesses this month, let him fast it.” (Surah al-Baqarah 2:185)

    ******** HAVE A BLESSED AND JOYOUS RAMADAN EVERYBODY RAMADAN KAREEM**********

    We will be having Iftar here in the UAE around 6.42 pm…. how about you?

  2. rangga says:

    Terimakasih, akhirnya paham arti shibghah..

  3. any says:

    Assalamualaikum.. Wr. We
    Sungguh luar biasa dalill YG di paparkan Oleh akhy / ukhty..

    Ringkas, makna menjadi terungkap pemahaman baru Dan insya^Allah kita termasuk ORANG-ORANG yang beriman Di jalan Allah SWT. Aamiin,
    Wassalam..

Leave a Reply